Warga mulai makan buah bakau

* Dampak kekeringan di Lembata
http://www.indomedia.com/poskup/2005/03/17/edisi17/1703uta1.htm
 

Lewoleba, PK

Kelaparan akibat kekeringan yang melanda sebagian
Kabupaten Lembata kini mulai menyata. Akibat stok
makanan yang semakin menipis, warga pada enam desa di
Kecamatan Ile Ape dan Lebatukan mulai mengonsumsi buah
dan bunga pohon bakau serta kacang hutan.

Bahkan buah dan bunga pohon bakau (dalam bahasa
setempat disebut kewaka atau perepa) dan kacang hutan
(uta keda) telah dikonsumsi warga sejak Desember tahun
lalu. Menurut warga, jika mereka mulai mengonsumsi
kedua jenis makanan ini, berarti kondisi kelaparan
yang menimpa sudah benar-benar mengerikan. Jika
bantuan tidak segera datang, mereka memperkirakan
dalam beberapa bulan mendatang sampai memasuki musim
tanam berikutnya, keadaan akan sangat memrihatinkan.

Enam desa di Kecamatan Ile Ape yang mulai mengonsumsi
buah dan bunga bakau itu adalah Desa Muruona,
Laranwutun, Kolontobo, Petuntawa, Watodiri, Todanara
dan Jontona. Sementara warga Desa Merdeka di Kecamatan
Lebatukan mengonsumsi uta keda atau kacang hutan. Uta
keda merupakan sejenis kacang-kacangan, buahnya
menyerupai biji buncis (kacang merah) yang berwarna
ungu, merah atau putih. Untuk dapat dimakan, proses
pengolahannya harus hati-hati agar tidak meracuni
warga yang memakannya.

Warga Desa Muruona, Dulitukan dan Tagawiti, kepada Pos
Kupang dan Kompas, Rabu (16/3), menuturkan, mereka
terpaksa memakan bunga dan buah bakau karena
persediaan makanan berupa jagung dan kacang-kacangan
sudah sangat menipis. Bahkan sebagian warga yang lain
sama tidak memiliki persediaan jagung dan
kacang-kacangan lagi. "Sejak Desember tahun lalu kami
mulai makan kewaka, sebab persediaan jagung dan
kacang-kacangan mulai berkurang. Persediaan makanan
jagung, hasil panen tahun lalu sudah habis. Saat ini
jagung sama sekali kering sehingga tidak ada yang
dapat dipanen," tutur Anastasia Lipa, didampingi
suaminya, Antonius Kidi Aman, dan Joseph Dudeng, warga
Dusun I Desa Muruona, Kecamatan Ile Ape, Rabu siang di
kampungnya.

Menurut mereka, untuk mendapatkan jagung atau beras
dan kacang-kacangan, warga mulai menjual ternak
seperti kambing, babi dan ayam. Ada juga warga yang
mulai melaut mencari ikan, siput untuk dibarter dengan
jagung, kacang-kacangan dan pisang dengan warga dari
Atadei atau Lebatukan. "Kalau tidak jual ternak, kami
dapat jagung dan beras dari mana? Tapi ternak kami
juga berapa banyak, sementara harga beras sangat
mahal. Kami beli beras kualitas yang buruk, Rp
3.200/kg supaya dapat dicampur dengan kewaka," ujar
Antonius, dibenarkan warga lainnya.

Pengakuan serupa disampaikan Kades Muruona, Ambros
Bayu Pureklolon, dan warga lainnya Mathias Domaking.
"Hampir semua warga di desa ini sudah makan kewaka.
Kalau bunganya habis, ya makan buahnya. Kalau tidak
makan begini, warga mau makan apa? Tanaman jagung dan
kacang-kacangan kering seluruhnya," kata Ambros.
Kondisi warganya yang berjumlah 453 jiwa atau 118
kepala keluarga akan lebih parah dalam beberapa bulan
mendatang jika pemerinth tidak segera turun tangan
mengatasi kekeringan ini. Warga setempat juga
menggantung kelangsungan hidup mereka pada sanak
keluarganya yang merantau di negeri jiran, Malaysia,
dan Propinsi Papua.

Warga Desa Dulitukan, Ile Ape, Kamsina Oin (60) dan
Petrus Kidi Aman (53) mengakui tidak memiliki lagi
persediaan jagung, beras dan ubi-ubian di rumahnya.
Hasil panen jagung tahun lalu yang cukup baik sudah
habis. Menurut Petrus, tanaman jagungnya seluas 1
hektar yang ditanam minggu pertama Januari lalu telah
mati kekeringan. Bahkan ketika Pemerintah Lembata
membagi jagung hibrida untuk ditanam lagi juga mati
total akibat panas terik. "Jagung hanya berbunga,
setelah itu panas terus dan mati kekeringan. Tidak ada
lagi tanaman yang bisa diharapkan," kata Petrus yang
memiliki tanggungan enam orang dalam rumahnya.

Kepala Desa Dulitukan, Sebastianus Dari Aman, ditemui
di kediamannya menuturkan, meski empat desa di Tanjung
mengalami kekeringan total, belum ada warga yang mulai
makan kewaka atau kacang hutan. Tetapi dia
mengingatkan, stok pangan tahun lalu mungkin hanya
dapat bertahan untuk dua atau tiga bulan mendatang.
Setelahnya warga pasti kelaparan dan tak ada pilihan
lain selain kewaka. Sekarang, jelasnya, warga
ramai-ramai melaut mencari ikan dan siput untuk dijual
atau dibarter dengan jagung dan ubi-ubian.

Keluhan yang sama disampaikan Kaur Desa Tagawiti,
Yoseph Leben. Ia mengakui ada sejumlah warganya sudah
mulai mengonsumsi kewaka yang diolah dan dicampur
dengan jagung atau beras. Sudah ada warga di sini yang
makan kewaka," tandas Leben. Sementara itu warga Desa
Merdeka, Kecamatan Lebatukan sudah mulai mengonsumsi
uta keda atau kacang hutan. "Warga di desa saya makin
sering makan kacang hutan itu. Memang sudah menjadi
kebiasaan warga untuk makan makanan ini, tapi saat ini
makin sering," kata Petrus Wahon warga Desa Merdeka.

Pengolahan uta keda, kata Petrus, harus dilakukan
secara hati-hati, sebab dapat membahayakan warga yang
mengonsumsinya. Kacang yang sudah dikupas tersebut
direbus dalam periuk tanah hingga airnya mendidih
sekitar 80 derajat. Setelah itu airnya dibuang,
direbus lagi sampai tujuh kali. "Kalau prosesnya
salah, orang yang memakannya akan merasa pusing.
Setelah tujuh kali, kacang hutan tersebut dicampur
dengan kelapa parut," jelas Petrus.

Wakil Ketua DPRD Lembata, Frans Making, kepada Pos
Kupang, Rabu siang (16/3) di Lewoleba, mengakui warga
Ile Ape sudah mulai mengonsumsi kewaka dan uta keda.
"Kalau orang gunung api (maksudnya Ile Ape, Red) sudah
mulai makan kewaka atau uta keda, artinya sudah
terjadi kelaparan. Warga harus dibantu oleh
pemerintah," tandas Frans Making.

Buah kewaka dan uta keda, menurut Frans, tidak
memiliki nilai gizi apa pun. Makanan ini hanya untuk
mengganjal perut agar tidak mengalami kelaparan dan
mati. "Kewaka itu beracun, sehingga proses
pengolahannya harus benar-benar baik," katanya. Frans
mengatakan kondisi yang terjadi saat ini sama seperti
pada tahun 1960-an. "Waktu itu saya masih SMP.
Kondisinya mirip sekarang," ujarnya.

Menurut laporan warga yang dikirim ke DPRD Lembata,
sebanyak 2.600 jiwa warga Lembata yang kelaparan.
"Mulai besok (Kamis hari ini, Red) tim DPRD turun ke
dua kecamatan. Satu tim ke Ile Ape dan satu tim
lainnya ke Nagawutun. Hasil peninjauan DPRD dan dialog
dengan warga setempat akan menjadi rekomendasi DPRD
kepada Pemkab Lembata untuk membeli tambahan stok
beras, selain 20 ton lainnya yang disetujui melalui
voting dalam rapat Senin (14/3). Menurut perkiraan
saya, Lembata membutuhkan sekitar 180 ton beras untuk
membantu warga hingga mereka memasuki musim tanam
tahun depan. Itu baru perkiraan saya. Data resminya
setelah dua ini kembali dari lapangan," kata Frans.
(ius)




                
__________________________________ 
Do you Yahoo!? 
Yahoo! Sports - Sign up for Fantasy Baseball. 
http://baseball.fantasysports.yahoo.com/


==========================================
Manfaatkan!! - http://peduli-bencana.or.id 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/pedulibencana/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke