Denny Teguh Sutandio <[email protected]> wrote: To: "Ko Eko
Nugroho Onggosanusi, Ph.D." <[email protected]>,
Ko Eko Aria <[email protected]>,
"Dony Surlaya, S.Th." <[email protected]>,
"Donny A. Wiguna" <[email protected]>,
Ko Sigit Cahyono <[email protected]>, Mary Santoso <[email protected]>,
Ayrin Santoso <[email protected]>,
Fenny Wibowo <[email protected]>,
Abraham Timotius Halim <[email protected]>,
Bob Setio <[email protected]>,
Milis young-harvester <[email protected]>,
Milis dsm_chat <[email protected]>,
Milis Peaceful_Kedamaian <[email protected]>,
Milis pustakalewi <[email protected]>,
Milis PemudaKristiani <[email protected]>,
Milis pd_nehemia <[email protected]>,
Milis pelayan_tuhan <[email protected]>,
Milis penginjil <[email protected]>,
Milis Sahabat_Seiman_Kristen <[email protected]>,
Milis SahabatKristen <[email protected]>,
Milis setia21us <[email protected]>,
Milis sarapanpagi <[email protected]>,
Milis via-dolorosa <[email protected]>,
Milis Bina Warga <[email protected]>,
Milis MRII Kertajaya <[email protected]>,
Milis Mimbar Maya YABINA <[email protected]>,
Milis murid-yesus <[email protected]>,
Milis ourbof <[email protected]>,
Milis more-in_Jesus <[email protected]>,
Milis mc_ministry <[email protected]>,
Milis jesus-net <[email protected]>,
Milis rohani <[email protected]>,
Milis BESORAH onLine <[email protected]>,
Milis Kemah-Abraham <[email protected]>,
Milis debat-alkitab <[email protected]>,
Milis Voice_of_transformation <[email protected]>,
Milis Soli-Deo-Gloria <[email protected]>,
Milis aliteia <[email protected]>,
Milis elia-stories <[email protected]>,
Milis IndonesianPW <[email protected]>,
Milis milis_maleakhi <[email protected]>,
Milis SahabatKristen-chat <[email protected]>,
Milis wardiki-net <[email protected]>,
Milis chelsea_zone <[email protected]>,
Milis renungan-sehari <[email protected]>,
Milis cerita-kristen <[email protected]>,
Milis Kristen_Rajawali <[email protected]>,
Milis artikel-kristen <[email protected]>,
"Ev. Sylvester Denny K." <[email protected]>,
"Pdt. Stefanus Ronald Krisnugraha, S.PAK." <[email protected]>
From: Denny Teguh Sutandio <[email protected]>
Date: Mon, 26 Jan 2009 07:19:11 +0700 (ICT)
Subject: [PemudaKristiani] SINCIA-IMLEK (Ir. Herlianto, M.Th.)
SINCIA-IMLEK
oleh: Ir. Herlianto, M.Th.
(Pendiri dan Ketua Yayasan Bina AwamâYABINA, Bandung yang menyelesaikan
studi: InsinyurâIr. di Institut Teknologi Bandung; Bachelor of
TheologyâB.Th. di Seminari Alkitab Asia TenggaraâSAAT Malang; dan Master of
TheologyâM.Th. di Princeton Theological Seminary, U.S.A.)
âBangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari
pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka
ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang
pada adat-istiadat manusia.â (Mrk. 7:6-8)
Senin, 26 Januari 2009, di seluruh dunia, orang-orang Cina/Tionghoa merayakan
tahun baru lunar yang ke-2560, mengikuti ritual turun-temurun sejak masa kuno.
Sejak dulu, secara turun-temurun orang-orang di Tiongkok/Chungkuo merayakan
datangnya musim semi yang melambangkan kehidupan baru di tahun yang baru dalam
penanggalan bulan karena para leluhur sejak masa kuno berorientasi pada
kehidupan alam agraris. Mereka berkumpul dalam keluarga besar dan makan-minum
sambil merayakan datangnya tahun yang baru dengan keberuntungan yang baru pula.
Sebenarnya kapan dimulainya penanggalan Cina/Tionghoa tidak ada yang tahu,
namun karena lama-kelamaan perayaan Sincia/Imlek dikaitkan dengan pengajaran
Kong Hu Cu mengenai hubungan kekeluargaan, penanggalan itu dikaitkan mulainya
dengan tahun kelahiran Kong Hu Cu (551-479 SM). Tetapi, mengapa kemudian kedua
belas jam dalam sehari dan bulan serta tahun, diberi simbolisme 12 hewan yang
kita jumpai sekarang?
Banyak dongeng tersiar mengenai ke-12 hewan yang menandai jam, bulan dan
tahun itu, Dongeng pertama, yaitu pada malam sebelum Tahun Baru, Buddha
(563-483 SM) mengundang hewan-hewan untuk menikmati jamuan makan malam tahun
baru di rumahnya, diceritakan bahwa yang pertama hadir adalah tikus, kemudian
kerbau, disusul harimau, kelinci, naga, ular, kuda, kambing, monyet, ayam,
anjing, dan terakhir datanglah babi.
Dongeng kedua menyebutkan bahwa ada pertengkaran antara hewan-hewan di bumi
sehingga dewa Kaisar Giok mengadakan lomba menyeberangi sungai untuk menentukan
urutan mereka. Tikus dan Kucing melompat ke atas kerbau karena mereka tidak
bisa berenang, namun ketika mendekati tepi seberang, tikus menjegal kucing
sehingga kucing tenggelam dan lalu tikus melompat ke tepian sebelum kerbau
sampai kesana. Hewan-hewan lainnya menyusul sesuai urutan yang sama dengan
diatas. Itulah sebabnya tikus dan kucing terus bertengkar sampai sekarang
menurut dongeng itu karena kucing tidak diberi tempat dalam penanggalan itu
(Dalam penanggalan Vietnam, kelinci diganti kucing).
Semula, perayaan tahun baru lebih bersifat alami dalam kaitan dengan kehdupan
agraris, dan perayaan itu kemudian dikaitkan dengan kehidupan kekeluargaan di
mana keluarga berkumpul pada hari itu. Namun, dalam perjalanan sejarah,
dongeng-dongeng dan kepercayaan tahyul dan budaya mistik memasuki perayaan
tahun baru, sehingga Sincia/Imlek memiliki kandungan alami dan juga supra-alami
yang berbau penyembahan berhala, tahyul dan mistik. Sampai dimanakah umat yang
mengenal Yesus Kristus bersikap dalam menghadapi dilema Sincia/Imlek ini?
Secara alami, tidak ada salahnya merayakan Sincia/Imlek, karena didunia ada
dua sistem penanggalan yaitu yang berorientasi peredaran Matahari dan yang
berorientasi peredaran Bulan, penanggalan Matahari dimulai pada tanggal 1
Januari menurut penanggalan Gregorian, sedangkan penanggalan Bulan di Tiongkok
dikaitkan dengan awal datangnya musim semi di mana tumbuh-tumbuhan mulai
kembali tumbuh setelah bumi ditelan salju. Biasanya tahun baru lunar dilakukan
di akhir Januari sampai bulan Februari.
Tradisi berkumpulnya keluarga di harian Tahun Baru baik sekali, karena
setidaknya setahun sekali keluarga besar yang sudah menyebar bisa menyempatkan
diri berkumpul dan makan bersama. Jadi merayakan Sincia/Imlek dalam konteks ini
baik sekali dan harus didukung oleh umat Kristen dan bisa menjadi kesempatan
yang baik bagi kesaksian hidup seseorang yang telah menjadi percaya. Yang
menjadi masalah adalah, bahwa Sincia/Imlek kemudian juga banyak dimasuki ritual
berhala dan mistik, aspek terakhir inilah yang sebaiknya dihindari oleh umat
Kristen China/Tionghoa.
Kepercayaan berhala bisa kita lihat bahwa seminggu sebelum tahun baru,
dilakukan sembahyang Toapekong Dapur (Ciao Kun Kong) mengantarnya pergi ke
surga melapor kepada dewa langit rahasia dapur keluarga yang mendiami rumah itu
agar melaporkan yang baik-baik saja (hio dibakar agar berbau harum). Kepergian
dewa dapur itu biasa diiringi dengan membakar mercon.
Pada malam tahun baru, dilakukan sembahyang tahun baru didepan meja
sembahyang dengan sesajian babi, ayam dan bandeng (samseng) atau ditambah udang
& kepiting (ngoseng). Pada tahun baru dilakukan kebiasaan tidak boleh menyapu
dan berkata-kata kotor, karena dianggap rejeki akan tersapu. Pada kesempatan
ini dilakukan kunjungan keluarga untuk saling memberi selamat dan
bermaaf-maafan, sambil pasangan yang sudah menikah membagikan angpao (hadiah).
Kandungan tahyul terlihat dari warna merah bungkus angpao dan pakaian dan
hiasan serba merah yang melambangkan keberuntungan/rejeki, dan isi angpao tidak
boleh merupakan kelipatan 4 karena menandakan kematian tetapi sebaiknya
kelipatan angka 8 yang menandakan rejeki.
Setiap tahun yang dimasuki melambangkan hewan-hewan tertentu sehingga
kelahiran seseorang dikaitkan dengan hewan lambang tahun itu (shio) dan
sifat-sifatnya juga mengikuti hewan itu, ini menyebabkan orang menunda
kelahiran agar masuk tahun yang baik, atau memandang rendah anak yang lahir di
tahun yang sial. Pada hari keempat dewa dapur turun dan disambut dengan
permainan Barongsay dengan Bi Lek Hud. Barongsay masuk ke kamar-kamar rumah
untuk mengusir roh jahat. Pada tanggal 15 sesudah tahun baru dilakukan upacara
Goan Siauw/Cap Go Meh di mana disajikan makanan lontong cap go meh. Selanjutnya
tahun itu diisi dengan upacara-upacara tahyul, misalnya pada bulan ketujuh ada
upacara Cioko di mana diberikan sesajian didepan rumah agar roh-roh jahat yang
diberi cuti bebas sebulan di bulan itu tidak masuk ke rumah.
Jadi sama dengan tradisi pada umumnya yang selalu memiliki kandungan agama
mistik (budaya tradisi religi), maka sikap kita bukannya menolak tradisi itu,
tetapi bagaimana merayakan tradisi yang alamiah tanpa terseret pada penyembahan
berhala dan tahyul mistik di dalamnya.
Tradisi budaya religi Cina/Tionghoa bersifat hedonistik dan individualistik,
di mana rejeki dan keberuntungan dicari oleh masing-masing pribadi untuk
dirinya sendiri dan kurang mempedulikan orang lain. Di sinilah umat Kristen
bisa melakukan trasformasi ke arah kasih Kristus, di mana Yesus telah berkorban
untuk menyelamatkan umat berdosa agar manusia bisa mewarisi hidup yang kekal.
Budaya angpao yang bersifat âmenerimaâ perlu diubah menjadi budaya
âmemberiâ dengan kasih.
Kita tidak perlu percaya akan tahyul warna merah seakan-akan warna lainnya
itu kalau digunakan bersifat merugikan atau bahkan mencelakakan, semua warna
adalah sama dihadapan Allah sekalipun dalam Kekristenan ada juga perlambangan
warna yaitu putih melambangkan kesucian dan hitam melambangkan kejahatan,
tetapi itu tidak berarti memakai pakaian putih menjadikan seseorang suci atau
memakai pakaian hitam menjadikan seseorang menjadi jahat.
Bagi umat Kristen baik hari dan bulan dan tahun semuanya baik dihadapan
Allah, jadi kita tidak perlu mempercayai shio yang mengatur sifat-sifat
manusia. Tuhan menyuruh Adam menguasai binatang dan memberi nama mereka, tetapi
dalam penanggalan Cina/Tionghoa hewan-hewan itu kemudian dikultuskan
seakan-akan sifatnya mempengaruhi sifat orang-orang yang dilahirkan pada tahun
yang dilambangkan oleh hewan itu.
Umat Kristen belajar bahwa keselamatan datang karena anugerah penebusan
Kristus dan bukan karena usaha sendiri, tetapi Sincia/Imlek mengajar orang
menyelamatkan diri sendiri melalui tahyul yang yang turun-temurun, melalui
sesajen, pakaian berwarna merah, maupun tahyul menyapu rumah. Apalagi dalam
Sincia/Imlek diminta bantuan memperbaiki nasib seseorang dengan persembahan
makanan untuk Para dewa. Patung dewa-dapur bibirnya diolesi madu agar
melaporkan yang manis-manis saja kepada Thian, demikian juga kepergiannya
diiringi ledakan mercon agar Thian tidak mendengarkan laporan yang jelek.
Hidangan kue keranjang yang lengket di mulut dan tenggorokan merupakan usaha
manusia membungkam mulut dewa dapur yang berbicara jelek.
Adat-istiadat manusia tidak apa-apa selama itu bersifat alami dan tidak
melawan perintah Allah, soalnya manusia sering mengikuti adat-istiadat
turun-temurun dan melanggar perintah Allah. Padahal, dengan jelas Allah
memerintahkan kita agar menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita, agar
menempatkan keselamatan kita di tangan anugerah Allah, dan agar tidak
memberontak dengan menyembah ilah lain (dewa-dewi sesembahan masyarakat
Cina/Tionghoa kuno). Dengan demikian kita dapat memasuki Sincia/Imlek dengan
menyaksikan indahnya kehidupan Kristiani dan menjadikan momentum Sincia/Imlek
untuk bersaksi kepada anggota keluarga mengenai kasih dan kebahagiaan dalam
Kristus Yesus.
Salam Kasih dari Sekertariat www.yabina.org
"Faith is to believe what you do not see; the reward of this faith is to see
what you believe"
(Bapa Gereja Augustinus)
---------------------------------
Berbagi foto Flickr dengan teman di dalam Messenger.
Jelajahi Yahoo! Messenger yang serba baru sekarang!