What a 'difficult' perspective. ....!!!
Yet, still has a point
somewhere.
Anda Telah menyusahkan Saya, Terimakasih!
by
Arvan
Pradiansyah
Managing Director ILM, Alumni ESQ Eksekutif 40
Sewaktu
mahasiswa saya pernah membaca sebuah buku berjudul Pedogogy for
the Oppress
(Pendidikan bagi Kaum Tertindas) yang ditulis oleh Paulo
Freire, peneliti
Amerika Latin. Salah satu kalimat yang masih saya ingat
sampai sekarang
berbunyi, "Setiap orang pada dasarnya adalah guru, dan
setiap tempat adalah
sekolah."
Tentu saja saya tidak setuju dengan kata-kata itu. Bagaimana
tidak, saya
mempunyai kriteria yang cukup tinggi mengenai seseorang yang
pantas
disebut guru. Seorang guru haruslah bisa digugu dan ditiru. Ia
haruslah
menjadi role model. Selain itu ia juga harus memiliki kemampuan
yang
lebih dibandingkan dengan saya sendiri, paling tidak ia
menguasai
sesuatu yang tidak saya kuasai.
Namun itu pendapat saya
dahulu. Belakangan saya harus merevisi kembali
pandangan itu. Pengalaman
hidup justru mengajarkan pada saya bahwa
pendapat Freire benar adanya. Saya
belajar bukan hanya dari orang-orang
yang saya hormati, melainkan justru dari
orang-orang yang menyusahkan.
Bahkan, pelajaran yang saya terima dari
orang-orang yang menyusahkan
jauh lebih powerful karena merasuk jauh kedalam
pikiran dan sanubari
saya.
Bilamana orang-orang baik memberikan
pelajaran melalui pengalaman yang
menyenangkan, maka orang-orang yang
menyusahkan justru memberikan
pengalaman yang pahit dan getir, sebuah
pelajaran yang tak akan
terlupakan sepanjang hidup kita.
Belakangan
saya membaca sebuah buku yang menarik berjudul Thank You for
Being Such A
Pain karya Mark I Rosen. Buku ini makin memperkuat pendapat
saya mengenai
betapa pentingnya peranan yang dimainkan oleh orang-orang
yang menyusahkan
dalam hidup kita.
Pengalaman yang menyenangkan lebih mudah kita kupakan,
karena hal itu
tidak masuk terlalu dalam ke dalam memori kita atau bahkan
kita
menganggap sepele (taken for granted). Kalau bawahan melayani
kita
dengan sepenuh hati, kita mungkin berpikir bahwa itu sudah
merupakan
tugasnya. Kalau atasan kita ramah, baik hati dan mau mengerti,
kita
mungkin berpikir bahwa memang seperti itulah yang harus
dilakukan
seorang atasan. Kalau rekan kerja kita kooperatif, kita
mungkin
beragumentasi bahwa memang kewajiban setiap orang adalah
saling
membantu. Kalau pasangan hidup kita penuh perhatian, mungkin kita
akan
berpikir bahwa ini sudah merupakan hak kita. Bahwa kita memang
berhak
menerima perlakuan itu.
Kalau begitu, pelajaran apakah yang
dapat kita ambil dari orang-orang
yang menyenangkan tersebut ? Mungkin ada,
tetapi pasti tidak akan
semendalam pelajaran dari pengalaman yang
menyakitkan. Misalkan saja,
ada seseorang yang menghina Anda, mengeluarkan
kata-kata yang menyakiti
Anda. Mudahkan Anda melupakannya ? Kemungkinan
tidak. Biasanya kita
malah memikirkan bagimana membalas sakit hati kita.
Namun justru
disinilah manfaat yang diberikan orang-orang ini. Mereka
sebenarnya
telah memberikan experential learning yang tidak akan mungkin
kita
lupakan, yaitu mengenai betapa sakit rasanya diperlakukan seperti
itu.
Rasa sakit yang luar biasa ini sangat kita perlukan untuk membantu
kita
memahami perasaan yang akan dirasakan orang lain bila kita
melakukan
tindakan yang sama. Memahami lebih dari sekedar mengetahui. Kalau
Anda
mengetahui sesuatu, Anda belum paham karena Anda baru masuk
ke
'teorinya', tapi kalau Anda sudah merasakannya, Anda akan memahami.
Anda
bahkan akan masuk ke alam kesadaran.
Saya pernah mempunyai atasan
yang senang memaki-maki dan merendahkan
harga diri orang lain. Namun, ia
sangat berjasa kepada saya karena
memberikan pelajaran mengenai betapa
sakitnya diperlakukan demikian.
Saya kemudian berjanji kepada diri sendiri
untuk tidak akan pernah
menyakiti dan merendahkan harga diri orang lain dalam
situasi apa pun.
Saya benar-benar sadar bahwa setiap orang ingin dianggap
penting dan
diperlakukan dengan penuh hormat.
Seorang teman yang suka
menjelek-jelekkan saya di belakang juga telah
menjadi guru besar saya. Ia
telah menyadarkan saya akan pentingnya
bersikap loyal terhadap orang yang
tidak hadir (loyal to the absent).
Tentu saja, saya sudah pernah mempelajari
buruknya menggosipkan orang
lain dari buku-buku, kitab suci ataupun beberapa
pelatihan perilaku,
tetapi pelajaran yang paling merasuk jiwa saya justru
saya dapatkan dari
kawan saya itu. Rasa sakit yang saya alami justru membuat
saya
'bersumpah' untuk tidak akan pernah melakukan perilaku yang
sama.
Ada banyak lagi guru besar yang dapat saya tuliskan di sini. Ada
klien
yang pertama kali bertemu langsung memanggil saya dengan 'kamu'.
Ada
kawan yang gemar memberikan 'label negatif'. Ada atasan yang
suka
berlama-lama menjawab handphonenya, padahal kami berdua sedang
melakukan
rapat. Ia sering membiarkan saya 'ternganga' di hadapannya. Semua
orang
ini adalah guru besar saya dalam "kuliah" Hubungan
Antarmanusia.
Karena itu alih-alih membenci orang ini, kita seharusnya
malah
berterimakasih kepada mereka. Berterima kasih disini bukan
dalam
pengertian sinisme. Melainkan berterima kasih secara tulus dan
dari
lubuk hati kita yang paling dalam. Bukankah hanya orang-orang ini
yang
berani mengambil resiko untuk menjadi orang yang tidak disukai
?
Bukankah mereka telah mengajarkan kepada kita untuk menjadi jauh
lebih
baik dari hari ke hari ? Bukankah dengan pengalaman pahit yang
mereka
berikan, kita dapat tumbuh secara spiritual ? Bahkan dalam konteks
yang
lebih luas, orang-orang itu sebenarnya telah diutus oleh Tuhan
untuk
berjumpa dengan kita di dunia ini, dan mengajarkan sesuatu yang
tak
dapat diajarkan oleh kawan-kawan dan sahabat-sahabat kita yang
lain.
___________________________________________________________________________
Coba emoticon dan skin keren baru, dan area teman yang luas.
Coba Y! Messenger 9 Indonesia sekarang.
http://id.messenger.yahoo.com