Berdamai Dengan Gempa
Rabu, 06 Juni 2007 | 00:16 WIB

TEMPO Interaktif, Maumere:

"Gempa, gempa!" teriakan menggema dari pengeras suara masjid dan dari
mulut ke mulut. Kepanikan menjalar ke jalan-jalan raya di mana ratusan
warga tampak berkumpul lalu berlarian ke satu arah.

Bunyi sirene terdengar memekakkan telinga. Di kelas-kelas sebuah
sekolah madrasah tsanawiyah, para siswa serentak menadang kepala
dengan tas lalu menyuruk ke bawah meja-meja belajar yang bergemuruh.

Beberapa saat kemudian ratusan siswa itu berhamburan ke luar kelas,
bergabung dengan para warga yang berlarian ke sebuah lapangan. Sirene
masih terus mengaung dari kap mobil Polisi Pamong Praja yang
berkeliling di jalan-jalan.

Tak lama, mobil ambulan ikut berkeliling, mengangkut korban yang
terluka maupun tewas. Warga yang selamat berkumpul di lapangan, 300
meter jauhnya dari bibir pantai.

Hanya saja tak ada wajah bersedih atau ketakutan di wajah orang-orang
itu. Sebaliknya, canda tawa terdengar di sana-sini. Ada pula yang
berlakon kesakitan diiringi gelak tawa yang lain. Di betis kirinya ada
noda obat merah.

Rupanya itu hanyalah simulasi gempa dan tsunami yang digelar di
Maumere, ibukota Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, pada kamis
pekan lalu. "Masih kurang cepat dibandingkan tahun 1992," kata Hadi
Sebran, 72 tahun, seorang warga yang masih terengah-engah di bawah
siraman sinar matahari yang terik.

12 Desember 1992, sebuah gempa berkekuatan 6,8 skala richter telah
terjadi di sana. Kekuatan yang cukup untuk meluluhlantakkan daerah itu
dan beberapa daerah lain di Pulau Flores.

Gempa pun disusul ombak tsunami yang menyapu kawasan pantai dan
memusnahkan kehidupan di pulau kecil, seperti Pulau Babi di timur laut
Maumere.

Bencana itu merenggut nyawa 1.346 orang berdasarkan data resmi. Namun
ada yang memperkirakan jumlah korban sesungguhnya mencapai 4.000 orang
karena masih banyak orang yang tak ditemukan alias hilang terseret
ombak ke lautan.

Kenangan tentang bencana itulah yang membuat pada siang itu masyarakat
antusias mengikuti simulasi. "Sangat membantu, kita jadi tahu mau lari
kemana," kata Hadi, didampingi Kartini, istrinya.

Maumere dan Flores pada umumnya adalah kawasan yang rentan terancam
gempa disusul tsunami. Kawasan ini dikepung biangnya gempa tektonik
(yang disebabkan pergerakan kulit bumi) di utara dan selatan.

Bagian selatan Flores secara geologis berada pada pertemuan lempeng
samudera hindia dan Eurasia. Adapun di bagian utara terdapat Back Arc
Thrust Flores atau yang dikenal sebagai sesar naik Flores.

Lempeng Hindia dan Pasifik secara dinamis terus bergerak sejauh 10
sentimeter per tahun. "Tumbukan antara kedua lempeng ini menyebabkan
gempa," kata Yugo Kumoro, Kepala Bidang Geologi Teknik dan Konservasi
Kebumian Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan
Indonesia (LIPI) di Maumere pada kamis pekan lalu.

Demikian pula dengan sesar naik Flores yang melintas di Pulau Pomana,
di utara lepas pantai Maumere. Sesar naik adalah papasan dua lempeng
kulit bumi dimana salah satunya seperti menaiki yang lain.

Pergerakan sesar naik ini melahirkan apa yang disebut Yugo sebagai
efek pegas. Pergesekan kedua lempeng menghasilkan tenaga pegas yang
akan melepaskan energinya bila salah satu lempeng tak kuat lagi
menahannya. "Gempa model inilah yang terjadi pada 1992," kata Yugo.

Gempa itu juga diperburuk kondisi Maumere yang berdiri di atas kawasan
tanah pasir yang lembek. Aliran gelombang gempa dari laut, kata Yugo,
seperti diperkuat (amplified) oleh tanah pasir. "Respon tanah pasir
sangat tinggi terhadap gempa, berbeda dengan batuan," katanya.

Ancaman-ancaman ini membuat Maumere dan Pulau Flores pada umumnya
menjadi kawasan yang tak pernah aman dari bahaya. Tapi masyarakat,
kata Yugo, mempunyai sifat cepat lupa.

Demi mengembalikan ingatan akan bahaya gempa dan memperkuat
kesiapsiagaan masyarakat inilah LIPI menggelar berbagai kegiatan siaga
bencana di Maumere, termasuk simulasi itu. Yugo mengatakan gempa dan
tsunami tak bisa diprediksi dan tak bisa dicegah kecuali kesiapsiagaan
untuk meminimalisasi kehancuran dan korban yang disebabkan bencana itu.

Irina Rafliana, Koordinator Pendidikan Publik Program Kesiapsiagaan
Masyarakat LIPI, mengatakan tingkat kerentanan masyarakat Maumere
cukup tinggi dalam menghadapi bencana. Di daerah ini, kata dia, jumlah
penduduk bayi, lanjut usia, perempuan hamil, dan anak kecil sangat tinggi.

Di sisi lain, secara ekonomi, bila terjadi bencana maka tingkat
kemampuan masyarakat yang mayoritas menengah ke bawah itu untuk
memulihkan perekonomiannya ke titik normal membutuhkan waktu yang
lama. "Itu sudah terjadi setelah gempa 1992," kata sosok yang akrab
dipanggil Irin itu.

Beruntung, respon masyarakat Maumere cukup tinggi pada kegiatan selama
dua pekan itu. Terutama untuk kegiatan simulasi yang melibatkan
sekitar 700 warga dari dua rukun tetangga di Kelurahan Beru. Kelurahan
ini berada tepat di bibir pantai.

Mereka memang tak berharap bencana akan datang. Bila pun tiba, "Kami
tidak takut lagi, sudah ada bayangan mau berbuat apa bila ada gempa
seperti dulu, tidak kesana kemari," kata Efraim, 45 tahun, seorang ibu
yang berperan sebagai korban patah tulang leher dalam simulasi itu.

Siang pun semakin terik karena matahari tepat ada di atas kepala.
Ratusan orang itu pun berlalu satu per satu ke rumahnya masing-masing,
meninggalkan jejak-jejak di atas rerumputan berdebu.

Sayup-sayup tembang Sikka yang mengalun diiringi gambus pada acara
pameran terngiang di telinga:

edo gete bo'u (Gempa datang tiba-tiba)
Wuring nora nuham wawi (Wuring dan Pulau Babi)
Riwun mate ngsung putat (Banyak orang meninggal)
Nian bitak tanah bige (Dunia ini hancur lebur)

DEDDY SINAGA

Kirim email ke