Hidup HENDRA MULYADI, calonkan jadi ketua PSSI. Pada 14 Januari 2010 12:05, Joko P <[email protected]> menulis:
> > > Manajemen Sepakbola Indonesia adalah Mismanajemen > Oleh Cardiyan HIS > > Tim nasional Indonesia babak belur. Benar-benar babak belur. Hancur-hancur! > Bayangkan saja, sejak menjuarai SEA Games 1991 di Manila, Filipina; > timnas Indonesia tak pernah juara lagi hanya untuk di kawasan Asean saja. > Puncak kehancuran sepakbola Indonesia memang terjadi di masa dua periode > kepengurusan Nurdin Halid. > Di kompetisi penyisihan U-19 Asia sebagai tuan rumah, timnas Indonesia > gagal masuk dua besar grup Asia karena tersisih oleh Jepang dan Australia. > Di SEA Games Laos, timnas Indonesia U-23 bahkan menjadi juru kunci babak > penyisihan grup di bawah Laos, Singapura dan Myanmar! Dan paling akhir di > penyisihan Piala Asia, timnas Indonesia senior jadi juru kunci setelah > dipastikan nasibnya oleh Oman 1-2 di stadion Senayan, 6 Januari 2010 ybl. > Padahal hampir 60 ribu penonton ikut memberikan dukungan penuh. Bahkan > seorang penonton fanatik Hendry Mulyadi sampai nekad menerobos penjagaan > ketat polisi untuk kemudian merebut bola dari pemain kedua kesebelasan dan > menggiringnya sampai berhadapan langsung dengan penjaga gawang Oman yang > berhasil membendungnya. Hendry tentu saja gagal “membantu” timnas Indonesia > menyamakan skor di menit-menit akhir pertandingan. Tetapi dia telah berhasil > mempermalukan pengurus PSSI yang tetap saja tak tahu malu dengan kegagalan > demi kegagalan mengelola persepakbolaan di Indonesia. > Menurut penulis, jelas ada mata rantai yang terputus untuk kebangkitan > sepakbola Indonesia. Biang utama penyebabnya adalah mismanajemen. > Mismanajemen di kepengurusan Nurdin Halid begitu terang benderang. Bagaimana > prestasi timnas Indonesia Yunior tidak berlanjut ke prestasi timnas > Indonesia Senior. Nah, kalau pun mulai tahun 2009 ini ada kompetisi > Indonesia Super League (ISL) U-21. Tetapi gregetnya belum meyakinkan. Karena > ternyata tidak semua dari 18 anggota klub ISL mengikuti kompetisi. Bahkan > kompetisi di bawahnya U-19, U-17, PSSI gagal memutar roda kompetisinya. > Maklum tidak semua klub anggota memiliki tim yuniornya. Padahal dalam aturan > ISL, hal ini sudah menjadi keharusan. Hanya ada kompetisi U-15 karena > kebaikan konglomerat migas Indonesia, Ir. Arifin Panigoro melalui > perusahaannya Medco menjadi sponsor tunggal. > Tetapi mengapa di tahun 1972 dan tahun-tahun sebelumnya prestasi timnas > Indonesia Yunior selalu bisa berlanjut ke prestasi timnas Indonesia yang > hebat? Coba perhatikan data berikut ini: > Kejuaraan Piala Asia Yunior 1960: Indonesia juara 3. > Kejuaraan Piala Asia Yunior 1961: Indonesia juara 1. > Kejuaraan Piala Asia Yunior 1962: Indonesia juara 1 > (Tahun 1963-1966: Indonesia tak mengikuti kejuaraan internasional karena > situasi Tanah Air yakni ada perjuangan Trikora untuk pembebasan Irian Jaya > dan Dwikora, Indonesia berkonfrontasi dengan Malaysia). > Kejuaraan Piala Asia Yunior 1967: Indonesia juara 2 > Kejuaraan Piala Asia Yunior 1970: Indonesia juara 2 > Kejuaraan Pelajar Asia 1984: Indonesia juara 1 > Kejuaraan Pelajar Asia 1985: Indonesia juara 1 > Kejuaraan Pelajar Asia 1986: Indonesia juara 1 > Coca Cola Cup Group VII Zone Asia 1986: Indonesia juara 1 > > Coba bandingkan dengan prestasi timnas Indonesia Senior berikut: > Turnamen Merdeka Games, Kuala Lumpur, 1960: Indonesia Juara 1 > Turnamen Merdeka Games, Kuala Lumpur, 1961: Indonesia Juara 1 > Turnamen Agha Khan Gold Cup, Dhaka, 1961: Indonesia Juara 1 > Sepakbola Asian Games IV, Jakarta, 1962: Indonesia Juara 2 > Turnamen Merdeka Games, Kuala Lumpur, 1962: Indonesia Juara 1 > Turnamen Agha Khan Gold Cup, Dhaka, 1966: Indonesia Juara 1 > Turnamen Agha Khan Gold Cup, Dhaka, 1967: Indonesia Juara 1 > Turnamen Agha Khan Gold Cup, Dhaka, 1968: Indonesia Juara 1 > Turnamen King’s Cup I, Bangkok, 1968: Indonesia Juara 1 > Turnamen Agha Khan Gold Cup, Dhaka, 1968: Indonesia Juara 1 > Turnamen Merdeka Games, Kuala Lumpur, 1969: Indonesia Juara 1 > Turnamen King’s Cup II, Bangkok, 1969: Indonesia Juara 2 > Turnamen Agha Khan Gold Cup, Dhaka, 1970: Indonesia Juara 2 > Turnamen Jakarta Anniversary Cup I, Jakarta, 1970: Indonesia Juara 3 > Turnamen Queen’s Cup, Bangkok, 1971: Indonesia Juara 1 > Turnamen President’s Cup, Seoul, 1971: Indonesia Juara 2 > Turnamen Merdeka Games, Kuala Lumpur, 1971: Indonesia Juara 2 > Turnamen Jakarta Anniversary Cup II, Jakarta, 1972: Indonesia Juara 1 > Turnamen President’s Cup, Seoul , 1972: Indonesia Juara 2 > Pesta Sukan, Singapura, 1972: All Indonesian Final (Indonesia & B) > Kalau melihat data di atas secara gamblang terlihat ada keterlanjutan > antara prestasi timnas Indonesia Yunior ke prestasi timnas Indonesia Senior. > Mengapa hal itu bisa terjadi? > Karena pada jaman itu Indonesia cukup dengan mengandalkan talenta luar > biasa yang dimiliki para pemainnya yang dilatih secara baik oleh pelatih > asal Yugoslavia, Tony Pogacknik. Plus “manajemen dari hati ke hati” oleh > para pengurus PSSI yang mampu membangkitkan nasionalisme pemain sehingga > daya juang pemain meningkat, meskipun mereka hanya menerima honorarium > selama pelatnas dan tidak menerima gaji tetap. Yang ada adalah iming-iming > heroik: > “Akan diterima oleh Presiden RI, Bung Karno, di Istana Merdeka jika > berhasil menjadi juara”. Maklum saja, soal dana PSSI semata-mata hanya > mengandalkan hasil jualan karcis manakala timnas Indonesia melawan > kesebelasan asing kelas dunia main di stadion Senayan, Jakarta. Ditambah > sedikit saja dari para donatur gila bola. Sementara pada sisi lain, di > hampir semua negara Asia belum ada kompetisi sepakbola profesional. Sehingga > pertumbuhan kualitas sepakbola Asia tidak berkembang sepesat seperti > sekarang ini yang sudah merupakan era kompetisi profesional. > Maka adalah sangat membanggakan, ketika Indonesia yang dijuluki oleh > Presiden FIFA sebagai “Brazil Asia” berhasil menduduki posisi elite > sepakbola Asia bersama Israel (ketika itu masih masuk zona Asia, belum masuk > ke zona Eropa seperti sekarang), Burma (Myanmar sekarang) dan Iran. > Kesebelasan Jepang dan Korea Selatan itu dulu dipermak rata-rata 4-0 oleh > Indonesia. Taiwan bahkan pernah dicukur oleh Soetjipto Soentoro dengan skor > 11-1 di Merdeka Games 1969. Jangan ceritera soal Thailand, Malaysia dan > Singapura, mereka nggak level dengan Indonesia. Sedangkan jazirah Arab > (Timur Tengah) bahkan ”belum bisa bermain sepakbola” karena federasi > sepakbola pun mereka belum punya . Seperti diketahui di negara-negara Arab > berkembang pesat sepakbolanya dengan merekrut pelatih kelas dunia asal > Brazil ketika negara mereka mendapat anugerah minyak bumi dan gas mulai > pertengahan tahun 1970-an). > Bayangkan. Tim Asian All Stars 1966-1970 itu 4 pemainnya berasal dari > Indonesia yakni Soetjipto Soentoro (sekaligus bertindak sebagai kapten), > Jacob Sihasale, Iswadi Idris dan Abdul Kadir. Bahkan kalau nggak malu hati > sama negara-negara lain, Basri, Aliandu, Anwar Ujang , Sunarto, Yuswardi dan > Yudo Hadiyanto pun sebenarnya mau ditarik oleh AFC (Asian Football > Confederation) untuk mengisi skuad bintang-bintang Asia tersebut. > > JEPANG PUN BELAJAR KE INDONESIA > Bahkan untuk masalah manajemen sepakbola, Jepang benar-benar belajar dari > Indonesia manakala mereka mempersiapkan J-League yang diluncurkan pada tahun > 1982. Mengapa? Karena Indonesia sudah memiliki liga sepakbola utama Galatama > yang dimulai tahun 1979 di era Ali Sadikin. Fandi Ahmad dan David Lee > (Singapura) memperkuat Niac Mitra dan Jairo Matos (Brazil) memperkuat > Pardedetex, Medan. > Seiring dengan persiapan J-League, pada tahun 1981 itu pula timnas Jepang > dikirim ke Indonesia. Namun timnas Jepang diajarin bagaimana bermain > sepakbolaâ oleh timnas Indonesia yang dikapteni Ronny Pattinasarani . Kiper > timnas Jepang, Taguchi harus memungut bola dari jalanya sampai 4 kali. > Timnas Indonesia memang menang telak 4-0 pada uji coba di stadion Senayan > itu. Pada pertandingan itu Ronny Patti (libero) bersama Risdianto (striker) > memimpin pemain-pemain muda berbakat seperti Mettu Duaramuri, Herry > Kiswanto, Budi Juhanis, Didik Dharmadi, Purwono (kiper). > Dan atmosfir pertandingan Galatama ketika itu juga sangat mendukung. Kalau > klub Warna Agung (Ronny Patti dkk), Indonesia Muda (Djunaedi Abdilah dkk) > dan Jayakarta (Iswadi Idris dkk) bertanding melawan Niac Mitra (Fandi Ahmad > dkk) atau Pardedetex (Jairo Matos dkk), maka stadion Senayan dengan > kapasitas 110.000 pun penuh sesak. > Namun dalam perkembangan kemudian, setelah Ali Sadikin dilengserkanâ > Presiden Soeharto, kompetisi PSSI pun ikut-ikutan melorot. Suap merajalela > merasuki pemain, wasit dan juga pengurus. Judi sepakbola menambah runyamnya > nasib sepakbola Indonesia karena konon mafianya berporos Semarang-Jakarta- > Kuala Lumpur-Hong Kong-Makao. Maka Galatama hancur lebur. > Nah mengapa J-League sekarang jauh lebih bersinar dibanding Indonesia Super > League? Karena Jepang memiliki manajemen bagus ditopang dana yang banyak . > Sehingga setiap klub mampu merekrut sedikitnya tiga pemain berstandar Eropa > atau dunia. Ditambah industri negaranya yang sangat maju dan mau menjadi > sponsor J-League. Semua stake holder kompetisi J-League sangat berperilaku > profesional dan sangat kondusif bagi tumbuh kembangnya kompetisi. > Tak mengherankan bila kompetisi yang bagus bermuara ke timnas Jepang yang > bagus pula. Jepang sekarang adalah mirip bahkan melebihi Indonesia pada > jaman keemasan dulu. Sekarang timnas Indonesia belum pernah menang lagi > lawan timnas Jepang. Timnas Jepang sudah menjadi pelanggan wakil Asia > bersama Korsel ke Piala Dunia. Bahkan sekarang pemain-pemain Indonesia sudah > kalah sebelum bertanding bila mendengar nama besar Sunshuge Nakamura (pemain > top di La Liga Spanyol). > > PERPUTARAN UANG RP. 1 TRILIUN > Kompetisi sepakbola Indonesia sih namanya paling keren yakni ISL alias > Indonesia Super League. Nama internasional tetapi mutu lokal. Manajemen > sangat buruk pada PSSI, menjadi biang keladi kegagalan timnas Indonesia > bangkit dari keterpurukan. Padahal potensi penonton sepakbola Indonesia > sangat luar biasa. Stadion Jalak Harupat, di Bandung disesaki 50.000 > penonton kalau Persib bermain. Begitu pula stadion di Gajayana dan atau > stadion Kanjuruhan di Malang kalau Arema Malang bermain akan disesaki 40.000 > penonton pula. Rata-rata perolehan dari penjualan karcis kalau Persib main > bisa didulang Rp. 700 juta. Kasus derby Malang antara Arema lawan Persema > pada tanggal 10 Januari 2010 ybl bisa meraih angka Rp. 1,39 miliar ! Angka > ini pasti akan bertambah kalau perolehan dari iklan outdoor dan penjualan > siaran langsung TV juga dihitung! Dan kalau saja pertandingan Persija lawan > Persib dibolehkan dilangsungkan di stadion Senayan, maka 88.000 penonton > (kapasitas > maksimal Senayan sekarang pasca Piala Asia) pasti akan menonton “super big > match” ini. Dan ujung-ujungnya duit pun akan lebih banyak didulang kalau > dilihat harga tiket dan kapasitas stadion Senayan lebih besar dari stadion > di Malang. > Jadwal kompetisi amburadul. Padahal pengurus PSSI melalui liga ISL telah > menggembar-gemborkan; “hanya gempa bumi dan tsunami yang akan bisa mengubah > jadwal kompetisi”. Akibatnya kondisi fisik dan mental pemain menjadi hancur > sehingga rawan cedera dan mudah keluar emosi. Akibatnya mudah menyulut > terjadinya tawuran sesama pemain bahkan pemain memukul wasit. Ini juga > antara lain karena integritas wasit pun belum bisa dipercaya. Komplit sudah > bila ditambah penonton mengamuk dan membakar dan merusak apa saja yang ada > di depan mata, di stadion bahkan sampai ke luar stadion. Namun manakala > Komisi Disiplin dan Komisi Banding telah menjatuhkan sanksi keras kepada > para pelaku, eh malah dianulir oleh “hak prerogratif” Ketua Umum PSSI, > Nurdin Halid!!!! Bagaimana para pelaku kerusuhan akan menjadi jera. > Kemudian konsep dibolehkannya 5 pemain asing (3 Non Asia dan 2 Asia) main > dalam satu pertandingan ISL, telah mengawali penghambatan potensi maju > pemain lokal. Karena terlalu sering duduk di bangku cadangan, para pemain > lokal bahkan yang sudah berstatus pemain nasional sekalipun menjadi tidak > berkembang kemampuannya. Yang rugi ujung-ujungnya tim nasional juga. > Ditambah jadwal kompetisi molor berakibat setiap persiapan pelatnas timnas > selalu terkendala. Kalau tidak lengkap semua pemain terkumpul; kendala yang > lain adalah kondisi fisik dan mental pemain sudah kelelahan dan jenuh karena > jadwal kompetisi yang amburadul tadi. > Karena jadwal kompetisi yang amduradul ini pula. Maka belanja klub lebih > hancur-hancuran lagi. Karena dengan mengembangnya waktu, maka belanja > menjadi tambah tidak terkendali. Padahal sebagian besar klub masih > mengandalkan biaya APBD. Kalau rata-rata setiap klub dari 18 klub ISL yang > ada membelanjakan masing-masing Rp 15 miliar per musim kompetisi saja. Maka > ada sedikitnya perputaran uang Rp. 270 miliar. Padahal klub besar seperti > Persib Bandung sampai menyedot dana APBD Kodya Bandung Rp. 30,57 miliar pada > musim kompetisi 2008-2009 ybl. (Kini Persib setelah memiliki PT. Persib > Bandung Bermartabat memiliki dana Rp. 30 milyar untuk mengarungi kompetisi > ISL 2009-2010 ini). Tahun lalu Persija Jakarta bahkan lebih besar lagi yakni > Rp. 42 miliar. Tetapi hasilnya? Persib hanya urutan ketiga dan Persija lebih > tragis lagi yakni hanya urutan ketujuh. > Perputaran uang di sepakbola Indonesia ini akan semakin menggila bila > ditambah dana yang diserap oleh PSSI dari pabrik rokok Djarum yakni > sedikitnya Rp. 50 miliar. Ditambah sumbangan tetap FIFA sebesar US$ 1 > juta/tahun. Belum ditambah lagi penjualan hak siar televisi ke Anteve untuk > 150 siaran langsung dan tunda liga ISL. Plus hasil jualan iklan outdoor di > sekitar stadion Senayan dan stadion-stadion di seluruh Indonesia yang tak > ketahuan berapa jumlahnya. Plus transfer fee yang diperoleh dari jual beli > pemain. Plus hasil penjualan tiket kepada penonton. Plus perolehan bila ada > pertandingan internasional resmi agenda FIFA maupun bukan resmi. Plus donasi > pribadi-pribadi gila bola yang juga gelap gulita berapa jumlahnya. Plus bila > belanja pada kompetisi Divisi Utama PSSI, Divisi Satu PSSI dan Divisi Dua > PSSI ditambahkan ke dalam perputaran uang disini. Plus dan plus bila > kejuaraan yang berbeda yakni Copa Dji Sam Soe untuk Piala Indonesia yang > diikuti oleh > klub ISL dan Divisi Utama juga turut dijumlahkan dalam perputaran uang ini. > Maka perputaran uang sepakbola Indonesia bisa mencapai sebesar Rp. 1 triliun > !!! > Karena sepakbola Indonesia adalah sudah merupakan persoalan manajemen yang > mismanajemen. Maka untuk memecahkannya pun adalah melalui pendekatan > manajemen. Nah para ahli manajemen tinggal melihat dan mengelolanya dari > hal-hal yang tangible dan intangible pada peta profil sepakbola Indonesia > ini. > > >--
You received this message because you are subscribed to the Google Groups "Ayo Ngguyu !!" group.
To post to this group, send email to [email protected].
To unsubscribe from this group, send email to [email protected].
For more options, visit this group at http://groups.google.com/group/pelawak?hl=en.
