Saya sudah jadi Pendeta sebelas tahun. "Saran" seperti ini bahkan lebih dari itu sudah sering di sampaikan kepada kami para pendeta, jadi saya kira para pendeta tidak akan emosional menghadapi "Saran" dari saudara seiman Pisctwentyfour. Tapi saya perlu luruskan kalimat "mengambil alih tugas," saya kira tidak ada satu anggota jemaatpun yang mengambil alih tugas pendeta, kecuali anggota itu sudah membabtis, menikahkan, mengurapi anggota jemaat tanpa ijin dari organisasi. Kalau hanya melawat, berdoa, berkhotbah, bukankah itu tugas bersama? Tentang pendeta tidak melawat, saya punya saran supaya ini jangan jadi permasalahan yang terus-menerus. Di awal tahun seperti ini buatlah rencana kerja jemaat. salah satu yang penting anda bahas adalah perlawatan pendeta (dibahas dengan tujuan baik tentunya), jemaat perlu menentukan berapa kali pendeta melawat anggota dalam setahun (sekali sebulan, sekali tiga bulan dll) diluar sakit atau kedukaan. Setelah tiga atau enam bulan Mejelis bisa menanyakan pendeta tentang tugas yang diberikan, jika belum terlaksana dengan baik, tentu majelis bisa tanya apa yang menjadi penyebabnya, bisa jadi Pendeta itu punya kendala di perekonomian (kita kadang katakan pendetakan sudah ada biaya melawat dr kantor, tapi gaji pendeta itu cukup untuk kondisi hidup normal, kita ga tau ada sesuatu dalam hidup pendeta itu yang mengakibatkan ia harus mengeluarkan uang ke pos tertentu) atau alasan lainnya, majelis tentu bisa memutuskan untuk mengatasi masalah itu. jika berbagai cara majelis sudah lakukan untuk menolong pendeta itu namun tidak ada perubahan (tapi saya percaya tidak ada pendeta seperti ini) saya kira tidak salah majelis datang ke kantor daerah/konferens, bicara baik-baik dengan kependetaan, dan biarkan mereka yang mengatasi masalah itu. Di dua gereja yang pernah saya layani, pernah kita putuskan pendeta akan mengembalikan kantong perpuluhan tiap bulan, dengan sukacita saya terima tantangan itu, saya jalankan semampu saya, kecuali saya sakit. Saya kira dengan berbuat demikian kita akan menghilangkan perasaan like or dislike kepada seorang pendeta. Tapi kita akan berbicara hanya dari segi kesepakatan yang telah kita buat dengan pendeta. Kami pendeta adalah pelayan (doulos).
Semoga Saran ini bisa membantu. Saudaramu sepengharapan akan kedatangan Yesus yang Segera. Pdt. Hiras JW Sihombing. Semoga membantu! 2009/1/8 pisctwentyfour <[email protected]> > apa sebenarnya tugas seorang pendeta kalo to kita yang adalah anggota > jemaat tetap mengambil alih tugas mereka, yaitu menginjil, melawat, > berdoa,berkhotbah dll? sedangkan kita tidak mendapat rupiah dari situ? > > apa sebenarnya tugas seorang pendeta kalo ternyata dirumah kita nyaris > tidak pernah tersentuh oleh mereka alias tidak pernah melawat ato berkunjung > ke rumah anggota jemaat? kalo pun mereka datang tapi mereka melihat rumah > yang wah wah dan wah.. (red: mewah) > > apa sebenarnya tugas seorang pendeta? hanya berkhotbah ka pada hari sabat? > hanya ngatur2 majelis ka? hanya datang menghadiri rapat majelis ka? ato > hanya tunggu untuk membaptis jiwa2 baru yang notabene adalah hasil > penginjilan kaum awam? hanya memimpin upacara perjamuan ka? ato hanya > bermain internet sepanjang waktu? ato bermain badminton hingga larut > malam?dll sebagainya. > > apakah tugas seorang pendeta sebenarnya? > > sebagai pertimbangan : > 1. ibadah gereja tetap berjalan dengan normal tanpa seorang pendeta karena > ditinggal cuti selama 1 bulan. > 2. perlawatan dan penginjilan tetap dilakukan karena aktifnya kaum awam. > 3. berkhotbah? kaum awam juga bisa kok...berdoa? apalagi.. > > (maaf ya pak pendeta..ini hanya curahan hati seorang anggota jemaat dalam > hal ini seorang pemuda advent yang mau berbagi dengan temans nya ttg dirimu) > > > > >

