FW
KETIKA TUHAN TURUT BEKERJA
by Yuliana
Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada
pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan
jalanmu. (Amsal 3:5-6)
Seorang pemburu atheis satu ketika tersesat di tengah hutan.
Ia kemudian bertemu dengan sekelompok macan.
Tiba-tiba saja ia menjadi gugup.
Spontan ia mengeluarkan senapan dan mulai menembakkannya ke arah macan
tersebut. Sayang, tembakan-tembakan tersebut meleset dan ia-pun kehabisan
peluru.
Macan-macan ganas ini kemudian bergerak mendekati sang pemburu.
Tanpa menunggu waktu lama, segera sang pemburu ini mengambil langkah seribu.
Ia berlari sekencang mungkin.
Beberapa ratus meter kemudian, ia terpeleset dan masuk jurang.
Beruntung ia sempat meraih dahan sebuah pohon di tepi jurang tersebut.
"Tolong... tolong!!!" teriaknya.
Berkali-kali ia berteriak namun tak juga ada yang menjawab.
Hampir putus asa ia kembali berteriak : "Tuhan... Tuhan... apakah engkau
sungguh ada?" Sejenak keadaan menjadi sangat sunyi lalu terdengar suara : "Ya,
Aku ada".
Pemburu ini melanjutkan : "Tuhan, Engkau tentu tahu kalau selama hidupku, aku
meragukan keberadaan-Mu namun sekarang aku percaya bahwa Engkau sungguh ada.
Maukah Engkau menolongku, Tuhan? Aku berjanji Tuhan jika engkau menolongku maka
aku akan membaktikan sisa hidupku untuk melayani-Mu dan memberitakan
kebaikan-Mu kepada setiap orang yang aku temui mulai dari hari ini hingga akhir
hayatku"
"Baiklah, Aku akan menolongmu," kata Tuhan.
"Cepat Tuhan... tolonglah aku," ujar si pemburu memohon.
"Tetapi Aku ingin mengetahui satu hal darimu," kata Tuhan.
"Apakah itu?" tanya si pemburu.
"Maukah engkau mempercayaiKu dengan segenap hati dan akal budimu?" tanya Tuhan.
"Tentu saja aku mau Tuhan. Aku percaya padamu seribu persen! Cepat tolong aku,
Tuhan," jawab si pemburu yang penuh keringat dingin itu.
"Baiklah kalau engkau memang percaya. Sekarang, lepaskan tanganmu dari dahan
pohon itu dan Aku akan menolongmu," kata Tuhan.
Spontan si pemburu berujar, "Tuhan, apakah Engkau sudah gila?"
Kemudian si pemburu kembali berteriak, "Halo... adakah orang di sana yang bisa
mendengar suara saya? Tolong... tolong...!"
Apa hikmah yang bisa Anda petik dari cerita di atas?
Bisa jadi Anda dan saya hanya akan tersenyum atau tertawa setelah membaca
cerita tersebut. Namun jika kita sungguh peka, seringkali dalam hidup ini kita
berperilaku seperti si pemburu tadi.
Kita masih setengah hati dalam mengakui kekuasaan-Nya, terutama jika hal
tersebut di luar logika manusia.
Kita lebih mengandalkan kekuatan manusia daripada bersandar pada-Nya.
Seringkali kita harus melihat dengan mata kepala sendiri baru bisa percaya.
Jika hal tersebut tidak sesuai dengan akal sehat, kita lantas menolaknya.
Santo Agustinus pernah mengatakan, "Iman artinya menyakini apa yang tidak kita
lihat dan upah dari iman adalah melihat apa yang kita yakini."
Meski kitab suci dengan sangat jelas mengatakan, "Apa yang tidak pernah dilihat
oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul
di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi
Dia (1 Korintus 2:9)."
Terkadang tetap saja sulit bagi kita untuk menerimanya.
Ibu Teresa suatu ketika pernah berujar : "Iman memelihara orang yang memelihara
iman."
Tentu Ibu Teresa tidak sedang main-main ketika mengucapkannya.
Ia memiliki begitu banyak pengalaman hidup yang menceritakan kesaksian imannya.
Salah satu hal yang sangat ajaib dan sangat menarik adalah ketika kita melihat
Ibu Teresa yang puluhan tahun berkarya di tengah-tengah orang yang berpenyakit
menular namun hingga akhir hayatnya ia sama sekali tidak tertular penyakit
tersebut.
Luar biasa karya Tuhan dalam hidup Ibu Teresa!
Dari sini saya juga belajar bahwa kasih bukanlah sekedar sebuah perasaan
(seperti ketika orang berpacaran atau merindukan pasangannya) namun kasih juga
dapat menjadi sebuah kekuatan. Orang sering menyebutnya sebagai the power of
love.
Ada juga kisah lain tentang bagaimana Ibu Teresa begitu mengimani bahwa Allah
turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang
mengasihi Dia (Roma 8:28).
Dalam bukunya yang berjudul In the Heart of the World, Ibu Teresa menulis:
Di Calcutta, kami memasak untuk sembilan ribu orang setiap hari.
Suatu hari, seorang suster datang dan berkata : "Ibu, tidak ada sesuatu pun
untuk dimakan. Tidak ada sesuatu pun untuk diberikan kepada orang-orang itu."
Saya tidak mempunyai jawaban.
Dan kemudian pada jam sembilan pagi itu, sebuah truk penuh dengan roti datang
ke rumah kami.
Setiap hari pemerintah memberikan sepotong roti dan susu kepada anak-anak
miskin di sekolah.
Tetapi hari itu tidak seorang pun tahu kenapa semua sekolah tiba-tiba
diliburkan.
Dan semua roti diantar ke rumah Ibu Teresa.
Lihat, Allah meliburkan sekolah.
Dia tidak membiarkan orang-orang kita pergi tanpa makanan.
Dan inilah pertama kalinya dalam hidup mereka saya kira, bahwa mereka
mendapatkan roti yang baik seperti itu dan dalam jumlah yang amat banyak.
Dengan cara ini Anda bisa melihat kelembutan hati Allah.
Bisa jadi pengalaman seperti itu juga pernah terjadi dalam hidup Anda.
Saya sendiri pernah mengalami beberapa kejadian luar biasa yang hingga hari ini
amat sulit saya jelaskan dengan logika.
Dari perjalanan itu saya mengimani bahwa dalam hidup ini tidak ada yang namanya
kebetulan jika kita senantiasa mau melihatnya dengan mata iman.
Pengalaman hidup tersebut juga membuat saya semakin memahami tentang
penyelenggaran Ilahi dalam kehidupan orang yang percaya dan berserah kepada-Nya.
"Karena mata TUHAN menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan kekuatan- Nya
kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia (2 Tawarikh 16:9)."
Tuhan menyertai Anda selalu!
________________________________
Dapatkan nama yang Anda sukai!
Sekarang Anda dapat memiliki email di @ymail.com dan @rocketmail. com.