Email  
Having trouble reading this email? Click here to see it in your browser 
 
 
 
 
Rabu, 13 Januari 2010   
 
Money Can't Buy Everything
Apakah Anda menerima daftar pekerjaan anak disertai daftar harga layaknya menu 
di restoran? Jika ya, jangan menganggapnya enteng, mungkin anak sudah 
menganggap nilai uang atau materi lebih penting dibandingkan nilai ketulusan 
dan manfaat dari sebuah proses. Jika terus dibiarkan, anak akan memupuk sifat 
materialistis sedari kecil. 

Psikolog pendidikan dari Universitas Indonesia Dr Tjut Rifameutia MA 
mendefinisikan materialistis adalah suatu sifat yang mengedepankan nilai materi 
pada keadaan yang kebutuhan materi sudah terpenuhi atau berlebihan. Anak yang 
memiliki sikap dan sifat matre ini biasanya terlihat konsumtif, selalu ingin 
memiliki barang-barang mutakhir, padahal tidak
terlalu membutuhkannya. Anak cenderung ingin memiliki uang jajan berlebih, 
berteman
dengan teman-teman yang berasal dari kelompok yang berada. Anak juga melakukan 
sesuatu dengan memperhitungkan untung ruginya dari segi materi seperti meminta 
reward atau dengan syarat-syarat. 
 
Rifameutia mengatakan, hal ini terjadi karena anak belajar dari pengalaman 
dunia di sekitarnya. ‘’Anak diperkenalkan dengan konsep materi yang salah 
sehingga terbentuk pola kebiasaan tersebut pada anak,’’ jelasnya. Seperti, anak 
biasa melihat kekaguman orang-orang pada mereka yang bergaya trendy dan 
memiliki barang-barang baru. Bisa jadi juga karena orangtua seringkali 
bercerita yang mengedepankan nilai-nilai ekonomi dan materi. ‘’Sehingga anak 
merasa bahwa hidup itu untuk memperoleh nilai ekonomi yang tinggi dan memiliki 
berbagai materi,’’ sambung Tia.

Psikolog dari Yayasan Kita dan Buah Hati, Januarani Razak Msi, mengatakan 
sebenarnya anak belum paham betul arti dari materialistis. Konsep materialistis 
ini berasal dari orangtua, yaitu bagaimana orangtua mempersepsikan materi. 
Dalam mengadopsi sebuah konsep umumnya anak-anak ada yang mampu mendefinisikan 
sendiri hal-hal yang ada di lingkungannya, sehingga bisa membedakan mana yang 
baik dan benar. Tapi, ada juga anak yang menjiplak hal-hal yang dilihatnya. 
“Alhasil pandangan orangtua dalam menilai materi yang tercermin dalam polah 
tingkah bisa tertular pada anak,” katanya.  

Januarani memaparkan, jika sifat ini terus dibiarkan tumbuh pada anak, alhasil 
materi akan menjadi tujuan hidupnya kelak. ‚’Hal ini tentu berbahaya, karena 
anak berpotensi menjadi seseorang yang bisa mendewakan materi dan melakukan 
tindakan apapun untuk mewujudkannya salah satunya korupsi,’’ ujarnya. Oleh 
sebab itu, tanamkan konsep materi yang benar. Materi bukanlah tujuan melainkan 
sarana dan penunjang. Ajarkan materi sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan 
hidup dan beramal pada orang lain. Semakin banyak materi yang didapatkan, maka 
semakin banyak orang yang bisa dibantu. ”Paling penting berikan pemahaman, 
materi bukanlah hal yang kekal dan bisa kapan saja diambil oleh yang maha 
kuasa,” kata Januarani. 

Materialistis vs selera tinggi

Psikolog pendidikan dari Universitas Indonesia, Wahyu Indiati Msi, mengingatkan 
jangan sampai orangtua salah menilai, anak yang menyukai barang bernilai tinggi 
belum tentu materialistis. Bisa jadi si anak memiliki selera yang tinggi dalam 
menilai sesuatu. ’’Persepsi ini dibentuk dari nilai-nilai yang ditanamkan 
orangtua saat beropini menilai suatu barang,’’ katanya. Untuk itu, orangtua 
perlu memperkenalkan beragam pilihan barang atau lingkungan. Misalnya, anak tak 
hanya diajak ke mal saja, tapi juga ke panti asuhan. Atau anak tak hanya 
dibelikan barang bermerek saja, tapi juga barang yang harganya lebih murah 
namun kualitasnya tak kalah. ”Kedekatan (bonding) antara anak-orangtua juga 
mempengaruhi sampai atau tidaknya pesan yang disampaikan orangtua,” katanya. 
Read More
Next Program
SuperCamp Indonesia will be coming on June 2010 at Bali 
This message was intended for '[email protected]' You have received this 
message because you are subscribed to pelangi-tc.com
Not interesting with us? Feel free to Unsubscribe 
PELANGI Traning Centre
Wisma Achilles Lantai 4, Jl. Panjang No.29 Kedoya Selatan Jakarta 11510, 
Indonesia
Customer Service Center: [email protected]
Call Center: +62-21-56949393 SMS Center: +62-815-1990-2447     


      

Kirim email ke