Kabar-Baik : Olympic Bible

"Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian 
bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya." (Matius 24:14)


"Tidak ada Juruselamat dunia, tidak ada Tuhan!" demikian secuplik lyric lagu 
The Internationale, yaitu lagu wajib kaum komunis yang menolak keberadaan 
penguasaan Ilahi. Agaknya mustahil apabila ada pemerintah dengan sistem komunis 
memprakarsai mencetak sebuah Kitab-Suci sebuah "agama" yang mengakui keberadaan 
Tuhan dan Sang Juruselamat. Namun, yang mustahil itulah yang kini sedang 
terjadi dan beritanya masih hangat disiarkan di berbagai berita di jaringan TV 
Nasional CCTV dan beberapa TV asing beberapa hari ini.

Terhadap penyelenggaraan Olimpiade di Beijing, pemerintah setempat mendapat 
banyak pergunjingan dari berbagai pihak, terutama pihak barat, hal-hal yang 
berkaitan dengan isu HAM termasuk kebebasan beragama, baik dari kaum sekuler 
maupun kaum religius Kristiani. Ada beberapa website Kristen yang menulis 
adanya larangan para atlit dan pengunjung asing membawa Alkitab masuk ke China, 
dan rumor bahwa Alkitab di China hanya dapat diperoleh dengan menyelundup/ 
rahasia, dan juga rumor bahwa sampai sekarang hanya ada gereja bawah tanah 
disana. Untuk menanggapi rumor tersebut, Pemerintah China tidak memakai 
cara-cara kekerasan atau dengan cara diplomasi verbal menolak rumor tersebut, 
sebaliknya mereka memakai cara diplomasi yang elegan untuk menggapinya yaitu 
dengan tindakan membagikan-bagikan Alkitab edisi Olimpiade Beijing secara 
gratis yang disebar di gereja-gereja di Beijing untuk para pengunjung dan di 
kawasan 'Olympic Village' bagi para Atlit yang memerlukannya. Plus mereka 
menjamin tidak ada larangan gereja harus tutup, semua orang boleh ke gereja 
kapan saja. Mereka berusaha menjadi tuan-rumah yang baik, sebagai penyelenggara 
yang baik, mereka bahkan mengharuskan semua tempat dugem/ nite-club/ karaoke 
tutup total selama Olimpiade, ini lebih-lebih dari masa Ramadhan disini. Suatu 
langkah yang 'pintar' untuk membungkam rumor. 

Alkitab gratis edisi Olimpiade ini walaupun hanya berisi 4 Injil (Matius - 
Markus - Lukas - Yohanes), namun ini merupakan suatu pemilihan yang tepat, 
karena bagi umat Kristiani, di sinilah sentral dari Alkitab kita yang berisi 
tentang berita keselamatan dan pengajaran Kristus sendiri. Ke-4 Injil ini sudah 
merupakan simbol dan pernyataan yang tegas bahwa Alkitab kita tidak dilarang 
beredar di negeri dengan sistem Komunis itu. Tak perlu kita berfikir jauh-jauh 
bahwa pemerintah China "sudah bertobat" atau bahkan "sudah convert menjadi 
Kristen". Kita tahu betapa kuat mengakarnya komunisme sebagai ideologi negara 
itu. Barangkali ada diantara kita memandang langkah mereka dengan sinis : 
kemungkinan pencetakan Alkitab edisi Olimpiade hanyalah cara "marketing, public 
relation, propaganda" mereka demi suksesnya penyelenggaraan Olimpiade. Apapun 
alasannya, mari kita lihat kepada dimensi yang lain, bahwa hal ini juga bukan 
kehebatannya Hu Jintao sebagai pemimpin negara. Namun, ada campur tangan kuasa 
yang lebih tinggi yaitu Allah kita, dimana didalam penyelenggaraan Olimpiade 
ini nama Tuhan kita Yesus Kristus dimuliakan. Barangkali Allah sedang 
menunjukkan kehendak-Nya, bahwa ini saat yang tepat, dan Diapun dapat bekerja 
melalui orang-orang yang belum percaya kepada-Nya sekalipun.

Alkitab edisi Olimpiade ini dinyatakan sebagai yang pertama kalinya sebuah 
Kitab-Suci diproduksi secara khusus untuk event olah-raga dunia dengan logo 
Olimpiade tercetak di covernya. tak pelak hal ini membuat saya sebagai seorang 
yang percaya Kristus memandangnya sebagai hal yang luar biasa. Dan mengapa 
hanya 4 Injil yang dipilih? Inipun saya yakin pemerintah setempat telah 
mempelajarinya dan menimbangnya dengan seksama, mendengar penasehat-penasehat 
yang mengerti tentang Kristianitas atau bahkan mungkin mereka menempatkan 
kalangan rohaniawan Kristiani yang khusus in-charge dalam proyek ini. 

Betapa banyak kita mendengar berita bahwa begitu susahnya kekristenan dapat 
hidup dan berkembang disana, bahwa sampai sekarang konon "katanya" hanya ada 
gereja-gereja "bawah tanah". Kita juga tahu bahwa pemerintah setempat melarang 
adanya penginjil asing datang menginjili orang lokal, dan regulasi ini belum 
dicabut. Namun sebaliknya, kalau kita melihat perkembangan agama lain selain 
Kristen/Katolik disana, Agama-agama yang lain misalnya agama Islam dan Budha 
lebih leluasa berkembang. Bahkan ada propinsi dengan fasilitas otonomi khusus 
yaitu Xinjiang dengan populasi 16-jutaan penduduk yang mayoritas beragama Islam 
dan mereka bebas beribadah dan berbudaya secara Islami disana, dan daerah itu 
merupakan daerah penghasil minyak yang besar. 

Kalau Islam dan agama-agama lainnya lebih mudah berkembang disana, mengapa 
Kristianitas tidak?. Perlu kita telaah apa sebab pemerintah China begitu 
"sensitif" terhadap keberadaan penginjil-penginjil asing? Mari kita tulus 
menengok kebelakang, dan bukan hanya mengecam. Karena larangan ini tidak 
berdiri sendiri, tentu saja ada latar belakangnya, ada sejarahnya. Bahwa memang 
penginjil-penginjil asing yang pernah dikirim kesana itu tidak semuanya tulus 
menginjil, ada diantara mereka adalah "penginjil-gadungan", agen rahasia atau 
penginjil yang sebenarnya tidak menginjil sebaliknya mengajarkan faham-faham 
"demokrasi" untuk melawan pemerintah. Kita perlu tahu bahwa ketegangan ini 
sudah lama sekali dihadapi partai Komunis mulai dari perang saudara dengan 
partai Nasionalis Kuomintang yang menjalin hubungan baik dengan pihak 
asing-barat. Dan kemudian Revolusi Kebudayaan tahun 1965 yang membabat semua 
kalangan intelektual dan budayawan yang disinyalir mempunyai hubungan dengan 
paham/ kebudayaan barat. Kekristenan disana tidak hanya dipandang sebagai agama 
namun juga dianggap sebagai bawaan budaya barat. Meski Kekristenan tidak lahir 
dari negeri barat, namun dalam perkembangannya kalangan penginjil barat yang 
paling giat mengabarkan "agama Kristen sistem barat".

Dewasa ini dengan perkembangan tekhnologi komunikasi yang luar biasa, kebijakan 
pelarangan terhadap laju perkembangan agama sudah kadaluarsa, karena walaupun 
penginjil asing dilarang datang, warganya yang berminat terhadap Kekristenan 
toh dapat mengakses informasi apasaja melalui internet, dll. Tidak ada lagi 
tembok pemisah, tidak ada lagi perbatasan negara yang dapat menghalau 
perkembangan sebuah keyakinan seseorang terhadap suatu agama. Pemerintah China 
sebenarnya sudah memberikan tanda-tanda untuk membuka pintu kepada 
Kristianitas, ketika negara itu diguncang dengan hadirnya sekte Falun-Gong. 
Pemerintah China mulai menimbang suatu kebijakan baru. Presiden Jiang Zemin 
mengunjungi Israel pada tahun 2000, dia mengunjungi tempat dimana Kristus lahir 
di Betlehem, Presiden Jiang kala itu berpendapat bahwa semua agama ada root-nya 
ada asal-usulnya : Kristen, Budha, Hindu, bahkan Islam ada root-nya, sebaliknya 
" Falun-Gong " tidak ada asal-usulnya. Mereka pun masuk dalam suatu pengertian, 
bukan atheisme yang dapat menghalau fanatisme sekte Falun-Gong, namun agama 
yang benar itulah yang dapat mereduksinya.Tentu saja, semua regulasi yang 
menyangkut kebijakan pemerintah perlu proses dan moment yang tepat. Puji Tuhan 
sekarang inilah moment yang tepat. Event olah-raga Olimpiade ini menjadi suatu 
titik awal lembaran baru, Kekristenan diterima secara terbuka di negeri yang 
berpaham komunis yang ditandai dengan "hadiah buku iman" tentang Kabar-Baik 
yaitu Injil Tuhan Yesus Kristus dalam The Four Gospels, Olympic edition.

Haleluyah!

<<Olympic_testament_cs_20080707033148.jpg>>

Kirim email ke