Kasih Orangtua Ryan (Sungguh) Sepanjang Masa...
  Hindra 
Liu<http://megapolitan.kompas.com/read/xml/2009/04/06/14302365/kasih.orangtua.ryan.sungguh.sepanjang.masa...#>
Ahmad dan Kusmiatun, orang tua terdakwa mutilasi terhadap Heri Santoso, Very
Idham Henyansyah alias Ryan, tengah mendengarkan putusan vonis majelis
hakim, Senin (6/4) di Pengadilan Negeri Depok, Jawa Barat.
 
/<http://megapolitan.kompas.com/read/xml/2009/04/06/14302365/kasih.orangtua.ryan.sungguh.sepanjang.masa...>
 **
  Senin, 6 April 2009 | 14:30 WIB

*KOMPAS.com *— Kasih ibu sepanjang masa, kasih anak sepanjang galah.
Pernyataan ini mungkin tepat menggambarkan kasih dan perhatian orangtua
terdakwa mutilasi, Very Idham Henyansyah (30), Ahmad dan Kusmiatun.

Kendati kini anak semata wayangnya menjadi pesakitan di kursi pengadilan,
Ahmad dan Kusmiatun tetap setia mendampingi putranya hampir pada setiap
sidang yang digelar dua kali seminggu.

Padahal, pria yang diduga melakukan serangkaian pembunuhan berencana di kota
kelahirannya tersebut kerap mengamuk dan memukuli orangtuanya jika sedang
marah. Usia lanjut yang telah menggerogoti stamina dan fisik mereka tidak
menghalangi niat mereka untuk hadir di persidangan anaknya di Depok.

Bayangkan saja, mereka harus menempuh perjalanan lebih dari 10 jam dari
Jombang, Jawa Timur, menuju Depok, dengan menggunakan kereta api ekonomi.
Tidak jarang, sidang Ryan, yang telah berlangsung hampir setengah tahun,
berakhir senja hari. Tidak jarang pula sidang Ryan batal karena saksi-saksi
yang sedianya hendak memberikan keterangan urung hadir.

Belum lagi sejumlah uang yang perlu dikeluarkan oleh mereka yang dapat
digolongkan keluarga tidak mampu. Seperti hari ini, dengan menggenakan
pakaian seadanya, Ahmad dan Kusmiatun rela menembus hujan yang mengguyur
Depok dari Margonda menuju pengadilan yang berjarak beberapa kilometer
dengan menggunakan ojek.

Sendal selop karet lusuh yang digunakannya kuyup oleh air hujan sehingga
pria kurus tersebut harus berjalan pelan agar tidak terpeleset. Di tangannya
tergantung kantong plastik kresek yang di dalamnya berisi lele goreng
kesukaan anaknya.

Seakan telah mengantisipasi kemungkinan hujan, penganan tersebut dilapisi
beberapa kantong plastik agar tidak basah oleh air hujan. Menurut pengakuan
Ahmad, lele goreng tersebut dimasak sendiri oleh Kusmiatun.

Sesampainya di pengadilan, alih-alih mengeringkan baju, wajah, dan rambutnya
yang kuyup, Ahmad, yang disusul oleh Kusmiatun, langsung bergegas menuju
ruang tahanan PN Depok dan memberikan makanan kepada Ryan.

Kusmiatun yang mengenakan setelan pakaian batik bewarna coklat langsung
menghambur ke arah Ryan dan memeluknya begitu diizinkan masuk ke ruang
tahanan pria. Air mata pun kembali menggenang di pelupuk mata sebelum
akhirnya menetes dan membasahi wajahnya.

Sambil menatap wajah anaknya dengan sorot mata lesu, Kusmiatun mengusap-usap
wajah Ryan. Ahmad, yang pernah dipukuli Ryan, mengaku sangat terpukul dan
sedih ketika anaknya didakwa hukuman pidana mati oleh jaksa penuntut umum.

Walaupun tidak mengerti hukum, Ahmad membela Ryan mati-matian dengan
mengatakan bahwa anaknya tidak normal di depan umum. Tujuannya jelas, yaitu
agar anaknya mendapatkan keringanan hukuman.

Saat ini persidangan Ryan tengah berlangsung. Akankah Ryan divonis hukuman
pidana mati seperti yang didakwakan jaksa penuntut umum ataukah Ryan "hanya"
dijatuhi hukuman pidana penjara selama 20 tahun, seperti yang diperkirakan
tim kuasa hukumnya?

Sumber:
http://megapolitan.kompas.com/read/xml/2009/04/06/14302365/kasih.orangtua.ryan.sungguh.sepanjang.masa.
..

Kirim email ke