Dear All anggota milist,

Firstly, Wish you a merry Christmas  and Happy New Year 2008. Semoga di tahun 
baru depan menjadi tahun pencerahan atas harapan dan mimpi baru yang bisa 
diwujudkan dengan kerja keras dan senyuman. 

Berikut saya ingin membagi tulisan kepada semua anggota milist dan semoga 
bermanfaat. Tulisan ini memaparkan mengenai "Pentingnya Arti Sebuah Pujian". 

Suatu waktu, seorang pengemis duduk mengulurkan tangannya di sudut jalan. 
Tolstoy,
 penulis besar Rusia yang kebetulan lewat di depannya, langsung berhenti dan
 mencoba mencari uang logam di sakunya. Ternyata tak ada. Dengan amat sedih
 ia berkata, "Janganlah marah kepadaku, hai Saudaraku. Aku tidak bawa uang."
 
 Mendengar kata-kata itu, wajah pengemis berbinar-binar, dan ia menjawab,
 "Tak apa-apa Tuan. Saya gembira sekali, karena Anda menyebut saya saudara.
 Ini pemberian yang sangat besar bagi saya."
 
 Setiap manusia, apapun latar belakangnya, memiliki kesamaan yang mendasar:
 ingin dipuji, diakui, didengarkan dan dihormati.
 
 Kebutuhan ini sering terlupakan begitu saja. Banyak manajer yang masih
 beranggapan bahwa orang hanya termotivasi uang. Mereka lupa, nilai uang
 hanya bertahan sampai uang itu habis dibelanjakan. Ini sesuai dengan teori
 Herzberg yang mengatakan bahwa uang tak akan pernah mendatangkan kepuasan
 dalam bekerja.
 
 Manusia bukan sekadar makhluk fisik, tapi juga makhluk spiritual yang
 membutuhkan sesuatu yang jauh lebih bernilai. Mereka butuh penghargaan dan
 pengakuan atas kontribusi mereka. Tak perlu sesuatu yang sulit atau mahal,
 ini bisa sesederhana pujian yang tulus.
 
 Namun, memberikan pujian ternyata bukan mudah.
 Jauh lebih mudah mengritik orang lain.
 
 Seorang kawan pernah mengatakan, "Bukannya saya tak mau memuji bawahan,
 tapi saya benar-benar tak tahu apa yang perlu saya puji. Kinerjanya begitu
 buruk." "Tahukah Anda kenapa kinerjanya begitu buruk?" saya balik bertanya.
 "Karena Anda sama sekali tak pernah memujinya!"
 
 Persoalannya, mengapa k ita begitu sulit memberi pujian pada orang lain?
 
 Menurut saya, ada tiga hal penyebabnya, dan kesemuanya berakar pada cara
 k ita memandang orang lain.
 
 Pertama, k ita tidak tulus mencintai mereka. Cinta k ita bukanlah
 unconditional love, tetapi cinta bersyarat. K ita  mencintai pasangan k ita
 karena ia mengikuti kemauan k ita , k  ita mencintai anak-anak k ita  karena
 mereka berprestasi di sekolah, k ita  mengasihi bawahan k ita karena mereka
 memenuhi target pekerjaan yang telah ditetapkan.
 
 Perhatikanlah kata-kata di atas: cinta bersyarat. Artinya, kalau
 syarat-syarat tidak terpenuhi, cinta k ita  pun memudar. Padahal, cinta yang
 tulus seperti pepatah Perancis: L`amour n`est pas parce que mais malgre.
 Cinta adalah bukan "cinta karena", tetapi "cinta walaupun". Inilah cinta
 yang tulus, yang tanpa kondisi dan persyaratan apapun.
 
 Cinta tanpa syarat adalah penjelmaan sikap Tuhan yang memberikan rahmatNya
 tanpa pilih kasih. Cinta Tuhan adalah "cinta walaupun". Walaupun Anda
 mengingkari nikmatNya, Dia tetap memberikan kepada Anda. Lihatlah bagaimana
 Dia menumbuhkan bunga-bunga yang indah untuk dapat dinikmati siapa saja tak
 peduli si baik atau si jahat. Dengan paradigma ini, Anda akan menjadi
 manusia yang tulus, yang senantiasa melihat sisi positif orang lain. Ini
 bisa memudahkan Anda memberi pujian. 
 
 Kesalahan kedua, k ita lupa bahwa setiap manusia itu unik. Ada  cer ita
 mengenai seorang turis yang masuk toko barang unik dan antik. Ia berkata, 
 "Tunjukkan pada saya barang paling unik dari semua yang ada di sini!"
 Pemilik toko memeriksa ratusan barang: binatang kering berisi kapuk,
 tengkorak, burung yang diawetkan, kepala rusa, lalu berpaling ke turis dan
 berkata, "Barang yang paling unik di toko ini tak dapat disangkal adalah
 saya sendiri!"
 
 Setiap manusia adalah unik, tak ada dua orang yang persis sama. K  ita sering
 menyamaratakan orang, sehingga membuat k ita  tak tertarik pada orang lain.
 Padahal, dengan menyadari bahwa tiap orang berbeda, k ita  akan berusaha
 mencari daya tarik dan inner beauty setiap orang. Dengan demikian, k  ita akan
 mudah sekali memberi pujian.
 
 Kesalahan ketiga  disebut paradigm paralysis. K  ita sering gagal melihat
 orang lain secara apa adanya, karena k ita  terperangkap dalam paradigma yang
 k ita buat sendiri mengenai orang itu. Tanpa disadari k ita sering
 mengotak-ngotakkan orang. K ita  menempatkan mereka dalam label-label: orang
 ini membosankan, orang itu menyebalkan, orang ini egois, orang itu mau
 menang sendiri. Inilah persoalannya: k ita  gagal melihat setiap orang sebagai
 manusia yang "segar dan baru". Padahal, pasangan, anak, kawan, dan bawahan
 k ita yang sekarang bukanlah mereka yang k ita lihat kemarin. Mereka berubah
 dan senantiasa baru dan segar setiap saat.
 
 Penyakit yang k ita alami, apalagi menghadapi orang yang sudah bertahun-tahun
 berinteraksi dengan k ita adalah 4 L (Lu Lagi, Lu Lagi -- bahasa Jakarta ).
 K ita sudah merasa tahu, paham dan hafal mengenai orang itu. K ita  menganggap
 tak ada lagi sesuatu yang baru dari mereka. Maka, di hadapan k  ita mereka
 telah kehilangan daya tariknya.
 
 Sewaktu membuat tulisan ini, istri saya pun menyindir saya dengan mengatakan
 bahwa saya tak terlalu sering lagi memujinya setelah kami menikah. Sebelum
 menikah dulu, saya tak pernah kehabisan bahan untuk memujinya. Sindiran ini,
 tentu, membuat saya tersipu-sipu dan benar-benar mati kutu.
 
 Pujian yang tulus merupakan penjelmaan Tuhan Yang Maha Pengasih Lagi Maha
 Penyayang. Maka, ia mengandung energi positif yang amat dahsyat. Saya telah
 mencoba menerapkan pujian dan ucapan terima kasih kepada orang-orang yang
 saya jumpai: istri, pembantu yang membukakan pagar setiap pagi, bawahan di
 kantor, resepsionis di kantor klien, tukang parkir, satpam, penjaga toko
 maupun petugas di jalan tol.
 
 Efeknya ternyata luar biasa. Pembantu bahkan menjawab ucapan terima kasih
 saya dengan doa, "Hati-hati di jalan Pak!" Orang-orang yang saya jumpai juga
 senantiasa memberi senyuman yang membahagiakan. Sepertinya mereka terbebas
 dari rutin ita s pekerjaan yang menjemukan.
 
 Pujian memang mengandung energi yang bisa mencerahkan, memotivasi, membuat
 orang bahagia dan bersyukur. Yang lebih penting, membuat orang merasa
 dimanusiakan.

Terimakasih... Keep smile!

       
---------------------------------
Never miss a thing.   Make Yahoo your homepage.

Kirim email ke