Sumber: Majalah INOVASI, Edisi Vol.6/XVIII/Maret 2006, 
<http://io.ppi-jepang.org/> 
Negeri Di Batas Dua Samudra Menggenggam Urat Nadi Ekonomi Dunia
Oleh : Agus S. Djamil 



"Indonesia terletak di antara dua benua, Asia dan Australia. Dan terletak di 
antara dua samudra, yaitu Samudra Hindia dan Samudra Pasifik". Deret definisi 
lokasi negeri kita ini sudah baku dikenal anak Indonesia sejak masih duduk di 
bangku SD. 

Saya coba melihat buku pelajaran SD sekarang, definisi itu masih juga sama 
dengan waktu saya sekolah 30 tahun yang lalu. Tidak lebih tidak kurang. 
Kalimatnya dingin dan kurang memotivasi kita. 

Bahkan ketika Ibu Megawati menyampaikan sambutannya di hadapan masyarakat 
Indonesia di Brunei tahun 2004 lalu mengungkapkan bagaimana ayahandanya selalu 
mengingatkannya akan posisi Indonesia itu, kawan saya berbisik, "ah kayak anak 
SD saja". Beberapa saat sebelum itu, mendapat kehormatan untuk duduk semeja 
dengan Presiden Megawati dan Bpk Taufik Kiemas pada saat makan malam itu, saya 
mencoba mengungkit keunggulan kompetitif kita sebagai negeri di batas dua 
samudra itu dalam obrolan ringan. 

Sayang memang, bahwa kita yang tinggal di negeri kepulauan terluas di bumi dan 
terletak di batas dua samudra ini, justru tidak mengenali diri sendiri. 
Definisi itu cuma ungkapan beku, kaku dan basa-basi. Sehingga kawan saya yang 
insinyur itu pun menganggap remeh, sementara pemimpin kita juga tidak mampu 
mengejawantahkan keunggulan kompetitif dalam kebijakan publik untuk menuju 
kejayaan bangsa. 

Kalau kita sadar, posisi negeri kita ini sungguh amat sangat luar biasa 
berkahnya. 

Rentangkan peta bumi, dan perhatikan konstelasi kepulauan kita di tataran 
dunia. 
Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di muka bumi yang berada pada 
batas dua samudra. Penghitungan terakhir jumlah pulau di Indonesia adalah 
18.108 pulau, dengan Luas Tanah 1.937 juta Km2, Luas Laut Kedaulatan 3.1 juta 
Km2, Luas Laut ZEE 2.7 juta Km2, Panjang Pantai 81,000 Km. Terlepas dari 
angka-angka yang "wah" dalam segi "jumlah", negeri kita juga sangat signifikan 
dalam segi "posisi". 

Ibaratnya, kepulauan Indonesia menempati lokasi strategis Segitiga Emas 
Kuningan - Thamrin - Gatot Subroto. Di lokasi strategis seperti itu sungguh 
sayang dan bodoh, kalau hanya sekadar menjual barang asongan, atau membangun 
warung Tegal. Indonesia harus mampu mengkapitalisasikan lokasi emas dan jalur 
emas tadi melebihi apa yang sudah dilakukan oleh Singapura. 

1. Keunggulan Kompetitif 

Keunggulan kompetitif sebagai negeri di batas dua samudra yang mendatangkan 
banyak keuntungan dan tidak dimiliki oleh negeri-negeri lain di muka bumi ini 
adalah dimilikinya kombinasi beberapa faktor yang sangat menguntungkan: 
geoekonomi dan geopolitik global, budaya dan peradaban, kondisi 
fisik-oceanografi-biologis, serta dari faktor geofisis-geologis. 

Dalam geoekonomi dan geopolitik global, Indonesia berada pada titik sangat 
strategis di persimpangan antara pusat-pusat produsen - konsumen. Pada tahun 
1998, ada sekitar 44 % pelayaran dunia melalui perairan Indonesia. Sedangkan 
untuk pelayaran perdagangan di cekungan Asia Pasifik ada sekitar 95 % pelayaran 
melalui perairan Indonesia, dimana 72 % diantaranya melewati selat Malaka. 
Industri mesin dan galangan-galangan kapal raksasa di Jepang, Korea, dan 
Singapore melayani pesanan para pengguna di Timur Tengah, Afrika Barat, dan 
Eropa yang mana pengiriman mesin-mesin berat dan struktur berukuran raksasa itu 
dimuat dan ditunda (ditarik) melintasi perairan kita. 

Saat ini lalu lintas perdagangan barang antara China, Jepang, Korea Selatan, 
dan Taiwan dengan negara-negara Uni Eropa, Afrika, Timur Tengah dan Australi-NZ 
tumbuh dengan sangat pesat. Asia Timur tumbuh spektakuler, dan dikenal dengan 
global factories. Kapal-kapal dagang bersliweran dengan komoditas mentah dan 
barang produk jadi dengan sangat sibuknya melalui perairan kita. 

Dari segi pasokan bahan baku dan energi, selat Malaka dan selat-selat lain juga 
memegang peran yang sangat vital. Ada 50,000 kapal per tahun yang melayari 
celah sempit Selat Malaka saja, diantaranya ada sepertiga (dan semakin 
meningkat persentasenya) dari armada tanker minyak dunia melewatinya. Kebutuhan 
energi untuk Jepang dan Korea, 80 % - nya dipasok dari minyak, gas dan LNG yang 
ditransportasikan melalui Alur-alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI). . 

Pada saat ini, kita memang cuma mengeksport sekitar 1 juta barel minyak mentah 
per hari. Namun minyak yang dimuat tanker melewati Selat Malaka lebih dari 10 
juta barel minyak per hari. Sepuluh kali lipat produksi kita dan tiga kali 
lebih banyak daripada minyak yang melewati Terusan Suez. 

Urat nadi perekonomian dunia, ada di tangan Indonesia. Diakui oleh kalangan 
industri bahwa andai saja selat Malaka tersekat (karena bencana alam, 
kecelakaan, ataupun masalah keamanan), maka hampir separoh armada pelayaran 
dunia terpaksa berlayar lebih jauh. Sebagian akan melalui Selat Sunda, Selat 
Lombok ataupun Laut Banda -ketiganya pun masih di perairan Indonesia-. Dan 
apabila kapal-kapal tersebut menempuh perlayaran yang lebih jauh, waktu tempuh 
juga akan semakin lama. Hal ini menyebabkan kapasitas cadangan armada kapal 
yang ada akan habis terpakai, sehingga menyebabkan pasaran dunia terpengaruh. 

Diramalkan, negara-negara di kawasan cekungan Pasifik akan mengalami 
peningkatan import minyak dan gas sebesar 43 % antara tahun 1997 hingga 2020. 
Dan saya rasa ramalan ini masih terlalu konservatif. Kebutuhan ini akan 
menjadikan negara-negara Asia Pasifik ini menjadi semakin tergantung kepada 
pasokan dari Timur Tengah yang menyimpan sekitar 70% cadangan minyak dunia. 
Dengan semakin lajunya kebutuhan import minyak oleh China (dan negara-negara 
Asia Timur) dari Timur Tengah tersebut, maka Selat Malaka secara geopolitik 
akan semakin memiliki nilai strategis dalam beberapa tahun ke depan. 

Asia Timur dan Timur Tengah dari tahun ke tahun akan semakin saling tergantung, 
dan Indonesia yang menguasai jalur perdagangannya seharusnya mendapat berkah 
berada pada focal point kelancaran transportasi laut mereka. Oleh sebab itu, 
tidak sulit difahami kenapa pengamat strategi barat mengatakan bahwa Indonesia 
adalah bedrock dari pertumbuhan ekonomi Asia timur. 

Posisi Indonesia yang berada di persimpangan jalur emas inipun bagai sumbu 
sebuah timbangan peradaban. Kepulauan Indonesia terletak di antara dua 
konsentrasi umat manusia terbanyak di muka bumi (lebih dari 2 Milyar) yaitu 
China dan India. Dari segi kebudayaan dan peradaban, Indonesia mempunyai 
sejarah panjang dalam interaksi dan asimilasi budaya-budaya besar pada 
zamannya. Sejak dahulu kala, pertukaran budaya di antara dua bangsa dengan 
peradaban yang tinggi itu, secara tidak langsung juga melibatkan para penguasa 
di perairan Nusantara ini. Sriwijaya pernah menjadi hub peradaban yang 
mengakomodasi berbagai bangsa. Samudra Pasai, Jepara, Demak, Ternate, Tuban, 
Macassar, Bima, Banten, Batavia, Tanjung Pinang, adalah nama-nama yang tercatat 
dalam pengembara-pengembara dunia. 

Indonesia juga berada kawasan tektonik yang secara geologis sangat komplek, 
yaitu tempat terjadinya interaksi dan tubrukan tiga lempeng tektonik besar: 
Lempeng Indo-Australian, Lempeng Philipine - Pacific dan Lempeng Eurasia. 
Pertemuan beberapa lempeng tektonik ini menyebabkan kepulauan kita ini, 
mempunyai rupa bumi yang cantik, kaya struktur geologi yang memungkinkan 
banyaknya sumber panas bumi, kaya dengan cekungan sedimen penghasil minyak, 
kaya dengan kombinasi cekungan laut celuk (deep sea) dan laut dangkal, abadi 
dialiri pertukaran air dari Samudra Pasifik ke Samudra Hindia, aliran air 
hangat di permukaan dan nyaris beku di kedalamannya, dan masih banyak lagi 
berkah geofisik, geologis dan ocenografis. 
Posisi geografis yang sangat unik ini juga mengakibatkan Indonesia memiliki 
kekayaan sumber daya alam (SDA) yang berlimpah. 

Peristiwa tektonik yang cukup aktif, selain menimbulkan gempa dan tsunami, juga 
membawa berkah dengan terbentuknya banyak cekungan sedimen (sedimentary basin). 
Cekungan ini mengakomodasikan sedimen yang selanjutnya menjadi batuan induk 
maupun batuan reservoir hydrocarbon. Kadungan minyak dan gas alam inilah yang 
kini banyak kita tambang dan menjadi tulang punggung perekonomian kita sehingga 
tahun 1990-an. 

Di Indonesia, cadangan minyak baru dieksplorasi pada 38 cekungan. Minyak dan 
gas baru diproduksi / dieksploitasi dari 14 cekungan dari sekitar 60 cekungan 
sedimen yang sudah diidentifikasi di seluruh Indonesia. Lebih dari 20 cekungan 
yang masih berupa kawasan frontier kebanyakan berada pada kawasan laut. 
Beberapa temuan besar akhir-akhir ini berada di laut celuk di Selat Makasar. 
Ini artinya, sebagaimana masa depan industri perminyakan dunia, maka masa depan 
industri eksplorasi dan produksi perminyakan Indonesia juga akan berada di 
laut. Teknologi telah memungkinkan kita untuk memproduksi minyak dari kawasan 
kedalaman air laut antara 1000 - 2500 meter, seperti di Selat Makassar saat 
ini. 

Keberadaan kepulauan Indonesia di antara dua samudra besar dunia yang mempunyai 
tinggi permukaan air yang berbeda, menyebabkan terjadinya aliran arus laut dari 
Samudra Pasifik ke Samudra Hindia dengan debit air yang sangat besar, lebih 
dari 15 juta meter kubik per detik, dan nyaris "abadi". 

Pertukaran air dua samudra ini serta kombinasi rupa bumi dasar laut yang 
bervariasi topografinya juga mengakibatkan banyak terdapat lokasi upwelling 
dimana muncul air laut dalam yang dingin dan kaya dengan nutrien untuk makanan 
ikan dari berbagai jenis ukuran. Jumlah volume air yang sedemikian besar dalam 
arus laut yang dikenal dengan sebutan ARLINDO (arus lintas Indonesia) ini 
membawa serta dan mengapungkan sekalian apa saja yang ada di dalamnya, baik 
berkah maupun tulah. Berkah nampaknya jauh lebih banyak yaitu menjadikan 
perairan Indonesia ini kaya akan pasokan plankton & nutrien, dan menjadi jalur 
migrasi mamalia laut, ikan dan juga burung pemangsanya. 

Tidak mengherankan apabila pada beberapa "kantong" gugusan kepulauan kecil 
seperti kepulauan Raja Ampat di dekat kepala burung Irian Jaya, mempunyai 
biodiversitas yang sangat kaya. Jumlah species ikan Demsel di perairan 
kepulauan itu misalnya, melebihi jumlah species ikan Demsel dari seluruh 
perairan Australia. Belum lagi spesies terumbu karang lainnya. 

Tulahnya, banyaknya kapal nelayan asing pencuri ikan di kawasan perairan kita, 
bahkan hingga menohok ke Laut Jawa. 

Kepulauan kita uniknya juga tersebar di bawah katulistiwa, sehingga memperoleh 
aliran air laut dan udara hangat yang sangat ideal dan langgeng. Curah hujan 
pun sangat tinggi. Cukup untuk membasuh polusi yang menggayuti kota-kota besar 
di kepulauan ini. Curah hujan juga memadai untuk mengakselerasi pertumbuhan 
kembali hutan tropis di jantung kepulauan. 

2. Paradigma dan Prioritas 

Ruangan majalah ini sungguh terbatas untuk mengelaborasi lebih jauh tentang SDA 
yang ada di Indonesia. Lagi pun, mungkin SDA yang berlimpah ini juga yang telah 
menina-bobokan kita selama ini. 
Boleh jadi hanya Indonesia yang berada di batas dua samudra besar yang memiliki 
berbagai kombinasi berkah dan karunia dari laut dan buminya yang patut 
disyukuri ini. Faktor-faktor ini berpengaruh kepada perkembangan faktor-faktor 
lain yang pada gilirannya berpotensi sangat besar bagi memecahkan masalah 
kronis yang sampai saat ini masih dialami oleh bangsa yang sudah 60 tahun 
merdeka ini, yaitu: banyaknya kemiskinan, kebodohan dan tingkat kesehatan yang 
rendah dan segala anakan persoalannya termasuk Korupsi-Kolusi-Nepotisme. 

Sumber Daya Manusia kita perlu diarahkan dengan benar dan terfokus dalam 
paradigma pembangunan kelautan. Pemerintahan yang mempunyai visi kebaharian 
yang benar, perlu memfasilitasinya dengan kebijakan dan strategi pembangunan 
nasional yang berbasis bahari. 

Dengan demikian apa yang menjadi potensi negeri di batas dua samudra 
penggenggam urat nadi ekonomi dunia ini tidak hanya mandeg di sini. Tidak 
berhenti dan terselingkuhkan oleh Rancangan Pembangunan Jangka Panjang Nasional 
25 tahun yang saat ini tidak fokus, berwawasan kontinental, gagal 
mengidentifikasi keunggulan kompetitif negeri bahari dan oleh karenanya keliru 
menetapkan prioritas pembangunan nasional.

Profil penulis :
Agus S. Djamil, Penulis buku ALQURAN DAN LAUTAN (Arasy Mizan, 2004, 612 hal.). 
Geophysicist, alumnus Stanford University at Palo Alto USA, dan Universitas 
Gadjah Mada di Jogjakarta. Moderator dan owner Milis LQ, [EMAIL PROTECTED] . 
Bermukim di Brunei Darussalam







JALESVEVA YAYAMAHE 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/pelaut/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke