Siapa yang tidak akan pilu mendengar sejumlah tentara marinir TNI-AL membabi 
buta melancarkan peluru ke sejumlah warga di Pasuruan di lokasi Prokimal 
(Proyek Pemukiman Angkatan Laut) yang menyebababkan 4 orang meninggal dan 5 
orang terluka. Warga tidak berdosa harus menanggung kebiadaban dan tindakan 
amoral yang dilakukan oleh oknum penjaga keamanan negara, yang seharusnya 
bertugas untuk menjaga keamanan warga malah menghabisi warga. Jiwa yang 
melayang harus rela menjadi tumbal percekcokan TNI-AL dengan warga yang 
berkenaan dengan tanaman singkong milik warga dan kepentingan TNI-AL untuk 
menanam tanaman tebu dan mangga. Kemana otakmu TNI-AL? kenapa hanya untuk 
persoalan tanaman harus melayangkan sejumlah jiwa penduduk tidak berdosa? 
Apakah tugasmu? untuk menanam tebu atau mangga?
   
  Dilaporkan, Jawapos 31 Mei 2007, bahwa salah satu korban, yeng bernama 
Khatijah, harus kehilangan nyawa saat dia sedang menjalankan tugas 
kesehariannya sebagai ibu rumah tangga, ketika dia sedang memarut kelapa di 
musalla yang berada di depan sudut rumahnya, permpuan usia 30 tahun itu, 
menerima terjangan peluru nyasar tepat di kepalanya dan tembus ke belakang dan 
isi kepalanya keluar muncrat ke mana-mana. Demikian juga yang dialami oleh 
Mistin, dia menyambut kematian saat berada di dapur, dan ketika itu dia juga 
sedang menggendong anaknya yang masih berusia tiga tahun; dia pasrah menerima 
peluru di dadanya yang kemudian tembus mengenai anak yang digendongnya.
   
  Jika petugas yang berwenang untuk menjaga rakyat saja tindakannya brutal 
seperti itu, bagaimana dengan para preman jalanan yang tugasnya memang untuk 
menciptakan kekacauan?. Saya tidak mengerti mengapa petugas seperti TNI-AL itu 
tidak bisa memakai otak untuk menuntaskan permasalahan sepele, yang hanya 
berkaitan dengan tanaman, yang otomatis hanya berkaitan dengan perut belaka dan 
tidak lebih daripada sekedar kepentingan basic binatang? mengapa harus 
mengerahkan sejumlah personel marinir sebanyak 11-15 orang? Apakah mereka 
tugasnya menindas rakyat? bukan untuk mengayomi rakyat dan menjaga keamanan 
mereka? tidakkah mereka terdidik sebelum mereka dilantik? atau tidakkah mereka 
diajari etika penggunaan senjata?
   
  Senjata di negara maju meski bebas dibawa ke mana-mana, namun dilarang 
dipamerkan di depan umum, apalagi untuk menembak sembarangan dengan tanpa 
alasan yang cukup akal, ini bagi sipil; bagi petugas keamananpun juga dilarang 
menembakkan peluru hanya disebabkan cekcok mulut, apalagi hal-hal yang bisa 
diselesaikan dengan damai. Karena mereka lebih mengedapankan rasio dan mamfaat 
yang lebih besar daripada emosi dan kepentingan yang bersifat sementara dan 
merugikan. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana kebebasan di Indonesia bisa 
eksis, jika sedikit-sedikit aparat hukum negara mengarahkan tembakan kepada 
siapa saja yang dianggap melawan salah satu anggota petugas keamanan, dan tidak 
segan-segan mengerahkan pasukan untuk menghabisi warga yang dianggap 
menghalangi kepentingan mereka. Apakah negara milik mereka?
   
  Betul kata teman saya, ketika dia baru sampai di Indonesia, dia bercerita 
bahwa dia tidak bisa keluar ke mana-mana karena dia belum memiliki KTP, dan 
Paspor International dia baru habis masa berlakunya, dia takut sama keamanan 
dan polisi di sana. Kenapa petugas keamanan harus ditakuti? bukankah petugas 
keamanan tugasnya melindungi keamanan kita? kok malah ditakuti?. Tidak salah 
pula jika pemerintah Australia menuduh Indonesia telah menembak empat jurnalis 
Australia di Timor Timur, sekitar lima belas tahun yang lalum dan sekarang 
meminta pertanggung jawaban Indonesia. Jika kemudian terbukti hal itu benar, 
maka jumlah tumbal warga negara Indonesia untuk perbuatan petugas kemanan akan 
bertambah. Sampai kapan Indonesia menjadi negara aman, bebas dari teror dan 
terorisme jika aparat sendiri sering menimbulkan teror di dalam kehidupan 
warga?[Fosi Frenzy]

 
---------------------------------
The fish are biting.
 Get more visitors on your site using Yahoo! Search Marketing.

Kirim email ke