Kutipan dari situs :
http://www.nakertrans.go.id/majalah_buletin/warta_naker/edisi_6/berita_pelau
t.php

 

 


Indeks Warta Ketenagakerjaan 6 


 


 <http://www.nakertrans.go.id/majalah_buletin/warta_naker/redaksi.php>
Redaksi


 
<http://www.nakertrans.go.id/majalah_buletin/warta_naker/edisi_6/editorial.p
hp> Editorial


 
<http://www.nakertrans.go.id/majalah_buletin/warta_naker/edisi_6/data_produk
tivitas.php> Suatu Tinjauan ke Depan Pentingnya Produktivitas Tenaga Kerja
(2)


 
<http://www.nakertrans.go.id/majalah_buletin/warta_naker/edisi_6/data_tka.ph
p> Penggunaan Tenaga Kerja Asing di Indonesia Tahun 1999-2003 


 
<http://www.nakertrans.go.id/majalah_buletin/warta_naker/edisi_6/artikel_bur
sa.php> Bursa Kerja Online Sebagai Pilihan Dalam Pelayanan Antar Kerja yang
Cepat, Murah dan Efektif 4


Meningkatnya
<http://www.nakertrans.go.id/majalah_buletin/warta_naker/edisi_6/berita_kual
itas.php>  Kualitas, Menurunkan TKI Bermasalah 


 
<http://www.nakertrans.go.id/majalah_buletin/warta_naker/edisi_6/berita_pela
ut.php> Pelaut Indonesia Terancam Kalah Bersaing di Luar Negeri 


 

 

BERITA KETENAGAKERJAAN 

Pelaut Indonesia Terancam Kalah Bersaing di Luar Negeri 

  

Pelaut Indonesia yang selama ini dianggap sebagai salah satu tenaga terampil
yang diandalkan dan mampu bersaing di pasar kerja internasional, saat ini
terancam bakal tersingkir. Hal ini disebabkan karena etos kerja pelaut
Indonesia di luar negeri dinilai telah menurun. Padahal, sebelumnya hampir
semua kapal asing mempekerjakan pelaut dari Indonesia, pelaut Indonesia
dikenal memiliki etos kerja yang tinggi, taat perintah, penyabar dan pekerja
keras. Tetapi penilaian tersebut, kini telah berubah karena berbagai
tindakan tidak disiplin, di antaranya sering berbuat onar dan tidak
dikenainya sanksi baik oleh pemerintah maupun oleh asosiasi pelaut di
Indonesia. 

Di samping tidak disiplin dalam bekerja, kualitas pelaut Indonesia saat ini
juga dianggap menurun, terbukti ketika Hanjin Container Lines perusahaan
pelayaran terbesar di Korea Selatan membutuhkan 90 orang pelaut, setelah
dilakukan tes, hanya 45 orang yang mampu mencapai nilai 70 dan dianggap
layak untuk mengisi lowongan yang tersedia, sedangkan yang lainnya tidak
mampu mencapai skor yang lebih tinggi, penyebabnya adalah kebanyakan pelaut
Indonesia tidak menguasai pengetahuan maritim karena menggunakan bahasa
Inggris. 

Di samping rendahnya kualitas, pelaut Indonesia selama beberapa tahun
terakhir ini harus bersaing dengan pelaut Filipina yang gencar mengekspor
pelaut-pelautnya yang lebih berkualitas dan dapat berkomunikasi dengan mudah
karena menguasai bahasa Inggris. Di samping itu mereka telah memiliki The
Law of Seamen yang dikeluarkan oleh Philippine Overseas Employment Agency
yang antara lain memuat tentang tata tertib bekerja sebagai pelaut, sehingga
para pelaut yang terbukti berbuat onar akan dicabut ijin kerjanya. 

Untuk mengatasi persaingan yang semakin ketat, maka pemerintah Indonesia
perlu melakukan peningkatan pembinaan disiplin, dan kualitas. Selain itu
pemerintah dan instansi lainnya termasuk Kesatuan Pelaut Indonesia (KPI)
perlu segera merumuskan law of seamen seperti di Filipina. 

 


No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.472 / Virus Database: 269.9.0/852 - Release Date: 17-6-2007
8:23


Kirim email ke