Tulisan yang dimuat harian Kompas ini sangat jitu dalam mengungkapkan situasi 
di tanah air. Jika dipikir-pikir, kehidupan berbangsa dan bernegara kita memang 
penuh ironi yang memang lucu. Selamat mentertawakan diri sendiri, agar 
secepatnya kita jadi sadar.
Sadar akan siapa diri kita yang sebenarnya.. ......

salam tertawa,
yosis

http://kompas. com/kompas- cetak/0712/ 08/utama/ 4051540.htm

Ramalan Politik 2008

Pekan ini saya dua kali ditanggap jadi dukun peramal politik 2008. Saya bilang
suhu politik kayak orang demam karena, pertama, faktor harga minyak
dunia.

Itulah hebatnya negara ini: kaya energi, tetapi harga minyak tanah dan BBM
naik melulu. Itulah hebatnya negara ini: Adenan Lis kabur, tetapi jadi
tuan rumah KTT antihutan gundul.

Faktor kedua, perjuangan sengit calon-calon indie boleh ikut Pemilu-Pilpres
2009. Ingat, makin banyak tokoh daur ulang yang bertualang dari orde ke
orde yang ingin adu nasib.

Mereka dibantu para "pendekar" demokrasi yang akan membentuk GIM (Gerakan
Indonesia Merdeka). Ingat, GIM terinspirasi GJM (Gerakan Jakarta
Merdeka), GJM terinspirasi GAM, dan GAM terinspirasi orang-orang bulE

Faktor ketiga, ketidakpastian persiapan pemilu-pilpres. Jumlah anggarannya
saja sudah naik-turun, apalagi jumlah formulir, kotak, dan paku
penusuknya.

Dan faktor keempat, ketegangan penyelenggaraan lebih dari 100 pilkada
2008-2009. Jika "kadal-kadal" kebanyakan menenggak "pil koplo",
akibatnya tanggung sendiri.

Jangan takut, demam 2008 tak membuat negara ini kejang-kejang. Kerusuhan tak
terjadi jika rakyat dihibur happening arts ala demonstrasi reog
Ponorogo di depan Kedubes Malaysia tempo hari.

Masalah terbesar 2008 degradasi perilaku politik the ruling elite. Ibarat sepak
bola, perilaku mereka seperti bekas pemain nasional yang kena degradasi
jadi pemain "tarkam" (antarkampung) yang honornya murah.

Degradasi terjadi karena absennya kepemimpinan (in the absence of leadership).
Memang hari-hari ini banyak pejabat yang absen di kantor karena
berbondong-bondong ke Bali.

Degradasi terlihat, misalnya, dari proses pemilihan pimpinan KPK di DPR. Maka
perang terhadap korupsi tetap akan tebang pilih, pilih kasih, dan
"kasih tahu saya dulu dong".

Padahal, perang terhadap korupsi mesti segalak perang terhadap terorisme.
Tirulah Presiden AS George W Bush pemimpin yang ogah disebut indecisive
coward dan bangga karena tegas walau pandir.

Degradasi meluaskan apatisme yang terlihat dari peningkatan jumlah golput di
pilgub DKI. Rakyat punya cara untuk melawan, seperti kata lirik lagu
Apatis, yakni "roda-roda terus berputar, tanda masih ada hidup".

Bukan mustahil jumlah golput Pemilu-Pilpres 2009 lebih besar dari angka
maksimal sekitar 23 persen tahun 2004. Kalau saya maunya yang milih 23
persen.

Apatisme menyebabkan deligitimasi jajaran eksekutif, legislatif, dan yudikatif.
Eksekutifnya lebih pasif, legislatifnya tetap non-aktif, dan
yudikatifnya masih saja kayak cerita fiktif.

Deligitimasi biasanya diikuti political decay. Makanan basi menyebarkan
bau busuk dan mengundang kedatangan lalat-lalat hijau.

Namun, deligitimasi tak menyadarkan elite agar tobat. Mereka justru makin
hilang rasa percaya diri seperti penyanyi demam panggung bersuara
sumbang.

Akibatnya, rakyat melempari dia dengan botol dan minta kembali uang tiket. 
Mereka
mengira yang manggung BeyoncE/span>, eh yang nongol penyanyi dangdut tingkat
kelurahan.

Akibat lanjutannya wibawa dan kewenangan pemerintah tergerogoti. Itulah
kalau keseringan menggerogoti hak milik rakyat.

Para anggota DPR sibuk dengan fit and proper test yang penuh tanda tanya.
Jangan-jangan tes kayak gitu sudah tidak sehat (unfit) dan tidak pantas
(improper) dilakukan lagi.

Para pejabat yudikatif pun dianggap idem ditto. Jika pemeriksaan korupsi
diperintahkan koruptor kepada aparat yang ditengarai pernah korupsi, ya
mau apa?

Degradasi itulah yang menyebabkan politik makin kering, hampa ideologi, dan
membuat politik tak mengasyikkan. Jika tenggorokan kering, perut hampa
makanan, hidup enggak asyik lagi.

Satu-satunya hiburan, ya, seringlah tertawa. Sejatinya humor lebih
benar daripada fakta.

Memercayakankekuasa an kepada eksekutif/legislati f/yudikatif tak ubahnya 
menyerahkan
tiga botol bir dan kunci mobil kepada anak yang belum punya SIM. Ya,
wajar ia menabrak tiang listrik.

Mungkin rakyat "salah" karena paham seluk-beluk politik. Mereka yang
berkuasa "benar" karena tak paham tujuan politik itu mulia.

Saya suka iba jika ada teman yang tertarik jadi anggota DPR. "Apa
enggak ada kerjaan lain?" tanya saya.

Pepatah mengatakan jangan lekas percaya kepada dua hal di dunia ini:
nasib dan pemerintah. Mereka sering sama-sama apes.

Saya suka bingung melihat pejabat dan anggota DPR yang hafal pasal-pasal UUD
1945, terutama yang ada kata "adil" dan "makmur". Ah, lebih baik
menghafal manual mobil karena banjir mengancam Jakarta.

Mereka jago berbicara hidup akan sejahtera, generasi muda akan pintar, dan
rusun akan banyak. Kenyataannya rumah mereka lebih mewah, iuran sekolah
naik terus, dan rakyat merasa lebih pandir.

Coba sesekali eksperimen gonta-ganti saluran TV: interupsi Sidang Paripurna
DPR, pidato pejabat, penyidikan korupsi di KPK, dan adegan sinetron.
Matikan suara TV dan Anda pasti langsung membatin... lho, kok sama ya? 

Tidaklah susah meramalkan kondisi politik 2008. Ia penuh drama, tontonan yang
murah tapi meriah, dan tak memberikan manfaat apa-apa. 


       
---------------------------------
 Support the World Aids Awareness campaign this month with Yahoo! for Good

Kirim email ke