Bencana Situ Gintung Ulah Manusia
Ahmad Munjin INILAH.COM, Jakarta – Tanggul Situ Gintung di Ciputat, Tangerang, jebol. Air tumpah ke perumahan dan mencabut puluhan nyawa. Situ Gintung memberi pelajaran, manusia janganlah bermain-main dengan alam karena alam tak pernah salah. Mengapa alam menjadi jahat? Aan Rukmana, dosen Jurusan Falsafah dan Peradaban, Universitas Paramadina mengatakan alam pada dirinya adalah baik. Demikian pun Situ Gintung. Menurutnya, alam tidak pernah salah pada dirinya. Kesalahan alam terjadi dalam relasinya dengan sesuatu di luar dirinya, yaitu manusia. Dalam kaitannya dengan manusia itulah, lanjut Aan, Situ Gintung menjadi jahat. Dengan demikian, konsep kejahatan Situ Gintung muncul dalam relasinya dengan manusia. Jebolnya tanggul, dari sudut pandang alam sendiri, sebenarnya baik, karena alam boleh jadi sedang melakukan peremajaan. Namun, dalam kaca mata manusia justru sebaliknya, jahat. Kejahatan, menurut Aan, tidak memiliki eksistensi dan karena itu kejahatan menjadi tidak ada. Yang eksis adalah yang baik. Bencana alam, menurut Aan, adalah eksis. Namun, kebaikan itu menjadi jahat dalam relasinya dengan manusia. “Kalau manusia melihat konteks bencana Situ Gintung dari kaca mata dirinya (manusia) tentu itu menjadi kejahatan,” paparnya. Namun, kejahatan itu tidak mutlak, karena kejahatan itu terkait dengan manusia sendiri. Untuk itulah, Aan menekankan tentang pentingnya dimensi tanggung jawab manusia terhadap alam. “Bagaimanapun, manusia bertanggung jawab terhadap alam karena alam pada dirinya adalah baik,” imbuhnya. Tanggul Situ Gintung, menurut Aan, merupakan hasil dari usaha manusia. Dengan pembuatan tanggul itu manusia memanfaatkan air yang ada di dalamnya, baik untuk kepentingan wisata, irigasi dan lain-lain. Tetapi, usaha manusia itu tidak ditindaklanjuti dengan penjagaannya sebagai dimensi tanggung jawab manusia atas alam. “Penjagaan itu tidak dilakukan alias lalai,” tegas Aan. Karena mansia lalai atas dimensi tanggung jawabnya terhadap alam, manusia sendirilah yang menjadi korban. “Tapi itu bukan salah alam. Bagaimanapun juga alam menjadi jahat karena ulah manusia juga,” pungkasnya. ”Karena itu, janganlah bermain-main dengan alam.” Sedangkan penyebab jebolnya tanggul Situ Gintung, disinyalir akibat usianya yang sudah tua. Pasalnya, tanggul yang berdekatan dengan kompleks perumahan Cirendeu Permai Tangerang itu, sudah ada sejak zaman Belanda. Menurut Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung dan Cisadane, Sutoyo Subandrio Pitoyo, ketika hujan berlangsung seharian pada Kamis (26/3), yakni dari pukul 16.00-21.00 WIB, warga setempat sudah memberitahu akan kondisi tanggul. Bahkan di sebelah hulu tanggul terjadi hujan es. “Kemudian terjadi kenaikan muka air yang cepat. Kemudian air terus naik sehingga tanggul tidak mampu mengalirkan air ke luar,” ujarnya. Selain itu, ujar Suroyo, di sisi lain tekanan terus-menerus terjadi sehingga menyebabkan gerusan. Kemudian bendungan pun longsor dan roboh. Urukan jenis apapun, bisa jebol jika terjadi limpasan. “Karena hujan deras sehingga bendungan yang dibuat pada zaman belanda tidak mampu menampung air,” paparnya. Luas danau Situ Gintung 21 hektar. Dapat dipastikan lebih dari satu juta debit air yang tumpah ke perumahan Cirendue. “Debit air selama hujan bertambah. Lama-kelamaan, danau ini tidak menahan debit air sehingga akhirnya jebol," ucapnya. Korban meninggal dunia hingga saat ini sudah mencapai 43 orang. [I4] http://inilah.com/berita/politik/2009/03/27/93951/bencana-situ-gintung-ulah-manusia/ 27/03/2009 - 17:43 Waspada, Situ Gintung Bisa Terulang Budi Winoto INILAH.COM, Jakarta – Pembangunan perumahan besar di dekat tanggul air, harus dihentikan. Jika tidak, tragedi Situ Gintung mungkin saja terjadi lagi. Apalagi banyak tanggul di Jabodetabek yang memiliki kontur serupa dengan Situ Gintung. Situ Gintung tampaknya sudah lama tidak diperhatikan oleh Pemerintah Tangerang. Terbukti, rumah penduduk dibiarkan berdiri di sekitar situ dan berada di tanah negara. Sejak zaman Belanda, tanggul itu belum pernah direnovasi. Perawatan yang dilakukan hanya pengerukan saja. Kepala Balai Besar Wilayah Cidurian dan Sungai Cisadane Provinsi Banten, Joko Suryanto, mengatakan pengerukan terakhir dilakukan pada 2008 oleh Dinas Pengairan Departemen Pekerjaan Umum. Warga sekitar pernah meminta agar tanggul itu diperbaiki sejak tiga tahun lalu. Hal itu dikarenakan Kali Pesanggrahan pernah meluap dan menyebabkan banjir di kawasan sekitar. Situ Gintung yang memiliki luas 31 hektare dengan kedalaman 10 meter, didesain untuk sistem pelimpahan dan penampungan air hujan. Namun saat ini sudah menyempit. Kontur tanah di sekitar Situ Gintung juga sangat curam. Akibatnya, tanah mudah longsor jika diterjang air bah. Situ itu, kata Djoko, tidak terjadi pedangkalan. Dugaan sementara, penyebab jebolnya tanggul, selain karena kondisi alam, juga disebabkan oleh keberadaan pemukiman. Analis Kebijakan Publik Andrinof A Chaniago mengatakan bencana serupa mungkin saja terjadi di tempat lain, karena ada tekstur lahan yang seperti Situ Gintung. Misalnya saja di daerah sekitar Pamulang yang banyak terdapat tanggul yang dikepung oleh perumahan. Selain itu, puluhan situ di sekitar Jabotabek juga memiliki kemiripan. Andrinof mengatakan untuk antisipasi peristiwa serupa, pembangunan perumahan di kawasan sekitar situ harus dilarang. Pasalnya pembangunan perumahan horizontal telah melebihi kapasitas penggunaan lahan. “Semakin banyak penggunaan lahan untuk pertokoan dan perkantoran hingga penampungan air mengecil. Jika tiba-tiba muncul aliran air ke satu tempat dalam jumlah besar, ujungnya tanggul jebol karena daya dukungnya tidak mampu. Apalagi, jika tidak ada upaya pengerukan rutin. Juga, jika tanggul sudah miring,” katanya. Andrinof mengatakan peristiwa Situ Gitung bisa terjadi karena kelengahan warga setempat, juga karena kesalahan pemerintah daerah. Situ itu bisa jebol, karena tekanan yang dibuat oleh manusia sudah melebihi daya dukung lingkungan. Lahan di sekitar Situ Gintung yang berubah fungsi menjadi perumahan membuat daya dukung tidak memadai. Andrinof menegaskan peristiwa Situ Gintung yang menelan puluhan korban jiwa bukan karena faktor alam. Tapi lebih bersifat teknis, terutama kebijakan. “Ada puluhan situ lain yang tidak dirawat serius secara rutin,” tegasnya. Padahal, menurutnya, sudah ada mekanisme antisipasi untuk daerah yang rawan bencana. Jika pihak yang bertangung jawab melaksanakannya dengan baik, maka jatuhnya korban Situ Gintung mungkin saja bisa dihindarkan. Untuk wilayah seperti Situ Gintung, kata Andrinof, seharusnya ada petugas yang memantau secara rutin. Pemantauan itu harus dilakukan, karena sudah ada dana yang dianggarkan APBD Tangerang yang dialokasikan ke PU, Tata Kota, atau Pertamanan. “Untuk perawatan infrastruktur tanggul, seharusnya bukan lagi masalah dan tidak boleh ditunda jika menunjukkan akan timbul bencana. Kalau sifatnya mengancam kepentingan nyawa, sudah tidak ada keterbatasan dana dan harus diprioritaskan,” katanya. [I4] http://inilah.com/berita/politik/2009/03/27/93985/waspada-situ-gintung-bisa-terulang/ Turit berduka cita sedalam-dalamnya. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kesabaran. Tanggul Situ Gintung Jebol Korban Tewas Jadi 58 Orang Menkes Siti Fadillah meminta petugas medis mengutamakan korban selamat. Pipiet Tri Noorastuti, Zaky Al-Yamani VIVAnews - Korban tewas akibat jebolnya tanggul Situ Gintung, Cirendeu, Ciputat, Tangerang Selatan terus bertambah. Jumlahnya mencapai 58 orang. Demikian data Palang Merah Indonesia hingga pukul 15.00, Jumat 27 Maret 2009. "Sedangkan korban luka yang terdata mencapai 23 orang," kata Koordinator Informasi Palang Merah Indonesia, Agus Rama Dani, Jumat 27 Maret 2009. Para korban tewas dievakuasi di sejumlah posko seperti Universitas Muhammadiyah Jakarta, dan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Ahmad Dahlan. Para korban diletakkan di atas karpet menunggu identifikasi. Mayoritas korban adalah kaum perempuan, anak-anak, dan lanjut usia. Menteri Kesehatan, Siti Fadillah Supari, saat meninjau posko bencana, meminta para sukarelawan medis untuk mengutamakan pertolongan terhadap korban selamat. "Jangan sampai ada korban selamat yang sakit," kata Siti. Jebolnya tanggul mengakibatkan banjir bandang di kawasan Cirendeu, Ciputat, Tangerang Selatan. Lebih dari satu juta meter kubik air menghantam pemukiman penduduk dalam hitungan menit. Peristiwa yang berlangsung sangat cepat membuat mayoritas warga tak mampu menyelamatkan diri. Bahkan banyak warga yang masih terlelap saat banjir datang. Akibatnya, ratusan rumah terendam. Puluhan di antaranya rusak parah. Sejumlah kendaraan seperti mobil juga terseret hingga puluhan meter. Ada mobil yang tersangkaut di pagar. Ada pula yang tersangkut di pohon. • VIVAnews http://metro.vivanews.com/news/read/44244-korban_tewas_jadi_58_orang Tanggul Situ Gintung Jebol Korban Diberi Santunan Rp 5-30 Juta/KK dari APBN Aprizal Rahmatullah - detikNews Jakarta - Pemerintah memberikan santunan bagi korban jebolnya tanggul Situ Gintung, Tangerang, Banten. Jumlah dana yang diberikan Rp 5-Rp 30 juta per kepala keluarga (KK). "Untuk masyarakat yang terkena bencana diberikan bantuan untuk yang ringan Rp 5 juta, rusak sedang Rp 15 juta dan maksimal Rp 30 juta," ujar Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah. Atut mengatakan itu usai rapat yang dipimpin Wapres Jusuf Kalla (JK), di Rumah Makan Situ Gintung, Tangerang, Banten, Jumat (27/3/2009). Menurut Atut, pengklaiman dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dilakukan melalui lurah dan kepala desa terkait. Selain itu, Pemda Banten akan berkoordinasi dengan Badan Koordinasi Nasional (Bakornas). Sedangkan untuk korban meninggal, lanjut Atut, akan diberikan bantuan. Apabila ada jenazah yang dikebumikan di luar provinsi, akan diberikan fasilitas berupa uang dan mobil ambulans. Berapa total dana yang dikeluarkan? "Tergantung kebutuhan," kata Atut yang mengenakan baju safari hitam ini. Atut menuturkan, Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) akan dijadikan tempat relokasi para korban. Atut menambahkan, Pemda Banten akan menangani masalah sosial, pangan dan kesehatan. "Untuk penanganan situ, itu pemerintah pusat," pungkasnya. (nik/iy) http://www.detiknews.com/read/2009/03/27/145018/1105910/10/korban-diberi-santunan-rp-5-30-juta-kk-dari-apbn RS Fatmawati Persulit Prosedur Administrasi "Tolong prosedurnya jangan dipersulit," kata keluarga korban. Pipiet Tri Noorastuti, Sandy Adam Mahaputra VIVAnews - Sejumlah keluarga korban tewas kecewa dengan tindakan Rumah Sakit Fatmawati. Mereka kecewa lantaran rumah sakit mempersulit prosedur administrasi. "Kami diharuskan pakai surat pengantar pakai otopsi atau tidak. Saya kan tidak tahu," kata Lia, 34, salah satu keluarga korban tewas, kepada wartawan, Jumat 27 Maret 2009. "Tolong prosedurnya jangan dipersulit." Mendengar keluhan itu, Gubernur Banten Ratu Atut Choisiyah, meminta rumah sakit yang menjadi rujukan para korban tak mempersulit prosedur. Ia meminta rumah sakit memberi pelayanan sebaik mungkin. Tanggul Situ Gintung jebol sekitar pukul 05.00 pagi tadi. Ratusan rumah terendam. Puluhan di antaranya rata dengan tanah. Data Departemen Kesehatan menunjukkan, peristiwa ini merenggut sedikitnya 50 korban tewas.• VIVAnews http://metro.vivanews.com/news/read/44182-rs_fatmawati_persulit_prosedur_administrasi Tanggul Situ Gintung Jebol Puluhan Mobil Terseret Arus, Nyungsep ke Atas Pagar Hingga 'Kawin' Andi Saputra - detikNews Avanza nyungsep ke atap (Andi/detikcom) Petaka Tanggul Situ Gintung Jakarta - Buntut tanggul Situ Gintung, Cireundeu jebol, air bah menyeret puluhan mobil hingga puluhan meter di kompleks Perumahan Cireundeu Permai. Beberapa di antaranya bahkan ada yang nyungsep ke atas pagar dan 'kawin' alias bertindihan. Pantauan detikcom, seperti terlihat di Jalan Bukit Cireundeu Raya di kompleks itu, satu Isuzu Auto silver bernopol B 9855 OD milik Bernardus tereseret arus hingga 5 meter. Mobil tersebut terhenti karena menindih Isuzu Panther silver bernopol B 8454 polos. Roda belakang Izusu Auto itu tepat berada di kaca depan Izuzu Panther. "Kalau ini tidak terlalu jauh, Mas. Tadi malah ada mobil punya bule, terseret dari ujung Cireundeu Raya hingga ke Jembatan Cireundeu, sekitar 100 meter karena terbawa arus sungai Pesanggrahan," kata Bernardus kepada detikcom di depan mobilnya. Bahkan sekitar 100 meter dari lokasi dua mobil yang bertindihan ini, satu Toyota Avanza berwarna hitam terangkat hingga ke atap garasi. Mobil bernopol B 2304 IS itu belum dievakuasi. "Pagi-pagi sekitar pukul 05.00 WIB, mobil itu terseret dan bertumbukan semua. Kami semua pasrah," kata Bernardus. Bahkan pantauan detikcom, beberapa mobil nyunsep ke taman hingga tersangkut ke pohon. Pada saat kejadian air di rumah warga mencapai tinggi 1,5 meter hingga 2 meter. Tak sedikit pagar-pagar yang jebol. Selain pagar rumah warga, pagar jembatan kompleks sepanjang 20 meter juga jebol. Pipa PDAM pun patah hingga airnya muncrat ke jalan. (nwk/iy) http://www.detiknews.com/read/2009/03/27/125244/1105798/10/puluhan-mobil-terseret-arus-nyungsep-ke-atas-pagar-hingga-kawin Jumat, 27/03/2009 12:05 WIB Tanggul Situ Gintung Jebol Kadinkes: Korban Tewas 43 Orang, Kemungkinan Bertambah Mega Putra Ratya - detikNews Jakarta - Korban tewas akibat jebolnya tanggul Situng Gintung, Tangerang, Banten terus bertambah. Total korban tewas menjadi 43 orang dan kemungkinan akan terus bertambah. "Ada 3 pos. Di Universitas Muhammdiyah Jakarta ada 25 orang, di Cireundeu ada 2 orang, dan di STIE KH Ahmad Dahlan ada 16 orang," kata Kepala Sub Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Dr Dien Emawati di STIE KH Ahmad Dahlan, Jl Ciputat Raya, Tangerang, Banten, Jumat (27/3/2009). Dien mengatakan, evakuasi korban sampai saat ini belum bisa ditentukan. Melihat kondisi benar-benar aman. "Untuk evakuasi semoga tidak hujan karena akan mempersulit pencarian," katanya. Bantuan kesehatan yang diberikan ada 22 tim medis dari Provinsi DKI Jakarta, Rumah Sakit Pondok Indah, RSPP, RS Fatmawati, RS Duren Sawit, dan puskesman di sekitar Jakarta Timur dan Jakarta Selatan. "Obat-obatan sampai saat ini cukup kita membawa MP ASI dan biskuit kering untuk anak-anak yang menunggu atau para orangtua," imbuhnya. Pantauan detikcom, 2 korban di STIE KH Ahmad Dahlan dengan nama Maman dan Soleh, sudah dibawa keluarganya ke rumah duka. Ada 11 korban lagi yang masih berada di kampus. Banyak warga yang mendatangi kampus untuk memastikan kemungkinan keluarganya menjadi korban jebolnya tanggul. (gus/iy) http://www.detiknews.com/read/2009/03/27/120500/1105784/10/kadinkes-korban-tewas-43-orang-kemungkinan-bertambah Tanggul Jebol di Cireundeu Air Meluap, Ciputat Raya Macet Total Andi Saputra - detikNews Jakarta - Jebolnya tanggul Situ Gintung, Cirendeu, Tangerang, Banten menyebabkan air meluap ke jalan-jalan. Akibatnya, sejumlah daerah di Jakarta Selatan macet total. Pantauan detikcom, Jumat (27/3/2009) pukul 08.00 WIB, genangan air semata kaki terdapat di Jl Ciputat Raya. Genangan dari luapan Kali Pesanggrahan ini menyebabkan arus lalu lintas Pasar Jumat menuju Kebayoran Lama macet total. Penumpukan kenadaraan terjadi di depan menara FedEx. Arus lalu lintas arah Lebak Bulus menuju Cinere dan Lebak Bulus menuju Ciputat juga dilaporkan macet total. (lrn/ndr) http://www.detiknews.com/read/2009/03/27/081157/1105622/10/air-meluap-ciputat-raya-macet-total http://groups.google.com/group/suara-indonesia?hl=id New Email addresses available on Yahoo! Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail. Hurry before someone else does! http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/
