SUDAHKAH KITA
MENGISI BANK MEMORI ANAK KITA?
Sudah menjadi gaya hidup yang wajar di kota-kota besar, pagi-pagi buta
suami istri sibuk mandi dan bersiap-siap berangkat ke kantor. Siap menghadapi
kemacetan yang panjang, jam kerja yang tidak kalah panjang dan pulang ke rumah
di waktu petang dan sampai ke rumah mungkin sudah malam dan jelas sudah lelah
secara fisik dan psikis.
Hal tersebut
kadang menjadi sesuatu hal yang harus dilakukan. No choice. Karena biaya hidup
yang tinggi di kota besar sehingga jika tidak suami dan istri bekerja bersama
maka banyak keluarga muda yang mengalami kesulitan membiayai hidup mereka.
Belum lagi cita-cita orang tua untuk mempersiapkan yang terbaik bagi masa depan
anak.
Ayah sebagai pencari nafkah tentu harus berjuang keras. Namun banyak juga
fenomena keluarga yang sebenarnya cukup mampu secara ekonomi jika hanya ayah
yang bekerja, namun ibu juga bekerja dan berkarier. Dengan berbagai motivasi
tentunya. Dari untuk aktualisasi, memanfaatkan sekolah dan keahlian yang
dimiliki, dapat menabung lebih untuk masa depan anak-anak, menanggung biaya
hidup orang tua dll.
Tidak bisa dikatakan salah tentunya. Permasalahan dan dilema harus
diteropong dari berbagai sisi kehidupan dan kebutuhan. Tapi berhati-hati dan
pekalah akan kehidupan
anak-anak. Tidak ada harta yang lebih berharga dari pada keturunan kita.
Keturunan kita adalah harta warisan yang sesungguhnya. Lebih berharga dari
segala hal. Tentu tidak salah jika Ibu ingin berbisnis atau berkarier namun
pekalah akan kebutuhan apa sebenarnya yang menjadi prioritas dalam hidup.
Dengan Ayah dan Ibu sama-sama bekerja, apakah kebutuhan yang merupakan prioritas
terpenuhi? Atau justru karena terlalu lelah bekerja sehingga Ayah dan Ibu
sama-sama sudah tidak ada waktu dan energi untuk melakukan segala hal yang
sebenarnya merupakan prioritas dalam hidup ?
Jika anak-anak kita adalah salah satu harta yang paling berharga, usaha apa
yang telah kita lakukan untuk mereka? Salah satunya yang paling nyata dan
paling diusahakan oleh orang tua biasanya adalah kesehatan fisik dan
pendidikan. Anak-anak diusahakan mendapat asupan makanan yang bergizi dan
mendapat pendidikan yang terbaik. Biasanya pendidikan menjadi fokus yang
dipersiapkan dengan matang oleh orang tua. Dari usia 2 tahun bahkan ada
yang dari usia 1 tahun orang tua sudah repot memasukkan anaknya ke
sekolah. Orang tua sibuk menabung agar
anaknya dapat masuk sekolah terbaik yang
mampu diusahakan oleh orang tua. Tidak hanya sampai jenjang sarjana tapi jika
bisa lebih tinggi lagi.
Orang tua sibuk membanting tulang dari pagi hingga malam, dari Senin hingga
Sabtu, untuk dapat memenuhi account
mereka di bank demi masa depan anak. Janganlah lupa bahwa ada satu bank lagi
yang harus kita isi. Yaitu bank memori.
Apa yang kita ingat dari masa kecil kita? Kita mungkin tidak ingat jika
waktu di usia 6 tahun kita dibelikan sepatu mahal misalnya. Tapi kita akan
sangat ingat moment moment dimana Ayah kita mengajak pergi berlibur ke kebun
binatang. Kita ingat moment saat ulang tahun adik dan kita merayakan beramai
ramai di taman bermain yang seru.
Di tengah kesibukan kita mempersiapkan masa depan anak, janganlah lupa
melakukan apa yang harus kita lakukan sekarang. Mengisi bank memori anak kita
sebanyak mungkin dan mulai sedini mungkin.
Semakin muda usia anak kita maka semakin lama waktu yang kita miliki
untuk mulai mengisi bank memori anak kita dengan berbagai pengalaman
kebersamaan yang berharga.
Saat waktu keemasan anak kita hilang. Saat anak kita mulai masuk usia SMA
maka makin sulit dan makin tidak butuh bagi sang anak untuk kita isi bank
memorinya. Karena porsi terbesar bank memori itu sudah akan diisi oleh peer
groupnya. Peran orang tua sedikit demi sedikit berkurang.
Karena itu manfaatkan moment yang ada sebaik mungkin. Jangan sampai
kebutuhan akan hal-hal yang fisik menipu kita. Anak kita tidak hanya perlu
saldo di bank untuk masa depannya tapi terlebih lagi dia memerlukan kita orang
tuanya untuk terlibat dalam segala aktivitas hidupnya. Bermain bersama,
mengerjakan pr bersama, belajar bersama, mengerjakan pekerjaan rumah tangga
bersama, berdoa bersama, rekreasi bersama, hal-hal itulah yang akan mereka
kenang seumur hidup akan siapakah Ayah dan Ibunya.
Anak-anak kita tidak akan tumbuh
besar menjadi manusia dewasa yang puas dan
bahagia jika ditinggalkan oleh orang tuanya dengan saldo di bank yang
sangat banyak namun saldo di bank memori yang hampir tidak ada. Kecuali jika
kita bangga memiliki anak materialistis
yang hanya senang karena mendapat warisan harta.
Tidak akan tercapai moment yang berkualitas tanpa asupan kuantitas yang
memadai. Hargailah setiap moment yang bisa Anda nikmati bersama anak Anda.
Yakinlah suatu saat Anda yang akan tersenyum puas karena Anda telah mengisi
penuh bank memori mereka dengan maksimal.
Saat kita sebagai orang tua sudah tidak ada di muka bumi ini, memori itulah
yang akan tetap bersama anak-anak kita selama-lamanya. That is our true legacy.
Itulah warisan paling berharga yang dapat kita berikan ke anak-anak kita.
Salam Sejahtera,
Meet me at www.konselingkeluarga.com
Jadikan Konseling
sebagai Gaya Hidup Anda
Baca artikel menarik lainnya di www.konselingkeluarga.com