DIET TELEVISI

dr. Ariani

http://parentingislami.wordpress.com/2010/02/22/diet-televisi/

Akhir-akhir ini, saya sedang berkonsentrasi melakukan diet teve  untuk kedua
buah hati. Masalah ini timbul ketika kami terpaksa harus menumpang di orang
tua dengan berbagai pertimbangan. Di rumah neneknya, televisi terbiasa
menyala hampir 24 jam sehari. bahkan ketika tidak ada yang menonton.
Wuih...! Repot, kan?

Sehingga  menonton teve menjadi kebiasaan baru buah hati saya.  Dan
ternyata  banyak yang mengalami masalah seperti yang saya alami. Coba simak
data yang ysaya kutip dari majalah Ummi ini : Dari Penelitian UNDIP dalam
menyiapkan baseline data untuk Pendidikan Media 2008 mendapati mayoritas
anak-anak yang diteliti mengaku mnghabiskan waktu 3-5 jam pada hari sekolah
dan 4-6 jam pada hari libur untuk menonton televisi. Bahkan beberapa dari
mereka secara ekstrem mengaku menonton teve 16 jam pada hari libur!. Sebesar
72,9% anak-anak yang menjadi responden Yayasan Pengembangan Media Anak
(YPMA) 2009 menonton teve selama 4,3 jam per hari. Padahal Menurut Kepala
Divisi Informasi Yayasan  Kesejahteraan Anak Indonesia Bobi Guntarto
menyarankan agar bayi usia 0-3 tahun tidak perlu diberi suguhan televisi.
Untuk anak SD pun televisi hanya boleh ditonton sebanyak 2 jam sehari.

Jumlah jam menonton itu sendiri didukung  jumlah tayangan anak yang kian
beragam di banyak stasiu  teve. Pada pekan ketiga Maret 2009 diperoleh data,
total durasi program anak di semua teve swasta adalah 125 jam. Namun
ternyata, 6 % anak-anak menonton  komedi situasi dan 5,9% menonton sinetron
remaja. Bahkan AGB Nielsen (2008) menemukan, bahwa top 10 program yang
ditonton anak-anak  5 tahun ke atas adalah reality show seperti
termehek-mehek dan Me vs Mom.

Kenapa ya, anak  suka menonton TV?

Menurut Rubin, seorang peneliti media, sejumlah motivasi bagi anak dan
remaja menonton teve :

   1. Relaksasi. Bagi banyak anak, menonton membuat mereka rileks dan santa.
   2. Menjadi teman. Menonton teve ibarat teman yang membuat  anak tidak
   merasa kesepian.
   3. Karena kebiasaan. Saking seringnya dilakukan, menonton teve bisa
   menjadi kebiasaan. Apalagi kalau tidak ada aturan menonton teve di rumah.
   4. Menghabiskan waktu. Banyak anak yang akhirnya lari ke teve karena
   tidak punya kegiatan lain yang harus dilakukan. Banyaknya waktu luang
   membuat mereka menonton teve.
   5. Untuk interaksi sosial. Menonton teve bisa menjadi kegiatan bersama
   dengan teman-temannya. selain itu menonton teve bisa menjadi bahan obrolan
   yang me ngasyikan dengan teman dan sahabat.
   6. Mendapatkan informasi. Teve dianggap dapat memberikan info mengenai
   hal-hal baru dan kejadian di sekeliling mereka.
   7. Seru, menarik dan semangat. Bagi banyak anak, menonton teve itu seru,
   menarik dan  membangkitkan semangat. Pernah melihat anak-anak terpaku
   menyaksikan film animasi avatar atau naruto?. Bagi mereka tontonan seperti
   ini  seru dan membuat semangat.
   8. Melarikan diri (escape). Melepaskan diri dari kewajiban, keluarga atau
   hal yang tidak ingin dikerjakannya.
   9. Hiburan. Televisi adalah hiburan yang murah meriah, mudah di dapat di
   mana saja.

Kenapa harus Diet?

Banyaknya tontonan kekerasan dan supranatural

Hendriyani dkk (2009) menemukan bahwa program anak-anak yang tersedia mulai
pukul 04.30-20.00 WIB adalah program import yang berkategori animasi. Yang
temanya sebagian besar kekerasan dan supranatural. Adegan kekerasan
berpotensi menbuat anak meniru kekerasan serupa. Mungkin masih segar dalam
ingatan kita kasus meninggalnya Reza Ikhsan Fadilah (9) tahun tewas setelah
diplintir ketiga temannya yang meniru adegan Smackdown, beberapa waktu yang
lalu.

Ada yang lebih leboh lagi. Pada tahun 1999 Amerika Digemparkan dengan
peristiwa penyandraan sebuah sekolah menengah di Kota Littleton selama 5
jam. Penyanderaan dilakukan oleh 2 orang siswa sekolah tersebut. Tidak
main-main, penyanderaan dilakukan dengan memakai senjata api. Tragedi
berdarah ini menelan korban tewas 12 orang dan seorang guru serta mencederai
23 orang. Penyaderaan berakhir dengan bunuh diri 2 orang penyadera tersebut
dengan cara menembak diri mereka sendiri.

Setelah diselidiki, ternyata motif mereka melakukan hal tersebut semata demi
membayangkan diri mereka tengah berada dalam cerita serupa dalam video yang
mereka tonton.Tragis!

Hati-hati juga dengan tayangan berita kriminal  di televisi, hal ini dapat
mengganggu pola pikir anak. Misalnya berita poembunuhan atau bunuh diri
dengan memperlihatkan kondisi mayat  yang mengenaskan. Anak-anak bisa jadi
terinspirasi dan meniru bentuk penyelesaian masalah yan dilihat dari
televisi, tanpa mempertimbangkan dampaknya.

Sedangkan tayangan supranatural berpotensi syirik ayang akan mengotori
akidah ank-anak kita. Anak akan terpesona dengan kekuatan benda gaib, tokoh
jagoan dan melupakan kekuasaan Allah.

Banyak yang tidak bermutu

Sebagian besar data yang disajikan  stasiun teve adalah data yang tidak
berguna (data smog, istilah David Shenk ). Yang tidak akan dapat memberi
manfaat untu buah hati kita.

Mengganggu interaksi sosial

Anak yang sudah kecanduan teve, cenderung malas untuk  berinteraksi sosial
dan menjadi pasif. Interaksi denngan teman dan keluarga digantikan dengan
keasyikan menonton suguhan di layar kaca. Begitu pula kesempatan
mengembangkan minat akan hilang, sebab minatnya hanya tertuju pada teve. Hal
ini tentu tidak baik terhadap  perkembangan soisl, motorik maupun
emosionalnya. Anak akan lebih sulit bekerjasama, mengendalikan emosinya.
Selain itu anak dapat mengalami gangguan tidur karena hal-hal seram yang
sering terlihat dalam film-film mistik ataupun horor tampak nyata bagi
mereka.

Ada temuan yang menarik dari Hasil Temuan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia
(YLKI) terhadap film-film kartun. Film yang mengusung tema kepahlawanan
ternyata lebih banbyak mengandung adegan antisosial (63,5%) daripada
prososial (36,4%)

’Coach Potato Problem’

Duduk berlama-lam amenonton  menyebabkan kegiatan fisik anak-anak berkurang.
Dan jika nonton dilakukan sambil ngemil, dapat timbul gangguan ’Coach Potato
Problem’ atau kegemukan. Istilah ini menggambarkan postur tubuh anak yang
seperti kentang duduk. Bentuk tubuh ini dapat mengganggu pengembangan
motorik kasak dan motorik halusnya.

Dapat menyebabkan gangguan fisik

Pada beberapa kasus di  jepang, sejumlah film kartun atau games-Karena
komposisi gambar dan warna serta adegannya-menimbulkan kejang-kejang atau
sawan pada anak. Gangguan inimuncul karena memang tayangan itu langsung
berhubungan dengan mata dan saraf.

KECANDUAN TV

Hati – hati jika anak :

   1. Kegiatannya hanya menonton TV, melakukan segala sesuatu sambil
   menonton TV
   2. Malas bergerak
   3. Malas melakukan kegiatan lain yang dulu sangat diminati
   4. Malas berinteraksi, menarik diri dari pergaulan
   5. Selalu membicarakan segala sesuatu yang berkaitan dengan tontonannya
   6. Menjadi mudah marah dan sensitif ketika diminta berhenti menonton
   7. Belajar terganggu, malas mengerjakan PR dan sulit memusatka perhatian

karena jika ada gejala-gejala di atas  berarti anak kita sudah tergantung
TV. hal ini tentu kan menggangu pula akademisnya. Nauzubillah

Diet TV, yuk!

Fakta-fakta di atas semakin mebuat saya miris, dan mendorong saya untuk
menjalankan berbagai program diet TV.

Mulai dari diri sendiri

Keteladanan akan membekas pada diri anak kita. Jadi ketika saya ingin
melakukan diet TV pada anak-anak kita, saya memulai dari diri saya sendiri.
Karena kalau anak sering melihat kita menonton televisi, anak pun akan
meniru kebiasaan kita

Jika memungkinkan, diskusikan bahaya TV untuk anak dengan orang-orang di
rumah.

Hal ini akan menyamakan pandangan tentang TV dan lebih jauhnya mendukung
program diet TV Walaupun hal ini tidak mudah, karena  yang saya hadapi
adalah orang tua. Dan terlebih, kami nebeng di sana. Kesamaan nilai akan
mempengaruhi keberhasilan program ini. Jika kita ketat terhadap televisi,
tapi yang lain tidak, sulit untuk berhasil

Membuat aturan menonton TV

Termasuk waktu menonton, jenis, tontonan dan lamanya menonton. menonton TV
bisa dijadikan reward andfunisment atas perilaku baik atau kedisiplinan
anak. Misalnya boleh nonton TV kalau sudah mandi dan makan.. Sebaliknya,jam
menonton  dikurangi jika anak sulit mandi atau makan

Pendampingan ketika menonton TV

Selain menciptakan kebersamaan, pendampingan kita untuk menonton TV adalah
kesempatan untuk mengklarifikasi hal yang tidak tepat, atau menerangkan hal
yang belum jelas untuk anak.

Beralih ke TV kabel atau nonton DVD

Saya sempat terhenyak melihat iklan sebuah minuman ringan yang penuh adegan
pornoaksi, dan  serba permisif. Ditambah lagi durasinya sangat lama. Saking
lamanya, saya kira video klip. Dan yang paling tragis, iklan itu diputar
ketika jam tayang film anak. Jenis film mungkin masih bisa kita seleksi,
tapi hati-hati dengan tayangan iklan yang tidak bisa kita seleksi. Hal ini
membuat saya lebih tenang membiarkan anak-anak menonton DVD daripada
menonton tayangan televisi, walaupun  film yang diputar di TV itu sama
dengan yang di DVD.

Membuat sebanyak-banyaknya alternatif kegiatan

Akan lebih mudah ketika kita membuat jadwal harian anak-anak, beserta
berbagai kegiatan yang menarik seperti bersepeda, membersihkan kamar,
memberi makan hewan peliharaan dan lain-lain. Selain mencegah anak-anak dari
menonton televisi, hal ini menyenangkan dan bernilai edukatif bagi anak.
Jadwal ini sangat membantu, terlebih ketika  kita sedang mendelegasikan
pengawasan anak pada orang lain, ketikabkita harus beraktivitas ke luar
rumah

Menciptakan nuansa spiritual di rumah

Suasana spiritual yang kenal akan membangun akidah dan moral anak. Yang
dapat mengcounter pengaruh TV yang tidak baik.

Misalnya dengan membiasakan shalat tepat waktu dengan mengajak anak, ketika
adzan TV dimatikan, dan mengaji pada waktu-waktu tertentu. Menceritakan
kisah-kisah yang mengandung nilai moral dan spiritual.

Ayah, Bunda, Semoga Allah memudahkan program diet TV kita semua.. Amien


Sumber data :

   - Majalah Ummi no 9 Januari 2010
   - Parent Guide No 12 September 2004
   - Catatan pribadi

Kirim email ke