Assalamualaikum Wr. Wb.
Good Morning all Pelaut...semoga sejahtera selalu dan semoga selalu dalam
lindunganNya.
Menyambung tulisan Pak Darul, yang didapat dari milis tetangga.
Semoga Bermanfaat.
Salam/Mursalin AR
----- Pesan Diteruskan ----
Dari: ahmad antawirya <[EMAIL PROTECTED]>
Kepada: [EMAIL PROTECTED]
Terkirim: Minggu, 12 Oktober, 2008 00:33:09
Topik: [dakta_radio] Beda Bank Riba dengan Bank Dinar (Kemana Menghilangnya
Likuiditas?)
Dan
apabila mereka dilamun ombak yang besar seperti gunung, mereka menyeru
Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Maka tatkala Allah
menyelamatkan mereka sampai di daratan, lalu sebagian mereka tetap
menempuh jalan yang lurus. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat
Kami selain orang-orang yang tidak setia lagi ingkar. (QS 31:32).
Kemana Menghilangnya Likwiditas (Uang Kertas)?
Bank-bank dan lembaga keuangan besar berjatuhan. Rata-rata karena kesulitan
likwiditas. Kemana hilangnya uang kertas?
Oleh: Muhaimin Iqbal *
Ini
adalah pertanyaan awam yang muncul hampir di seluruh dunia sekarang
menyangkut banyaknya bank-bank dan lembaga keuangan besar yang
berjatuhan. Bank-bank dan lembaga keuangan tersebut berjatuhan
rata-rata adalah karena kesulitan likwiditas.
Mengapa
kesulitan likwiditas ini berlaku serentak ? bukankah namanya likwiditas
seharusnya menyerupi sifat air (liquid = cairan ) yaitu kalau tidak ada
di suatu tempat (bank) mestinya mengalir ketempat (bank) lain ?, kenapa
krisis likwiditas selalu serentak/bersamaan. ..?.
Logika awamnya memang demikian, tetapi bukan logika awam ini yang berlaku di
dunia perbankan dan keuangan global.
Mayoritas likwiditas dunia perbankan adalah bukan dari uang seperti
yang kita kenal uang kertas dan uang logam , tetapi dari uang bank yang
dihasilkan melalui suatu proses penciptaan uang (money creation) nan
canggih dalam sebuah system perbankan yang disebut Fractional Reserve Banking.
Berikut illustrasinya :
Asumsikan Anda punya uang Rp 1 Milyar dan Anda taruh di Bank A, maka sebagai
contoh di IndonesiaBank A hanya wajib mencadangkan 5%-nya atau Rp 50 juta.
Selebihnya Rp
950 juta oleh Bank A dapat dipinjamkan ke Bank B. Karena bank B juga
hanya wajib mencadangkan 5%-nya atau Rp 47.5 juta, maka dari uang
pinjaman tersebut bank B dapat meminjamkan lagi ke Bank C sebesar
95%nya tau Rp 902.5 juta. Bank C kemudian meminjamkannya lagi ke Bank
D, D ke E dst-dst.
Secara teoritis uang yang tadinya hanya Rp 1 Milyar melalui Fractional Reserve
Banking dengan minimum reserve 5 % berpotensi menghasilkan likwiditas berupa
uang bank yang besarnya 20 kali lipat atau Rp 20 Milyar.
Dampak sebaliknya juga terjadi, bila Rp 1 Milyar uang Anda tersebut
Anda tarik dari Bank A – maka seluruh system perbankan berpotensi
kehilangan likwiditas bukan hanya Rp 1 Milyar melainkan Rp 20 Milyar
uang bank yang tercipta melalui system perbankan yang ‘brilliant’ yang
disebut Fractional Reserve Banking tersebut !.
Bayangkan kalau banyak orang yang mempunyai uang seperti Anda menarik
uangnya rame-rame dari perbankan, pastilah bank yang sekuat apapun akan
collapse.
Jadi yang terjadi dalam krisis likwiditas
global sekarang bukan karena likwiditas mengalir dari satu tempat ke
tempat lain – seperti mengalirnya air, melainkan likwiditas yang
tadinya memang tidak ada atau hanya ‘semu’ kembali menjadi tidak ada.
Selama system perbankan mengadopsi system Fractional Reserve Banking maka
kebangkrutan satu bank akan selalu menyeret seluruh industri
perbankan. Atas alasan ini negara-negara di dunia selalu mati-matian
menyelamatkan Bank yang lagi bermasalah, karena kalau tidak
diselamatkan dampak yang lebih buruk akan terjadi.
Inilah
bedanya system keuangan perbankan ribawi dengan system Dinar. Dalam
system keuangan ribawi – perbankan selalu menjadi awal musibah atau
penyebab dalam setiap krisis; ingat krisis di Indonesia 97/98 dan juga
krisis di Amerika saat ini.
Sebaliknya dalam sejarah keuangan berbasis Dinar, Sharf (tempat
penukaran uang Dinar di zaman kekhalifahan) sering bertindak
menyelamatkan negara dengan memberi pinjaman pada negara pada saat
negara mengalami krisis keuangan karena perang dlsb.
Kalau
sekarang saya tawarkan system Dinar untuk mengatasi krisis keuangan
global yang sedang terjadi....maka para ekonom yang canggih-canggih
akan mentertawakan saya; tetapi karena solusi ribawi yang mereka cari just not
exist ...
maka hanya waktu-lah yang akan membuktikan bahwa ketika kepepet tidak
ada solusi lain – manusia akan selalu kembali ke solusi yang fitrah.
Penulis Direktur Gerai Dinar. Tulisan ini adalah hasil kerjasama
www.geraidinar. com dan www.hidayatullah. com
________________________________
Berbagi video sambil chatting dengan teman di Messenger.
Sekarang bisa dengan Yahoo! Messenger baru.
___________________________________________________________________________
Dapatkan alamat Email baru Anda!
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan sebelum diambil orang lain!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/