Manufacturing Hope 39
Sakit hati, ada kalanya sangat penting. Banyak orang sukses bermula karena 
sakit hati: kepada saudara, tetangga, teman, mantan pacar, mantan kongsi, atau 
kepada pesaing yang pernah mengalahkannya.
Sakit hati kadang juga menyangkut harga diri. Banyak orang sukses bukan karena 
ingin kaya, tapi karena tidak ingin harga dirinya diremehkan. Mereka ini 
golongan yang, setelah sukses, tidak kelihatan menikmati kekayaannya untuk 
kemewahan hidupnya.
Sakit hati juga biasa datang dari orang pandai yang merasa kepandaiannya tidak 
dimanfaatkan. Bisa juga datang dari orang yang merasa terjajah, yang kemudian 
ingin mengalahkan bekas penjajahnya.
Bisakah sakit hati dilakukan secara berjamaah? Oleh satu kelompok? Agar 
kelompok itu sukses secara bersama-sama? Bisakah sakit hati dilakukan secara 
nasional? Sehingga bangsa itu secara keseluruhan bisa sukses?
Sebagai orang yang pernah sakit hati, saya mencoba mengumpulkan banyak orang 
yang sudah lama sakit hati. Yakni para engineer yang selama ini bekerja di 
perusahaan-perusahaan BUMN. Mereka inilah yang merasa sakit hati setiap kali 
melihat kemampuan mereka diremehkan.
Salah satu puncaknya adalah saat mereka melihat proyek pembangkit listrik 
10.000 MW. Mereka mempertanyakan: mengapa untuk pembangkit yang sekecil 2×7 MW 
pun harus mentah-mentah didatangkan dari Tiongkok? Apalagi ketika pada akhirnya 
proyek itu sama sekali tidak bisa dikatakan murah -oleh berbagai sebab, 
termasuk penyebab dari dalam negeri.
Rabu pagi tanggal 8 Agustus 2012 lalu, mereka berkumpul di aula kantor pusat 
Pertamina. Selama ini mereka benar-benar sakit hati.
Hanya saja mereka cuma berani mengeluhkannya secara diam-diam dan 
sendiri-sendiri. Mereka adalah kelompok sakit hati yang meskipun tidak 
destruktif tapi juga tidak aktif. Mereka pada dasarnya “sakit hati, tapi 
setengah tidak berdaya”.
Padahal kemampuan mereka luar biasa. Asal ada yang mempersatukan dan 
mengkoordinasikan.
Selama ini mereka kurang diberi kesempatan sehingga kapasitas itu 
tercerai-berai di berbagai BUMN. Mereka bukan saja tidak bersinergi, bahkan 
sering saling jegal!
Lihatlah pabrik di Pasuruan ini. Siapa yang menyangka bahwa BUMN yang kelihatan 
setengah sekarat itu â€"PT Boma Bisma Indra (BBI)- mampu membuat kondensor. 
Alat yang menjadi bagian sangat penting dalam pembangunan pembangkit listrik 
tenaga uap (PLTU).
Waktu saya berkunjung ke PT BBI Pasuruan tiga minggu lalu tiga kondensor sudah 
terlihat jadi. Siap diekspor ke Eropa. Kondensor itu memang dipesan oleh 
pabrikan besar di Eropa. Untuk dipasang di PLTU di seluruh dunia.
Tapi PT BBI sedang kelimpungan. Ini akibat buruknya manajemen di masa-masa yang 
lalu. Utangnya ke Bank Mandiri sudah macet selama 10 tahun! Bunga dan dendanya 
terus menggunung. Assetnya banyak tersandera sebagai jaminan bank yang tidak 
bisa diapa-apakan. Perusahaan ini di-blacklist oleh bank mana pun.
PT BBI juga masih punya utang dagang pada PT Krakatau Steel (KS) yang sangat 
besar. Juga sudah macet lebih 10 tahun. Sebagian asset PT BBI juga ditahan oleh 
KS sebagai jaminan sehingga tidak bisa digerakkan.
Akibatnya, kemampuan yang tinggi yang dimiliki para ahli dan karyawan PT BBI 
tersandera oleh keadaan perusahaan yang ‘termehek-mehek’. Mereka sakit hati 
dan frustrasi. Ahli tapi tidak berdaya.
Mereka ahli membuat kondensor, boiler, pabrik kelapa sawit, dan pekerjaan 
engineering lainnya, tapi mereka tidak ahli dalam menyelesaikan problem utang 
macet yang membelit perusahaannya.
Maka saya bersyukur ketika Dirut PT BBI yang sekarang, Dr Ir Lalak Indiyono, 
punya ide brilian untuk menguraikan benang kusut itu. Dengan skema yang cerdas, 
akhir tahun ini saya targetkan benang kusut tersebut sudah harus selesai. Agar 
tahun depan sudah bisa berlari, mengubah sakit hati menjadi ‘balas dendam’ 
untuk kemajuan bersama.
Dalam forum rapat akbar engineering BUMN Rabu lalu itu, Dirut PLN, Ir Nur 
Pamudji, juga menawarkan pembangunan 30 unit PLTU di seluruh Indonesia. 
Terutama yang ukurannya 20 MW ke bawah. PLTU-PLTU ini harus dibangun sepenuhnya 
oleh putra-putra bangsa sendiri. Baik BUMN maupun BUMN dan swasta nasional.
Inilah “Proyek 30 PLTU Merah Putih”, yang kami proklamasikan menjelang 
perayaan 17 Agustus 2012 untuk segera dikerjakan.
Pembagian tugas pun diputuskan: turbin dibuat PT NTP Bandung, anak perusahaan 
PT Dirgantara Indonesia. Dengan membuat 30 turbin sekaligus, para engineer di 
PT NTP akan sibuk dan bisa mencapai skill yang tangguh.
Generatornya dibuat oleh PT Pindad Bandung. Membuat 30 generator sekaligus bisa 
sangat efisien. Boilernya dibuat PT Barata Surabaya. PT BBI membuat 
kondensornya. Dan PT Wika membangun sipilnya. Secara teknik, 
perusahaan-perusahaan BUMN tersebut benar-benar mampu mengerjakannya.
Selama ini mereka terserak, tidak terkoordinasi, dan bahkan saling menjatuhkan.
Dalam forum itu para engineer BUMN juga memproklamasikan “Pabrik Gula Merah 
Putih”. BUMN memang akan membangun pabrik gula baru di Glenmore, Banyuwangi. 
Pabrik baru yang akan menjadi yang terbesar di Jawa itu, 100 persen akan made 
in Indonesia!
Kalau proyek ini sukses (dan harus sukses) maka revitalisasi pabrik-pabrik gula 
tua di seluruh Indonesia akan dikerjakan sendiri oleh putra-putra bangsa.
Alangkah akan sibuknya para engineer kita. Alangkah hidupnya pabrik-pabrik 
rekayasa permesinan kita. Alangkah berkembangnya kemampuan insinyur-insinyur 
kita.
Belum lagi proyek monorail Jakarta yg mangkrak sejak lebih 10 tahun lalu itu. 
Kalau Gubernur Jakarta mengeluarkan izinnya, satu BUMN yang selama ini banyak 
dosanya, PT Adhi Karya, akan menebus dosanya itu dengan pengabdian nyata.
Monorail Jakarta itu akan selesai dalam 26 bulan. Adhi Karya akan didukung dua 
BUMN lainnya, PT LEN untuk sistem elektroniknya dan PT INKA untuk keretanya. 
Maka begitu pilkada selesai izin akan diajukan.
Yang masih akan dirumuskan adalah: bagaimana agar putra-putra bangsa juga bisa 
segera memiliki kemampuan mengerjakan proyek petrochemical dan oleochemical. 
Sedang untuk teknologi hidrogen dan fuel cell yang kelak akan jadi alternatif 
sumber tenaga untuk mobil listrik juga sedang dirancang.
Kita sudah punya ahli fuel cell yang kini bekerja di BPPT dan di LIPI. Mereka 
sudah setuju untuk membuat prototipe fuel cell pertama di Indonesia, dengan 
biaya BUMN PT Batantek pimpinan Dr Ir Yudiutomo Imardjoko. Dua ilmuwan hebat 
akan berkolaborasi untuk energi masa depan Indonesia.
Maka dalam enam bulan, kita akan bisa melihat apakah Dr Ir Ennya Lestyani Dewi 
yang sekolah S1 sampai S3-nya di Jepang (atas biaya BJ Habibie) itu bisa 
melahirkan teknologi fuel cell Indonesia.
Tentu ilmuwan-ilmuwan energi masa depan lainnya yang belum saya ketahui dimohon 
bergabung ke sini.
Seperti yang sudah dibuktikan minggu lalu, salah satu putra bangsa kita juga 
sudah berhasil membuat prototipe permanent magnetic motor pertama di Indonesia. 
PMM 25 kv itu sdh terbukti berhasil dipasang di mobil listrik buatan Pindad dan 
berfungsi dengan sempurna.
Untuk teknologi fuel cell pun, saya melihat di balik jilbab Dr Ennya Lestyani 
Dewi, putri Secang, Magelang, ini menyinarkan otak encernya.
Saat ini, dari Makkah saya berdoa untuk Dr Ennya yang lagi merancang teknologi 
fuel cell-nya.
Sakit hati, kelihatannya memang perlu sering-sering terjadi. Asal terbuka 
penyalurannya.
(*) Menteri BUMN

==== fm milis tetangga =====



------------------------------------

1.      Moderator tidak bertanggung jawab atas kebenaran isi dan/atau identitas 
asli pengirim berita.
2.       ATTACHMENT akan dibanned, krmkan ke pelaut-owner atau upload ke FILE.
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/pelaut/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/pelaut/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke