Catatan iseng saja dari FB, sorry kalo repost :).
-----
KALA ASTEROID "BERCIUMAN"
Tumbukan benda langit? Jangan kaget dulu! Meski kedengarannya serem, sebenarnya
ini peristiwa yang rutin terjadi. Tengoklah permukaan Bumi kita, penuh dengan
tebaran kawah-kawah bekas tumbukan benda langit yang besar-besar. Hingga kini
memang baru 176-an kawah tumbukan benda langit di Bumi yang sudah
"diverifikasi" berdasarkan penanda khasnya : jejak mineral metamorfik dinamik
alias metamorfik tekanan tingkat tinggi seperti coesite, stishovite, mineral
dengan planar deformation features (PDFs) dalam struktur mikro ataupun breksi
tumbukan dan shatter cones dalam struktur makro. Namun diyakini jumlah benda
langit yang menumbuk Bumi sangat jauh lebih besar ketimbang itu dalam kurun
waktu sejarah perkembangan Bumi selama 3,8 milyar tahun terakhir. Mengapa
banyak yang lenyap, ya karena dinamika permukaan Bumi kita dengan gerak lempeng
tektoniknya dan bekerjanya gaya eksogen.
Benda langit kecil seperti komet atau asteroid menumbuk planet, sepertinya
sudah tidak mengherankan lagi. Jupiter baru saja dihantam benda langit pada 19
Juli 2009 silam, perulangan dari peristiwa yang sama tepat 15 tahun sebelumnya
(tepatnya pada 16 - 22 Juli 1994). Hanya jika pada 2009 yang menghantam Jupiter
diperkirakan adalah sebutir komet dengan diameter < 1 km yang menghasilkan
jejak tumbukan seluas Samudera Pasifik, maka pada 1994 yang jatuh adalah
rombongan komet Shoemaker-Levy 9 sejumlah 21 buah yang telah terdeteksi setahun
sebelumnya dan langsung menggemparkan dunia. Jauh hari sebelumnya, astronom
legendaris Cassini juga menemukan bintik-bintik di Jupiter pada 1690, yang pada
1997 diidentifikasi memiliki ciri-ciri jejak tumbukan komet. Berapa energinya?
Jangan tanya ! Tumbukan 1994 melepaskan energi kinetik mahadahsyat, sebesar 90
juta megaton TNT, jumlah energi yang lebih dari cukup untuk meludeskan makhluk
hidup Bumi dan
mentransmigrasikannya ke akhirat.
Dan Bumi? Wow, serial hantaman komet/asteroid pada 65 juta tahun silam
memusnahkan 75 % populasi makhluk hidup Bumi, termasuk dinosaurus yang merajai
daratan dan lautan saat itu. Ini belum seberapa. Tumbukan sejenis pada 250 juta
tahun silam bahkan memusnahkan 96 % populasi makhluk hidup ! Jejak paling
terkenal dari tumbukan 65 juta tahun silam adalah Kawah Chicxulub, kawah
raksasa berdiameter 180 km yang terkubur di bawah sedimen setebal 300 - 600
meter di Semenanjung Yucatan, Mexico. Meski, penelitian kontemporer menunjukkan
kawah Chicxulub mungkin tidak berperan dominan, karena masih ada struktur Shiva
yang luar biasa besarnya (diameter kawah 600 km) yang berada di lepas pantai
barat India dan diduga terbentuk oleh komet/asteroid berdiameter 40 km.
Sementara jejak tumbukan 250 juta tahun silam, saat ini diidentifikasi (salah
satunya) sebagai struktur Bedout berdiameter 100-an km yang terletak di lepas
pantai barat laut Australia, alias di perairan
Samudera Hindia. Satu lagi kawah yang diduga ikut bertanggungjawab adalah
struktur Wilkes Land, dengan diameter 500 km.
Nah, tumbukan antar benda langit ternyata tidak hanya terjadi antara
komet/asteroid dengan planet saja, namun antar komet maupun asteroid juga bisa
terjadi, bahkan dalam frekuensi lebih sering. Terutama di lokasi yang menjadi
"sarang" komet maupun asteroid, seperti Sabuk Asteroid Utama (antara Mars -
Jupiter), sabuk Kuiper Edgeworth dan awan komet Oort. Para cendekiawan
meyakini, meski sampai kemarin belum ada buktinya, bahwa tumbukan antar sesama
komet atau asteroid itulah yang membuat suatu calon komet (baca : kometisimal)
terlempar dari "sarang"nya dan masuk ke tata surya bagian dalam menghasilkan
komet yang memukau. Demikian pula asteroid, yang keluar dari "sarang"nya untuk
menjadi asteroid pengelana yang kadang-kadang berdekatan dengan Bumi.
Bukti itu akhirnya datang juga dari obyek kecil yang sejauh ini diberi nama P
2010 A2. Obyek ini awalnya diduga sebagai komet, ditemukan pada 6 Januari 2010
oleh sistem pelacakan benda langit LINEAR yang bersenjatakan teleskop pemantul
1 m. P 2010 A2 dianggap sebagai komet periodik dengan periode orbital 3,47
tahun yang mengedari Matahari pada perihelion 2,00 SA dan aphelion 2,57 SA (1
SA = 150 juta km) pada orbit ellips yang miring 5 derajat terhadap ekliptika. P
2010 A2 menempati perihelionnya pada Desember 2009 lalu dan memiliki 'ekor'
sehingga dianggap sebagai komet. Namun anggapan ini meragukan, sebab karakter
orbitnya mirip dengan orbit asteroid di Sabuk Asteroid Utama. Belakangan
spektroskopi menunjukkan 'ekor komet' ini tidak mengandung uap air atau
bahan-bahan yang mudah menguap lainnya sebagaimana yang umum dijumpai di
komet-komet. Obyek ini kemudian diklasifikasikan sebagai komet Sabuk Utama,
satu klasifikasi yang janggal sebab sejauh ini
hanya ada 4 obyek sejenis yang menjadi anggotanya.
Akhirnya misteri terpecahkan ketika mata WFPC 3 (Wide Field and Planetary
Camera 3) yang dipasang di teleskop ruang angkasa Hubble menatap tajam ke P
2010 A2. Secara mengejutkan di bagian yang harusnya berupa 'kepala komet'
(coma) terdeteksi bentukan mirip huruf X yang aneh. Namun ini bukan 'planet X'.
Interpretasi Hubble menunjukkan bentukan X ini adalah pencaran pecahan batuan
berukuran sedang sampai kecil yang terbentuk akibat beradu mukanya (head on)
dua buah asteroid secara telak sehingga salah satunya hancur lebur sementara P
2010 A2 bisa bertahan, namun kehilangan banyak massa sehingga diameternya
menyusut jauh dari semula 500 meter tinggal 150 meter saja. Seperti "ciuman"
antar asteroid saja, namun mematikan. Angin Matahari (yakni pancaran proton dan
elektron secara konstan dari permukaan Matahari ke segala arah) kemudian
menekan debu-debu berukuran milimeter yang terbentuk dari tabrakan ini ke arah
menjauhi Matahari, sehingga menampakkan bentuk
mirip ekor komet.
Yang lebih mengesankan lagi, analisis orbit lanjutan menunjukkan P 2010 A2 ini
merupakan anggota asteroid keluarga Flora. Ini Keluarga asteroid yang palking
fenomenal karena berasal dari sebuah asteroid besar (diameter 100-an km) yang
pecah berhamburan menjadi asteroid-asteroid lebih kecil akibat tumbukan dengan
sesamanya pada 100 juta tahun silam. Simulasi komputer menunjukkan
pecahan-pecahan asteroid Flora tersebut terdorong masuk ke tata surya bagian
dalam, bergentayangan di orbit planet-planet terestrial sehingga berpotensi
bertumbukan dengan Mars, Bumi dan Venus. Simulasi juga menunjukkan puncak
tumbukan tersebut (dalam frekuensi yang sangat tinggi sehingga diibaratkan
sebagai hujan asteroid) terjadi pada 65 juta tahun silam, tepat saat dinosaurus
meregang nyawa.
So, bagaimana kelanjutan kisah P 2010 A2 ini dan keluarganya? Apakah berpotensi
jatuh ke Bumi? Mungkin saja, tapi masih jauh lah. Pantauan LINEAR, NEAT,
LONEOS, Catalina Sky Survey dll sejauh ini menunjukkan tak ada satupun
asteroid/komet berdiameter > 50 m yang mengarah langsung ke Bumi.
Catatan : gambar dimodifikasi dari citra Hubble Space Telescope, STScI, 2010.