kebanyakan buku buku dari penulis orang  advent sangat bagus dan bermutu 
tinggi. Tapi sayangnya buku buku tersebut hanya dipasarkan oleh Toko buku 
advent(ABC) saja, atau dibawa oleh penjual buku advent... dan uniknya lagi 
kebanyakan ditawarkan  kepada orang advent juga, sehingga fungsi buku untuk 
mengajarkan kebenaran kepada semua orang kurang effektif.
Yang kedua...banyak penulis advent yang menulis buku bukunya lalu di cetak di 
IPH(indonesia publishing house) hanya dihargai 1 % fee nya dari buku buku yang 
dicetak dan terjual, sepeertinya ini  tidak manusiawi. informasi ini saya 
dapatkan dari teman saya  yang bekerja sebagai editor buku terkenal.
How about this??

  ----- Original Message ----- 
  From: harris budi 
  To: [EMAIL PROTECTED] ; [email protected] 
  Sent: Wednesday, August 06, 2008 1:21 PM
  Subject: [Pemuda Advent] Melawat Kiprah Buku di Milis Advent


        Once Upon a time in Festival Jambrut, 3 februari 2008, banyak 
"pedagang" dadakan  mencari dana dgn menjual dagangannya, sementara pengunjung 
tumpah ruah ke lapangan tempat diadakannya Parhelatan itu. Di tengah-tengah 
sesaknya kerumunan pembeli dan pedagang, pedagang pakaian, jasa, makanan dan 
minuman, hanya Jemaat Taman Harapanlah yg berdagang buku. Buku rohani tentunya. 
Tak banyak yg belanja buku itu, mungkin minat baca orang pada saat itu sedang 
menurun. Justru orang lebih suka mendengar seminar, kotbah dari pada membaca 
buku. Itulah barangkali makanya ada orang yg tahu isi sebuah buku sementara dia 
tak pernah membaca buku tersebut.

        Kita tahu dari mendengar, bahwa, “Apa arti sebuah nama?” adalah 
ungkapan yg berasal dari buku karangan William Shakespeare. Padahal, 
jelas-jelas kita tak pernah membaca buku itu, kita tahu dari mendengar orang 
lain, dan toh kita percaya-percaya saja.

        Dulu, tatkala masih kecil, masih ingusan dan masih senang berbugil ria 
di bawah siraman hujan, sedikit dari kita yg suka baca buku rohani tapi banyak 
yg senang baca buku silat, kho ping ho. Maklumlah anak-anak. Sangking enaknya 
cerita silat itu,  otomatis banyak mengajarkan kita utk merawat dan mencintai 
buku silat tsb. 

        Di dalam cerita itu, ternyata sering sekali ada kisah-kisah berdarah, 
bahkan yg menyangkut jatuh bangunnya sebuah kerajaan, punahnya sebuah dinasti, 
gara-gara perebutan sebuah buku. Siapa yg menguasai buku yg diburu & 
diperebutkan itu, seakan-akan memegang kunci kekuasaan dalan dunia persilatan. 
Barangkali buku sdh menjadi mitos dalam cerita itu. Dimana ilmu persilatan 
diwariskan lewat sebuat buku. Dan buku selalu dianggap sbg barang tunggal yg 
tak ada tembusannya. Barang langka yg tak punya duplikat. Kalau toh ada 
salinannya, mungkin beberapa lembar yg berisi jurus maut sdh hilang. 
Lembaran-lembaran kunci yg bisa bikin kacau. Siapa yg berhasil menguasai buku 
original, berarti sekaligus menguasai ilmu persilatan yg akan mengantarkannya 
ke puncak kekuasaan. 

        Dalam konteks sekarang, tentu saja hal ini tdk masuk akal. Karena buku 
hanyalah bayangan dari pengetahuan. Pengetahuan disebarkan tdk hanya lewat 
buku. Dan buku tdk pernah lebih penting dari pengetahuan itu sendiri.

        Satu buku, (Alkitab, Alquran, Kitab Roh Nubuat dll), sekali naik cetak 
bisa puluhan ribu duplikatnya, yg semuanya sama. Demikian halnya dengan 
Alkitab, dimana karya sastra yg juga merupakan sumber pernyataan Allah ini, 
mempunyai duplikat yg sangat banyak & naik cetak sapanjang  massa. Mitos buku 
asli sdh runtuh. Yang kemudian bangkit adalah mitos kepada ilmu pengetahuannya 
& mitos kepada Informasinya. Siapa yg lebih menguasai pengetahuan , siapa yg 
lebih menguasai informasi, mendapat tiket sbg pemenang, baik dalam diskusi, 
perdebatan  maupun sebagai bahan kotbah.

        Adalah keliru kalau kita memuja buku & melupakan informasi pengetahuan 
yg merupakan isi buku tersebut. Bahkan keliru pula apabila kita memuja ilmu 
pengetahuan dalam buku sebagai yg segalanya dan tiada duanya. Bahkan lebih 
keliru lagi apabila kita menjadikan buku sebagai tuhan kita,padahal, sejatinya, 
Tuhanlah yg seharusnya menjadi buku kita, seperti ditulis dalam buku Pena 
Inpsirasi bang Ucok.

        Buku walaupun bukan lagi merupakan barang langka, tetapi tetap 
merupakan jembatan emas. Karena buku tetap seakan-akan alat angkut resmi ilmu 
pengetahuan kemana-mana. Dengan sebuah buku di tangan yg berisi sari-sari 
filsafat, kita seakan-akan sudah dijaga oleh tentara yg kuat dalam memberikan 
argumentasi di dalam forum diskusi. Sebuah argumentasi nampak kuat kalau sudah 
didukung oleh deretan refrensi buku. Dengan menyebutkan nama sebuah buku, tak 
jarang kita langsung bisa membuat keder seseorang, manakala sedang berdiskusi 
di milis-milis Advent.

        Buku menjadi sebuah simbol. Buku menjadi status.

        Lewat milis-milis Advent, kita dapat menguasai pengetahuan yg ada dalam 
buku, tanpa harus memiliki bukunya. Isi buku itu berpindah lalu hidup di dalam 
kepala kita dan terkadang terlepas & berkembang menjadi sebuah alam pikiran 
baru. Kalau terjadi lompatan-lompatan yg sedemikian jauhnya, baru orang 
teringat kembali pada sumbernya. Pada waktu itu, apa yg terjadi dalam cerita 
silat bisa berulang kembali. Orang mencari buku sumbernya, untuk mencocokkan 
apakah alam pikiran itu murni atau sudah melenceng. Dan kalau sudah melenceng 
sudah berapa jauh?

        Barangkali soal kecil ini pantas mendapat perhatian. Oleh karena itu, 
di sinilah kita harus memilih satu atau bahkan sekelompok buku yg dapat 
berperan sebagai panutan yg paripurna, sehingga tidak terjadi lagi polemik 
terhadap pembahasan-pembahasan yg ada di milis padki, konferens-dki dan 
pemuda-advent. Buku menjadi pahlawan. Buku menjadi standarisasi.

        Buku adalah sesuatu hal yg menarik untuk diperbincangkan, ditelaah tapi 
tidak untuk dibeli. Mahal, katanya. Kita, SDA, tidak pernah lepas dari buku. 
Setiap pagi kita mengawali aktifitas kita dengan membaca buku. Buku Penunggu 
(Renungan) pagi, salah satunya.

        Namun, seiring berkembangnya zaman, barangkali kita harus berhati-hati 
dengan buku atau justru kita berterima kasih atas kehadirannya. Dia mampu 
menjungkir-balikkan fakta (sejarah), mengaburkan batas imajinasi & pengalaman 
konkrit, membaurkan antara emosi & pikiran, menyalakan kembali kepekaan naluri, 
ketajaman insting & kepiawaian otak.

        Dengan membaca buku, berati kita sudah membuat,  melakukan, mencari & 
mendapatkan suatu peradaban. Apakah peradaban itu baik atau buruk pengaruhnya, 
itu tergantung bagaiman cara kita melahapnya.

        Buku yg baik adalah buku yg memberikan pencerahan terhadap pengalaman 
hidup agar lebih menghayati diri sendiri, orang lain, kehidupan, alam semesta & 
juga masalah-masalah yg pelik. Buku mengantar pembaca kepada dirinya & orang 
lain.

        Membaca buku layaknya orang yg bertapa. Untuk mendapatkan pemahaman 
lebih jauh pada makna-makna. Untuk dapat menangkap segala sudut, untuk dapat 
berpikir dengan lebih bulat, lengkap & tuntas.

        Buku yg baik bukan hanya cerita yg menarik. Bukan hanya hiburan yg 
membuat senang sesaat. Bukan hanya tumpukan kata-kata mutiara yg setiap kali 
bisa gugur. Bahkan bukan juga jurus-jurus & kata-kata besar yg sarat oleh 
ide-ide & filsafat namun gagap dalam kehidupan nyata.

        Buku itu ibarat sebuah mesin yg senantiasa bekerja, sebuah bom yg 
hidup. Ia hidup kembali setiap kali dibaca lagi. Ia hidup, tumbuh, berkembang 
bersama zaman, manusia & tuntutan kehidupan.

        Buku harus bisa sebagai instrumen yg sempurna, ia harus memenuhi 
persyaratan yg bisa menembus ruang & waktu sehingga dapat dipakai oleh manusia 
segala zaman, manusia segala tingkatan, manusia dari segala paham, dari segala 
jenis manusia, yg luhur maupun yg bejat sekalipun. Sebagai buku, 
sosok/performance seperti itu hanya dapat ditemui pada Buku Roh Nubuat.

        Buku Roh Nubuat, menulis kembali dirinya setiap saat. Lahir kembali 
setiap dibaca. Ia lentur. Ia ditulis menjadi buku sbg investasi yg tak 
habis-habisnya untuk digerogoti dimasa depan.

        Buku Roh Nubuat melangkah jauh mendahului kesadaran kita. Ia adalah 
sebuah karya yg jenius. Dan karena kejeniusannya, ia pun dengan sendirinya 
terpahami oleh manusia masa kini. Buku Roh Nubuat adalah buku yg baik. Buku Roh 
Nubuat adalah sebuah karya spritual.

        Buku lain (katakanlah begitu) merupakan irisan bahkan himpunan bagian 
dari buku Roh Nubuat. Maka tak jarang di milis ini kita jumpai buku lain 
tersingkir, mundur dibikin Buku Roh Nubuat saat bertempur di dalam 
perdebatan-perdebatan.

        Sebuah buku, bukan lagi sebuah buku, atau tidak akan menjadi sebuah 
buku kalau tidak dibaca. Ia akan sama dengan meja, kursi dan hiasan keramik 
kalau hanya dibeli dan dipajang.

        Seorang anggota milis Advent yg marahnya lebih jelas dari isi 
tulisannya berkata bahwa buku itu seperti wanita. Pria akan tertarik mendekati 
wanita oleh karena kecantikan parasnya dan kemolekkan tubuhnya.

        Wujud fisik buku itu juga memiliki kekuatan yg merangsang yg memotivasi 
orang utk menyelam ke dalam pengetahuan yg ada di perut buku itu. Karena secara 
manusiawi, acapkali ditemukan bahwa bukan bukulah yg merupakan pintu pertama 
memasuki alam pikiran di dalam buku itu. Perwajahan atau Cover yg seronok 
(sedap dilihat,menyenangkan hati), dapat memberi sugesti agar orang 
menjamahnya. Tidak jarang orang mulai mengarungi ilmu pengetahuan dgn awal 
iseng-iseng karena tertarik pada keindahan kemasan buku. Karenanya para 
penerbit buku berlomba-lomba menempatkan soal wujud fisik, soal perwajahan, 
bukan sebagai barang main-main. Dana-dana besar dengan tidak ragu-ragu 
dialokasikan dipenampilan buku. Bukan maksud ingin mengalahkan isi, tetapi 
barangkali perlulah produsen buku Roh Nubuat memperhatikan, memperbaiki 
keindahan dari pada kemasan bukunya. Tidak untuk mengalihkan perhatian orang 
dari buku hanya semata-mata pada isinya tok, tetapi kedua-duanya mesti berada 
dalam perimbangan.








        -Kocu Ratuhapis-



        (Diadopsi dari : Tulisan Pena Inspirasi bang Ucok : "Jangan sampai buku 
menjadi Tuhanmu, melainkan Tuhanlah yg menjadi bukumu".)


       



   

Kirim email ke