Hanya berbagi dari 
http://www.varajambak.com/2009/11/22/antara-sby-raja-jawa-dan-fasisme-jawa .. 
tanpa bermaksud SARA.
Pengamat politik Ikrar Nusa Bakti pernah menyatakan bahwa “SBY berlaku layaknya 
raja padahal bukan raja“. Pernyataan Ikrar ini menjadi menarik karena 
memperlihatkan pemahaman kedua orang yang sama-sama berasal dari Jawa Timur 
mengenai konsep “raja“. Pernyataaan Ikrar menyiratkan adanya keinginan atau 
usaha daripada SBY untuk menjadi “raja”. Lebih lanjut lagi, usaha daripada SBY 
untuk menjadi “raja” ini diikuti dengan “penyesuaian” tindak-tanduk ataupun 
perilakunya agar menjadi “seperti raja”.
Ikrar Nusa Bakti yang juga berasal dari daerah yang sama seperti SBY, yaitu 
Jawa Timur, lewat pernyataannya ini telah memperlihatkan pemahaman pribadi nya 
mengenai siapa yang layak disebut “raja” dan siapa yang tidak. Dari 
pernyataannya tersebut, terlihat jelas bahwa SBY tidak termasuk ke dalam 
golongan “raja”. “Raja”, menurut Ikrar Nusa Bakti, yang berasal dari budaya 
Jawa yang terbiasa hidup dengan “konsep raja“, adalah suatu “golongan” yang 
sudah “ditentukan”. Untuk peneliti LIPI ini, “raja” hanya berlaku untuk 
orang-orang yang termasuk ke dalam “golongan benar-benar raja” saja. Sultan 
Hamengku Buwono, tampaknya adalah orang-orang yang termasuk ke dalam “golongan” 
yang “benar-benar raja” dalam pengertian Ikrar Nusa Bakti dan banyak lagi 
masyarakat Jawa di Indonesia.
Bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa orang-orang didaerah Sumatra Tengah 
yang menyebut dirinya sebagai orang awak, yang kemudian dikembangkan lebih 
lanjut oleh banyak orang awak yang dikenal sebagai orang Minangkabau atau orang 
Padang, tidak mempunyai kata yang sepadan untuk “raja”. Hal ini dikarenakan, 
orang-orang awak ini tidak mengenal “konsep raja”. Masyarakat yang tidak 
mengenal konsep “raja” atau “penguasa” ini, disebut juga sebagai masyarakat 
yang egaliter, atau masyarakat yang tidak mengenal tingkatan-tingkatan, 
kelas-kelas atau kasta-kasta. Oleh karena itulah, ketika pengaruh budaya Hindu 
dan Budha yang mengenal konsep “raja” ini, kata “raja” yang berasal dari bahasa 
Sanskrit yang merupakan bahasa dari kebudayaan Hindu dan Budha yang berasal 
dari daerah yang dikenal sebagai India sekarang ini, masuk ke dalam kosa kata 
bahasa orang awak. Kata ini kemudian juga menjadi bagian daripada Bahasa 
Indonesia yang merupakan
 turunan daripada bahasa daripada orang-orang yang menyebut dirinya orang awak 
di Sumatra.
Menurut orang Jawa, “raja” adalah suatu keniscayaan, bukan suatu konsep. 
Sejarah mereka memang adalah sejarah raja-raja, sejarah penaklukan, 
intrik-intrik kekuasaan, pembantaian, penggulingan, perebutan kekuasaan, 
perang. Sampai kinipun, mereka tetap tidak terlepas dari konsep “raja” ini 
dengan tidak tergoyangkannya kekuasaan daripada Sultan Hamengku Buwono, yang 
walaupun dalam Republik Indonesia hanya mempunyai status sebagai gubernur 
“Daerah Istimewa Yogyakarta” seumur hidup, akan tetapi bagi orang Jawa, ia 
adalah tetap “raja Jawa“. Karena itulah, tidaklah mengeherankan ketika seorang 
Ikrar Nusa Bakti mempertanyakan “perilaku bak raja” dari seorang SBY. Akan 
tetapi sebaliknya, ia menganggap bahwa raja-raja Jawa dalam sejarah Jawa maupun 
Sultan Yogyakarta sebagai “keniscayaan”. Tidaklah mengherankan, walaupun Sultan 
Hamengku Buwono boleh dikata telah merenggut hak setiap penduduk Yogyakarta, 
baik laki-laki dan perempuan, untuk
 bisa bermimpi menjadi gubernur Yogyakarta, hampir tidak ada usaha-usaha dari 
seorang pengamat politik seperti Ikrar Nusa Bakti ataupun anggota masyarakat 
Jawa lainnya untuk menggugat “ke-raja-an” seorang “Sultan Hamengku Buwono”. 
Sama halnya dengan tidak adanya usaha menggugat hak dari anggota masyarakat 
Yogyakarta itu sendiri untuk bisa menjadi gubernur di daerahnya sendiri ataupun 
hak masyarakat Indonesia lainnya untuk bisa menjadi gubernur dari salah satu 
propinsi Indonesia ini. Dibalik tameng “Daerah Istimewa“, kekuasaan Sultan 
Hamengku Buwono atas daerah yang bernama Yogyakarta yang tidak terbatas, hampir 
tidak mungkin digugat.
Hal ini hanya dimungkinkan oleh pandangan hidup yang menganggap bahwa 
golongan-golongan dalam masyarakat yang dikenal sebagai “raja” atau “penguasa” 
sebagai suatu yang “suci“, sesuatu yang “berasal dari Tuhan“,suatu “yang 
niscaya” atau sesuatu “yang diturunkan” ataupun “yang diwahyukan“. Padahal, 
kalau kita menyimak sejarah “golongan raja-raja” di dunia, maka akan kita lihat 
bahwa “raja” tidak lain adalah kekuasaan tanpa batas. Setiap “raja” yang pernah 
hidup di dunia ini, mencapai puncak daripada kekuasaan yang diwakili oleh kata 
“raja” ini melalui jalur kehidupan yanhg memang ditujukan untuk mencapai 
kekuasaan puncak itu sendiri. Proses kehidupan ini, bisa lewat penggulingan dan 
pembunuhan ayah, ibu, istri, kekasih,suami, anak, saudara, raja yang sedang 
berkuasa ataupun orang-orang lainnya. Proses ini juga bisa lewat pembantaian 
suku bangsa atatu yang lebih dikenal sebagai genosida, perang, pemerkosaam,
 dengan “menjilat pantat raja ataupun penguasa” yang sedang berkuasa, 
membungkuk-bungkuk, di hadapan orang yang dianggap lebih berkuasa, berhianat 
terhadap bangsa sendiri atau keluarga sendiri, bekerja sama dengan bangsa asing 
untuk menindas bangsa sendiri hanya agar mendapatkan bantuan asing dan 
lain-lain perbuatan serupa. Ini semua adalah proses-proses yang umumnya dilalui 
oleh setiap orang atau kelompok yang dikenal sebagai “golongan raja-raja” atau 
“penguasa” untuk memperoleh kekuasaan yang diwakili oleh kata “raja” atau 
kata-kata lainnya yang serupa seperti kaisar,emperor, ataupun sultan. Hal ini 
dilakukan untuk dapat mencapai kekuasaan yang menjadi tujuan hidup daripada 
orang-orang yang hidup dalam masyarakat patriarkat yang mengutamakan kekuasaan. 
Segala hal menjadi boleh atau halal, demi kekuasaan itu sendiri.
SBY dan Ikrar Nusa Bakti, dalam hal ini, adalah produk budaya Jawa, yang masih 
mengagungkan “raja”. Hanya cara mereka dalam memandang konsep ini yang berbeda. 
Bagi SBY, setiap orang Jawa bisa menjadi “raja”, dan berusaha untuk menjadi dan 
betingkah laku layaknya “raja”. Sedangkan Ikrar mengangap bahwa “raja” adalah 
suatu “yang niscaya” dan bukan suatu “proses menjadi“. SBY, seperi juga 
pendahulunya seperti raja-raja Jawa, sultan,sultan Jawa, Sukarno dan Suharto, 
bisa dikatakan berhasil dalam menjalankan pandangan hidup yang mendasari budaya 
Jawa ini; yaitu untuk memperoleh tempat di puncak daripada hirarki kekuasaan 
dengan segala cara yang mungkin. Oleh karena itulah, sepak terjang daripada SBY 
bisa dilihat dalam bingkai proses “menjadi raja“, layaknya “raja Jawa” dengan 
segala atribut kebesarannya danpelengkapkekuasaan yang gemerlap dan wah, 
seperti mobil seharga milyaran rupiah, deklarasi pencalonan presiden yang mewah,
 perayaan yang diselenggarakan di Istana Negara, dan lain sebagainya.
Kekuasaan, apapun itu, adalah bagian daripada kekuasaan yang lebih besar lagi. 
Apabila hal ini dipahami, maka posisi SBY yang memuja-muja Amerika Serikat 
sebagai negara keduanya bisa dilihat dalam konteks “bertingkah laku yang 
sepantasnya“, di hadapan “kekuasaan yang lebih besar lagi“, dalam hal ini 
kekuasaan yang lebih besar lagi ruang lingkupnya dalam hirarki kekuasaan dunia. 
Oleh karena itulah, di dalam sejarah para raja, hampir selalu ada kekuasaan 
asing yang mendukung seseorang atau sekelompok orang untuk menjadi “raja” atau 
menjadi “penguasa”.
Sejarah raja-raja Jawa ataupun sultan-sultan Jawa, sebagaimana sejarah 
raja-raja dan penguasa lainnya di dunia adalah sejarah yang berdarah-darah, 
penuh air mata, kesengsaraan dan penderitaan banyak orang, yang menjadi korban 
daripada proses seseorang atau sekelompok orang inindalam menjalani proses 
menjadi “raja” atau “penguasa”. Kisah Sukarno, Suharto dan Susilo Bambang 
Yudhoyono (SBY) sebagai produk budaya Jawa juga tidak ada bedanya. Hanya suatu 
pengulangan kisah yang sama sejak beribu-ribu tahun yang lalu yang terjadi di 
berbagai belahan dunia.
Kekuasaan, apapun bentuknya, menjadi dasar daripada fasisme. Di Indonesia 
sebagaimana layaknya di Jerman, fasisme ini mempunyai pijakan yang hampir sama 
yaitu budaya “raja-raja” yang berasal dari pandangan hidup Hindu. Di Indonesia, 
fasisme ini dikenal sebagai Jawaisme, Jawanisme atau fasisme Jawa. Di negara 
Jerman fasisme ini dikenal sebagai Nazisme atau fasisme Jerman.
-- 

~ dR

Powered by Indosat Berry-Berry®



      

--

You received this message because you are subscribed to the Google Groups "Ayo 
Ngguyu !!" group.
To post to this group, send email to [email protected].
To unsubscribe from this group, send email to 
[email protected].
For more options, visit this group at 
http://groups.google.com/group/pelawak?hl=en.


Kirim email ke