Sudah Siapkah Anak "Sekolah"?
by : Maya Siswadi
Sekolah menuntut kesiapan mental lho... Banyak orang tua yg
dibuat bingung, kapan ya anak musti mulai sekolah. Nah, sekolah yg saya
maksud di sini adalah mulai dari playgroup/kelompok bermain..
 Kalau
buat saya (ini saya sendiri lho ya, jadi bisa aja gak sama buat yg
lain), usia wajib sekolah itu umur 4 - 5 th, dan buat saya langsung
masuk TK, bisa TK selama 1 th atau 2 th.
 Tapi, ada beberapa ortu
yg menilai, anak perlu juga masuk mulai dari playgroup. OK!
Masing-masing ortu beda-beda pertimbangannya, gak bisa ditarik satu
garis lurus yg saklek. 

 Selain itu masing-masing anak juga
berbeda. Ada anak yang sudah siap sekolah sejak dini dan terus saja
merengek minta sekolah, tapi ada juga anak yang butuh waktu lama untuk
siap masuk sekolah. 

 Saya aja jaman dulu kecil-kecilnya pernah
masuk Playgroup bareng adik saya, padahal ibu saya adalah FTM, ibu
rumah tangga biasa. Tapi giliran anak sendiri saya gak mau, saya gak
mau masukin anak saya sekolah lebih dini. Anak saya mulai masuk sekolah
ya TK., itupun minimal umurnya 4 th..hehehe...
 Buat saya kesiapan anak untuk masuk sekolah penting banget..
 Pertama,
kesadaran anak untuk mau sekolah tentu harus dari dirinya sendiri,
karena anaklah yg akan menjalaninya, jadi dia harus mau dan mampu
menanggung konsekwensinya, supaya tidak ada kasus anak mogok sekolah,
males bangun pagi, dsb
 Masa sekolah itu adalah masa yang sangat
panjang, bayangkan berapa tahun anak harus sekolah nantinya? Nah selama
masa sekolah yang nantinya panjang itu tentu ada saatnya anak akan
mengalami kejenuhan, bayangkan jika sejak dini anak-anak yg mustinya
"tugas psikologis dan perkembangannya" hanya bermain itu sudah
"dituntut" untuk sekolah, duduk manis dan diam mendengarkan guru
berbicara atau mendengarkan instruksi guru. 

 Sementara
anak-anak usia dini kebutuhan perkembangannya masih ingin bebas bermain
dan berlari kesana kemari, mengeksplor apapun yg ditemui dan
dihadapinya. Mampukah "sekolah dini" memfasilitasi kebutuhan
perkembangan anak itu?
 Kedua, sudah siapkah anak secara mental emosional, untuk sekolah? coba kita 
jawab pertanyaan-pertanyaan simpel berikut : sanggupkah anak bangun pagi? 
sanggupkah anak beradaptasi dg situasi baru tanpa ortu, hanya dg 
guru/asistennya ? sanggupkah anak berada di lingkungan baru selama beberapa jam 
? sanggupkah anak menerima instruksi guru ? sanggupkah anak mengerti apa yg 
diinstruksikan oleh guru ? sanggupkah anak melakukan apa yg diinstruksikan oleh 
guru ? sanggupkah
anak melakukan "tugas" dari guru? seperti jika guru memberi instruksi
untuk memberi warna, menggunting,  menempel, menulis, dsb ? sanggupkah anak 
maju ke depan kelas, bercerita, bertanya pada guru, dsb? sanggupkah
anak melakukan beberapa hal secara mandiri, seperti makan sendiri,
pergi ke kamar mandi sendiri, menyimpan mainan atau peralatan ke
tempatnya, dsb? sanggupkah anak menyimpan dan memasukkan peralatannya sendiri 
ke dalam tas tanpa bantuan? sanggupkah
anak melakukan aktifitas-aktifitas fisik yg menuntut kemampuan motorik
kasar seperti berlari, menaiki tangga, menendang /melempar bola, dsb? 
sanggupkah anak menghadapi teman-temannya ? sanggupkah anak berkenalan ? 
sanggupkah anak mendekati teman dan mengajaknya main bersama? sanggupkah anak 
berbagi mainan bersama temannya? sanggupkah anak bermain bersama teman-temannya 
secara baik dan fair ? sanggupkah anak menghadapi persaingan ? sanggupkah anak 
menghadapi pertengkaran antar teman? sanggupkah anak menghadapi teman yg kasar 
? agresif ? suka merebut mainan ? suka mengejek teman ? dsb
 Pertanyaan-pertanyaan di atas perlu dijawab ortu utk melihat seberapa jauhkan 
dan seberapa siapkah anak sekolah?
 Hal-hal yg sudah disebutkan itu hanya beberapa hal yg akan dihadapi anak kelak 
di sekolahnya.
 Anak-anak
yg belum siap mental utk bersekolah, nantinya akan bermasalah di
sekolah. Entah berdampak langsung pada saat itu juga misalnya mogok
sekolah, sekolah tapi ogah-ogahan, takut/trauma sekolah, atau selalu
minta ditemani di sekolah, sekolah tapi menjerit-jerit karena tidak mau
masuk kelas, sekolah tapi mondar mandir di kelas, tidak konsentrasi,
dsb, atau berdampak di kemudian hari, entah anak nantinya jd pendiam,
pemalu, penakut, malas belajar, sulit konsentrasi, suka mengganggu
teman, suka membolos, dsb.
 Anak-anak yg belum siap juga nantinya
akan merepotkan ortu toh? Misalnya harus ditungguin bahkan sampai ke
kelas, ditemenin belajar di sekolah sepanjang
waktu?....hm....*mikir-mikir*
 Jika ortu mampu memberikan stimulasi yg baik di rumah, misalnya  mengenalkan 
konsep bentuk (segitiga, kotak, bulat, dst),  konsep warna (merah, kuning, ijo, 
dst),  konsep berhitung (pengenalan konsep jumlah seperti jumlah barang ada 1, 
2, 3, dst),  menulis (memegang pensil, mencoret kertas, membentuk huruf/angka) 
, menggambar,
mewarnai, dsb dengan cara-cara yg asyik dan fun, sambil bermain, ketika
sedang makan, ketika sedang jalan-jalan, ketika sedang bermain, ketika
sedang membaca bersama, tanpa pemaksaan, tentu akan lebih bagus lagi.
Jada anak "sekolah" dg suasana yg lebih asyik di rumah, gak harus masuk
playgroup.
 Karena toh yg diajarkan di playgroup untuk
menstimulasi anak juga. Jadi? Kenapa bukan ortunya saja yg berusaha
menstimulasi semaksimal mungkin. Belikan mainan-mainan edukatif
(stacking ring, shape shorter, dsb), buku-buku permainan utk balita yg
bisa diterapkan bersama anak, buku-buku cerita untuk story telling,
dsb. Toh investasinya sama dg kalo kita masukkan ke playgroup (mungkin
lebih hemat sedikit dan uangnya bisa buat tambahan investasi sekolah
atau kuliah anak di masa depan kan ?)
 Tinggal kita bikin aja
kurikulum dan susun target sendiri kalo menginginkan, disesuaikan dg
kemampuan yg udah dicapai anak. Masing-masing ortu tentu lebih tahu kan
kemampuan anaknya.
 Jangan lupa, jangan cuma membelikan dan
kemudian diberikan begitu saja ke anak, karena gak akan bermanfaat
apa-apa, kecuali ortu mau main bersama anak dan "belajar" bersama anak
hehehe. (untuk ini mungkin banyak ortu yg lebih pintar dari saya ya)
 Lantas
bagaimana dengan sosialisasinya? Sosialisasi juga ada masanya kog,
sedari kecil anak mungkin hanya berinteraksi dengan orang dewasa atau
orang yg dikenalnya, seiring dg waktu ditambah kesiapan mental dan
pertambahan umur dan kematangan berpikirnya, anak juga akan belajar
bersosialisasi dengan teman sebaya. Sosialisasi gak mudah lho, gak
semudah yg kita pikirkan, jadi perlu kesiapan mental juga. Bagaimana
berhadapan dg teman, bagaimana berkenalan dan bertegur sapa dg teman,
bagimana bermain bersama teman, bagaimana berbagi mainan dg teman, dsb,
semua itu tentu butuh proses dan proses belajar yg tidak sebentar.
 Kembali lagi, masing-masing orang tua mungkin beda pertimbangan
dan kebijakan untuk menyekolahkan anak, semua kembali dari sisi anak
dan orang tuanya juga.
Selamat memilih.
Maaf jika ada yang tidak berkenan

sumber : http://bunda2f.multiply.com/journal/item/114

Maya Siswadi
Bunda 3F (Faldi, Ferdi, Falda)
YM, FB : [email protected]
http://bunda3f.multiply.com

mo bisnis dari rumah dg modal murah?? http://bossbunda.co.cc 



      Lebih Bersih, Lebih Baik, Lebih Cepat - Rasakan Yahoo! Mail baru yang 
Lebih Cepat hari ini! http://id.mail.yahoo.com

Kirim email ke