Mengatasi Rasa Takut pada Anak
sumber: http://rumahparenting.biz
penulis: dr. Zulaehah Hidayati (ketua RuMAH PARENTING)
Setiap anak pasti memiliki rasa takut, dalam kadar yang berbeda-beda. Adalah
tugas kita, sebagai orang tua untuk membantunya mengatasi rasa takut ini.
Anak
yang kurang berhasil mengatasi ketakutan-ketakutan masa kecilnya, biasanya
cenderung menjadi penakut dan kurang percaya diri di kemudian hari.
Sebaliknya
anak yang dapat mengatasi ketakutan masa kecilnya biasanya tumbuh menjadi
berani dan punya percaya diri.
Rasa takut sendiri sebenarnya adalah hal yang normal, bahkan rasa takut
inilah
yang membantu anak dan kita sendiri menjadi terhindar dari berbagai bahaya.
Sebagai contoh, kita beberapa kali memberikan peringatan, ”Awas, hati-hati
kalau menyeberang jalan, nanti tertabrak mobil yang lewat!”. Dengan berkata
seperti itu pada anak,sebenarnya kita mengajari anak untuk menggunakan rasa
takutnya agar berhati-hati dalam melakukan sesuatu.
Namun dalam beberapa keadaan dimana orang tua sudah kehabisan akal untuk
mengatur anaknya, ada beberapa yang menakut-nakutinya secara berlebihan
supaya
anaknya menurut. Misalnya jika anak tidak mau makan nanti akan ditinggal di
rumah sendirian, atau jika anak tidak mau tidur nanti hantu datang. Kita
harus
ingat bahwa kita harus menanamkan keberanian bukan menggali ketakutan anak
dengan berbagai hal yang ditakuti anak kita.
Dalam penelitian yang pernah dilakukan di Amerika, berbagai ketakutan yang
ada
dalam diri orang dewasa, ternyata memang berkaitan dengan masa kecilnya, atau
sudah ada sejak masa kecilnya tak pernah mau hilang. Ketakutan ini antara
terhadap gelap, takut sendirian, takut terhadap penolakan, takut terhadap
kegagalan, takut terhadap dokter, takut pada binatang, takut berbuat salah,
dan lain sebagainya.
Dalam Teknik PARENTING , mengatasi rasa takut anak bisa kita pahami dengan
mudah
:
1.P = Pengasuhan anak yang benar
Mari kita memakai teknik yang benar dengan melakukan langkah-langkah di bawah
ini
2. A = Anak Adalah Anugrah
Ketika anak merasa takut, kita harus benar-benar memahami bahwa anak sedang
belajar menjalani proses mengatasi rasa takut, menumbuhkan keberanian dan
kepercayaan diri. Dalam proses ini, orang tua adalah yang paling bertanggung
jawab membantu anak. Jika anak takut, ingatlah bahwa anak adalah anugrah.
Mari
kita bimbing mereka dengan penuh kasih sayang dan kesabaran.
3. R = Redam amarah
Tidak boleh memarahi anak ketika anak menyatakan atau memperlihatkan rasa
takutnya. Hal ini akan membuat anak semakin tertekan dan semakin tak percaya
diri.
4. E = Empati mendengarkan
Ketika anak menyampaikan rasa takutnya terhadap sesuatu, dengarkan dengan
penuh empati. Tanyakan apa saja yang membuat anak takut, dan kenapa anak
merasa takut terhadap hal tersebut.
5. N = Notifikasi pembicaraan dan tindakan
Pilih susunan kalimat yang tepat yang bisa membuat anak paham bahwa dia tidak
perlu merasa takut. Berikut beberapa contoh pilihan katanya :
- Untuk anak yang takut ke dokter
”Kakak takut ke dokter karena takut disuntik ya? Sekarang kita antar tante
berobat ke dokter. Kita buktikan apakah kalau berobat ke dokter disuntik atau
tidak. Yuk kita antar tante berobat”
Selain itu bisa bermain peran, contoh :
”Hari ini kita main dokter2an yuk. Jadi nanti pura-puranya kakak lagi sakit
terus berobat ke dokter supaya sembuh. Ntar yang jadi dokternya adik
ya...nanti trus kakak dapat obat dari dokter dan sembuh sakitnya”
- Untuk anak yang takut kegelapan
”Adek gak suka ya kalau waktu tidur lampu dimatikan? Kenapa? (dengarkan
alasannya). Hmm... kalau adek takut, bunda siapkan lampu kecil untuk waktu
tidur. Supaya mata adek bisa beristirahat, tapi juga tidak terlalu gelap ya..”
Hindari mengatasi anak yang takut kegelapan dengan membolehkan mereka jadi
tidur bersama orang tua. Hal ini akan memperlama proses belajar. Silakan
setelah menyampaikan kata2 pengantar, matikan lampu utama, pasang lampu
tidur,
berikan sedikit kata pengantar terakhir, dan tinggalkan anak di kamarnya.
Bisa
juga pintu kamar anak sengaja di buka sedikit sehingga anak bisa merasa
lebih
tenang.
- Untuk anak yang takut sendirian
”Adik, bunda harus ke kamar mandi. Adik bisa bantu bunda menjaga depan pintu
kamar mandi. Nanti kalau ada apa-apa, adik ketuk aja pintu kamar mandi, nanti
bunda akan jawab ya. Ok? Bunda kebelet nihhh...gak kuat lagi.. sebentar ya..”
Silakan setelah bunda mengucapkan kata2 di atas, tinggalkan anak masuk ke
kamar mandi. Jika anak menangis, silakan jawab dari dalam kamar mandi.
Silakan
latih sekitar beberapa menit. Setelah keluar ucapkan terima kasih dan berikan
pujian.
- Untuk anak yang takut binatang
”Kakak boleh bunda tahu kenapa kakak takut sama kucing? Oh, takut dicakar ya.
Baik, biar bunda yang pegang kucingnya ya. Nih kucingnya lucu. Kakak boleh
temani bunda di sini. Bunda elus kucingnya ya....Ternyata kucing suka dielus.
Kalau kakak mengelus, kucingnya pasti tambah senang deh. Mau coba pegang?”
Tindakan kita harus tepat sesuai dengan apa yang kita ucapkan. Hindari beberapa
hal :
- menunjukkan reaksi ketakutan berlebihan di depan anak kita
- menertawakan ketakutan mereka
Setelah tahu kata dan tindakah yang tepat, mulailah membuat anak kita berani
sedikit demi sedikit. Dukung anak dalam proses adaptasi menghapi berbagai
ketakutannya. Pilih berbagai BUKU yang dapat membuat anak lebih memahami
banyak hal yang dia takuti.
6.T = Tanamkan energi positif
Berikan pujian anak pintar dan anak pemberani.
7. I = Istiqomah
Istiqomah terhadap N (Notifikasi Pembicaraan dan Tindakan) kita.
8. NG = Mengadakan time out
Tidak perlu untuk kasus ini.
Ketakutan seorang anak kadang kala bagi orang dewasa sangat tidak masuk
akal,
dan terkesan mengada-ada. Akan tetapi kita harus berusaha mengerti apa yang
dirasa dan ada dalam bayangan si anak. Dengarkanlah cerita si anak, biarkan
dia mengutarakan semuanya sampai selesai, dan jangan dikomentari dahulu.
Cobalah mencari secara spesifik apa sebenarnya yang membuatnya takut.
Berikanlah empati baginya sehingga ia merasa didukung. Dari situ kita akan
lebih mudah untuk membantunya mengatasi ketakutannya. Satu hal yang sering
terlupa, bahwa saat kita kecilpun kadang kita mengalami suatu ketakutan yang
mungkin agak berbeda bentuknya tapi sebenarnya serupa dengan anak kita. Jadi
jangan salahkan anak, tapi dukung dan bantulah ia.
NB: penjelasan lebih lengkap mengenai teknik PARENTING bisa di baca dalam buku
"Anak Saya Tidak Nakal, Kok"