Info lengkap PSPA di : www.sekolahorangtua-pspa.co.cc Episode Sebagai Orangtua * Berbagi dari PSPA
Written By: Keke Muhir/Ummu/[email protected] Alumni Pelatihan "Yuk-Jadi Orangtua Shalih PSPA" Palembang Ikut Program Sekolah Pengasuhan Anak... Jujur membuatku punya 'ruh' baru untuk menjadi Orangtua Ingatlah kita bukan orangtua Malaikat Kita sah-sah saja punya sifat manusiawi; kesel, marah, sedih, kecewa, capek atau pusing sekalipun perasaan-perasaan negatif yang wajar tapi bagaimana kita bisa menyalurkannya hingga menjadi energi positif untuk menempa anak-anak kita... Yang sejatinya juga bukan para Malaikat yang memang tercipta sebagai ahli ibadah yang langsung terampil melakukan semua kebaikan mereka, anak-anak kita tengah belajar sedang berproses ~ bereksplorasi menjadi cahaya kehidupan dan.... jika kita memahaminya Insya Allah anak-anak kita akan menebar cahaya untuk kehidupan bahkan juga untuk kita, orangtuanya sekalipun kita tidak lagi hidup di dunia Dan bagian-bagian inilah yang kusuka dari 2 Modul dihari pertama: Modul I tentang Karunia Fitrah Kita sudah sering dingatkan, bahwa semua anak lahir fitrah kita juga sudah sepakat bahwa anak adalah anugrah, anugrah terindah tapi seringkali, sadar atau tidak, kita seolah menjadikan mereka beban kita bilang mereka, anak-anak kita terlalu banyak meminta bahkan disaat mereka sebenarnya sedang memberi Padahal... bila mereka anugrah seharusnya bersama mereka adalah suatu kebahagiaan tapi mengapa banyak anak menjadi "yatim piatu" disaat ortunya masih lengkap berapa banyak anak enggan bercerita kepada ortu, mereka justru memilih yang lain Duhai kita yang mengaku ingin menjadi ortu terbaik sudahkah kita menyediakan waktu bersama anak hanya bersama anak saja, full tidak bertiga dengan kompor, berempat dengan majalah, berlima dengan cucian, berenam dengan laptop mereka tak perlu 24 jam kita, mereka juga tak butuh itu 1 jam saja/hari, ini sungguh fantastis, hasilnyapun akan dahsyat Sudahkah??? Andai saja kita mau meluangkan waktu sesaat untuk menatap mata mereka betapa mereka sangat menggemaskan beruntungnya kita dipercaya dititipi Allah karunia fitrah maka mengapa pernah kita siaL _______ Modul II tentang Karunia Belajar Belajar?? Apa ya tujuan yang kita ingin dari si-Belajar ini? Supaya pintar :D Trus kalu sudah pintar mau ngapain? Adalagi, pintar itu yang bagaimana? Apakah anak yang tidak 10 besar di Kelas tidak pintar? Apa saja yang penting dipelajari anak? Bahasa Arab penting, matematika penting, Bahasa Inggris juga penting. Trus penting mana dengan disiplin, kejujuran, tanggungjawab dan sejenisnya? Nah lho... Penasaran? Bagus!!! Memang penasaran inilah yang dibutuhkan anak-anak kita agar keranjingan belajar penasaran mereka sering kita salah artikan kita renggut dengan pelototan, ataw pengalihan lalu kita ributi saat mereka enggan belajar Belajar itu menyenangkan, sebenarnya... tapi hari gini berapa banyak anak yang mengalami kesulitan belajar belajar membuat anak stress Kok bisa? Anak dituntut untuk tau sesuatu sebelum masanya belajar bahkan kursus baca saat mereka masih sangat belia bisa baca cepat, tidak membuat anak jadi gemar membaca padahal sebagai ortu sebenarnya yang kita inginkan anak suka membaca Ehhmmm... Belum lagi berapa banyak informasi yang sesungguhnya tidak perlu tapi mereka harus menghafalnya hanya demi sebuah nilai ujian, supaya lulus UN gitu lho.. Jadi ingat lah selalu wahai ortu semua anak cerdas jangan pernah mengecilkan mereka hanya karena nilai 6 untuk satu pelajaran sekolah jangan sekali-kali menganggap mereka 'sulit' hanya karena sulit menghitung bahkan seorang Thomas Alva Edisaon tidak sucses di Sekolah formalnya ia berhasil menemukan 'bola lampu' bukan karena juara umum di Sekolah atau menang Olympiade Fisika bukan... tapi karena ia punya Nancy Elliot sebagai ibu, sebagai orangtua Nancy bukan orang hebat yang tau segalanya tentang dunia, sebagai ortu Nancy hebat karena memberikan "wadah" bagi Thomas untuk terus bergairah belajar meski sudah dicap bodoh dan dikeluarkan dari Sekolah Sekali lagi belajar adalah proses dari tidak tau menjadi tau, yang sudah tau menjadi lebih tau, yang melibatkan fisik, pikiran dan emosi dan agar proses ini tidak terhenti buatlah belajar itu menyenangkan Kelola penasaran-penasaran anak mereka adalah anak-anak kita dengan semua keistimewaan yang ada bukan Thomas Alva, bukan siapa kitalah orangtua terbaik buat mereka Kutau kita bisa kita bahkan lebih bisa dari Nancy karena kita punya cara berkomunikasi *minimal 5x sehari dengan Sang Maha Segala )* Hari ke-2 PSPA Duhai semua orangtua yang tengah berjuang menjadi orangtua terbaik, Sadar kah kita betapa mengurus anak adalah hal yang perlu ilmu tak cukup hanya mengandalkan tradisi warisan seperti apa kita didik dan diasuh dulu karena anak kita bukanlah kita mereka tak suka dibandingkan, bahkan dengan diri kita dimasa lalu Sebenarnya... anak bisa patuh tanpa diteriaki anak senang berbuat baik tanpa diminta anak akan belajar tanpa dipaksa anak dapat mandiri tanpa digurui anak punya ketahanan diri tanpa harus diisolasi Dan sesungguhnya... orangtua baik akan menjelaskan orangtua bijak melakukan teladan orangtua cerdas selalu menginspirasi* Dikutip dari buku Abah Ihsan "Sudahkah Aku Jadi Orangtua Shalih?" ______ Masih di Kelas Program Sekolah Pengasuhan Anak hari terakhir, Aula DPRD Prop. Sum-Sel Modul III tentang Karunia Konsistensi Anak kita memiliki memory yang sangat dahsyat, jauh melebihi kita para orangtua Itulah kenapa anak-anak kan selalu ingat dengan janji-janji yang pernah kita ucapkan sekalipun kita sudah melupakan janji tersebut maka jangan sembarangan ingkar janji Berbohong, jangan lakukan, plizzs mau kecepit, kepepet apapun namanya katakan dengan jujur meski harus ada tangisan Tegas pada anak sekali sudah disepakati, jangan diubah rengekan bahkan amukan, abaikan saja sekali tidak tetap tidak Ingat; TEGAS bukan keras tegas bukan teriak dengan kencang kita bisa tegas dengan tetap tersenyum Menghukum anak, boleh saja tapi setelah melewati tahapan, dirembukkan, mereka tau aturan mainnya mereka menyepakati bentuk hukumannya bila sengaja melanggar diningatkan berulang terlebih dahulu jadi hukuman adalah bagian konsistensi seyogyanya hukuman bukan tindakan spontanitas menghukum saat mereka meremukkan laptop kita menghukum ketika mereka menghapus file penting kita padahal mereka tidak sengaja gemetar mereka kita bentak, kita marahi selanjutnya kita hukum tidak boleh ini itu padahal belum ada kesepakatan apa-apa lantas kenapa laptopnya yang tidak kita amankan dari jangkauan Hayoo...bahkan mata kaca mereka mewakili maafpun kita abaikan Apa yang kita dapat? puas??? membuat hati mereka hancur kembalikah barang yang rusak setelah kita berjaya menghukum mereka yang pasti tak bisa kita beli adalah perekat hati anak-anak kita, hiks...hiks JANJI ya... tidak akan mudah menghukum mereka Apalagi sampai menyakiti fisik mereka tela'ah semua hadist hanya ada satu tentang "memukul", dan itu yang langsung berhubungan dengan perintah SHOLAT, ingat pada umur berapa? 10 tahun, dan itu setelah pengkondisian selama 3 tahun, ya sejak usia 7 tahun mereka kita ajari untuk sholat Adakah memukul anak kita diizinkan selain yang satu ini perkuat lagi tekat kita, JANJI tak akan mudah menghukummu Nak... _______ Modul IV tentang Karunia Kiblat (+) Fokus pada kebaikan mereka saja betapa banyak kelebihan mereka yang membuat mereka bangga tapi kita serng lupa, suka kita tutupi dengan kejengkelan yang tak layak padahal enegi (+) akan membuat potensi baik mereka melejit begitupun dengan energi (-) bisa membuat anak kita terpuruk dalam kelemahan Jadi jangan tunggu lagi jangan tunda lagi, arahkan mereka pada kebaikan dengan membidik potensi keistimewaan mereka kekurangan dan hal-hal (-) pada diri mereka abaikan, buang jauh Bisa ya... B I S A !!! Ternyata, mudah saja :)) ______ Modul V tentang Karunia Mendengar Dua telinga dengan satu mulut Allah arahkan agar kita lebih banyak mendengar daripada bicara Banyak orang bisa menjadi pendengar yang baik buat temannya temapat curhat favorit bagi rekan dan saudara tapi mengapa banyak orangtua justru gagal membuat Sang anak mau bercerita panjang lebar kali tinggi pada orangtua Why??? Apa salah anak bila tak betah berlama-lama ada didekat ortu boro-boro curhat, ntar aja la yau... Karena anak justru sering jadi tempat sasaran kemarahan, lampiasan kejengkelan para orangtua setiap moment bersama ada saja ceramah, kultum, nasihat, tausiyah dkk dari orangtua lantas kapan giliran anak bicara mana ruang tempat mereka curhat ke ortu salahkan siapa bila mereka lari keluar rumah hanya demi cari pendengar yang baik Dan ini terjadi sejak anak kecil samapi mereka remaja sambung dewasa mana telinga kita untuk anak terlebih mendengar disini bukan hanya sekedar pasang telinga sekali lagi bukan.... tapi mendengar yang menghadirkan rasa yang melibatkan CINTA Dengar...hai dengar... mendengar sebenarnya mudah tak butuh biaya, tak perlu sarana tambahan bisa dalam posisi apa saja, duduk, telentang, tengkurep atau posisi bebas lainnya tak perlu perangkat tata bahasa selayaknya bicara apalagi menulis tapi mengapa kita enggan sungguh dengan mendengar kita bisa tau masalah dan hanya dengan tau masalah kita bisa berkontribusi sesuai kebutuhannya Jadi tak ada alasan lagi, siaplah jadi pendengar belajar dan berjuang menjadi tempat curhat yang baik buat anak-anak kita SEKARANG !!! dan SELANJUTNYA !!! ________ Modul VI tentang Karunia Saffat Q.S Ash-Shaffat : 102 "........Ibrahim berkata: Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi aku menyembelihmu. Maka pikirkan bagaimana pendapatmu?............" Bahkan Ibrahim, Nabi Allah pun, meminta pendapat anaknya Ismail untuk satu keputusan yang berhubungan dengannya. Anak dilibatkan !!! Lalu bagaimana dengan kita Bagaimana selama ini kita kepada anak sudahkah mereka dilibatkan Biasakan bermusyawarah dengan anak-anak tentang apa-apa saja yang berhubungan dengan mereka dengarkan dan hargai pendapatnya ini akan membentuk karakter mereka dimasa depan adapun saat ini kita akan merasakan kedekatan dengan mereka akan membuat pesan kita mudah sekali mereka terima COBA lah... Belajar dari Ibrahim belajar untuk mencintai Allah bersama anak-anak kita tentunya INDAH bukan??? Lalu apa yang menghalangi kita S I A P....Laksanakan !!! ______ Dan dengan bangga aku sampaikan pada dunia bahwa anakku adalah anugrah terindah yang t'lah Allah titipkan pada kami, kedua orangtuanya Kami akan terus menempa diri menjadi orangtua pembelajar hingga kelak kalian menjadi anak-anak pembelajar yang bersinar laksana bintang, tak pernah redup apalagi pudar oleh lingkungan senista apapun... )** Dan (sungguh) sejak hari ini sudah kutambahkan nama Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari, Trainer PSPA dalam daftar guruku Guru yang mencerahkan...dan mohon perkenan Abah untuk punya murid aku dan suami, sepasang Pejuang Cinta sebagai Orangtua Pembelajar ^_^ Ceriakan hati...Bersiap jadi orangtua terbaik Berjuang...B I S A !!!-----satu kelompok peserta para bunda diantara 4 kelompok yang ada, pelatihan PSPA angkatan Palembang PSPA Hadir di Jakarta :28-29 MEI 2010, Gedung BPPT II Lt.3 Jl Thamrin, No.8 Jakarta Pusat Info lengkap PSPA : Nurliani :021-93137040

