Dr milis tetangga
Sent from •eShopedia™•BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

-----Original Message-----
From: Dewi Chandra <[email protected]>
Date: Fri, 5 Mar 2010 09:18:07 
To: <[email protected]>; <[email protected]>; 
<[email protected]>; <[email protected]>; 
<[email protected]>; <[email protected]>
Subject: [selasasale] True Story: Wanita jelek itu ibuku

Ini adalah sebuah kisah lama yang patut dibaca dan direnungkan berkali- kali 
betapa baiknya ibunda kita, bagaimana besarnya pengorbanan ibunda kita dstnya

Kejadian ini terjadi di sebuah kota kecil di Taiwan, tahun berapaan udah lupa. 
Dan sempat dipublikasikan lewat media cetak dan electronic. Ada seorang pemuda 
bernama A be (bukan nama sebenarnya). Dia anak yg cerdas, rajin dan cukup cool. 
Setidaknya itu pendapat cewe2 yang kenal dia. Baru beberapa tahun lulus dari 
kuliah dan bekerja di sebuah perusahaan swasta, dia sudah dipromosikan ke 
posisi manager. Gajinya pun lumayan.Tempat tinggalnya tidak terlalu jauh dari 
kantor.

Tipe orangnya yang humoris dan gaya hidupnya yang sederhana membuat banyak 
teman2 kantor senang bergaul dengan dia, terutama dari kalangan cewe2 jomblo. 
Bahkan putri owner perusahaan tempat ia bekerja juga menaruh perhatian khusus 
pada A be.

Di rumahnya ada seorang wanita tua yang tampangnya seram sekali. Sebagian 
kepalanya botak dan kulit kepala terlihat seperti borok yang baru mengering. 
Rambutnya hanya tinggal sedikit di bagian kiri dan belakang. Tergerai seadanya 
sebatas pundak. Mukanya juga cacat seperti luka bakar. Wanita tua ini betul2 
seperti monster yang menakutkan. Ia jarang keluar rumah bahkan jarang keluar 
dari kamarnya kalau tidak ada keperluan penting.

Wanita tua ini tidak lain adalah Ibu kandung A Be. Walau demikian, sang Ibu 
selalu setia melakukan pekerjaan routine layaknya ibu rumah tangga lain yang 
sehat. Membereskan rumah, pekerjaan dapur, cuci-mencuci (pakai mesin cuci) dan 
lain-lain. Juga selalu memberikan perhatian yang besar kepada
anak satu2-nya A be. Namun A be adalah seorang pemuda normal layaknya anak muda 
lain.

Kondisi Ibunya yang cacat menyeramkan itu membuatnya cukup sulit untuk 
mengakuinya. Setiap kali ada teman atau kolega business yang bertanya siapa 
wanita cacat dirumahnya, A be selalu menjawab wanita itu adalah pembantu yang 
ikut Ibunya dulu sebelum meninggal. "Dia tidak punya saudara, jadi saya 
tampung, kasihan." jawab A be. Hal ini sempat terdengar dan diketahui oleh sang 
Ibu. Tentu saja ibunya sedih sekali. Tetapi ia tetap diam dan menelan ludah 
pahit dalam hidupnya. Ia semakin jarang keluar dari kamarnya, takut anaknya 
sulit untuk menjelaskan pertanyaan mengenai dirinya.

Hari demi hari kemurungan sang Ibu kian parah. Suatu hari ia jatuh sakit cukup 
parah. Tidak kuat bangun dari ranjang. A be mulai kerepotan mengurusi rumah, 
menyapu, mengepel, cuci pakaian, menyiapkan segala keperluan sehari-hari yang 
biasanya di kerjakan oleh Ibunya. Ditambah harus menyiapkan obat-obatan buat 
sang Ibu sebelum dan setelah pulang kerja (di Taiwan sulit sekali cari 
pembantu, kalaupun ada mahal sekali). Hal ini membuat A be jadi BT (bad temper) 
dan uring-uringan di rumah.

Pada saat ia mencari sesuatu dan mengacak-acak lemari ibunya, A be melihat 
sebuah box kecil. Di dalam box hanya ada sebuah foto dan potongan koran usang. 
Bukan berisi perhiasan seperti dugaan A be. Foto berukuran postcard itu tampak 
seorang wanita cantik. Potongan koran usang memberitakan tentang seorang wanita 
berjiwa pahlawan yang telah menyelamatkan anaknya dari musibah kebakaran. 
Dengan memeluk erat anaknya dalam dekapan, menutup dirinya dengan sprei kasur 
basah menerobos api yang sudah mengepung rumah. Sang wanita menderita luka 
bakar cukup serius sedang anak dalam dekapannya tidak terluka sedikitpun. Walau 
sudah usang, A be cukup dewasa untuk mengetahui siapa wanita cantik di dalam 
foto dan siapa wanita pahlawan yang dimaksud dalam potongan koran itu. Dia 
adalah Ibu kandung A be. Wanita yang sekarang terbaring sakit tak berdaya.

Spontan air mata A be menetes keluar tanpa bisa dibendung. Dengan menggenggam 
foto dan koran usang tersebut, A be langsung bersujud disamping ranjang sang 
Ibu yang terbaring. Sambil menahan tangis ia meminta maaf dan memohon ampun 
atas dosa -dosanya selama ini. Sang ibupun ikut menangis, terharu dengan 
ketulusan hati anaknya. "Yang sudah-sudah nak, Ibu sudah maafkan. Jangan di 
ungkit lagi". Setelah sembuh, A be bahkan berani membawa Ibunya belanja ke 
supermarket.

Walau menjadi pusat perhatian banyak orang, A be tetap cuek bebek. Kemudian 
peristiwa ini menarik perhatian kuli tinta (wartawan). Dan membawa kisah ini ke 
dalam media cetak dan elektronik. Ketika membaca kisah ini di media cetak, saya 
sempat menangis karena tidak sempat bersujud di hadapan mamaku. Mamaku telah 
meninggal 3 th lebih saat itu.

Teman2 yang masih punya Ibu (Mama atau Mami) di rumah, biar bagaimanapun 
kondisinya, segera bersujud di hadapannya. Selagi masih ada waktu ya.



      Apakah saya bisa menurunkan berat badan? Temukan jawabannya di Yahoo! 
Answers!
http://id.answers.yahoo.com

Kirim email ke