saya juga ingin mendaptkan data tsb, alamat, no telp. dll. Karena saya
tertarik dg apa yg sudah dikerjakan oleh P' Hidayat. Lewat jalur pribadi
saja
Nanang
> ----------
> From: Nurul Aini[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> Reply To: [EMAIL PROTECTED]
> Sent: Thursday, July 18, 2002 4:35 PM
> To: PB List Member
> Subject: [PB] bisnis sampah {02}
>
> <<File: ikon_rhenald.gif>>
> Sore Pak Toto,
>
> Bisakah saya dapatkan data yang lebih jelas mengenai Pak Hidayat ini?
> Dimana beliau bisa dihubungi?
>
> terimakasih,
> Nurul
>
> ----- Original Message -----
> From: Magyartoto Tersiawan
> To: PB List Member
> Sent: Tuesday, July 16, 2002 8:53 AM
> Subject: [PB] bisnis sampah {01}
>
> Minggu, 14/7/2002
>
> Bisnis Sampah Sangat Terhormat
> Oleh: Rhenald Kasali
>
> Tumpukan sampah yang bau dan menggunung di setiap kota, ternyata
> mengandung potensi bisnis yang besar, sekaligus menyerap tenaga kerja dan
> membersihkan lingkungan. Hidayat telah membuktikanya.
>
> Pak Hidayat ini dulu pernah kita turunkan dengan bisnisnya dari
> Banten yakni tambang kapal, ya?
> H: Kita usaha tambang kapal yang tambangnya dari sabut kelapa.
>
> Masih mengambil sabut kelapa dari pasar-pasar?
> H: Oh, nggak lagi karena pasar sudah kehabisan, sekarang sudah harus
> beli jadi dan mahal. Karena itu, kita ngambil dari daerah lain, bahkan
> dari luar pulau. Kalau dulu nggak ada harganya, sekarang orang sudah
> mengerti jadi harganya sudah mahal. Apalagi, pasar lokal maupun ekspor
> sudah mulai terbuka, jadi lumayanlah. Kita mengambil dari Serang, dari
> Ciamis tapi yang sudah jadi lalu kita tinggal jual saja. Prosesnya, sabut
> kelapa yang baru kita sabut lagi dengan dimasukkan ke dalam mesin untuk
> dipisahkan. Itu ada mesinnya, dan kita ajari mereka bagaimana cara
> memakainya. Dan hasilnya, menjadi barang yang sudah jadi dan siap jual dan
> tentu saja mutunya kualitas ekspor. Setelah itu kita tinggal mendatangkan
> kontainernya.
>
> Mesinnya dari daerah lain?
> H: Sebagian ya, karena kita sudah monopoli ha..ha..ha..
>
> Perkembangann mesinnya bagaimana?
> H: Perkembangannya menaiklah, lumayan permintaan mesin terus ada.
>
> Di tempat pak hidayat ini saya kagum bagaimana cara pembuatan
> mesin-mesin, mesin apa itu pak namanya?
> H: Macam-macam kita bikin. Tapi ada 3 yang kita fokuskan, satu mesin
> pengolah sabut kelapa dan permintaan ekspornya bagus; kemudian mesin
> pembuat pakan ternak. Pakan ternak di sini kan mahal, tergantung sama
> pabrik, nah kita ajarkan bagaimana cara bikin pakan ternaknya, lalu
> mesinnya mereka cari sendiri.
>
> Bagaimana dengan pengetahuan mesinnya?
> H: pengetahun mesin itu juga kita ajarkan. Jadi kembali lagi kan
> untuk membeli mesin-mesinnya he..he..he. Tapi, kalau orang lain bayar
> untuk mengajarkannya, nah, kita nggak, gratis saja, sekalian amal kan.
> Setelah itu, barulah kita kasih tahu tempat mencari mesinnya, tuh tokonya
> di situ.... Satu lagi mesin yang kita fokuskan adalah mesin pembuat
> kompos. Mesin ini bagus karena mampu mengolah sampah, jadi sampah itu kita
> olah dengan mesin ini, hasilnya selain bersih, efisien, dan lagi bisa
> dijual ke petani. Jadi sampah itu tidak perlu ditumpuk di lokasi sebesar
> Bantar-Gebang, dan tiap-tiap RT/RW kalau perlu harus punya mesin ini.
>
> Lantas para pemulung bagaimana?
> H: Kita kemarin ketemu dengan salah satu pemulung yang tempatnya
> kumuh, kita tawarkan pekerjaan bagaimana kalau dipindahkan ke RT/RW yang
> tempatnya lebih bagus. Tugasnya mengolah sampah dan dikasih duit Rp 5
> ribu. Eeh,...nggak mau dia. Katanya, wah, saya di tempat sampah bisa dapat
> Rp 40 ribu. Nah, ini artinya di tempat sampah itu ternyata mahal. Padahal,
> mereka hanya ngmpulin kardus, botol aqua, dan kantong-kantong kresek.
> Jadi, kalau dulu saya jadi tukang tahi sapi, sekarang jadi tukang
> sampah...ha..ha..ha...
>
> Malu nggak?
> H: Nggak dong, kenapa mesti malu kalau itu bisa jadi duit.
>
> Jadi itu ada teknologinya, ya?
> H: Ya, sampah itu kita atur..
>
> Sampah itu nggak bau?
> H: sama sekali tidak.
>
> Bagaimana tuh caranya?
> H: Namanya dienzim dan disemprot saja tuh sampah, nggak sampai
> semenit baunya hilang. Hanya semenit bau itu akan hilang dengan motivator
> atau akselerator untuk mempercepat pembusukan sampah. Nah, teknologi kita
> yang buat, jadi kita nggak hanya jual mesin, dan membantu solusi
> persampahan ha..ha..ha...
>
> Mesinnya kayak apa?
> H: Bisa saya ceritakan begini. Sampah-sampah yang datang dari
> rumah-rumah menurut data yang ada 70% adalah sampah organik, sampah yang
> asalnya dari benda-benda hiduplah; lalu 20% itu sampah-sampah yang
> bernilai ekonomis kayak kardus, plastik, nah ini biasanya jatah pemulung;
> dan 10% sisanya adalah sampah yang memang harus dibuang kayak pampers dan
> lain-lain itu kita buang dan kita bakar sedikit. Nah, yang 70% ini
> biasanya dikumpulin diangkut, kalau di Jakarta dibawa ke Bantar Gebang
> kan, dan itu tidak diolah. Padahal, secara alami, di sana itu oleh makhluk
> hidup diurai. Pertama, itu dilakukan oleh serangga, unggas, cacing
> belakangan karena bentuknya masih besar-besar. Nah, berapa waktu yang
> dibutuhkan itu baru dilakukan oleh mikroba. Lalu, fungsi kita itu
> menggantikan unggas, ayam, serangga, orong-orong dengan mesin ini. Sampah
> dicacah habis dan volumenya turun seperlimanya, 10 kubik tinggal 2 kubik,
> jadi lebih padat. Kalau diangkut saja itu sampahnya, tentu ongkosnya lebih
> murah. Nah, mesin ini saya rancang hampir satu tahun, karena bentuknya
> untuk mencacah dan tidak terlalu mudah, dan membuatnya dibongkar-pasang
>
> Kalau beling, kayu itu keluar?
> H: Iya, barang-barang itu keluar sendiri kalau kemasukan beling atau
> kayu. Tapi, jangan disengaja dimasukkan, dan biasanya itu sudah diambilin
> oleh pemulung kan.
>
> Berarti harus ada pemulung dong?
> H: Ya, pasti ada. Kalau ada duitnya mereka pasti ada, bahkan
> pemulung sekarang itu tidak mau lagi menunggu di tempat sampah, mereka
> datangi rumah-rumah. Jadi, pertama itu mesin ini hanya membantu
> menghancurkan dan ini 1.000 kali lebih cepat dari proses alam, input dan
> output sudah berkurang sekian cepatnya, dan kalaupun dibuang, ongkosnya
> akan jauh lebih murah. Kalau dilihat dari kacamata itu, ongkos
> transportasi dari tempat pembuangan sampah sementara ke tempat pengolahan
> akhir, sudah jauh berkurang.
>
> Plastik-plastiknya dipungut?
> H: Iya dipungut, kalau ada yang punya tinggal telpon saya akan saya
> kontak para pemulung dan akan diambil, ha..ha..ha.. lumayan lo harganya.
>
> Setelah dicacah diapakan?
> H: Dengan dicacah bentuk aslinya sudah tidak kelihatan. Batang
> pisang kalau sudah masuk mesin ini jadi kayak bawang yang kecil-kecil,
> jadi nggak kelihatan lagi yang jorok-jorok, baru dikasih mikroba untuk
> mempercepat proses pembusukan, itu bahan baku kompos.
>
> Proses itu berapa lama?
> H: Itu ada mikroba dari Itali, dari Kanada, saya pakai mikroba
> Brebes saja, lebih murah. Dan dalam 7-14 hari sudah jadi dan nggak bau.
> Lalu, hasil ini belum bisa dipakai untuk tanaman mesti ditambahin ini itu,
> tapi hasil inilah yang dijual ke petani.
>
> Petani mau?
> H: Mereka mau sebagai bahan untuk diolah lagi. Apalagi tahun 2002
> ini, Departemen Pertanian sudah mencanangkan 'go organic' dan program back
> to natur. Program ini sedang digalakkan sampai 2007, sehingga bahan baku
> termurah adalah sampah. Ini sebenarnya bagus kalau sampah diusahakan
> menjadi bahan baku, maka akan didapat untung dan untung.
>
> Kenapa pemerintah menggalakkan go organic ini, kira-kira kenapa?
> H: Pertama, struktur tanah. Kalau petani itu bukan masalah butuh
> tapi masalah kebiasaan. Meski di situ kandungan pupuk sudah banyak, karena
> kebiasaan itu tetap dipakai. Padahal, kandungan urea di tanah itu sudah
> melebihi batas, sehingga tanah bukan tambah subur tapi jadi tambah jelek.
> Nah, itu mesti dikembalikan lagi ke organik. Organik yang ada itu mahal.
> Bikin sampah menjadi organik tapi mahal. Kalau mahal kan nggak untung.
> Nah, kita menawarkan solusi yang murah. Solusi lagi kan akhirnya
> ha..ha..ha..
>
> Dari proses pertama sampai kita bisa jual sekibik itu berapa
> hitungannya?
> H: Idealnya mesin itu mencacah 10 kibik sampah setiap harinya, satu
> truk itu. Jadi kurang lebih 1.000 KK atau perumahan-perumahan perlu mesin
> ini.
>
> Sudah dijual?
> H: Kita sudah jual kemana-mana. Di Jakarta sudah banyak. Di Gandaria
> sudah ada. Nah, selama 14 hari diolah jadi bahan baku kompos, hasilnya
> dijual atau bekerjasama dengan perusahaan-perusahaan pembuat kompos.
> Kenapa saya katakan untung, karena mimpi kita nantinya sampah ini kayak
> Secure Parking, yang buang sampah harus bayar ke tempat pengolahannya.
>
> Bukankah selama ini rumah-rumah tangga itu membayar sampah?
> H: Memang, mereka sudah bayar dan nanti kita bisa negosiasilah.
>
> Mesinnya berapa sih harganya?
> H: Satu unit itu Rp 10 juta-an, dan kita sudah bikin pabrik
> pengolahan sampah ini di Brebes, di sana kan banyak petani-petani bawang.
>
> Di sana kompos dijual berapa?
> H: Antara Rp 200-300. Bahkan, saya dengar di DKI sudah ada kerjasama
> dengan para penambang di Bangka, karena di sana mereka membutuhkan sampah
> organik, dan MOU sudah diteken. Nantinya sampah organik akan ditukar
> dengan pasir Bangka, untungkan jadinya.
>
> Sampah organik ini higienis?
> H: Karena sudah diolah, patogen-patogen di dalamnya pada mati, jadi
> amanlah. Buktinya di Brebes kebutuhan saya 100 ton per hari.
>
> Standart usia mesin berapa lama?
> H: Ya, umur mesin itu dua tahun mesti direparasilah, karena
> pisau-pisau pencacahnya kan mesti diganti.
>
> Ada suku cadangnya?
> H: Ya, kita punya spare-part.
>
> Komunitas-komunitas itu siapa yang mengelola?
> H: Macam-macam, ada orang-orang yang di RT atau RW yang nggak ada
> kerjaan.
>
> Bukankah harus ada pengusahanya?
> H: Artinya di kelurahan itu memang networknya kita jalankan,
> pemasarannya kita hubungkan dengan pabrik-pabrik pupuk dan nantinya kita
> libatkan para pemulung untuk mengolah sampah-sampah itu.
>
> Berarti sudah nggak perlu TPA?
> H: Kalau semua sudah mengolahnya harusnya TPA nggak perlu lagi, yang
> ada adalah tempat pengolahan sementara.
>
> Dan itu adanya di komunitas-komunitas itu?
> H: Betul. Di Permata Kapuk mereka sudah menggunakannya.
>
> Berapa mesin?
> H: Satu saja sudah cukup kok
>
> Untuk 10 ton sehari? Apa memang ada sampahnya sebanyak itu?
> H: Kurang lebih sih segitu, dan komposnya dipakai untuk mereka
> sendiri, sisanya yang dijual melalui jaringan kita. Nah, dengan begini,
> saya rasa akan mengurangi beban Pemda DKI.
>
> Memang berapa besar anggaran dari Pemda DKI untuk mengurusi sampah?
> H: Saya pernah bicara-bicara dengan mereka dan angkanya mencapai
> miliaranlah.
>
> Kenapa Anda tidak datang ke Sutiyoso saja dan bilang, Bantar Gebang
> saya ambil alih saja?
> H: Nggak, kita kan bicara ke depan, yang sudah biarlah. Cuma, kalau
> ke depan tidak diatasi, masalah akan timbul. Kalau kita ini mau kerja
> dululah, kita buktikan ini lho karya kita, kalau sudah begitu otomastis
> kan mereka yang akan cari kita, ha..ha..ha..
>
> Berapa permintaan mesin sebulan?
> H: Satu bulan kita bisa jual 10-20 unit, dan permintaan terus
> bertambah. Tapi kita nggak hanya jual mesin, tapi juga soal sistimnya.
> Mereka kita ajarkan sampai bisa. Karena kalau nggak begitu hasilnya nggak
> bagus, sampah tidak teratasi dan mereka akan bilang wah mesin ini nggak
> bagus.
>
> Berapa hari mereka diajari?
> H: Ya, lumayan. Tapi kita sering datangi, kita lihat dan kita kasih
> masukan-masukan tapi untuk kursusnya satu-dua harilah.
>
> Berapa luas lahan yang diperlukan untuk satu komunitas itu?
> H: Dari bangunan yang dibutuhkan nggak lebih dari 50 m persegi, dan
> untuk pengemasan dan lain-lain pakai bangunan yang sederhanalah.
>
> Nah, yang bisa dijual itu bentuknya kayak apa?
> H: Pemerintah kan menggalakkan penggunaan pupuk organik, ekspor kita
> seperti kelapa sawit nantinya harus dipupuk dengan pupuk organik, begitu.
> Kita juga mengikuti program dunia kok untuk menggunakan pupuk organik.
> Pupuk yang ada sekarang ini, mahal. Ada juga yang harganya seribu, itu kan
> mahal. Dan mahal itu karena prosesnya nggak efisien. Padahal, idealnya
> harga pupuk organik itu Rp 300 karena bahan bakunya murah dan efisien.
> Hasilnya lebih bagus. Jadi pupuk organik ini tidak ngasih makanan kepada
> tanaman lo, tapi memperbaiki struktur tanah, tanahnya bereaksi dan
> menghasilkan unsur dan unsur itu yang dimakanan oleh tanaman. Jadi
> memperbaiki tempat tinggalnya biar nyaman dulu. Soal marketnya, pasti naik
> terus. Di di Brebes, Sulawesi Selatan dan bahkan saya juga diundang di
> Surabaya.
>
> Sudah terbukti hasilnya?
> H: Oh, sudah. Kalau lewat Brebes, di pinggir jalan ada plang Mitran,
> mampir lihat di sana, ada pabriknya. Di sana bawang itu satu hektar bisa
> 20 ton. Jadi, marketnya sangat terbuka dan memang mesti diolah
> benar-benar, jangan hanya digiling terus sudah, ya harus ditambah ini
> itulah.
>
> Selain bawang apa lagi?
> H: di Sulawesi dipakai untuk padi
>
> Nggak terbawa air?
> H: Nggak dong, kan bentuknya tidak cair tapi padat. Dan menurut
> laporan, hasil panen mereka meningkat 20-30%. Sudah 2 tahun mereka pakai
> pupuk organik ini dengan berbagai merk, kita sih jualnya karungan saja.
> Kalau di daerah mereka kasih nama masing-masing.
>
> Selain sawah buat apa saja?
> H: Bisa juga untuk teh, jeruk. Dan kalau jualnya pakai label-label
> itu mahal. Jadinya, sayur organik, padi organik, mahal itu.
>
> Di Amerika (AS) itu ada pasarnya. Di sana ada organik food, dan itu
> memang mahal karena doping mereka selama ini kan unorganik. Dan di sana
> ada gaya hidup sendiri untuk mengkonsumsi makanan yang organik.
> H: Memang, petani kita itu pakai pupuk urea, pestisida bukan karena
> kebutuhan, tapi karena kebiasaan, kebiasaan yang salah.
>
>
> Senin, 15/7/2002
>
> Kreatif dengan sampah
> Oleh: Rhenald Kasali
>
> Acara radio talk di M97FM bertajuk Bedah Bisnis Rhenald Kasali ini
> telah berlangung hampir empat tahun. Setiap Senin kami tampilkan seorang
> pengusaha atau professional, yang menurut kami layak untuk diikuti
> perjalanan bisnisnya. Hanya beberapa kali Senin saja acara ini absent
> apabila pada Senin itu bertepatan dengan Lebaran atau hari libur. Artinya,
> sudah lebih 150 pengusaha dan professional yang kami undang ke studio.
>
> Salah satu tamu yang pernah kami undang adalah Hidayat, seorang
> pengusaha yang bergerak di bidang agrobisnis. Pekan lalu, Hidayat kembali
> kami undang, bukan karena tidak ada tamu yang lain. Tetapi, setelah empat
> tahun, banyak perkembangan yang terjadi yang membuat bisnis tambah maju
> (atau bertambah mundur pada kasus lain).
>
> Hidayat mengemukakan soal pengelolaan sampah, dalam arti mendaur
> ulang sampah sehingga mempunyai nilai ekonomis yang baik, dan menyerap
> tenaga kerja, sekaligus mengatasi masalah sampah.
>
> Di bawah ini adalah catatan saya tentang Hidayat.
>
> Kalau Pemda DKI sudah tidak bisa mengatasi masalahsampah di Bantar
> Gebang, karena Pemda Bekasi menolak sampah dari DKI, tapi lain halnya
> dengan Hidayat ini. Betapa tidak. Kalau sampah menurut sebagian orang
> adalah musibah, tapi di tangan Hidayat, sampah menjadi suatu oppurtinity,
> menjadi suatu peluang bisnis yang menjanjikan. Namun, tentu saja
> oppurtinity ini tak bisa dikerjakan sendirian. Melainkan harus dibangun
> dulu komunitasnya, harus dibangun dulu sistemnya. Seperti yang dilakukan
> Hidayat ini.
>
> Ia tak hanya menjual mesin pengolah sampah, tapi juga menjual
> sistemnya, sehingga mereka bisa mengerjakan, memakainya, dsb. Jadi, proses
> inilah yang dinamakan memberdayakan. Suatu proses yang jika pasarnya belum
> ada dan mau diadakan, maka pasar itu harus diciptakan, ditimbulkan
> kebiasaan, termasuk dilatih, diberi alat, sampai mereka mengupayakan
> entrepreunership. Sehingga, nantinya, dapat menghasilkan
> entrepreuner-entrepreuner baru. Tentu saja ini diharapkan tidak saja di
> Jakarta, tapi hampir di seluruh daerah yang mempunyai persoalan sama:
> sampah.
>
> Namun, sayangnya, kecenderungan di kota yang muncul bukannya
> pengusaha tapi para pemimpin-pemimpin komunitas itu, seperti RT-nya,
> RW-nya, pengelola lingkungan. Padahal, semestinya, pengusaha-pengusaha
> gede melihat peluang ini. Daripada mereka menyewa truk-truk untuk
> mengangkut sampah, mereka bisa mengelola saja itu sampah. Toh, mereka
> punya lahannya.
>
> Bahkan mereka bisa memberikan pekerjaan kepada para pemulung dan
> orang-orang lain di sana daripada menciptakan masalah-masalah baru buat
> Pemda. Tentu saja semua ini perlu digarap dengan kesungguhan. Kesungguhan
> agar kita bisa melihat masyarakat bergerak, dan mudah-mudahan ini juga
> ditangkap komunitas-komunitas lain.
>
> Orang seperti Hidayat ini harus menjadi seorang messenger.
> Dibangkitkan dan disebarluaskan usahanya, sehingga sampah tidak bertebaran
> di mana-mana. Tapi, selain dari itu, yang jelas peluang bisnis ini bagus
> dan menguntungkan. Cuma, masalahnya, terkadang orang pemda itu tidak
> tertarik dengan masalah-masalah ini karena mereka itu bukan entrepreuner,
> mereka itu birokrat.
>
> Inilah yang kita bisa lihat, di pemda itu tidak ada orang-orang yang
> intrapreuner, yaitu karyawan yang berjiwa entrepreuner. Dan masalah yang
> kedua adalah, mainset mereka itu adalah anggaran. Kalau mesinnya itu
> seharga Rp 10 juta, maka di mark-up lah, atau diminta komisinya berapa.
> Nah, selama mereka mainsetnya anggaran, mereka akan cuma menghabiskan
> anggaran, mereka akan menghabiskan yang besar-besar. Karena itu, sudah
> seharusnya masyarakat bergerak, dan masyarakat melakukan kontrol serta
> mendesak pemerintah untuk mengatasi masalah sampah dengan lebih efisien.
> Jadi, jangan sampai Pemda menghabiskan anggaran seenaknya saja. Tentunya
> lebih baik memikirkan dan segera mencari jalan keluar persoalan daripada
> memikirkan bagaimana caranya menghabiskan anggaran.
>
>
>
>
> ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
> DANA MITRA LINGKUNGAN {Friends of the Environment Fund}
> Pusat Niaga Duta Mas Fatmawati, Blok B1/12
> Jl. RS. Fatmawati 39, Jakarta 12150 - INDONESIA
> Telp. : (62-21) 724 8884, 724 8885 | Fax. : (62-21) 724 8883
> Email : [EMAIL PROTECTED] | URL# http://www.dml.or.id
>
> Konperensi ke 4 APRCP @ http://aprcp.dml.or.id
> FORLINK @ http://forlink.dml.or.id
> Bursa Limbah @ http://w2p.dml.or.id
> Forum KMB Indonesia @ http://forumkmb.dml.or.id
> Join Milis PB, kirim email ke mailto:[EMAIL PROTECTED]
> ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
>
>
>
--
~~~~~~ PRODUKSI BERSIH (PB) MAILING LIST ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Posting = [EMAIL PROTECTED]
Berhenti = Kirim Email kosong ke mailto:[EMAIL PROTECTED]
Berlangganan = Kirim Email kosong ke mailto:[EMAIL PROTECTED]
Administrator = mailto:[EMAIL PROTECTED]
Arsip = http://www.mail-archive.com/[email protected]/
FORLINK @ http://www.forlink.dml.or.id
Environmental News @ http://forlink.dml.or.id/e-news/
Forum KMB Indonesia @ http://www.forumkmb.dml.or.id
Bursa Limbah Indonesia @ http://www.w2p.dml.or.id
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~