--- On Thu, 10/9/08, ning warningsih <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: ning warningsih <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Fw: [sman38-92] Fw: [Petrochina Moslem] Fw: [AlumniPPM] Fw: kelas 
senyum n sosiologi
To: "Dodi Crossanda" <[EMAIL PROTECTED]>, "Endang Sadarni" <[EMAIL PROTECTED]>, 
"Fania Nabila" <[EMAIL PROTECTED]>, "Juan Carlos Leiva amoros" <[EMAIL 
PROTECTED]>, "Tari Rahardjo" <[EMAIL PROTECTED]>, "Vera Yunindra" <[EMAIL 
PROTECTED]>, "mr.habibillah" <[EMAIL PROTECTED]>, "Nadira Siregar" <[EMAIL 
PROTECTED]>, [EMAIL PROTECTED], "Teguh Adriana" <[EMAIL PROTECTED]>, "Tetra" 
<[EMAIL PROTECTED]>, "eti ulnadhiroh" <[EMAIL PROTECTED]>, "ning warningsih" 
<[EMAIL PROTECTED]>, "Cut Yulina" <[EMAIL PROTECTED]>, "Wahyu Setiaji" <[EMAIL 
PROTECTED]>, "Widyanita cantik yusuf" <[EMAIL PROTECTED]>, "Yanti Apriyanti" 
<[EMAIL PROTECTED]>, "yuni krisnandi" <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Thursday, October 9, 2008, 1:51 PM



----- Forwarded Message ----
From: Fonda <[EMAIL PROTECTED]>
To: 92 <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Thursday, October 9, 2008 8:56:30
Subject: [sman38-92] Fw: [Petrochina Moslem] Fw: [AlumniPPM] Fw: kelas senyum n 
sosiologi












    
            


 
----- Original Message ----- 
From: Teuku Zulkarnain 
To: petrochina-moslem@ yahoogroups. com 

Cc: Fifin 
Sent: Wednesday, October 08, 2008 8:00 AM
Subject: [Petrochina Moslem] Fw: [AlumniPPM] Fw: kelas senyum n 
sosiologi




 
----- Original Message ----- 
From: Fifin 
To: Ciumbuleuit Community ; Family Connections ; Suzanna Mamesah ; Randolf 
Bledoeg ; Reky Tatontos ; Maria Magdalena ; YETUD ; Prawidhi.Wahyuni ; Teuku 
Zulka rnain ; Raymanto 
J.H. ; Jovita ; wita.djn ; 
rosalina.wahyuni@ indika.co. id 
; arie.kuncara@ trakindo. co.id 

Sent: Wednesday, October 08, 2008 7:48 AM
Subject: Fw: [AlumniPPM] Fw: kelas senyum n sosiologi


Touching story...
 
----- Original Message ----- 
From: Chairil Y. 



islah... <[EMAIL PROTECTED] ..> 
wrote:

Kisah di bawah ini adalah kisah yang didapat dari milis alumni 
Jerman. Demikian layak untuk dibaca, dan direnungkan seumur hidup.

Saya 
adalah ibu dari tiga orang anak dan baru saja menyelesaikan kuliah saya. Kelas 
terakhir yang harus saya ambil adalah Sosiologi. Sang Dosen sangat inspiratif, 
dengan kualitas yang saya harapkan setiap orang memilikinya.

Tugas 
terakhir yang diberikan ke para siswanya diberi nama "Smiling." Seluruh siswa 
diminta untuk pergi ke luar dan memberikan senyumnya kepada tiga orang asing 
yang ditemuinya dan mendokumentasikan reaksi mereka. Setelah itu setiap siswa 
diminta untuk mempresentasikan didepan kelas. Saya adalah seorang yang periang, 
mudah bersahabat dan selalu tersenyum pada setiap orang. Jadi, saya pikir,tugas 
ini sangatlah mudah.

Setelah menerima tugas tsb, saya bergegas menemui 
suami saya dan anak bungsu saya yang menunggu di taman di halaman kampus, untuk 
pergi kerestoran McDonald's yang berada di sekitar kampus. Pagi itu udaranya 
sangat dingin dan kering. Sewaktu suami saya akan masuk dalam antrian, saya 
menyela dan meminta agar dia saja yang menemani si Bungsu sambil mencari tempat 
duduk yang masih kosong.

Ketika saya sedang dalam antrian, menunggu untuk 
dilayani, mendadak setiap orang di sekitar kami bergerak menyingkir, dan bahkan 
orang yang semula antri dibelakang saya ikut menyingkir keluar dari 
antrian.

Suatu perasaan panik menguasai diri saya, ketika berbalik dan 
melihat mengapa mereka semua pada menyingkir ? Saat berbalik itulah saya 
membaui 
suatu "bau badan kotor" yang cukup menyengat, ternyata tepat di belakang saya 
berdiri dua orang lelaki tunawisma yang sangat dekil! Saya bingung, dan tidak 
mampu bergerak sama sekali.

Ketika saya menunduk, tanpa sengaja mata saya 
menatap laki-laki yang lebih pendek, yang berdiri lebih dekat dengan saya, dan 
ia sedang "tersenyum" kearah saya.
Lelaki ini bermata biru, sorot matanya 
tajam, tapi juga memancarkan kasih sayang. Ia menatap kearah saya, seolah ia 
meminta agar saya dapat menerima 'kehadirannya' ditempat itu.

Ia menyapa 
"Good day!" sambil tetap tersenyum dan sembari menghitung beberapa koin yang 
disiapkan untuk membayar makanan yang akan dipesan. Secara spontan saya 
membalas 
senyumnya, dan seketika teringat oleh saya 'tugas' yang diberikan oleh dosen 
saya. Lelaki kedua sedang memainkan tangannya dengan gerakan aneh berdiri di 
belakang temannya. Saya segera menyadari bahwa lelaki kedua itu menderita 
defisiensi mental, dan lelaki dengan mata biru itu adalah "penolong"nya. Saya 
merasa sangat prihatin setelah mengetahui bahwa ternyata dalam antrian itu kini 
hanya tinggal saya bersama mereka,dan kami bertiga tiba2 saja sudah sampai 
didepan counter.

Ketika wanita muda di counter menanyakan kepada saya apa 
yang ingin saya pesan, saya persilahkan kedua lelaki ini untuk memesan duluan. 
Lelaki bermata biru segera memesan "Kopi saja, satu cangkir Nona." Ternyata 
dari 
koin yang terkumpul hanya itulah yang mampu dibeli oleh mereka (sudah menjadi 
aturan direstoran disini, jika ingin duduk di dalam restoran dan menghangatkan 
tubuh, maka orang harus membeli sesuatu). Dan tampaknya kedua orang ini hanya 
ingin menghangatkan badan.

Tiba2 saja saya diserang oleh rasa iba yang 
membuat saya sempat terpaku beberapa saat, sambil mata saya mengikuti langkah 
mereka mencari tempat duduk yang jauh terpisah dari tamu2 lainnya, yang hampir 
semuanya sedang mengamati mereka. Pada saat yang bersamaan, saya baru menyadari 
bahwa saat itu semua mata di restoran itu juga sedang tertuju ke diri saya, dan 
pasti juga melihat semua 'tindakan' saya.

Saya baru tersadar setelah 
petugas di counter itu menyapa saya untuk ketiga kalinya menanyakan apa yang 
ingin saya pesan. Saya tersenyum dan minta diberikan dua paket makan pagi 
(diluar pesanan saya) dalam nampan terpisah.

Setelah membayar semua 
pesanan, saya minta bantuan petugas lain yang ada di counter itu untuk 
mengantarkan nampan pesanan saya ke meja/tempat duduk suami dan anak saya. 
Sementara saya membawa nampan lainnya berjalan melingkari sudut kearah meja 
yang 
telah dipilih kedua lelaki itu untuk beristirahat. Saya letakkan nampan berisi 
makanan itu di atas mejanya, dan meletakkan tangan saya di atas punggung 
telapak 
tangan dingin lelaki bemata biru itu, sambil saya berucap "makanan ini telah 
saya pesan untuk kalian berdua."

Kembali mata biru itu menatap dalam ke 
arah saya, kini mata itu mulai basah ber-kaca2 dan dia hanya mampu berkata 
"Terima kasih banyak, nyonya."
Saya mencoba tetap menguasai diri saya, sambil 
menepuk bahunya saya berkata "Sesungguhnya bukan saya yang melakukan ini untuk 
kalian, Tuhan juga berada di sekitar sini dan telah membisikkan sesuatu 
ketelinga saya untuk menyampaikan makanan ini kepada kalian."

Mendengar 
ucapan saya, si Mata Biru tidak kuasa menahan haru dan memeluk lelaki kedua 
sambil terisak-isak. Saat itu ingin sekali saya merengkuh kedua lelaki 
itu.

Saya sudah tidak dapat menahan tangis ketika saya berjalan 
meninggalkan mereka dan bergabung dengan suami dan anak saya, yang tidak jauh 
dari tempat duduk mereka. Ketika saya duduk suami saya mencoba meredakan tangis 
saya sambil tersenyum dan berkata "Sekarang saya tahu, kenapa Tuhan mengirimkan 
dirimu menjadi istriku, yang pasti, untuk memberikan 'keteduhan' bagi diriku 
dan 
anak-2ku! " Kami saling berpegangan tangan beberapa saat dan saat itu kami 
benar2 bersyukur dan menyadari,bahwa hanya karena 'bisikanNYA' lah kami telah 
mampu memanfaatkan 'kesempatan' untuk dapat berbuat sesuatu bagi orang lain 
yang 
sedang sangat membutuhkan.

Ketika kami sedang menyantap makanan, dimulai 
dari tamu yang akan meninggalkan restoran dan disusul oleh beberapa tamu 
lainnya, mereka satu persatu menghampiri meja kami, untuk sekedar ingin 
'berjabat tangan' dengan kami.

Salah satu diantaranya, seorang bapak, 
memegangi tangan saya, dan berucap "Tanganmu ini telah memberikan pelajaran 
yang 
mahal bagi kami semua yang berada disini, jika suatu saat saya diberi 
kesempatan 
olehNYA, saya akan lakukan seperti yang telah kamu contohkan tadi kepada 
kami."

Saya hanya bisa berucap "terimakasih" sambil tersenyum. Sebelum 
beranjak meninggalkan restoran saya sempatkan untuk melihat kearah kedua lelaki 
itu, dan seolah ada 'magnit' yang menghubungkan bathin kami, mereka langsung 
menoleh kearah kami sambil tersenyum, lalu melambai-2kan tangannya kearah kami. 
Dalam perjalanan pulang saya merenungkan kembali apa yang telah saya lakukan 
terhadap kedua orang tunawisma tadi, itu benar2 'tindakan' yang tidak pernah 
terpikir oleh saya. Pengalaman hari itu menunjukkan kepada saya betapa 'kasih 
sayang' Tuhan itu sangat HANGAT dan INDAH sekali!

Saya kembali ke 
college, pada hari terakhir kuliah dengan 'cerita' ini ditangan saya. Saya 
menyerahkan 'paper' saya kepada dosen saya. Dan keesokan harinya, sebelum 
memulai kuliahnya saya dipanggil dosen saya ke depan kelas, ia melihat kepada 
saya dan berkata, "Bolehkah saya membagikan ceritamu ini kepada yang lain?" 
dengan senang hati saya mengiyakan. Ketika akan memulai kuliahnya dia meminta 
perhatian dari kelas untuk membacakan paper saya. Ia mulai membaca, para 
siswapun mendengarkan dengan seksama cerita sang dosen, dan ruangan kuliah 
menjadi sunyi. Dengan cara dan gaya yang dimiliki sang dosen dalam membawakan 
ceritanya, membuat para siswa yang hadir di ruang kuliah itu seolah ikut 
melihat 
bagaimana sesungguhnya kejadian itu berlangsung, sehingga para siswi yang duduk 
di deretan belakang didekat saya diantaranya datang memeluk saya untuk 
mengungkapkan perasaan harunya.

Diakhir pembacaan paper tersebut, sang 
dosen sengaja menutup ceritanya dengan mengutip salah satu kalimat yang saya 
tulis diakhir paper saya .

"Tersenyumlah dengan 'HATImu', dan kau akan 
mengetahui betapa 'dahsyat' dampak yang ditimbulkan oleh senyummu 
itu."

Dengan caraNYA sendiri, Tuhan telah 'menggunakan' diri saya untuk 
menyentuh orang-orang yang ada di McDonald's, suamiku, anakku, guruku, dan 
setiap siswa yang menghadiri kuliah di malam terakhir saya sebagai mahasiswi. 
Saya lulus dengan 1 pelajaran terbesar yang tidak pernah saya dapatkan di 
bangku 
kuliah manapun, yaitu: "PENERIMAAN TANPA SYARAT."

Banyak cerita tentang 
kasih sayang yang ditulis untuk bisa diresapi oleh para pembacanya, namun bagi 
siapa saja yang sempat membaca dan memaknai cerita ini diharapkan dapat 
mengambil pelajaran bagaimana cara MENCINTAI SESAMA, DENGAN MEMANFAATKAN 
SEDIKIT 
HARTA-BENDA YANG KITA MILIKI, dan bukannya MENCINTAI HARTA-BENDA YANG BUKAN 
MILIK KITA, DENGAN MEMANFAATKAN SESAMA!

Jika anda berpikir bahwa cerita 
ini telah menyentuh hati anda, teruskan cerita ini kepada orang2 terdekat anda. 
Disini ada 'malaikat' yang akan menyertai anda, agar setidaknya orang yang 
membaca cerita ini akan tergerak hatinya untuk bisa berbuat sesuatu (sekecil 
apapun) bagi sesama yang sedang membutuhkan uluran tangannya!

Orang bijak 
mengatakan: Banyak orang yang datang dan pergi dari kehidupanmu, tetapi hanya 
'sahabat yang bijak' yang akan meninggalkan JEJAK di dalam hatimu.
Untuk 
berinteraksi dengan dirimu, gunakan nalarmu. Tetapi untuk berinteraksi dengan 
orang lain, gunakan HATImu! Orang yang kehilangan uang, akan kehilangan banyak, 
orang yang kehilangan teman, akan kehilangan lebih banyak! Tapi orang yang 
kehilangan keyakinan, akan kehilangan semuanya! Tuhan menjamin akan memberikan 
kepada setiap hewan makanan bagi mereka, tetapi DIA tidak melemparkan makanan 
itu ke dalam sarang mereka, hewan itu tetap harus BERIKHTIAR untuk bisa 
mendapatkannya.

Orang-orang muda yang 'cantik' adalah hasil kerja alam, 
tetapi orang-orang tua yang 'cantik' adalah hasil karya seni. Belajarlah dari 
PENGALAMAN MEREKA, karena engkau tidak dapat hidup cukup lama untuk bisa 
mendapatkan semua itu dari pengalaman dirimu sendiri

[Non-text portions 
of this message have been removed]




      

    
    
        
        
        








        


        
        

        New Email names for you!  

Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail.

Hurry before someone else does!


      

Kirim email ke