*Masihkah Aku Ayahmu [2]* http://parentingislami.wordpress.com/2009/12/07/masihkah-aku-ayahmu-2/
Hari itu aku mendapatkan cerita, dari istriku tercinta. Cerita yang membuat hatiku terenyuh, cerita yang membuat hatiku berbunga. Mungkin tak ada salahnya aku membaginya. Hari itu si bungsu kebingungan. Dia kehilangan sebuah barang. Sepertinya barang itu sangat berharga. Satu persatu dia tanya: nenek, bibi, bunda ataupun kakaknya, apakah mereka menemukan barang kesayangannya. Lalu apa barangnya? Begini ceritanya… Sejak kakaknya sekolah di PAUD dan mendapatkan tas baru, si bungsu mendapatkan warisan berharga, tas BATMAN milik kakaknya. Di pagi hari, ketika kakaknya masih belum selesai mandi, si bungsu sudah siap berangkat: pakaian lengkap, jilbab mungil dan tas BATMAN di punggungnya. Pake jilbab tapi BATMAN tangkringannya. “Lucu sekali”, begitu istriku bercerita. Tapi, hari itu, yang dia cari bukan itu. Bukan tas BATMAN itu. Tapi adalah foto yang biasanya diselipkan di tas kakaknya. Di dalam foto itu ada tiga orang: si bungsu, kakaknya, dan satu orang lagi adalah.. aku. Aku ingat sekali dengan foto itu. Foto yang kami ambil di sebuah studio photo di dekat rumah. Foto itu diambil beberapa hari sebelum aku berangkat kembali menimba ilmu, di negeri yang tiap musim dingin buminya selalu tertutupi salju. Foto sebelum aku (untuk kedua kalinya) meninggalkan kedua anakku. Kubawa serta foto itu untuk menemani perantauanku. Foto itu berjudul “Aku, dan kedua mentari kecilku”. Istriku kemudian melanjutkan ceritanya, Sepertinya di rumah, kangen sedang mewabah. Setiap hape bundanya berdering, spontan dia bilang “Ayah”, berharap aku yang menelepon. Kadang-kadang dia berbicara sendiri menggunakan HP itu seolah-olah sedang berbicara denganku. Dan gak tahu kenapa hari itu si kecil ngebet banget sama foto itu. Seisi rumah gotong royong mencarikan barang itu. Dan alhamdulillah, akhirnya foto versi mini itu ketemu. Subhanallah, betapa gembiranya si bungsu. Dia pamerkan foto itu pada semua orang, seperti seorang ilmuwan yang baru saja menemukan teori tentang semesta alam. Yang menarik adalah, ketika dia pamerkan foto itu, jari telunjuknya tidak menunjuk pada dirinya, tidak pula menunjuk pada kakaknya, tapi aku. Dan sebuah kata selalu keluar dari mulutnya: “Ayah”. Ah, Ingin rasanya kata itu aku dengar sendiri, sebuah pengalaman yang yang tak ingin seorang ayah lewatkan: mendengar si bungsu mengatakan “Ayah” untuk pertama kali. Ternyata keinginan kami sama. Sebuah sms mendarat di kotak suratku. Kira-kira begini maknanya: “Si bungsu ingin ketemu, rindu.” Segera saja kunyalakan presarioku. Dan kupasang webcamnya. Kusiapkan headphone. Dan kuhubungi dengan segera. Skype kami tersambung sempurna. Dia di sana, sedang duduk di pangkuan bundanya. Katanya sejak tadi dia disitu, menunggu dengan penuh asa sambil mengenakan headphone ukuran orang dewasa. Matanya lekat menatap wajahku. Perlahan kuambil foto itu dari atas meja. Kuperlihatkan lewat kamera. Perlahan dia mengangkat tangannya. Telunjuknya menunjuk layar. Mulut mungilnya bersuara jernih: “Ayah”. Ah.. sebuah kata yang begitu indah didengar, seperti seruling Daud yang mengalun, di tengah padang rumput dan pepohonan yang rimbun. Aku tersenyum haru. Kuabadikan kata itu lewat telepon genggam. Diam-diam hatiku berbisik: “Iya, sayang. Ini Ayah… Ini Ayah… Insyaallah, Ayah sebentar lagi pulang. Tunggu Ayah dua minggu lagi”

