Dr milist tetangga.. Regards,
Lina Untukmu Aku capek...... capek............... capek sekali ....................... Rasanya hati ini sudah begitu pengap..... betapa banyak rasa yang sudah aku kuburkan aku pendam secara paksa saat meladeni-nya setiap hari saat mendengar celotehnya yang bernada complain saat mengingatkannya minum obat saat menyuapinya ketikat ia "enggan" bergerak saat tengah malam ketika tidur nyenyak, dibangunkannya hanya untuk menemaninya ke toilet bahkan saat aku harus berpisah dgn istriku, lantaran sikapnya yang selalu bermusuhan Apalagi yang bisa aku pertahankan saat ini kesabaranku sudah berada di ambang batas............ Salahkah ya Allah bila aku juga complain Pagi tadi habis sudah kesabaranku saat aku harus segera ke kantor menghadiri meeting penting sempat-sempatnya ia memintaku menemaninya ke tukang jahit Dengan nada kesal, kutolak permintaannya ku-bilang kali ini benar-benar tidak bisa mengikuti kemauannya Seperti biasanya, ia tetap memaksaku.......... dengan nada tinggi kutolak, seraya pergi ke mobil meninggalkannya tanpa menoleh kebelakang Sekelebat kulihat kekecewaan yang dalam di matanya yang cekung Dalam meeting, pikiranku kacau apa yang terdengar dan terlihat bagai tak berbekas di kepalaku semuanya hilang, konsentrasiku terpecah Siangnya kutenangkan pikiran di Musholla Sangat beruntung saat itu sedang berlangsung ceramah bulanan yang rutin di laksanakan sebulan sekali oleh Majelis Taklim Dengan gamblang Sang Ustadz memaparkan tentang "Surga" Kurasakan sangat lambat hari menuju petang tak sabar aku ingin segera pulang dan menemuinya teringat pagi tadi kutinggalkan dengan kesedihan di matanya Dalam perjalanan pulang terputar kembali rekaman masa lalu memori yang secara tak sadar terlupakan mungkin oleh kebanyakan anak manusia saat ia tak mengeluh membawaku 9 bulan setiap waktu saat ia dengan sabar menghentikan tangis "complain"ku saat ia dengan rela memberikan seluruh waktunya untukku saat ia dengan ikhlas memberikan susunya padaku saat tengah malam ketika tidur nyenyak, ia terbangunkan untuk mengganti popokku bahkan saat ia harus menggadaikan nyawanya, lantaran posisi tubuhku saat dilahirkan Kembali terdengar ucapan Sang Ustadz saat ceramah siang tadi "Andai seluruh isi Jabal Nur dan Laut Merah kau bayarkan, belumlah cukup untuk melunasi hutangmu padanya" Sampai di rumah, ada yang kurasa berbeda yang biasanya ia selalu menungguku di teras rumah kali ini tak terlihat bayangannya sekalipun Tak sabar ingin aku menemuinya di ruang TV keluarga, tak ada kucari di kamarnya, tak ada di dapur, tak juga ada Ketika melewati kamarku baru kutemukan ia ada di dalam dengan senyum-nya yang indah menyambutku kenapa baru sekarang kuingat kalau senyum itu begitu indah Di tangannya yang kering ada sehelai baju warna biru kesukaanku "Selamat Ulang Tahun" katanya Dug......... dadaku terhenyak, karena baju itu ia memaksaku ke tukang jahit Rupanya ia ingin memberikan hadiah khusus untukku tangannya yang renta tak sanggup lagi menjahitkan baju seperti dulu yang biasa ia lakukan untuk kami sekeluarga mata tuanya tak lagi bisa melihat jarum dan benang Sebuah kebiasaan penuh kasih sayang yang tidak pernah dilakukan mantan istriku sekalipun yang hanya bisa membelinya di mall atau boutique Beribu rasa dosa menghujam sanubari dan berjuta penyesalan menari di sekelilingku Hari ini, ijinkan aku ................. bersimpuh dan mencium kakimu IBU (Dipersembahkan untuk seluruh IBU di dunia) ________________________________ CONFIDENTIALITY NOTICE This e-mail (including any attachments) may contain information that is privileged or confidential. The sending of this e-mail to any person other than the intended recipient is not a waiver of the privilege or confidentiality that attaches to it. If you are not the intended recipient, please notify the sender immediately, delete the email and do not copy, distribute or disclose its contents.

