Bro Win Samuel, Gereja Jambrut dekat dgn Gereja Menteng. Lebih dekat lagi dgn Gereja Salemba. Itulah makanya Gereja yg sejak tahun 1949 hingga 1996 pernah pisah "ranjang" dgn General Conference ini, sangat akrab dgn Jemaat Menteng dan Salemba. Untuk mencapai Gereja Jambrut, bro akan disodorkan dgn panorama lalu lintas yg semrawut, dan keangkuhan gedung2 bisnis yg berdiri tegak, seperti Pusat Perbelanjaan Elektronik "Kenari Mas", Gedung Dept. Perindustrian, Gedung BNI, Gedung Pegadaian, Keramat, Hotel Acacia. Masing2nya itu dapat di tempuh selama 5 menit dgn berjalan kaki dari Gereja Jambrut. Namun, setibanya di Gereja yg banyak melahirkan Aktifis Rohani dan Politik ini, kita akan disambut ramah oleh Bangunan2 yg beraroma Surgawi, sebut saja Gedung NU (Nadlhatul Ulama), Gereja Kemah Injil, Tempat Pelatihan Biarawati-Katolik, Kantor Perwakilan Partai Politik Islam dan PUSKESMAS dan KANTOR LURAH KENARI. Semuanya adalah tetangga dekat Gereja Jambrut yg hanya berjarak "selemparan batu". Dari depan UI Salemba ke arah Psr. Senen, untuk menuju Gereja yg berada di Wilayah IX ini, kita harus melewati Rumah Sakit Ridwan Meuraksa dulu, lalu Gedung Dept Perindustrian dan masuk ke JL. Jambrut (belok kiri) yg berada persis di samping Gedung NU. Dan dgn mudahnya, ketemulah GMAHK Jambrut, Jl. Jambrut No 13 Jakarta Pusat, Telp. (021)31923980, persis di depan PUSKESMAS. Selamat Datang Bro Win Samuel..... Mohon maaf, bila nantinya suasana di Gereja Jambrut kurang pas di hati..he..he..he..he...
Rgds, Harris Sipahutar --- On Tue, 1/27/09, Win Samuel <[email protected]> wrote: From: Win Samuel <[email protected]> Subject: Re: [PemudaAdvent] Ketika Orang Advent Berpikiran Miring. To: [email protected] Date: Tuesday, January 27, 2009, 2:53 PM gereja jambrut dmn ya? pengen sekali2 ke sana dan bertemu pak harris. :) Philips Marbun <phil...@marbun. biz> wrote: Wah asik nih, supaya milis Advent rame lagi. Jadi isinya bukan terbatas pada pengumuman, cari alamat, dll. Tapi ada diskusinya juga. :) Bro Kocu, kalau bagi saya pribadi saya coba permudah untuk diri sendiri. Di tiap zaman, Tuhan punya pekabaran khusus untuk zaman itu. Di zaman Musa, pekabaran untuk umat-Nya contohnya: "keluar dari Mesir". Musa tidak dianggap gila or miring, karena Musa punya bukti muzizat dari Tuhan. Di zaman Ester, Ayub, Daud, Salomo, sampai Paulus, dlsb pekabarannya lain lagi... Lain lagi... Tapi semuanya berinti sama: Yesus. Oh ya ada lagi doktrin baru tapi tidak dianggap miring: "Bertumbuh dalam Yesus" (doktrin Advent yang baru ditambah sehingga menjadi 28 buah). Kalau kesemua tambahan, ide baru, pembaruan, atau apa pun itu namanya berdasarkan Yesus, berlandaskan Alkitab, dan tidak menjadi batu sandungan, kenapa harus ditolak or dianggap miring? Sejarah justru sudah membuktikan. Masalahnya selalu ada pada masa TRANSISI. Di masa ini, beberapa orang berlomba-lomba, mungkin, ingin terlihat "lebih cepat mengadopsi" entah dengan motivasi apa. Lalu beberapa yang lain (bahkan mayoritas) sering "terlambat" sehingga mereka terkesan seperti menolak, belum mau ikut, bahkan dianggap "menghakimi" orang lain yang lebih cepat menyesuaikan. Nah, suatu pembaruan yang dianggap "miring", biasanya akan bertumbuh pesat dan maju, lalu semakin lama semakin berterima, kalau memang dia berasal dari-Nya (anyway, Tuhan juga sering gunakan sesuatu yang salah untuk kebaikan lho...). Kalau tidak, biasanya fenomena tersebut perlahan-lahan redup dan akhirnya dilupakan. Kembali, sejarah sudah membuktikan. Salam, Philips Marbun 2009/1/27 harris budi <harrisb...@yahoo. com> Suatu masa yg tertentu, di tahun yg belum jelas, ketika sedang menunggu kedatangan Yesus, berkatalah om Parmin yg berkulit Obama kepada bang Ucok yg berkulit Jacky Chan : "hidup bersama dgn berbagai perbedaan, amatlah pelik. Bahkan ada yg menyebutnya mustahil. Bagaimana mungkin menciptakan harmoni dari sesuatu yg tak sama, bertentangan, bahkan sering bertolak belakang?" Secara logika & perhitungan di atas kertas, apa yg dikatakan om Parmin ada benarnya juga. Banyak hal tidak dimungkinkan untuk berada di dalam satu wadah tanpa menimbulkan keguncangan, apabila perbedaan begitu besar, bahkan sampai mendasar. Keguncangan itu dpt mengahasilkan individu baru ataupun kelompok baru dgn metode pembaharuannya masing-masing. Umumnya kelompok baru tsb adalah kaum minoritas. Di dalam masyarakat yg meluhurkan nilai-nilai kebersamaan, doktrin yg sama, tradisi yg sama, terlalu sulit buat individu atau sekelompok kecil orang utk berpikir lain. Atau untuk melakukan tindakan-tindakan yg tidak seragam ataupun semacam gerakkan pembaharuan. Barangkali, kondisi wajar ini tak sulit kita jumpai di kalangan SDA. Tak banyak orang yg tahu sejarah, bahwa pembaharuan Advent mulai bergeliat dari tahun 1949 yg akhirnya melahirkan Gereja Masehi Advent Confrence Hari Ketujuh (GMACHK) Jambrut. Tak sedikit orang yg tahu, bahwa akibat dari pembaharuan itu, telah menimbulkan pemikiran2 yg miring. Mereka dituduh murtad, kependetaan dan baptisan mereka pun dianggap tidak syah. Sayangnya, tak banyak pula orang yg tahu, kalau dari Gereja minoritas itulah awalnya orang SDA boleh jadi Tentara, boleh jadi Pengacara, bahkan jadi politikus sampai sekarang ini. Tapi tak sedikit pula orang di zaman ini yg tahu, bahwa kedemokrasian & pembaharuan dari dalam Gereja Jambrut itu, telah menimbulkan pemikiran-pemikiran yg lagi-lagi adalah pemikiran miring. Mereka dianggap murtad oleh kelompok mayoritas (SDA Mission). Mereka dituduh telah membuat penafsiran terhadap doktrin dan Buku Roh Nubuat yg sangat berbeda, ke luar dari koridor. Namun untungnya, di sisi yg paling jauh, ternyata ada juga "pemuja rahasia" kpd sosok Jambrut tsb, yg justru berasal dari kaum mayoritas. Sekarang, para pemuja itu sdh besar, dewasa dan pandai pula. Mereka berjuang, bereproduksi utk melahirkan bayi dgn kepala yg sdh diisi ramuan2 aliran baru (pembaharuan) . Mereka yg sdh dewasa itu bergerilya dgn mengusung aliran barunya, demi terwujudnya tradisi baru. Sedang pemuja aliran lama, secara perlahan mengecil, terhimpit, terkikis & meninggal dunia. Yang tersisa akan habis tergerus zaman. Barangkali, jika mungkin, mereka akan bangkit kembali. Itulah romantika pembaharuan yg pernah terjadi di organisasi SDA di Indonesia dan itu akan terus bergulir. Pembaharuan/ kebaruan itu seringkali dituduh, dihajar dan dihakimi sbg "kesesatan". Khususnya dari mereka yg sepenuhnya berkiblat pada peta penyimpangan aliran baru. Pembaharuan bahkan seringkali dituduh sbg bentuk penyelewengan. Menyeleweng dari koridor2 yg pernah ada. Sejarah mencatat ada beberapa bentuk pembaharuan yg dituduhkan sbg penyelewengan (kata halus dari murtad). Misalnya, terbentuknya Advent Konfrens 1949. Atau yg lebih segar lagi dalam ingatan kita adalah terbentuknya Metro Konfrens & Jakarta Metro. Bahkan profesi sbg Tentara & Pengacara pun tak lolos dari pemikiran miring kita. Dan sekarang, sedang aktual dibicarakan tentang munculnya kelompok2 orang Advent yg mengusung pembaharuan Musik. Sebagaimana biasanya, seperti sdh tradisi, pemikiran miring pun selalu muncul. Penyelewengan pun menjadi bentuk tuduhan. Kelompok pembaharuan musik tsb dituding sbg oknum/jemaah yg memasukkan musik duniawi ke lingkungan gereja. Walaupun orang Advent yg jadi Tentara, Pengacara & politisi, mendapat tanggapan miring sebelumnya, tapi akhirnya dapat juga diterima oleh orang SDA. Malah, tak jarang mereka dipakai untuk sebuah fungsi oleh organisasi SDA mayoritas (Advent Mission-red) .. Sejak Pagelaran Musik Rohani di Jambrut, geliat musik baru tsb perlahan-lahan menuliskan sejarah baru. Selain membudi dayakan dirinya sbg karya, dlm berbagai usaha merubah musik Advent, juga membentuk konvensi2nya sendiri. Gereja2 dan Pemuda2 Advent yg menampilkan musik aliran baru dgn alat2 musik yg bervariasi semakin banyak jumlahnya, bak jamur di musim hujan. Sebut saja nama, Gereja Mt. Carmel, Never Ending Praise, Grasia dari Manado, Country & Keroncong dari Tebet, Acapela dari mana-mana. Mereka membentuk tata nilai sendiri. Membentuk struktur yg kendati belum sempurna, karena akan terus berkembang & ada yg sdh menampilkan sosok & arah yg relatif jelas. Arah yg nampaknya sebahagian sama dgn musik di Gereja Kharismatik. Tetapi jiwanya berbeda, tetap sbg jiwa Adventis. Barangkali, berangkat dari sinilah "orang baru" SDA itu merasa yakin bahwa musik barunya bakal diterima. Gonjang-ganjing & tanggapan miring, bagi mereka adalah sebuah proses dan vitamin. Pemikiran yg miring adalah suatu proses yg terjadi secara alami & harus terjadi. Karena tanpa proses yg sedang berjalan itu, tanggapan miring tak akan mungkin hilang. Menerima tanggapan miring ibarat menelan vitamin pahit yg akan menghasilkan kekuatan rahasia yg amat dahsyat untuk mencegah para pembaharu2 tercabut dari akar identitas Advent yg sdh kita bentuk bersama. Jadi pemikiran miring dari rekan kita yg lain bukanlah hal yg menakutkan, dihindarkan, melainkan justru sebagai pupuk batin agar kita tetap sbg rohaniawan sejati di pertiwi ini. Cuma terkadang agak menjengkelkan bagi orang yg tidak punya persiapan mental, alias mental kropos. Diterimanya orang2 berprofesi Tentara, Pengacara & Politisi menjadi bagian dari keluarga besar SDA, seperti Tehano, Kolonel J Tutoroong, Kolonel M Ritonga, Sopar Siburian, SH, Jois Siagian, SH, Intan Ritonga, SH, Desmond Boss, Dr. Patrick Alan, Johson Toribiong, Dr. Tehano & Harris Sipahutar , seolah menghembuskan/ memberikan angin segar bagi para pembaharu musik Advent untuk bergerak agresif. Orang mungkin menyebut kondisi seperti itu "demokrasi", alami. Seyogyanya kondisi2 ini tak perlu dicemaskan. Ia sebenarnya lebih merupakan sebuah jawaban untuk kebutuhan manusia. Dasarnya adalah sebuah sikap arif karena pengalaman : bahwa tak satu orang dan pihak pun berhak dianggap memikirkan kepentingan semua orang. Karena itulah harus ada peluang agar berbagai pihak mencoba memperjuangkan kepentingan & pendapat. Tapi pada saat yg sama, harus ada suatu "hukum" ataupun aturan main yg tidak main main, yg mengatur agar pihak yg satu tidak akan menghilangkan sama sekali kemungkinan pihak yg lain ; siapa tahu dia kelak lebih baik ketimbang kita. Dengan kata lain, kebaruan (pembaharuan) hanyalah sebuah manajemen SDA yg sadar akan ketidak-sempurnaann ya sendiri, ketika mengelola ketidak-sempurnaan manusia. Kalau begitu, Pemikiran miring sbg upaya akan menjadikan jembatan yg sangat fungsional dalam menghadapi lompatan & patahan fenomena sosial di SDA yg tiba2. Ia merupakan sendi yg amat berguna, agar dalam perubahan2 itu jangan sampai terjadi "bencana perpecahan" antara aku, kau dan bekas pacarku..... [KR] Ditulis oleh : Kocu Ratuhapis Dipostingkan oleh : Harris Sipahutar. -Kuningan- Sent by s...@wberry -- Salam, Philips Marbun Pulomas

