Sepuluh bulan, ya.. sepuluh bulan. Aku meninggalkan bayi perempuan kecilku
yang waktu itu baru dua bulan lahir. Merantau ke negeri orang untuk
sepenggal ilmu.Waktu itu, ada rasa takut, jangan-jangan nanti anakku nanti
tak kenal padaku. Berbagai upaya diusahakan agar kami bisa berinteraksi.
Akhirnya teknologi kami pilih sebagai solusi. Kami beli segala perangkat
yang diperlukan untuk bisa videoconferencing. Webcam dan koneksi internet
yang memadai. Tidak apa keluar biaya, asal kami tetap utuh sebagai sebuah
keluarga.

Setiap kali kami bertemu lewat*videoconferencing*, istriku selalu
menunjukkan pada si bungsu, akulah ayahnya. Semoga saja tidak terjadi,
peristiwa yang dialami saudara seorang teman. Setelah dia pulang studi dari
luar negeri, anaknya tidak mengenalinya. Anda bisa bayangkan, seorang ibu
menggendong kembali bayinya, ternyata sang bayi menangis sejadi-jadinya.

Aku melewatkan berbagai peristiwa luar biasa. Aku tidak menyaksikan ketika
pertama kali anak bungsuku berdiri. Aku tidak mendengarkan ketika dia
pertama kali bicara. Ada rasa sedih, rasanya kok seperti bukan orang tua.
Berat sekali terasa, meninggalkan darah daging yang kucinta. Tapi mungkin
itulah episode yang harus kami lalui. Disinilah kesabaran kami sedang diuji.

Sepuluh bulan sudah berlalu. Akhirnya saat itu tiba. Ketika haus rindu akan
terobati oleh mata air kebersamaan. Tatkala kemarau cinta akan disiram oleh
hujan pertemuan. Tapi disitulah momen yang mendebarkan. Ketika muncul sebuah
pertanyaan, setelah sekian bulan aku tinggalkan, ”Adakah si bungsu mengenali
ayah kandungnya?”.

Matahari telah terbenam, ketika pesawat mendarat di jalur bandara. Aku
berjejal dengan para TKI yang pulang dari rantau. Dan akhirnya aku tiba, di
gerbang bandara. Dari jauh kulihat istriku, wajahnya tetap manis dalam
jilbab biru. Dan kupandang di sampingnya, si bungsu sedang dipangku.

Kubawa koper beratku. Kucium tangan kedua mertuaku. Tak berapa lama,
tanganku dicium hidmat oleh istri tercinta. Kami berjalan menuju mobil
jemputan. Sepanjang jalan, si bungsu hanya memandang. Seolah menerka-nerka
siapakah aku. Dia seakan sedang mengingat kembali memori masa lalunya,
menerawang. Langkah demi langkah hatiku tak karuan. Di sinilah saat yang
menentukan, baginya aku ayah atau bukan.

Akhirnya aku beranikan diri. Kusodorkan kedua tanganku, kutawarkan sebuah
pangkuan buat si bungsu. Kami saling berpandangan. Sesaat kami terdiam.
Matanya seolah mengajukan pertanyaan, dan kujawab dengan tatapan cinta
sebagai jawaban. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam,
si bungsu mau aku pangku. Kupeluk erat anakku. Kudengarkan detak jantungnya.
Hatiku berbisik lirih: ”Ini ayahmu nak. Ayah sudah kembali. Ayah rindu
padamu”



Priyanto

http://parentingislami.wordpress.com/2009/11/15/masihkah-aku-ayahmu/<http://parentingislami.wordpress.com/>

Kirim email ke