--- On Thu, 10/22/09, Detty Fitriany <[email protected]> wrote:
> From: Detty Fitriany <[email protected]> > Subject: MEMAHAMI GAMBAR ANAK > To: [email protected] > Date: Thursday, October 22, 2009, 1:07 PM > Oleh : > Detty Fitriany, S.Sn. > (Pengamat Bahasa Rupa & Gambar Anak, Dosen FSRD ITENAS > - Bandung) > > Semua anak pada dasarnya suka menggambar. Tidak ada anak > yang tidak suka menggambar. Faktor lingkunganlah, baik di > rumah maupun di luar rumah (bahkan sekolah) yang pada > akhirnya dapat membuat si anak berhenti menggambar atau > tetap terus menggambar hingga ia dewasa. > > Gambar adalah media ekspresi dan komunikasi bagi anak > ketika kemampuan berbahasa verbalnya belum sempurna. Sesuai > dengan perkembangan fisiknya, seorang anak akan lebih dulu > bisa memegang pinsil/crayon daripada berbicara ketika > menjelaskan sesuatu. Melalui gambar, anak-anak dapat > merepresentasikan aksi, reaksi, emosi, ide dan > pengalaman-pengalamannya. > > Bagi anak-anak, yang penting adalah proses menggambarnya, > bukan hasilnya. Pada mulanya ia mungkin tidak sadar kalau > gambarnya menang atau tidak pada sebuah lomba gambar. Yang > penting ia asik waktu membuatnya. Namun seiring dengan > perkembangan usianya dimana ia mulai berinteraksi dan mulai > menerima masukan-masukan dari orang lain, apalagi kalau ada > tekanan dari orang tua/guru untuk menjadi juara di sebuah > lomba gambar atau untuk memperoleh nilai tertentu, proses > menggambar jadi tidak asik lagi dan mulai jadi beban. Inilah > cikal bakal yang dapat membuatnya tidak percaya diri dan > takut untuk menggambar lagi. “Takut kalah”, “takut > salah”, “takut jelek”, “takut diejek”, dan > “takut - takut lainnya” membuatnya cari aman saja dan > berkesimpulan “Saya tidak bisa menggambar”.. Wah!! > Bahaya!! > > Jadi berhati - hatilah ketika menilai gambar anak. Kita > patut mencontoh Pak Tino Sidin dalam mengapresiasi gambar > anak. Ia selalu bilang “bagus” pada setiap gambar yang > dikirim padanya. > “Gambar datang dari ….., “Yak, bagus !” > “Selanjutnya gambar datang dari ….., “Yak, bagus > !” > Kita semua (orang tua dan guru, terutama) ada baiknya > memahami hubungan antara perkembangan fisik dan motorik anak > dengan perkembangan bahasa rupa dan gambar yang dibuatnya. > Misalnya, anak usia 3 tahun dengan kemampuan motoriknya yang > sudah bisa memegang pinsil (tapi belum sempurna) kira - kira > seharusnya sudah bisa membuat gambar apa sih? sedetail apa? > semirip apa? > > Semakin anak tumbuh dan indera-inderanya sempurna, akan > semakin banyak pula informasi dan pengetahuan yang > diserapnya, serta semakin kuat pula kemampuan logikanya. > Pada beberapa kasus, yang terjadi adalah kemampuan > logika anak sangat diutamakan dan perlahan-lahan kemampuan > kreativitas dan imajinasi dimatikan dengan anggapan bahwa > kreativitas dan imajinasi sudah tidak diperlukan lagi kalau > anak sudah besar. Wah!! Ini juga bahaya!! Hati - hati jika > anak mulai memasuki “masa krisis” (+/- usia 11-13 tahun) > ketika terjadi perang antara kemampuan logika dan > imajinasinya. Hal ini bisa dilihat dari pemahaman dan > penerapan metode perspektif pada gambar-gambar yang > dibuatnya. > > Berikut ini adalah beberapa gambar anak dari berbagai usia > yang akan kita coba pahami dan telaah dengan menggunakan > teorinya Bpk. Prof. Dr. Primadi Tabrani (dosen & guru > besar FSRD ITB - dosen favoritnya saya juga, hehe..) tentang > “Perkembangan Usia dan Perkembangan Gambar / Bahasa Rupa > Anak” : > > > Gambar 1 : (lihat attachment) > > Gambar ini dibuat oleh anak berusia kira-kira 3-4 tahun, > cirinya : > > Coreng moreng mulai ada arti : Arti apa? Hehe.. Sekilas > memang tampaknya gambar ini tidak punya arti apa - apa, cuma > sekedar coretan garis belaka. Tapi mari kita lihat dengan > lebih jeli. Anak ini menggambar sebuah kepala manusia > lengkap dengan mata, hidung dan mulutnya. Gambar lingkaran > berwarna merah bisa jadi adalah gambar tangan yang sedang > memegang sesuatu. Memang tidak akurat telaah kita, karena > kita tidak berkomunikasi langsung dengan anak yang > membuatnya. > > Ruang angkasa : Semua obyek digambar melayang, > terbang-terbang. Anak seusia ini belum mengenal garis tanah > walaupun ia tampaknya sudah mengerti konsep atas-bawah > sederhana. Mata diatas, hidung ditengah, mulut dibawahnya > lagi dan tangan ada dibawahnya kepala. > > > Gambar 2 : (lihat attachment) > Gambar ini dibuat oleh anak berusia kira-kira 4-5 tahun, > cirinya : > Mementingkan bagian tertentu objek : Lihatlah gambar ikan > yang dibuat lebih detail daripada obyek lainnya. Sisik, > mata, mulut dan gigi ikan digambar lebih jelas daripada mata > dan mulut orang yang ada diatas perahu. Bagi anak, dalam > cerita ini yang penting adalah ikannya, bukan orang yang ada > di atas perahu itu! > > Obyek digeser : Terlihat pada gambar ikan yang dibuat > berderet kesamping. Anak seusia ini biasanya menggambar > obyek yang sama lebih dari dua buah dan berjejer. > > Obyek dinamis : Sudah ada konsep tentang gerak, tetapi > masih berkesan ruang angkasa (Semua obyek melayang). > > Aneka tampak : Banyak tampak dipakai sewaktu menggambar. > Gambar matahari dibuat tampak depan, tapi gambar ikan dan > perahu dibuat tampak samping. > > Tampak khas : Belum ada konsep tentang bagian > depan-belakang, jadi semua obyek yang digambar adalah bagian > yang banyak memberikan penjelasan. Anak-anak cenderung > menggambar ikan dari samping agar bagian kepala, badan dan > ekornya terlihat semua. Begitu pula dengan perahu. Mereka > menggambar perahu cenderung dari samping agar panjang perahu > dan layarnya terlihat dengan jelas (Lebih bercerita, gitu > lho..). > > Bagian obyek diperbesar, yang lain diabaikan : Terlihat > pada gambar ikan yang dibuat lebih besar daripada perahu > nelayannya. Bagi anak, yang penting adalah ikannya, bukan > perahunya! > > Catatan buat gambar ini : Nah, kalo saya jadi gurunya.. Ini > gambar saya kasih nilai 9 bukannya 6. Atas dasar apa si > bapak/ibu guru memberi nilai 6 ? Apakah menurut si bapak/ibu > guru gambar yang yang bagus itu yang “full colour” atau > yang “realis”? Bagaimana kalo gambarnya “full > colour” tapi hasil menjiplak? Bukankah malah jadi tidak > orisinil idenya ? Ya, inilah salah satu hasil pemikiran dan > penilaian orang dewasa yang bisa membuat anak-anak jadi > malas dan tidak suka menggambar lagi.. > > > > Gambar 3 : (lihat attachment) > Gambar ini dibuat oleh anak berusia kira-kira 7-8 tahun, > cirinya : > > Konsep atas - bawah : Anak sudah bisa membagi obyek > berdasarkan letaknya, yang mana yang diatas-yang mana yang > dibawah. Atap itu diatas, dinding dan papan nama toko itu > ditengah dan lantai itu dibawah. > > Tepi bawah kertas = garis tanah : Biasanya anak seusia ini > belum mengenal garis pinggir pada bidang gambarnya. Jadi > bidang gambar bagi anak adalah sama dengan ukuran kertas > yang disediakan. Tidak ada ruang kosong tersisa. Obyek > paling bawah biasanya digambar mepet dengan tepi bawah > kertas. Pada gambar diatas, pembatas parkiran mobil digambar > sampai bawah, bahkan terpotong karena kertasnya tidak > cukup. > > Tanpa perspektif, disederhanakan, berbagai bahasa rupa > digunakan sekaligus : Di usia ini anak belum paham konsep > perspektif. Menurutnya obyek yang paling depan itu digambar > di bawah dan obyek yang paling belakang itu digambar paling > atas. Pada gambar ini, parkiran mobil digambar dibawah > karena dianggap obyek paling depan, baru kemudian bangunan > toko mainannya yang digambar ditengah. Berbagai bahasa rupa > digunakan sekaligus terlihat pada meja + kursi café yang > digambar dengan aneka tampak (acak). Daun mejanya digambar > tampak atas, sedangkan kaki mejanya digambar tampak samping, > itupun letaknya ngaco. Tapi anak ini ingin menjelaskan kalo > meja café ini punya 4 kaki. > > Utamakan obyek yang dipentingkan : > Ada 3 hal penting yang tampaknya ingin diceritakan oleh > anak ini, yaitu : > (1) Ia pergi ke suatu tempat (mungkin pusat perbelanjaan) > yang disalah satu lantainya ada tempat jual mainan; > (2) Ia pergi naik mobil dan parkir di tempat parkir yang > luas, atau kalaupun ia tidak naik mobil, ia jalan kaki dari > jalan raya ke gedung pusat perbelanjaan itu dengan melewati > area parkir dengan banyak mobil; > (3) Setelah jalan - jalan atau belanja mainan, ia makan di > café yang ada di lantai atas. > > Obyek yang penting diperbesar : Pada gambar diatas, meja > café digambar lebih besar daripada orangnya. > > Sinar X : Banyak gambar yang dibuat dengan “sinar X” > (transparan) pada gambar ini, misalnya : rak-rak mainan, > meja+kursi café dan tangga yang ada di dalam gedung. > Logikanya, benda - benda itu seharusnya tidak terlihat dari > luar (dari area parkir) jika ia berada diluar gedung. Tapi > karena ia ingin menceritakan suasana didalam dan diluar > gedung, jadilah dinding gedungnya transparan, haha.. > > Kesimpulan : > > Sebetulnya asik sekali mencoba menelaah dan memahami gambar > buatan anak, apalagi kalo ikut menemaninya menggambar. Kita > bisa langsung tahu apa yang mereka buat sebenarnya. > > >

