Dear moms dadit,

Thanks yach infonya..

Saya juga senang sekali, anak saya Thera (16 bln) kemaren lulus asi exclusive 6 
bulan full.. Dan ternyata benar , hasilnya dapat dirasakan baik sama anaku 
sendiri maupun kami ortunya.
Thera jarang sakit, motoriknya berkembang pesat,, . Memang tidak terlalu gemuk 
tapi dia badanya padat berisi, dan montok.
Dibandingkan dengan anak2 seusianya, thera lebih montok dan energik banget.

Jadi hayo moms,, bagi yang mau punya babay..dari sekarang, niatkan hati untuk 
babynya kelak diberikan hak nya secara full 6 bulan. 
Jangan dengar sekeliling kita yg bikin kita down. Yang peniting dari diri moms 
sendiri demi anak kita..

Arie..

Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

-----Original Message-----
From: Dedek Gunawan <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Wed, 19 May 2010 14:37:44 
To: <[email protected]>; <[email protected]>; 
<[email protected]>; <[email protected]>; 
<[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: [parentsguide] [share] Artikel untuk bekal menyusui (untuk bumil dan 
yang punya 
        bayi)

Dear moms,

salam kenal, saya dedek, ibu dari Dadit, 14 M.
Saya hanya ingin berbagi sedikit tulisan yang pernah saya buat di blog saya.
Mungkin berguna untuk ibu-ibu hamil yang ingin menyusui anaknya kelak.

Enjoy breastfeeding :)

.dedek.
www.d3d3k.com

====================================================

breastfeeding: call this
easy…?<http://d3d3k.com/2009/12/15/breastfeeding-call-this-easy/>

Dari jaman dahulu kala, bahkan waktu terpikir untuk menikah (apalagi punya
anak) aja belum, saya sudah tau dan mengerti bahwa ASI adalah yang terbaik
untuk bayi. *It’s like a natural thing to do, for a mother to breastfeed her
baby. That’s it.* Tapi nggak pernah ada yang bilang kalau menyusui itu
ternyata jauh dari gampang. Aneh ya, *something so natural, shouldn’t it be
easy?*

Dari data statistik, hanya 18% ibu-ibu di Indonesia yang memberi ASI
exclusif kepada bayinya. Aneh juga bukan? Dengan keadaan ekonomi yang makin
susah, gizi buruk dimana-mana, dan sebagian besar ibu malah memilih
memberikan susu formula (yang harganya tahu sendiri berapa) untuk bayinya?

Kalau melihat, mendengar dan membaca, menurut saya ada 2 hal utama
(ceileee…) yang membuat seorang Ibu ‘gagal’ memberi ASI buat anaknya. *Kurang
pengetahuan dan kurang dukungan. *Padahal 2 hal itu yang menurut saya sangat
penting kalau mau sukses menyusui.

*KURANG PENGETAHUAN*

*I am crazy about research. It’s my job, and also a hobby [image: ;)] * Jadi
dari mulai hamil 6-7 bulan, saya mulai browsing dan baca buku soal menyusui.
Saya jadi tahu ada AIMI (Asosiasi Ibu Menyusui) yang rajin memberikan
seminar soal menyusui setiap tahun. Saya ikut 2 kali kelasnya.

Yang pertama, breastfeeding basics. Di sini diajarin soal mengapa ASI,
kandungan gizinya dibandingkan susu formula, bagaimana ASI dibuat, dan
posisi menyusui yang tepat. Yang kedua, breastfeeding for working mom. Ini
diajarin cara memerah dan menyimpan ASI buat ibu-ibu bekerja agar bisa tetap
memberi ASI bagi anaknya. Lalu saya ikut juga kelasnya milis Sehat dan YOP
(Yayasan Orangtua Peduli) tentang menyusui dan jaundice (kuning) pada bayi
baru lahir.

Dari pengalaman yang belum seberapa ini, menurut saya ada beberapa
pengetahuan yang penting buat diketahui para ibu hamil (dan bapak-bapaknya
juga tentu) kalau mau sukses menyusui.

1. Kandungan gizi ASI dibandingkan susu formula

Tau sendiri kan iklan susu formula gencarnya kayak apa. Seolah-olah
kandungan gizinya udah paling TOP, dengan segala tambahan zinc, AHA, DHA,
vitamin ini vitamin itu. Tapi pernahkah terpikir, itu semua belum tentu
diserap bayi dan malah memperberat ginjal bayi? Bahkan direktur R & Dnya
Abbott aja bisa bilang, nggak ada satu pun komposisi susu formula yang
sehebat dan selengkap ASI. Itu dari segi nutrisi. ASI juga punya kandungan
yang meningkatkan kadar imunitas bayi, yang nggak dipunya susu formula. Soal
kandungan ASI yang lebih lengkap, browsing sendiri ya. Yang pasti, kalau
udah tau kandungan ASI, bakalan usaha mati-matian sampai titik ASI
penghabisan deh untuk bayi kita [image: ;)]

2. Cara ASI dibuat.

Ternyata ASI nggak pernah habis. Ternyata ASI nggak mungkin nggak cukup buat
bayi. ASI seperti hukum supply-demand, makin banyak demandnya, makin banyak
juga otak kita memberi perintah untuk supply.

Ilmu ini penting bangeut nih. Saya suka kesal dengan komentar orang-orang
yang tahu saya ASI exclusif. Salah satunya: *“ASI lo banyak sih ya Dek..jadi
enak, bisa ASI exclusif…”*. Atau *“Dadit minumnya nggak kuat ya, jadi bisa
ASI exclusif. Anak gw minumnya kuat bangeut Dek, jadi nggak cukup…”*

Haloooo…semua ibu juga pasti punya ASI yang cukup untuk anaknya. Jangan
dibanding-bandingkan dengan produksi ASI emak lain, karena cairan emas ini
bener-bener unik. Sesuai kemampuan bayi kita. Bukan berarti kalau payudara
kempes itu berarti nggak ada ASInya lho. ASI diproduksi terus oleh tubuh
kita. Dan FYI aja, anak saya udah bukan kuat lagi minumnya, saya udah berasa
mengalahkan sapi perah dulu waktu dia masih newborn [image: :)]

ASI diproduksi oleh 2 hormon: prolaktin dan oksitosin. Hormon prolaktin itu
keluar karena dirangsang oleh hisapan bayi (ini juga kenapa belajar posisi
menyusui yang benar itu penting) dan hormon oksitosin diproduksi kalau
ibunya bahagia, nggak stress, nggak kepikiran yang aneh-aneh (nah, ini tugas
bapak buat menyenangkan hati istrinya ya [image: ;)] )

Sekali lagi percayalah, ilmu ini penting. Nanti setelah melahirkan, ketika
bayi menangis padahal sudah disusui, pasti terpikir ‘kok masih nangis? apa
masih lapar? apa ASI saya kurang?’. Dan ketika diberi susu formula bayi kita
berhenti menangis, seperti membenarkan anggapan kita bahwa ASI kita memang
nggak cukup. Padahal tahukah kamu bahwa ASI lebih gampang dicerna bayi, jadi
bayi cepat merasa lapar. Sedangkan ketika diberi susu formula, pencernaan
bayi harus bekerja ekstra keras, jadi dia ‘kenyang’ lebih lama.

3. Posisi latch on

Ibu-ibu dulu kan nggak pake belajar posisi menyusui udah bisa menyusui ya?
Kenapa musti belajar ya? Karena posisi menyusui yang salah membuat bayi
tidak bisa maksimal menghisap ASI. ASI juga jadi kurang diproduksi karena
rangsangan untuk hormon prolaktinnya kurang. Selain itu posisi yang salah
bikin puting lecet. Dan percayalah, menyusui dengan puting lecet itu seperti
hidup di jaman romusha. Pediiihhh!

4. Cara memerah, menyimpan, dan memberikan ASI

Belajar cara memerah dengan tangan. Lebih praktis, gak perlu bawa
macem-macem kalau pergi-pergi. Belajar cara menyimpan ASI, demi kebahagiaan
kita (kalau lagi pengen gaul nggak bawa anak hehe) tapi anak tetep dapet
ASI. Belajar juga cara memberikan ASI dengan sendok/gelas karena kalau
dengan dot ada kemungkinan anak jadi bingung puting dan nanti nggak mau
nyusu langsung lagi.

*KURANG DUKUNGAN*

Nah, ini nih yang kadangan seperti makan buah simalakama, ketika orang-orang
terdekat mulai mengeluarkan komentar aneh-aneh:

*“ASInya emang yakin cukup ya bisa ASI ekslusif? Bayinya masih nangis tuh,
masih lapar kali. ASInya kurang kali.”*

*“Kok badannya nggak semontok bayi tetangga sih? Udah, kasih susu kaleng aja
biar montok.”*

*“Kalau bayi cowok musti ditambah susu lain. ASI aja nggak mungkin cukup.”
*

Dan banyak komentar lain yang kadangan bikin emosi sendiri. Makanya, kalau
mau ASI exklusif, penting untuk menggalang massa. Edukasi juga orang-orang
terdekat kita tentang ASI. Jadi kalau kita lagi down, ada yang memberi
semangat. Yang lebih penting, nggak ada yang ngasih komentar-komentar aneh
yang bikin kita down. Udah tau kan salah satu hormon yang memproduksi ASI
itu banyak dihasilkan kalau ibunya nggak stress [image: ;)] Selain
orangterdekat, cari juga support groups. Teman-teman yang juga menyusui.
Lumayan buat curhat dan berbagi tips kalau lagi mentok [image: ;)] Saya juga
mau lho diajak sharing soal menyusui [image: :)]

*Keberhasilan seorang ibu menyusui anaknya adalah juga keberhasilan
orang-orang terdekatnya*.

FYI, Bayi-bayi ASI memang cenderung nggak *overweight*. Bukan nggak montok
lho…Badannya berisi, padat kayak lontong hehehe Dari awal Dadit lahir, saya
udah janji sama diri saya sendiri, untuk TIDAK membanding-bandingkan dia
dengan anak-anak lain. *I want him to grow at his own pace to be what he is
meant to be*. *Not what his parents want him to be.* Jadi sekarang pun saya
‘cuman’ membandingkan tumbuh kembang dia dengan standard tumbuh kembang
anak-anak secara umum. Selama pertumbuhannya (berat badan, tinggi badan,
lingkar kepala) masih sesuai dengan growth chartnya WHO saya nggak khawatir,
walaupun dia nggak gemuk bangeut. Ooo, dia motoriknya ternyata lumayan lebih
cepat dari rata-rata anak seumur dia. Ooo, dia ternyata lebih memanjang
daripada melebar (gak papa deh, daripada kayak emaknya melebar mulu gak
manjang-manjang hehe).

Kalau mau baca-baca soal ASI, saya ada beberapa link yang mungkin berguna:

www.kellymom.com

www.llli.org
www.aimi-asi.org

taken from: http://d3d3k.com/2009/12/15/breastfeeding-call-this-easy/
(monggo dishare, tapi jangan lupa sebutkan sumbernya ya :))

Kirim email ke