Dear Ibu Angelina Gunawan,

Membaca tulisan ibu yang singkat tanpa komunikasi langsung dengan anak tersebut 
saya tidak dapat menebak apa yang terjadi. Namun ada beberapa pendapat yang 
bisa saya sampaikan, dan siapa tahu membantu :-)

Memang betul anak pada usia tersebut akan mulai memiliki SENSE OF BELONGINGS, 
justru pada saat inilah waktu yang tepat untuk parents memulai pendidikan 
terhadap kepemilikan dan berbagi. Anak boleh mulai mengerti bahwa dia berhak 
atas sesuatu, di samping ia belajar berbagi. Misalnya mainan...dia diajar bahwa 
mainan tertentu merupakan miliknya, akan tetapi bila ia mau men SHARE 
permainannya dengan teman, adik dsb ia akan mendapat lebih banyak teman, 
permainan yang dimainkan juga lebih banyak. Dengan rasa memiliki ia bisa 
belajar bertanggung jawab sedari dini.

Anak selalu belajar dari lingkungan, ia belajar lebih banyak dari perilaku yang 
dilihatnya daripada ucapan yang didengarnya. Ketika ia melihat orang tuanya 
pulang ke rumah pada malam hari, ia melihatnya sebagai suatu ACTION (perilaku), 
dan karena kedekatan batin anak (terutama usia dini) akan lebih lekat ke orang 
tua ia akan belajar lebih banyak dari orang tuanya daripada kakek neneknya, 
mengingat anak tersebut tidak tinggal serumah dengan kakek neneknya.

Menurut saya sih itu suatu perilaku yang bagus, anak boleh bermain ke rumah 
saudara, di mana ia belajar bersosialisasi, namun ia juga tahu RUMAH lah tempat 
ia harus kembali, RUMAH nya lah yang benar-benar RUMAH!

Ada satu hal yang paling bisa dilakukan orang tuanya, yaitu berkomunikasi. 
Tanyakan alasan mengapa ia lebih suka tinggal di rumah sendiri, tidak lagi mau 
menginap di rumah kakek neneknya. Kunci utama dari berbicara dengan anak balita 
adalah dengan PERASAAN dan BERSABAR!
Ingat anak usia begitu kosa kata terbatas sehingga orang tualah yang bijak dan 
berempati, agar mendapatkan jawaban sesungguhnya. Bisa saja ia mengalami suatu 
ketakutan, shock tanpa disadari orang dewasa. Ketika ia bicara, jangan 
dimarahi, ditertawakan, diolok-olok, dinasihati...dengarkan saja. Baru setelah 
ada jeda kita ambil tindakan yang sepenuhnya membantu dia memahami kejadian 
yang ia alami. Dengan demikian anak tidak mengalami trauma atau ketakutan tanpa 
kita ketahui, yang bisa berdampak besar di masa depannya, bahkan sampai anak 
tersebut telah menjadi dewasa.

Demikian beberapa tips dari saya, semoga membantu dan menginspirasi.

Salam,

Ling Majaya

Unlock Limitations to Expand Your Potential

Ling Majaya
Licensed Trainer of NLP
NLP Therapist & Family Counsellor

www.cakrawalapotensi.com
mobile: +(62) 813 1957 8319
Email : [email protected]


--- On Wed, 1/13/10, Angelina Gunawan <[email protected]> wrote:

From: Angelina Gunawan <[email protected]>
Subject: [parentsguide] Kapan rasa kepemilikian tumbuh pada anak?
To: [email protected], [email protected]
Date: Wednesday, January 13, 2010, 10:44 AM







 



  


    
      
      
      Dear smartparents, 

Ingin sharing, ini pengalaman sepupu ku. 
Dia punya anak perempuan 2, yang pertama usia 3 tahun, yang ke 2 usia 1 tahun. 
So far, semenjak awal, si sulung tidak pernah jealous terhadap adiknya. Mungkin 
karena selama ini dia cukup banyak bergaul dengan yang lain2, antara lain oma 
opa, tante, dll. 
Si sulung ini juga sering nginep di rumah opa oma nya, bahkan cukup senang di 
sana, mungkin karena mainannya juga banyak dan macam2. 
Biasanya memang ortunya selalu mampir ke tempat opa omanya setelah dari kantor, 
setelah makan di sana, baru pulang ke rumah. Sering si sulung ini kkemudian 
tinggal di rumah opa omanya, pagi baru dijemput lagi. 

Cuma beberapa hari terakhir ini, sudah 1 minggu ini, ketika ditanya apakah mau 
menginap, dia selalu bilang ingin tidur dan pulang ke rumahnya. Selalu bilang, 
"mau sleep di rumah"
Mama
 papa nya jadi merasa aneh, karena anak ini seolah2 prefer di rumah. 
Belakangan anak ini juga sering memiliki perasaan kepemilikan yang lebih besar 
dari biasanya. Kadang2 bahkan sampai tempat duduk pun dia sering bilang "yang 
ini punya mama, yang ini punya saya" But, so far sepertinya tidak menimbulkan 
egoisme yang berlebihan. 

Hanya, mengenai hal menginap tadi yang membuat bingung. Apakah hal itu ada 
hubungannya dengan rasa kepemilikan, atau karena ada yang berkomentar sesuatu, 
atau karena hal lain? 
Sempat saya beranalisa, apa karena dia melihat ortunya selalu pulang ke rumah, 
makanay dia juga berpikiran seperti itu?

Mohon input dari moms semuanya. 

Thanks before. 




      

    
     

    
    


 



  






      

Kirim email ke