> Onderwerp: Sukarno, Bendera Pusaka, dan Kematiannya
> Datum: 21 maart 2013
>
>
>
> Hatta memegang lembut tangan Bung Karno dan mendekatkan wajahnya, Air mata
> Hatta mengenai wajah Bung Karno, dan Bung Karno menangis seperti anak kecil.
> Dua proklamator bangsa ini menangis, di sebuah kamar yang bau dan rusak,
> Kamar yang menjadi saksi ada dua orang yang memerdekakan bangsa ini, di akhir
> hidupnya merasa tidak bahagia, Suatu hubungan yang menyesakkan dada.
> Berikut ini suatu artikel lama yang ditulis oleh seorang blogger yang cukup
> disegani oleh kalangan peselancar di dunia maya. Dia adalah Anton Dwisunu
> Hanung Nugrahanto, yang mengais berbagai serpihan fakta sejarah yang
> terlupakan tentang Bung Karno semasa ditahan oleh rejim militer Soeharto,
> untuk kemudian dituliskan dengan gaya bahasa yang ringan, namun sangat
> menyentuh perasaan. Artikel ini dua tahun yang lalu, sengaja diunggah Anton
> di facebook-nya, tepat pada hari Senin 21 Juni 2010 pukul 00.45 wib atau
> 12.41 pm dengan judul "Sukarno, Bendera Pusaka dan Kematiannya".
>
> . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
>
> "Sukarno, Bendera Pusaka dan Kematiannya"
>
> Oleh: Anton Dwisunu Hanung Nugrahanto Monday, June 21, 2010 at 12:41pm
>
> Tak lama setelah mosi tidak percaya Parlemen bentukan Nasution di tahun 1967
> dan MPRS menunjuk Suharto sebagai Presiden RI, Bung Karno menerima surat
> untuk segera meninggalkan Istana dalam waktu 2 X 24 Jam.
>
> Bung Karno dengan wajah sedih membaca surat pengusiran itu. Ia sama sekali
> tidak diberi waktu untuk menginventarisir barang-barang pribadinya.
>
> Wajah-wajah tentara yang diperintahkan Suharto untuk mengusir Bung Karno
> tidak bersahabat lagi. "Bapak harus cepat meninggalkan Istana ini dalam waktu
> dua hari dari sekarang".
>
> Bung Karno pergi ke ruang makan dan melihat Guruh sedang membaca sesuatu di
> ruang itu. "Mana kakak-kakakmu?" kata Bung Karno.
>
> Guruh menoleh ke arah Bapaknya dan berkata , "Mereka pergi ke rumah Ibu"
> rumah Ibu yang dimaksud adalah rumah Fatmawati di Jalan Sriwijaya, Kebayoran
> Baru.
>
> Bung Karno berkata lagi "Mas Guruh, Bapak sudah tidak boleh tinggal di Istana
> ini lagi, kamu persiapkan barang-barangmu, jangan kamu ambil lukisan atau hal
> lain, itu punya negara,".
>
> Kata Bung Karno lalu ia pergi ke ruang depan dan mengumpulkan semua
> ajudan-ajudannya yang setia. Beberapa ajudannya sudah tidak kelihatan, ia
> maklum, ajudan itu sudah ditangkapi karena diduga terlibat Gestapu.
>
> "Aku sudah tidak boleh tinggal di Istana ini lagi, kalian jangan mengambil
> apapun, Lukisan-lukisan itu, souvenir, dan macam-macam barang itu milik
> negara".
>
> Semua ajudan menangis Bung Karno mau pergi, "Kenapa bapak tidak melawan,
> kenapa dari dulu bapak tidak melawan" salah satu ajudan hampir berteriak
> memprotes tindakan diam Bung Karno.
>
> "Kalian tau apa, kalau saya melawan nanti perang saudara, perang saudara itu
> sulit jikalau perang dengan Belanda kita jelas hidungnya beda dengan hidung
> kita, perang dengan bangsa sendiri tidak..lebih baik saya yang robek dan
> hancur daripada bangsa saya harus perang saudara".
>
> Beberapa orang dari dapur berlarian saat tahu Bung Karno mau pergi, mereka
> bilang "Pak kami tidak ada anggaran untuk masak, tapi kami tidak enak bila
> bapak pergi belum makan. Biarlah kami patungan dari uang kami untuk masak
> agak enak dari biasanya"
>
> Bung Karno tertawa "Ah, sudahlah sayur lodeh basi tiga hari itu malah enak,
> kalian masak sayur lodeh saja. Aku ini perlunya apa...."
>
> * * *
>
> Di hari kedua saat Bung Karno sedang membenahi baju-bajunya datang seorang
> perwira suruhan Orde Baru. "Pak, bapak segera meninggalkan tempat ini"
>
> Beberapa tentara sudah memasuki beberapa ruangan. Dalam pikiran Bung Karno
> yang ia takuti adalah bendera pusaka. Ia ke dalam ruang membungkus bendera
> pusaka dengan kertas koran lalu ia masukkan bendera itu ke dalam baju yang
> dikenakannya di dalam kaos oblong, Bung Karno tahu bendera pusaka tidak akan
> dirawat oleh rezim ini dengan benar.
>
> Bung Karno lalu menoleh pada ajudannya Saelan. "Aku pergi dulu" kata Bung
> Karno hanya dengan mengenakan kaus oblong putih dan celana panjang hitam.
>
> "Bapak tidak berpakaian dulu" Bung Karno mengibaskan tangannya, ia terburu
> buru. Dan ke luar dari Istana dengan naik mobil VW kodok, ia minta diantarkan
> ke rumah Ibu Fatmawati di Sriwijaya, Kebayoran.
>
> Di rumah Fatmawati, Bung Karno hanya duduk seharian saja di pojokan halaman,
> matanya kosong. Ia sudah meminta agar Bendera Pusaka itu dirawat hati-hati.
> Bung Karno kerjanya hanya mengguntingi daun-daun yang tumbuh di halaman.
>
> Kadang-kadang ia memegang dadanya, Ia sakit ginjal para,h namun obat-obatan
> yang biasanya diberikan tidak kunjung diberikan. Hanya beberapa minggu Bung
> Karno di Sriwijaya, tiba-tiba datang satu truk tentara ke rumah Sriwijaya.
>
> * * *
>
> Suatu saat Bung Karno mengajak ajudannya yang bernama Nitri yang orang Bali
> untuk jalan-jalan. Saat melihat duku Bung Karno bilang "Aku pengen duku..
> Tri, Sing Ngelah Pis, aku tidak punya uang"
>
> Nitri yang uangnya juga sedikit ngelihat dompetnya, ia cukup uang untuk beli
> duku. Lalu Nitri mendatangi tukang duku dan berkata "Pak bawa dukunya ke
> orang yang ada di dalam mobil"
>
> Tukang duku itu berjalan dan mendekat ke Bung Karno "Mau pilih mana Pak,
> manis-manis nih" kata Tukang Duku dengan logat betawi.
>
> Bung Karno berkata "Coba kamu cari yang enak"
>
> Tukang Duku-nya merasa sangat akrab dengan suara itu dan dia berteriak "Lha
> itu kan suara Bapak...Bapak...Bapak"
>
> Tukang Duku berlari ke teman-temannya pedagang "Ada Pak Karno...ada Pak
> Karno" serentak banyak orang di pasar mengelilingi Bung Karno. Bung Karno
> tertawa, tapi dalam hati ia takut orang ini akan jadi sasaran tentara, karena
> disangka mereka akan mendukung Bung Karno. "Tri cepat jalan".....
>
> * * *
>
> Mendengar Bung Karno sering ke luar rumah, maka tentara dengan cepat
> memerintahkan Bung Karno diasingkan.
>
> Di Bogor, dia diasingkan ke Istana Batu Tulis dan dirawat oleh: Dokter Hewan
> .....
>
> Lalu Rachmawati datang dan melihat ayahnya, ia menangis keras-keras saat tahu
> wajah ayahnya bengkak-bengkak dan sulit jalan, Rachmawati adalah puteri Bung
> Karno yang paling nekat. Malamnya ia memohon pada bapaknya agar pergi ke
> Jakarta saja dan dirawat keluarga.
>
> "Coba aku tulis surat permohonan pada Presiden" kata Bung Karno dengan
> mengucurkan air mata. Dia menulis surat dengan tangan bergetar, dan pagi-pagi
> sekali Rachma ke Cendana, rumah Suharto.
>
> Di Cendana ia ditemui Bu Tien yang kaget karena ada Rachma di sana. Bu Tien
> memeluk Rachma dan di saat itu Rachma bercerita tentang nasib bapaknya, hati
> Bu Tien rada tersentuh dan menggenggam tangan Rachma lalu membawanya ke atas,
> ke ruang kerja Pak Harto.
>
> "Lho Mbak Rachma ada apa?" Kata Pak Harto dengan nada santun,
>
> Rachma-pun menceritakan kondisi ayahnya.
>
> Pak Harto berpikir sejenak dan dia menuliskan memo untuk diperintahkan kepada
> anak buahnya, agar lalu dia dipindahkan ke Wisma Yaso, yang sama sekali tidak
> terawat. Kamar Bung Karno sudah berantakan sekali, bau dan tidak diurus. Bung
> Karno tidak boleh ke luar kamar. Seringkali ia dibentak bila akan melakukan
> sesuatu.
>
> Dokter yang diperintahkan untuk merawat, Profesor Mahar Mardjono sampai mau
> menangis, saat tahu bahwa semua obat-obatan yang biasa digunakan oleh Bung
> Karno, dibersihkan dari laci obat atas dasar perintah Perwira Tinggi.
>
> Mahar hanya bisa memberikan vitamin dan Royal Jelly, yang sesungguhnya adalah
> madu. Jika sulit tidur, dia diberi valium, Sukarno tidak diberikan obat, bila
> terjadi pembengkakan ginjal.
>
> Rumor yang mengatakan Bung Karno hidup sengsara, banyak beredar di
> masyarakat, Beberapa orang diketahui akan nekat membebaskan Bung Karno, tapi
> penjagaan sangat ketat.
>
> * * *
>
> Pada awal tahun 1970, Bung Karno datang ke rumah Fatmawati untuk menghadiri
> pernikahan Rachmawati. Muka Bung Karno sudah bengkak. Ketika banyak orang
> tahu Bung Karno datang ke rumah itu, orang banyak berteriak "Hidup Bung Karno
> ... Hidup Bung Karno ... Hidup Bung Karno !!!"
>
> Sukarno yang reflek, karena ia tahu benar dengan suasana gegap gempita,
> tertawa dan melambaikan tangan, Tapi, dengan kasar tentara menurunkan tangan
> Sukarno, dan menggiringnya ke dalam. Bung Karno paham, dia adalah tahanan
> politik.
>
> * * *
>
> Masuk ke bulan Februari, penyakit Bung Karno parah sekali, Ia tidak kuat
> berdiri, Tidur saja, Tidak boleh ada orang yang bisa masuk.
>
> Ia sering berteriak kesakitan, biasanya penderita penyakit ginjal memang akan
> diikuti kondisi psikis yang kacau. Ia berteriak "sakit ... sakit ya Allah .."
>
> Tapi tentara terpaksa diam saja, karena disuruh komandan, Sampai ada salah
> satu tentara yang sampai menangis, mendengar teriakan Bung Karno di dalam
> kamar, sambil tangannya memegang senjata.
>
> Kepentingan politik tak mungkin bisa membendung rasa kemanusiaan, dan air
> mata adalah bahasa paling jelas dari rasa kemanusiaan itu. Hatta yang
> dilapori kondisi Bung Karno menulis surat pada Suharto, dan mengecam cara
> merawat Sukarno.
>
> Di rumah Hatta duduk di beranda, ia menangis diam-diam mengenang sahabatnya
> itu.
>
> Lalu dia bicara pada isterinya Rachmi, untuk bertemu dengan Bung Karno.
> "Kakak tidak mungkin bisa ke sana, Bung Karno sudah jadi tahanan politik"
>
> Hatta menoleh pada isterinya "Sukarno adalah orang terpenting dalam
> pikiranku, dia sahabatku, Kami pernah dibesarkan dalam suasana yang sama,
> agar negeri ini merdeka. Bila memang ada perbedaan di antara kita, itu
> lumrah, tapi aku tak tahan mendengar berita Sukarno terlalu sakit seperti
> ini".
>
> Hatta menulis surat dengan nada tegas kepada Suharto, untuk bertemu Sukarno,
> Ajaibnya surat Hatta langsung disetujui, ia boleh menjenguk Sukarno.
>
> Hatta datang sendirian ke kamar Bung Karno yang sudah hampir tidak sadar,
> Tubuhnya tidak kuat menahan sakit ginjal. Bung Karno membuka matanya. Hatta
> terdiam dan berkata pelan "Bagaimana kabarmu, No" kata Hatta, Ia tercekat,
> mata Hatta sudah basah.
>
> Bung Karno berkata pelan dan tangannya berusaha meraih lengan Hatta "Hoe gaat
> het met Jou" kata Bung Karno dalam bahasa Belanda -Bagaimana pula kabarmu,
> Hatta- .
>
> Hatta memegang lembut tangan Bung Karno dan mendekatkan wajahnya, Air mata
> Hatta mengenai wajah Bung Karno, dan Bung Karno menangis seperti anak kecil.
>
> Dua proklamator bangsa ini menangis, di sebuah kamar yang bau dan rusak,
> Kamar yang menjadi saksi ada dua orang yang memerdekakan bangsa ini, di akhir
> hidupnya merasa tidak bahagia, Suatu hubungan yang menyesakkan dada.
>
> Tak lama setelah Hatta pulang, Bung Karno meninggal. Sama saat Proklamasi
> 1945, Bung Karno menunggui Hatta di kamar, untuk segera membacai Proklamasi,
> Saat kematiannya, Bung Karno juga menunggu Hatta dulu, baru ia berangkat
> menemui Tuhan.
>
> * * *
>
> Mendengar kematian Bung Karno rakyat berjejer-jejer di jalan. Rakyat
> Indonesia dalam kondisi bingung. Banyak rumah yang orang-orangnya menangis
> karena Bung Karno meninggal.
>
> Tapi tentara memerintahkan agar jangan ada rakyat yang hadir di pemakaman
> Bung Karno. Bung Karno ingin dikesankan sebagai pribadi yang senyap. Tapi,
> sejarah akan kenangan tidak bisa dibohongi. Rakyat tetap saja melawan untuk
> hadir.
>
> Hampir 5 kilometer orang antre untuk melihat wajah Bung Karno, Di pinggir
> jalan Gatot Subroto, banyak orang berteriak menangis. Di Jawa Timur tentara
> yang melarang rakyat melihat jenasah Bung Karno, menolak dengan hanya
> duduk-duduk di pinggir jalan, Mereka diusiri, tapi datang lagi. Begitu
> cintanya rakyat Indonesia pada Bapaknya. Tahu sikap rakyat seperti itu,
> akhirnya tentara menyerah.
>
> Jutaan orang Indonesia berhamburan di jalan-jalan pada 21 Juni 1970. Hampir
> semua orang Indonesia yang rajin menulis catatan hariannya, pasti mencatat
> tanggal itu sebagai tanggal meninggalnya Bung Karno dengan rasa sedih,
>
> Koran-koran yang isinya hanya menjelek-jelekkan Bung Karno, sontak tulisannya
> memuja Bung Karno.
>
> Bung Karno yang sewaktu sakit dirawat oleh dokter hewan, tidak diperlakukan
> secara manusiawi, Meninggalnya, dengan cara yang agung. Jutaan rakyat
> berjejer di pinggir jalan, Mereka datang karena cinta, bukan paksaan.
>
> Dan sejarah menjadi saksi bagaimana sebuah bangsa memperlakukan orang yang
> kalah. Walau pun orang yang kalah, adalah orang yang memerdekakan bangsanya,
> Orang yang menjadi alasan terbesar, kenapa Indonesia harus berdiri. Tapi
> diperlakukan layaknya binatang, Semoga. kita tidak mengulangi kesalahan
> seperti itu. .......
>
> 21 Juni - Tanggal meninggalnya Bung Karno.
>
> http://www.aktual.co/penerobos/191836sukarno-bendera-pusaka-dan-kematiannya
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------------------
1. Moderator tidak bertanggung jawab atas kebenaran isi dan/atau identitas
asli pengirim berita.
2. ATTACHMENT akan dibanned, krmkan ke pelaut-owner atau upload ke FILE.
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/pelaut/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/pelaut/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
[email protected]
[email protected]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[email protected]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/