Revolusi
Saudara-saudara sebangsa dan setanah air

Saat ini kita masih teperangkap lingkaran setan
KEMISKINAN
KETIDAKPEDULIAN
KORUPSI
KERJA ASAL-ASALAN
Ayo ,, kita yang tidak mau lagi dijajah oleh kemiskinan dan kesusahan

Kini saatnya REVOLUSI kebangsaan !!
Mari kita berjanji :
Aku ,, warga negara Endonesia

Kutumpahkan darahku, badanku, dan hatiku

Berperang melawan kemiskinan dan kesusahan

Belajar dan bekerja sungguh-sungguh

Dengan semua kekuatan otot dan otakku

Menjadi pendobrak kemajuan bangsa dan keluarga

Demi masa depan Endonesia ,, bahagia dan sejahtera
***
Hijrah & Burung Merak
Baru pada usia 24 tahun, ia menemukan cinta pertama pada diri
Sunarti Suwandi. Dari wanita yang dinikahinya pada 31 Maret 1959 itu,
Rendra mendapat lima anak: Teddy Satya Nugraha, Andreas Wahyu Wahyana,
Daniel Seta, Samuel Musa, dan Klara Sinta. Satu di antara muridnya
adalah Bendoro Raden Ayu Sitoresmi Prabuningrat, putri darah biru
Keraton Yogyakarta, yang bersedia lebur dalam kehidupan spontan dan
urakan di Bengkel Teater. Tugas Jeng Sito, begitu panggilan Rendra
kepadanya, antara lain menyuapi dan memandikan keempat anak
Rendra-Sunarti.
Ujung-ujungnya, ditemani Sunarti, Rendra melamar Sito untuk menjadi
istri kedua, dan Sito menerimanya. Dia dinamis, aktif, dan punya
kesehatan yang terjaga, tutur Sito tentang Rendra, kepada Kastoyo
Ramelan dari Gatra. Satu-satunya kendala datang dari ayah Sito yang
tidak mengizinkan putrinya, yang beragama Islam, dinikahi seorang
pemuda Katolik. Tapi hal itu bukan halangan besar bagi Rendra. Ia yang
pernah menulis litani dan mazmur, serta memerankan Yesus Kristus dalam
lakon drama penyaliban Cinta dalam Luka, memilih untuk mengucapkan dua
kalimat syahadat pada hari perkawinannya dengan Sito, 12 Agustus 1970,
dengan saksi Taufiq Ismail dan Ajip Rosidi.
Peristiwa itu, tak pelak lagi, mengundang berbagai komentar sinis
seperti Rendra masuk Islam hanya untuk poligami. Terhadap tudingan
tersebut, Rendra memberi alasan bahwa ketertarikannya pada Islam
sesungguhnya sudah berlangsung lama. Terutama sejak persiapan
pementasan Kasidah Barzanji, beberapa bulan sebelum pernikahannya
dengan Sito. Tapi alasan yang lebih prinsipil bagi Rendra, karena Islam
bisa menjawab persoalan pokok yang terus menghantuinya selama ini:
kemerdekaan individual sepenuhnya. Saya bisa langsung beribadah kepada
Allah tanpa memerlukan pertolongan orang lain. Sehingga saya merasa hak
individu saya dihargai, katanya sambil mengutip ayat Quran, yang
menyatakan bahwa Allah lebih dekat dari urat leher seseorang.
Toh kehidupannya dalam satu atap dengan dua istri menyebabkan Rendra
dituding sebagai haus publisitas dan gemar popularitas. Tapi ia
menanggapinya dengan ringan saja. Seperti saat ia menjamu seorang
rekannya dari Australia di Kebun Binatang Gembira Loka, Yogyakarta.
Ketika melihat seekor burung merak berjalan bersama dua betinanya,
Rendra berseru sambil tertawa terbahak-bahak, Itu Rendra! Itu Rendra!.
Sejak itu, julukan Burung Merak melekat padanya hingga kini. Dari
Sitoresmi, ia mendapatkan empat anak: Yonas Salya, Sarah Drupadi, Naomi
Srikandi, dan Rachel Saraswati
Sang Burung Merak kembali mengibaskan keindahan sayapnya dengan
mempersunting Ken Zuraida, istri ketiga yang memberinya dua anak:
Isaias Sadewa dan Maryam Supraba. Tapi pernikahan itu harus dibayar
mahal karena tak lama sesudah kelahiran Maryam, Rendra menceraikan
Sitoresmi pada 1979, dan Sunarti pada tahun 1981.

-- 

Jabat Erat,

~dR

Musical Instr. & Acoustics Lab.
0856 21 876 25
http://darevan.wordpress.com

"Sirik tanda tak mampu, narsis tanda tak laku."

Powered by Indosat Berry-Berry®



      
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
You received this message because you are subscribed to the Google Groups "Ayo 
Ngguyu !!" group.
To post to this group, send email to [email protected]
To unsubscribe from this group, send email to 
[email protected]
For more options, visit this group at 
http://groups.google.com/group/pelawak?hl=en
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke