thanx bro Rama buat artikelnyajangan kita menilai orang dari luarnya saja 
(don't judge the book from the cover)belum tentu orang yg keliatan dari luarnya 
baik, benar2 baik dan belum tentu juga orang yang keliatan dari luarnya jahat 
sudah pasti jahat juga.
--- On Fri, 12/5/08, Rama Silitonga <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: Rama Silitonga <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [PemudaAdvent] FW: Cincin Emas dan Kearifan
To: [EMAIL PROTECTED]
Date: Friday, December 5, 2008, 2:37 PM










 






    
            









  



-----Original Message-----

From: Lidya Budi Astuti 

Sent: Friday, December 05,
 2008 9:35 AM

To: lydiayosefa@ yahoo.com

Subject: Cincin Emas dan Kearifan 

   

Cincin Emas dan Kearifan  

   

Suatu pagi Zhi Zhou mendatangi Zun-Nun dan bertanya,
"Guru, saya tak 

mengerti mengapa guru berpakaian apa adanya, amat sangat
sederhana. 

Bukankah di masa seperti ini berpakaian sebaik-baiknya
amatlah penting, 

bukan hanya untuk penampilan melainkan juga untuk banyak
tujuan lain." 

Sang Guru hanya tersenyum. Ia lalu melepaskan cincin dari
salah satu 

jarinya, lalu berkata, "Zhi Zhou, akan kujawab
pertanyaanmu, tetapi lebih 

dahulu lakukan satu hal untukku. Ambillah cincin ini dan
bawalah ke 

pasar di seberang sana. Bisakah kamu menjualnya seharga
satu keping emas?" 

Melihat cincin Zun-Nun yang kotor, pemuda tadi merasa
ragu, "Satu 

keping emas? Saya tidak yakin cincin ini bisa dijual
seharga itu." 

"Cobalah dulu anak muda, Siapa tahu kamu berhasil." 

Zhi Zhou pun bergegas ke pasar. Ia menawarkan cincin itu
kepada 

pedagang sayur, penjual daging dan ikan. Ternyata, tak
seorang pun berani 

membeli seharga satu keping emas. Mereka menawarnya hanya satu keping 

perak. Tentu saja, Zhi Zhou tak berani menjualnya dengan
harga satu keping 

perak. 

   

Ia kembali ke padepokan Zun-Nun dan melapor, "Guru,
tak seorang pun 

berani menawar lebih dari satu keping perak." 

Zun-Nun, sambil tetap tersenyum arif, berkata,
"Sekarang pergilah kamu 

ke toko emas di belakang jalan ini. Coba perlihatkan
kepada pemilik 

toko atau tukang emas di sana. Jangan buka harga,
dengarkan saja bagaimana 

ia memberikan penilaian." 

   

Pemuda itu pun pergi ke toko emas yang dimaksud. Ia
kembali kepada 

Zun-Nun dengan raut wajah yang lain. Ia kemudian melapor,
"Guru, ternyata 

para pedagang di pasar tidak tahu nilai sesungguhnya dari
cincin ini. 

Pedagang emas menawarnya dengan harga sepuluh keping
emas. 

Rupanya nilai cincin ini sepuluh kali lebih tinggi daripada
yang 

ditawarkan kepada para pedagang di pasar." 

   

Zun-Nun tersenyum simpul sambil berujar lirih,
"Itulah jawaban atas 

pertanyaanmu tadi. Seseorang tak bisa dinilai dari
pakaiannya. Hanya "para 

pedagang sayur, ikan dan daging di pasar" yang
menilai demikian. Namun 

tidak bagi "pedagang emas". 

   

"Emas dan permata yang ada dalam diri seseorang,
hanya bisa dilihat dan 

dinilai jika kita mampu melihat hingga ke kedalaman jiwa.
Diperlukan 

kearifan untuk menjenguknya, dan itu butuh proses. Kita
tak bisa 

menilainya hanya dengan tutur kata dan sikap yang kita
dengar dan lihat 

sekilas. 

   







      

    
    
        
         
        
        




        




        
        


        
        
        




      

Kirim email ke