Sangat bermanfaat mom, thanks utk infonya. Boleh saya share ke yg lain? Pada Jum, 16 Jul 2010 21:07 ICT Ameilia Erna menulis:
>Dear Moms, > >Sepotong pengetahuan menarik yang saya cuplik dari milis tetangga. >Ngapunten, Moderator. OOT. Ada hubungannya kok dengan parenting (ngeles mode >on >:p). > >Semoga bermanfaat. > > >Encouragement >Thursday, 15 July 2010 > >LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah >tempat anak saya belajar di Amerika Serikat. > >Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu >telah >diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat,bagus sekali. Padahal >dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa. Karangan yang dia >tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya >mencemaskan >kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya >sangat sederhana. > >Saya memintanya memperbaiki kembali,sampai dia menyerah.Rupanya karangan >itulah >yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah >dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan >kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberi nilai tinggi, saya khawatir anak >saya cepat puas diri. Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya >bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?” “Dari Indonesia,” jawab saya.Dia pun >tersenyum. > >Budaya Menghukum > >Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. >Itulah >saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat. “Saya >mengerti,” jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik >itu. “Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anakanaknya >dididik di sini,”lanjutnya. “Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi >nilai.Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk >merangsang orang agar maju. Encouragement!” Dia pun melanjutkan >argumentasinya. > >“Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbedabeda. Namun untuk anak >sebesar >itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat >menjamin, ini adalah karya yang hebat,” ujarnya menunjuk karangan berbahasa >Inggris yang dibuat anak saya. Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran >berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran >kita.Saya >teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai >“A”, dari program master hingga doktor. Sementara di Indonesia, saya harus >menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji >yang siap menerkam. Saat ujian program doktor saya pun dapat melewatinya >dengan >mudah. > >Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar >siap. >Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya dan >penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberikan jalan >begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafikgrafik yang saya buat >dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti. Ujian penuh >puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan kekurangan penuh >keterbukaan. Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya >saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut “menelan” >mahasiswanya >yang duduk di bangku ujian. > >Ketika seseorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan, >penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap >seakanakan >kebaikan itu ada udang di balik batunya. Saya sempat mengalami frustrasi yang >luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat >saya sangat tidak manusiawi. Mereka bukan melakukan encouragement, melainkan >discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan >pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul. Orang yang tertekan ternyata >belakangan >saya temukan juga menguji dengan cara menekan. > >Ada semacam balas dendam dan kecurigaan. Saya ingat betul bagaimana guru-guru >di >Amerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir pantaslah anak-anak di sana >mampu >menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel. >Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan >karakternya sangat kuat: karakter yang membangun, bukan merusak. Kembali ke >pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya. “Janganlah kita >mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di >depan,” ujarnya dengan penuh kesungguhan. Saya juga teringat dengan rapor >anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal. > >Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya >tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk >bekerja lebih keras, seperti berikut. “Sarah telah memulainya dengan berat, >dia >mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah menunjukkan kemajuan yang >berarti.” Malam itu saya mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan >mengecup >keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa salah telah memberi >penilaian yang tidak objektif. Dia pernah protes saat menerima nilai E yang >berarti excellent (sempurna),tetapi saya mengatakan “gurunya salah”. Kini saya >melihatnya dengan kacamata yang berbeda. > >Melahirkan Kehebatan > >Bisakah kita mencetak orangorang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan >rasa >takut? Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta >ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur, dan >penghapus >yang dilontarkan dengan keras oleh guru,sundutan rokok, dan seterusnya. Kita >dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: Awas...; Kalau,...; >Nanti,...; >dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor >di >sekolah. > >Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi >lebih >disiplin. Namun di lain pihak dia juga bisa mematikan inisiatif dan >mengendurkan >semangat. Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia >tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya,dapat >tumbuh.Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang >didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian kecerdasan manusia >dapat >tumbuh, sebaliknya dapat menurun. Seperti yang sering saya katakan, ada orang >pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh. > >Tetapi juga ada orang yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh. Mari >kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau >ketakutan. Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan menghina atau memberi >ancaman yang menakut-nakuti. (*) > >RHENALD KASALI >Ketua Program MM UI > >http://www.seputar- indonesia. com/edisicetak/ content/view/ 338297/ > >Ameilia Hernawati >bermaindanbelajar.com - Inspirasi Belajar dengan Gembira >[email protected] | 081703104046 > > > >

