Kurang Tidur Sama Bahayanya
Dengan Kelebihan Alkohol
Paris
- 25 Sep 00 16:16 WIB - (Antara)
PENGARUH
kurang tidur terhadap ketajaman pikiran sama buruknya dengan
pengaruh kelebihan alkohol dalam darah, demikian hasil penelitian para ahli
dari Australia
dan Selandia Baru, baru-baru ini.
Penelitian yang memperingatkan para
pengemudi dan mereka yang bekerja
di bidang penerbangan itu, dilakukan terhadap 39 pria dan wanita berusia antara
30-an hingga 40-an. Dalam penelitian tersebut dipantau reaksi kognitif
dan manual mereka selama lebih dari 28 jam. Dan selama diteliti, para relawan
diberi alkohol hingga konsentrasi darah/alkohol mencapai 0,1%. Setelah
tidur malam, percobaan diulang dalam jangka waktu yang sama, tetapi tanpa
pemberian alkohol. Hasilnya dilihat setelah para relawan dibiarkan
terjaga selama 17 hingga 19 jam. Ternyata reaksi mereka lebih lambat 50%
dan akurasinya jauh lebih buruk dibandingkan ketika tingkat konsentrasi
darah/alkohol mereka mencapai 0,05%, ungkap para peneliti.
Konsentrasi darah/alkohol sebesar 0,05%
adalah batas yang diizinkan bagi seseorang untuk dapat mengemudi di
Skandinavia, yakni salah satu negara yang paling ketat menerapkan undang-undang
mengemudi dalam keadaan mabuk. Sebagai perbandingan, batas yang diizinkan
di Inggris mencapai 0,08%. Di hampir semua negara bagian AS batasan
sahnya mencapai 0,1%, tetapi dapat menjadi 0,05% di negara bagian yang
menerapkan undang-undang lebih keras.
Dampak kurang tidur dapat menjadi semakin
hebat akibat jet lag atau kerja shift, yang mengganggu bioritme tubuh, tambah
para peneliti. Disebutkan juga bahwa temuan itu menunjukkan adanya
kesenjangan lebar pada peraturan hukum.
Standar untuk mengukur kemerosotan fisik melalui alkohol diterapkan di seluruh
dunia, tetapi tidak ada standar yang digunakan untuk memonitor kelelahan para
pekerja yang dapat mempengaruhi kinerja mereka.
Tujuan penelitian itu adalah "untuk
memastikan mereka yang bekerja 18 jam atau lebih tanpa tidur dapat terhindar
dari resiko perilaku, seperti mengemudi, menerbangkan pesawat atau
mengoperasikan mesin," kata para peneliti itu. Riset dilakukan
Andrew Williamson dari Universitas New South Wales di Sydney dan Anne-Marie
Feyer dari Universitas Otago, Selandia Baru. Hasil penelitian mereka
dimuat dalam buletin Occupational and Environmental Medicine, yang diterbitkan
oleh Ikatan Dokter Inggris, minggu lalu. (Sdj)