Yg ringan2 dari swaramuslim.com.

Boleh juga Rhoma Irama, sampai2 ratu jogya dan juga istri capres "kebelet" sama 
raja dangdut. 

salam
kokok
--------------------
 
GKR Ratu Hemas Suka Bulu Dada Rhoma Irama

Oleh Miranda Dwiyanthi Rosamaria
BIASANYA
seorang Ratu, apalagi dari Jawa, dalam bertutur kata, bertindak, dan
menyampaikan aspirasi diekpresikan dengan cara-cara yang anggun,
sebagai wujud dari kematangan dan kedewasaan pribadinya, serta sebagai
wujud telah meresapnya nilai-nilai luhur yang diperoleh dari institusi
keraton. Namun, hal itu tidak tampak pada diri Gusti Kanjeng Ratu
Hemas, yang tanpa malu-malu menyatakan tertarik bila melihat bulu dada
seorang laki-laki, misalnya Rhoma Irama. Suatu kejujuran yang luar
biasa. Mungkin, seorang pelacur kelas tinggi (bukan pelacur jalanan)
tidak mau bersikap sejujur GKR Hemas.

Pada okezone.com edisi 2
Desember 2008, tertulis sebuah berita dengan judul menarik perhatian
yaitu Istri Sultan Mengaku Terangsang Bulu Dada Bang Rhoma :link. 

Yang dimaksud dengan istri Sultan tentu saja Gusti Kanjeng Ratu Hemas.

Okezone menuliskan, 
“…
Permaisuri Keraton Yogyakarta GKR Hemas blak-blakan menyatakan tertarik
dengan bulu dada Rhoma Irama… Saat tampil dipanggung, sang Raja
Dangudut itu biasanya membuka kancing baju bagian atas sehingga bulu
dadanya kelihatan.”

Pada harian Berita Kota edisi Rabu, 3
Desember 2008, halaman 5, juga bisa ditemukan berita seperti itu dengan
judul Ratu Hemas Tertarik Lihat Bulu Dada Bang Rhoma. Berita Kota
menuliskan, “Siapa sangka, Permaisuri Keraton Yogyakarta GKR Hemas
diam-diam selama ini rupanya menyimpan hasrat terhadap bulu dada Rhoma
Irama. Istri Sultan Hamengkubuwono X itu mengaku sangat tertarik bila
melihat kebiasaan sang Raja Dangdut yang membuka kancing baju bagian
atasnya saat tampil di atas panggung hingga rambut-rambut yang
menghiasi bagian dada pelantun ‘Syahdu’ itu terpampang keluar.”

Menurut
Berita Kota pula, pengakuan blak-blakan Ratu Hemas tersebut bukan
sekedar luapan hasrat biologis semata, namun karena sang Permaisuri ini
masih menyimpan rasa jengkel terhadap disahkannya Undang-undang
Pornografi beberapa waktu lalu.

Permaisuri yang terangsang bulu
dada Bang Rhoma ini selain menolak Undang-undang Pornografi, juga
pendukung goyang ngebor Inul Daratista. Di tahun 2003, misalnya, Ratu
Hemas terang-terangan mendukung Inul dan goyang ngebornya. Padahal
ketika itu Pemeritah Kota Yogyakarta menyatakan akan mencekal Inul
Daratista jika berani manggung di kota budaya tersebut. ( 
http://www.sinarharapan.co.id/berita/0303/05/nus04.html )

“Kenapa
sih dengan Inul? Goyang dia itu sebenarnya kreatif. Jika para penyanyi
dangdut lainnya gerakan tariannya sama, Inul justru berkreasi
menciptakan yang berbeda. Saya kira dia sangat inovatif dalam hal itu,”
begitu pembelaan Gusti Kanjeng Ratu Hemas, di sela-sela pembukaan Pekan
Daerah Expo 2003 di Gedung Jogja Expo Center Yogyakarta, Selasa 4 Maret
2003.

Gusti Kanjeng Ratu Hemas, cewek kelahiran Jakarta pada
tanggal 31 Oktober 1952 ini, adalah anggota Dewan Perwakilan Daerah
(DPD) asal Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Istri Sri Sultan
Hamengku Buwono X ini, sebelumnya pernah menjadi anggota Majelis
Permusyawaratan Rakyat (MPR RI) masa jabatan 1997-1999 dari Fraksi
Utusan Golongan. Selain itu, lulusan Arsitektur Pertamanan Universitas
Trisakti, Jakarta, ini pernah pula menjadi Pemimpin Redaksi Majalah
Kartini.

Ibu dari lima putri ini selain mendukung dan membela
Inul, juga pernah mengkhawatirkan dihapuskannya lokalisasi pelacuran,
khususnya di kawasan Yogyakarta. Pada harian Kompas edisi Kamis, 26
Februari 2004, GKR Hemas pernah mengemukakan, penghapusan lokasisasi
(tempat pelacuran) di wilayah Yogyakarta, dikhawatirkan akan memicu
tidak terkontrolnya kondisi kesehatan masyarakat Yogyakarta akibat
penyakit menular.

Kepada Kompas, Ratu Hemas mengatakan, “Saya
juga heran, mengapa lokalisasi di Yogyakarta tidak ada. Kalau ada, maka
akan memudahkan pemantauan kesehatan masyarakat. Karena di Yogya tidak
ada lokalisasi, maka PSK memang tidak ada, tetapi mereka lalu ada di
jalanan. Lalu PSK jalanan digaruk. Tetapi, kenapa PSK yang beroperasi
di hotel-hotel tidak digaruk? Ini tentu menyangkut kebijakan aparat
kepolisisn, dan Pemda (pemerintah daerah),” ujar Hemas seraya
menunjukkan risiko yang lebih besar akibat ditutupnya lokalisasi
Sanggrahan di sebelah tenggara Kota Yogya lima tahun silam.

Begitulah
logika Ratu Hemas, dengan adanya lokalisasi pelacuran, maka para
pelacur tidak akan beroperasi di jalanan. Jadi, dia sama sekali tidak
menolak pelacuran, yang dia tolak adalah pelacuran yang berkeliaran di
jalan-jalan. Pertanyannya, apabila ada lokalisasi, apakah sudah pasti
pelacur yang beroperasi di jalanan akan sirna? Ya belum tentu. Di
Jakarta, pasca dilokalisirnya operasi pelacur di beberapa tempat,
praktek prostitusi jalanan tetap saja marak, hingga kini.

Dari
fakta-fakta di atas, rakyat bisa melihat betapa ‘anggunnya’ seorang
Gusti Kanjeng Ratu Hemas, permaisuri Sri Sultan Hamengku Buwono X, yang
pada 2009 nanti dijagokan menjadi salah satu kandidat Presiden RI. Bila
kelak Sri Sultan Hamengku Buwono X terpilih menjadi Presiden RI
menggantikan SBY, dan tentu saja GKR Hemas menjadi ibu negara (first
lady), rasanya dia satu-satunya first lady yang terangsang dengan bulu
dada Rhoma Irama, mendukung dan membela Inul dengan goyang negbornya
yang sensual-vulgar itu, serta mengkhawatirkan ditutupnya lokalisasi
pelacuran, dan ikut demonstrasi menolak RUU Pornografi bahkan setelah
RUU disahkan menjadi UU Pornogafi ia juga ikut unjuk rasa agar UU
tersebut ditinjau kembali.

Apakah bila kelak Sri Sultan Hamengku
Buwono X berhasil menjadi Presiden RI, GKR Ratu  Hemas istrinya tidak
akan menelikung sang suami, sebagaimana pernah dilakukannya saat sang
suami menjabat Gubernur DIY dan ia menjadi anggota DPD RI.

Sebagaimana diberitakan harian Suara Merdeka edisi Jumat, 25 Januari 2008 
melalui judul GKR Hemas Dinilai Telikung HB X ( 
http://www.suaramerdeka.com/harian/0801/25/ked01.htm
) diwartakan, “Diam-diam Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas, anggota DPD
RI, mencoba menelikung suaminya sendiri, Sri Sultan Hamengku Buwono X.
Hal itu dibuktikan dengan adanya surat yang ditandatangani GKR Hemas
kepada fraksi-fraksi di DPRD DIY mengenai bahan RUU Perubahan Ketiga
atas UU Nomor 3 Tahun 1950 tentang Pembentukan DIY… Terutama di huruf
C, agar ada tambahan konsiderans ‘menimbang’ terkait pidato Sri Sultan
Hamengku Buwono X yang tidak mau lagi dicalonkan kembali sebagai
Gubernur DIY.”

Waktu itu GKR Hemas berkilah, “… saya tidak
mengusulkan, tetapi hanya memberi informasi pada fraksi-fraksi di DPRD
DIY. Gela ana kaya ngene,” tandasnya.

Sebagaimana sedang
nge-trend saat ini, sebagian wanita agar terlihat modern dan terkesan
intelek, mereka berduyun-duyun membela kesetaraan gender, sesuatu yang
belum tentu mereka pahami. Begitu juga dengan GKR Hemas. Menurut Hemas,
masih banyak hambatan untuk memperjuangkan kesetaraan gender, antara
lain, pada budaya patriarki yang bersifat turun-temurun dalam
masyarakat. Namun, Hemas juga mengatakan, “… perempuan pencari nafkah
sejak dulu sudah ada, laki-laki meteti (memelihara) burung di rumah,
yang perempuan jualan di pasar. Ini dari zaman dulu sampai sekarang
terus berlangsung, tetapi tidak pernah dipersoalkan.” 

Lha,
berdasarkan ilustrasi itu, berarti kesetaraan gender memang sudah ada
sejak dulu, lalu apa lagi yang mau disetarakan oleh Hemas dan
orang-orang sejenisnya?

GKR Hemas selain menolak Undang-undang
Pornografi, juga menolak jilbab. Bahkan ia berani secara telanjang
mengekspresikan penolakannya itu di hadapan khalayak muslimah sebuah
ormas. Sebagaimana dapat dibaca di www.nationalintegrationmovement.org
dalam sebuah wawancara dengan sejumlah aktivis National Integration
Movement (NIM), sebagai berikut:

Di awal pembicaraan, beliau
berbicara tentang bagaimana saat ini muslimah itu diidentikkan dengan
jilbab bahkan burqah. Pada satu kegiatan di PP Aisyah –sayap organisasi
perempuan Muhammadiyah- beliau tampil beda dengan tidak menggunakan
jilbab. Beliau sadar saat itu menjadi bahan pembicaraan, tapi beliau
mengatakan kepada peserta yang hadir “Inilah Saya! Silahkan berbeda
pendapat, tapi saya juga mempunyai pendapat.” Beliau juga bercerita
tentang salah seorang pengurus pusat Aisiyah yang sampai saat ini tidak
mau menggunakan jilbab. Menurut tokoh tadi kerudung itu lebih cocok
untuk muslimah di Nusantara.

Wawancara itu berlangsung di
kediaman GKR Hemas, Kraton Kilen Ngayogyakarta Hadiningrat tanggal 26
Desember 2006 pukul 10.00 Wib. Di Jakarta, GKR Hemas juga punya rumah,
antara lain terletak di bilangan Menteng Indah.

National
Integration Movement (atau Gerakan Integrasi Nasional) adalah wadah
berkumpul bagi orang-orang Indonesia dari berbagai latar belakang
agama, suku, etnis, gender dan pendidikan yang punya kepedulian tinggi
terhadap masalah persatuan dan kesatuan bangsa. Wadah ini didirikan
pada tanggal 11 April 2005, di Tugu Proklamasi, Jakarta. Pendiriannya
diinspirasikan oleh tokoh spiritual lintas agama Anand Krishna. Salah
satu kegiatan NIM adalah menerbitkan beberapa petisi, antara lain
Petisi Untuk Menolak UU Pornogafi dan Petisi Penghapusan Kolom Agama
Pada KTP.

Dari wawancara itu pula dapat kita ketahui sikap
keberagamaan GKR Hemas dan suaminya, yang ternyata lebih mementingkan
kebudyaan (Jawa). Antara lain sebagaimana terungkap melalui
kalimat-kalimat di bawah ini:

Saat ini, ketika orang lain
semakin terbuka, kita malah semakin tertutup. Dalam hal pemikiran dan
kebudayaan juga, kita semakin mundur. Kita sibuk dengan pemahaman yang
sempit mengenai agama, dan itu adalah dalam rangka kepentingan jangka
pendek. Gusti Ratu bercerita pada satu kesempatan Ngarsa Dalem pernah
berkata, “Jauh sebelum agama yang ada sekarang, Jawa sudah mempunyai
kebudayaan yang tinggi. Semua kebudayaan dan agama dari luar diterima
dengan tangan terbuka, tapi sekarang malah mereka berusaha untuk
mengeliminasi kebudayaan Jawa.” Saat itu beliau juga mengeluarkan
statement yang keras yang mungkin tidak pada tempatnya diungkapkan
disini.

Meski secara formal pasangan GKR Hemas dan Sri Sultan
Hamengkubuwono X beragama Islam, namun mereka lebih bisa menerima
nilai-nilai budaya Jawa ketimbang nilai-nilai Islam. Makanya, Hemas
ogah berkerudung, lebih senang mempertinggi sanggul. Mereka penganut
Islam yang lamis. Mungkin terpaksa. Padahal, kalau mereka murtad bahkan
atheis sekalipun, Islam dan umat Islam di Indonesia sama sekali tidak
menderita kerugian apa-apa. Malah Islam justru dirugikan, oleh mereka
yang secara formal mengaku beragama Islam, namun mendukung lokalisasi
pelacuran, terangsang dengan bulu dada Rahoma Irama, menolak berjilbab,
dan sebagainya. Padahal, aktivis kiri saja ada yang berjilbab ketika
mengikuti acara yang diselenggarakan sebuah ormas keagamaan. Meski
sekedar basa-basi, namun masih lebih beretika dibanding GKR Hemas yang
secara formal bukan penganut kiri tapi lebih demonstratif anti Jilbab.

Menarik
untuk dilakukan analisa psikologis terhadap sepak terjang GKR Ratu
Hemas, untuk mengetahui apa yang melatar-belakangi cewek ini begitu
senang menampilkan sikap “pemberontakannya” selama ini, sampai-sampai
ia secara demonstratif dan tidak malu-malu lagi menyatakan terangsang
dengan bulu dada Rhoma Irama segala. Apakah sikap “pemberontakannya”
itu disebabkan karena ada sesuatu yang tidak bisa diperolehnya dari Sri
Sultan Hamengkubuwono X sang suami? Semoga saja sang suami tidak
menjadi faktor X bagi sikap GKR Hemas selama ini.



      New Email addresses available on Yahoo!
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail. 
Hurry before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

Moderator tdk bertanggung jawab atas kebenaran isi dan/atau identitas asli 
pengirim berita. Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/pelaut/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/pelaut/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke