[Memutus siklus bencana di Indonesia]

Teori Siklus Bencana di Indonesia

        Tanggal 26 Nopember baru saja berlalu, peringatan setahun berlalu,
langit mencurahkan rahmat, doa istigfar dan salawat yang disiarkan
luas oleh TV seakan meminta ampun ke pada yang maha kuasa sehingga
berkenan agar tidak dijadikan bencana lagi di Indonesia

        Pergantian malam tahun baru di Jawa Timur di tandai dengan sujud
sukur oleh Gubernur Jatim Imam Oetomo. Baru selesai tidur, sehabis
begadang tahun baru, maka masyarakat Jatim dikejutkan dengan bencana
banjir bandang Jember dengan korban meninggal ratusan jiwa bahkan
pondok pesantren Al hasan hancur, belum sempat berduka akibat bencana
jawa timur, maka masyarakat di Indonesia di beri cobaan lagi dengan
bencana tanah longsor di Banjarnegara, terlihat di tayangkan TV sebuat
kubah musolla hancur terseret longsor.

Ritual Kekuatan

        Ketika bencana Tsunami Aceh, banyak masyarakat Indonesia yang
mempercayai kekuatan perlindungan dariNya terhadap masjid baiturrohman
Aceh yang terbebas dari bencana. Masyarakat mempercayai bahwa
kekuatanNya akan melindungi bangunan yang banyak menyebutkan namaNya
seperti masjid, pondok dsb, namun kalau melihat peristiwa di atas
seakan menghapus kepercayaan tsb, bencana tidak melihat apapun
bangunannya. Tidakkah kita berpikir bahwa kekuatanNya hanyalah milik
Dia dan tidak di miliki oleh benda ?

Jawaban ilmiah

        Dari kacamata ilmiah di jelaskan oleh pak menteri Kehutanan Ka'ban
bahwa terjadi pengalihan fungsi hutan dari sebagai fungsi resapan
menjadi ladang penduduk (hal yang sama di ulang di pacet 2 tahun lalu
dan Aceh). Kacamata ilmiah berusaha menjelaskan secara kasat mata apa
yang terjadi. Walaupun akhirnya di ralat sebagai fakto alam penyebabnya 

Teori Siklus bencana

        Adakah sesuatu yang lain terjadi, ketika ramai-ramai berbicara
bencana gempa dengan prediksi ilmiah kota padang, yang muncul malah
banjir bandang dan longsor, berbicara kehutanan, muncul bencana flu
burung di pembantu bupati, berbicara penyakit, muncul pesawat jatuh 
        Lingkaran bencana di indonesia bisa menjadi siklus yang tidak pernah
berhenti (kisah tentang bencana yang beruntun yang pernah terjadi
dalam sejarah)


Kecelakaan besar (bus wisata di probolinggo) -> Longsor pacet-> Longsor
Bahorok -> KelaparanNTT -> Penyakit DB-> Gempa Timika-> Gempa
Tsunami->Pesawat/helikopter saling jatuh-> Penyakit baru (fluburung)->
Penyakit DB dan lumpuh layu-> Kelaparan yakuhimo-> Longor jember->
Longsor banjarnegara (kondisi berulang secara acak dan beruntun)



Bencana di negara lain

        Di banyak negara maju bencana menjadi hal yang paling eksak sehingga
faktor keselamatan yang diutamakan dengan analisa akurat korban
bencana dapat di minimalkan. Beberapa negara banyak yang berhasil
semisal Jepang yang sudah menerapkan peringatan dini dan konstruksi
bangunan yang tahan gempa. 

        Tetap pada satu misteri ilmiah tentang prediksi bencana yang
datangnya tidak terduga, sehingga yang paling diutamakan adalah proses
minimalisasi bencana, Secara sporadis bencana muncul masih dalam
koridor penjelasan ilmiah, namun kalau bencana sering terjadi (seperti
di indonesia) maka jawaban ilmiah apapun menunjukkan anomali
(keanehan) seakan ada kekuatan luar biasa untuk menampilkan bahwa
bencana dapat dijelaskan secara masuk akal, sampai pada taraf faktor
ilmiah yang tidak dapat dipercaya lagi (baca geleng-geleng kepala)

Sejarah Siklus Bencana

        Tidakkah siklus ini merupakan pertanda dariNya dari hanya sekedar
bencana saja dan bagaimana cara menanggulangi sehingga bisa dilakukan
tindakan preventif.  Jika betul siklus itu ada, maka janganlah kita
yang hidup di siklus tsb tidak menyadarinya, marilah berpikir global
atau menjadi manusia masa akan datang sehingga terbebas dari unsur
masa kini (seperti katak dalam tempurung)

Untuk keluar dari siklus ini sebagaimana yang telah di tulis pada
catatan sejarah-sejarah yang ada dua yaitu
•       tetap seperti ini dengan resiko kehancuran
•       di utusnya pembawa peringatan / pembaharu untuk menyadarkan kembali
kepada ajaran agama yang benar

        Sudah banyak yang mengingatkan melalui media massa bahwa masyarakat
indonesia ini dalam keadaan sakit, saling memanfaatkan satu sama
lainnya dan berebut ketokohan, gelar dan kebanggan, masyarakat yang
dominan muslim bahkan terbenam menjadi masyarakat hitam (koruptor,
apatis,hedonis dan bermegah-megahan). Adakah pola pikir masyarakat
yang keliru ?

        Jaman saat ini sudah banyak yang memunculkan tokoh yang dikenal dan
berkorban baik jiwa dan raganya untuk membela kepentingan madani,
namun banyak juga yang mencemoohnya. Suri keteladanan adalah
mementingkan orang lain dari pada dirinya sendiri, iklash dalam
berbuat tidakkah masyarakat indonesia sekarang spt itu ?



        Kebanyakan yang terjadi adalah perebutan, baik perebutan merasa benar
bahkan berebut juga dalam kesalahan, masyarakat yang terkotak dalam
kebenaran lokal. Pola-pola masyarakat inilah yang memunculkan
kerusakan di muka bumi entah langsung atau tidak langsung, suatu misal
bagaimana masyarakat mengubah hutan menjadi ladang kalau bukan karena
perebutan keterbatasan lahan dsb.

        Secara ilmiah sosial maka hukum yang harus di tegakkan, bagaimana
dengan ironi penegakan hukum jika masyarakat kecil yang harus menerima
sedangkan di kota banyak masyarakat yang menerima gaji luar biasa
(baca tunjangan) tanpa harus keluar keringat banyak ?

        Pembangkangan masyarakat akan sering terjadi yang ujung-ujungnya
kerusuhan sosial dan tatanan sosial (baca kesenjangan sosial). Solusi
secara ilmiah adalah pendekatan pada sisi eksak, sedangkan siklus
pertanda ini tidaklah sepenuhnya eksak.

Memutus Siklus Bencana

        Pendekatan menanti pembawa pembaharu untuk memutus siklus ini jelas
resiko besar bagi kelangsungan kehidupan, justru tafsir yang tepat
adalah kita semua adalah pembaharu dengan memberikan suri tauladan
bagi masyarakat lain. 
        Cara yang paling tepat adalah dalam memilih pemimpin dan wakil rakyat
atau tokoh, direktur dsb hendaknya di cari berdasarkan akhlak mulia
bukan sekedar kepandaian, kepangkatan dan starta sosial lainnya. 
        Sedangkan dalam kehidupan keseharian utamakan sifat mengalah dan
tidak mementingkan diri sendiri. Rekontruksi pemikiran dari ritual
kekuatan menuju ritual keikhlasan, dari sekedar memikirkan diri dan
keluarga sendiri dengan untung banyak, diubah menjadi kepetingan
madani, mari kita bantu saudara kita yang kesusahan

Nb : Pada saat teori ini coba di publikasikan, maka siklus telah
berjalan lagi, yakni sebuah pesawat kecil jatuh di papua. Ini
merupakan data kesekian kalinya untuk pendukung teori ini Sebab, sebab
ilmiah dari pesawat jatuh tsb, pasti akan berujung sama spt pesawat
lainnya yaitu temukan kotak hitam dan .... so what gitu lho (meminjam
istilah masa kini)

Meminjam teori kemungkinan, bisa saja kita memakai kejadian tsb sebagai
kebetulan, namun kalau di lihat rentang waktu yang berurutan,
kemunculan peristiwa yang beruntung dapat di hitung sebagai permutasi
24x60x60 detik dalam kemunculan sehari dalam setahun sebagai rentang
waktu asumsi 365 hari, maka jelas kecil sekali kemungkinan beruntunnya
suatu peristiwa 

Kalau teori kebetulan yang dipakai, maka diperlukan suatu kekuatan yang
luar biasa untuk 'memaksa' permutasi tsb berulang-berulang
kemunculannya. Faktor ilmiah inilah yang membuat sesuatu yang ilmiah
menjadi tidak ilmiah lagi 











JALESVEVA YAYAMAHE 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/pelaut/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke