Bapak Bagus & Ibu Sally, Saya prihatin dan bersimpati atas apa yang terjadi, mudah2an bapak dan ibu diberikan ketabahan dan kesabaran serta kekuatan dalam menghadapi Daffa.
Untuk itu saya setuju dan bersimpati atas campaign/ajakan/himbauan ini, benar bahwa kita tidak berhak apapun itu namanya (mengolok-olok/mengejek/membuat lelucon dll dsb atas penderitaan,keadaan,penampilan atau hal apapun yang terjadi pada orang lain). Biar bagaimanapun kita semua adalah ciptaan Tuhan yang sama dimataNya, hanya amal ibadah kita yang membedakannya. Menurut saya mengolok ciptaan Tuhan sama dengan mengolok penciptanya, hal ini juga membuat saya prihatin serta tidak menyukai sama sekali tayangan2 di TV, lawakan2 yang mengejek kekurangan orang lain. Mohon maaf apabila kata2 saya ada yang tidak berkenan, saya hanya berusaha ber-empati atas keluarga bapak&ibu, serta hanya mengungkapkan perasaan saya atas hal-hal yang sudah lama saya perhatikan yang terjadi di lingkungan kita Hormat & Salam saya, Ariesta --- On Thu, 10/8/09, Salmaina Prastowo <[email protected]> wrote: From: Salmaina Prastowo <[email protected]> Subject: [parentsguide] STOP Using the Word "AUTISM"...part 2 To: "femina milis" <[email protected]>, "hanyawanita mailist" <[email protected]>, "Mailist Bazar" <[email protected]>, "Mailist Parenting" <[email protected]>, "mother and baby milis" <[email protected]>, [email protected] Cc: [email protected] Date: Thursday, October 8, 2009, 2:29 AM Dear all, Melalui e-mail ini kami ingin mengungkapkan rasa prihatin dan menghimbau supaya seluruh masyarakat Indonesia tidak lagi menggunakan kata "autism" atau "autis" dalam percakapan sehari2x dengan konteks sebagai bahan ejekan, olokan, atau bergurau. Miris rasanya kata tersebut digunakan dengan santai untuk menggambarkan seseorang yang "asyik dengan dunianya sendiri", bahkan di salah satu infotainment yang kami lihat di salah satu stasiun TV swasta ini, diberitakan ada sekelompok artis tertentu yang "menganugerahi" salah satu anggota kelompoknya dengan "artis ter-autis" selain gelar2x lainnya, yaitu antara lain "artis ter-monyong" atau "artis ter....." lainnya pada acara Arisan Genk Artis mereka !!!! Anda tak akan mampu membayangkan betapa sakitnya dan sedihnya perasaan orangtua yang mempunyai anak, ponakan, saudara, atau kerabat yang mengidap AUTISM SYNDROME yang hingga kini belum juga diketahui apa penyebabnya…as they say…”even the scientists are still arguing the cause of Autism Syndrome”. Sebagai analogi, mungkin ejekan ini sama menyakitkannya bagi penderita penyakit lain, bila ada ungkapan seperti "dasar 'kanker' lo..." atau "artis ter-'AIDS'" atau penyakit2x lain yang bisa dijadikan metafora kata pembanding. Sebagai sedikit pencerahan, berbeda dengan penyakit kanker atau AIDS atau penyakit mematikan lainnya yang sudah lama dikenal manusia, AUTIS atau AUTISM SYNDROME ini merupakan gangguan tumbuh kembang yang salah satu gejalanya adalah perlambatan pertumbuhan sel otak tertentu dimana penyebabnya belum diketahui sampai sekarang (bisa dibilang syndrome ini, hampir, berlangsung seumur hidup!!!), dan treatment yang dapat dilakukan adalah melalui berbagai macam terapi. Salah satu ciri SPECIAL NEEDS (istilah yang lebih 'proper' untuk penderita AUTISM SPECTRUM) adalah si anak SN ini mempunyai pola pikir serta perilaku yang berbeda dengan anak sebayanya, salah satu gejalanya adalah 'punya dunia sendiri' sehingga pola sosialisasi dan interaksi dengan orang lain pun sangat berbeda. Tulisan ini dibuat bukan untuk mendiskreditkan siapapun karena mungkin ejekan atau olokan ataupun gurauan itu dilontarkan oleh awam yang tidak mengerti sama sekali mengenai kata dan dunia AUTISM. Tulisan ini hanya merupakan himbauan dan ajakan kepada sesama manusia untuk menghargai manusia lain dengan atribut, sifat, dan pemberian Tuhan yang berbeda2x. Sebagai orang tua anak special needs (PDD-NOS=Pervasive Developmental Disorder – Not Otherwise Specified, salah satu spectrum Autis), kami menganggap anak kami tersebut merupakan "pemberian istimewa" dari Tuhan…… karena melalui dia, kami diberi kesempatan untuk lebih menyayangi Daffa sebagai titipan Tuhan yang sangat istimewa. Kadang2x, sebagai respon tatapan orang sekitar yang sedikit bertanya2x melihat Daffa, dalam hati kami hanya bisa berujar "C'mon Guys, it's only Autism and it’s not Contagious ". Buat para orang tua dari anak Special Needs, berbesar hatilah selalu dan please help us forwarding this campaign. As we always say….God greatest gift to us is our children, no matter how they look like, whether in sickness or in health, our children will always be special to us, we must be responsible of their upbringing and we will always love them for what n who they are…. Best regards, Bagus & Sally Prastowo Dad&Mom of an Authistic Child “Daffa Akeyla Prastowo Dad&Mom of an Authistic Child “Daffa Akeyla Prastowo

