Penyesalan Joe Stoker Joe Stoker, seorang tukang rem kereta api, disukai oleh penumpang-penumpang dan pegawai-pegawai kereta api karena orangnya ramah. Akan tetapi ia tak begitu bertanggung jawab dalam melakukan pekerjaannya. Ia menganggap enteng segalanya dan juga seorang peminum whiski. Jika ada orang yang menegurnya maka dia akan berkata sambil tertawa, "Terima kasih. Saya tetap ingat. Jangan kuatir."
Pada suatu malam, turun salju lebat. Kereta api datang terlambat. Joe menggerutu dan mengeluh karena harus bekerja lebih keras, dan diam-diam dia meminum whiskinya. Segera ia tertawa-tawa, senang, sementara kondektur dan masinis menjadi prihatin. Di antara dua stasiun, kereta api itu sekonyong-konyong berhenti. Tutup silindernya terlepas. Dalam waktu lima menit kereta api cepat akan melalui rel yang sama. Kondektur dengan secepat kilat berlari ke gerbong paling belakang dan memerintahkan Joe untuk memasang lampu merah dan membawanya berjalan sepanjang rel. Tukang rem itu tertawa dan berkata, "Ah, jangan tergesa-gesa." Kondektur itu menjawab dengan sungguh-sungguh, "Jangan ditangguhkan satu menit pun, Joe. Kereta api cepat segera tiba." "Baiklah," kata Joe. Kondektur berlari cepat menuju lokomotif, tetapi tukang rem itu tidak langsung mengerjakan tugasnya. Ia mengenakan jasnya terlebih dahulu. Lalu menghabiskan satu sloki whiski untuk menghangatkan badannya. Kemudian dia perlahan-lahan mengambil lentera merah dan dengan melenggang santai ia berjalan sambil bersiul sepanjang rel. Belum sampai sepuluh langkah, ia mendengar suara tanda kedatangan kereta api cepat. Ia mulai berlari dan berlari. Tetapi semuanya sudah terlambat. Sesaat kemudian, lokomotif kereta api cepat itu menabrak gerbong-gerbong yang sedang berhenti, membuatnya hancur remuk dan mengubah bentuknya menjadi harmonika raksasa, dengan diiringi jerit teriak para penumpang yang lebur binasa, bercampur dengan suara desis uap yang keluar lepas. Ketika orang mencari Joe Stoker, ia sudah menghilang. Malamnya ia ditemukan dalam sebuah lumbung, dalam keadaan gila, melambai-lambaikan lentera di depan kereta api khayalan, sambil berteriak-teriak, "Ah, seandainya saya lakukan... seandainya...." Orison Swett Marden "Watak Anda Melebihi Kecemerlangan Emas (terj.)" Ayah, Anak, dan Keledai Suatu ketika seorang laki-laki beserta anaknya membawa seekor keledai ke pasar. Di tengah jalan, beberapa orang melihat mereka dan menyengir, "Lihatlah orang-orang dungu itu. Mengapa mereka tidak naik ke atas keledai itu?" Laki-laki itu mendengar perkataan tersebut. Ia lalu meminta anaknya naik ke atas keledai. Seorang perempuan tua melihat mereka, "Sudah terbalik dunia ini! Sungguh anak tak tahu diri! Ia tenang-tenang di atas keledai sedangkan ayahnya yang tua dibiarkan berjalan." Jadi kali ini, anak itu turun dari punggung keledai dan ayahnya yang naik. Beberapa saat kemudian mereka berpapasan dengan seorang gadis muda. "Mengapa kalian berdua tidak menaiki keledai itu bersama-sama?" Mereka menuruti nasehat gadis muda itu. Tak lama kemudian sekelompok orang lewat. "Binatang malang.... ia menanggung beban dua orang gemuk tak berguna. Kadang-kadang orang memang bisa sangat kejam!" Sampai di sini, ayah dan anak itu sudah muak. Mereka memutuskan untuk memanggul keledai itu. Melihat kejadian itu, orang-orang tertawa terpingkal- pingkal, "Lihat! Manusia keledai memanggul keledai!" sorak mereka. Jika Anda berusaha menyenangkan semua orang, Anda tak akan menyenangkan siapa pun. Puisi Kentut Ada suatu cerita mengenai seorang pemuda yang menyenangi puisi dan tinggal berseberangan sungai dengan gurunya. Pemuda itu, pada suatu hari menulis puisi yang isinya menguraikan tentang tidak adanya sifat Keakuan dalam dirinya dimana angin dari delapan penjuru pun tidak akan mampu menggoyahkannya. Setelah puisi tersebut selesai ditulis, yang menurut dia adalah yang terindah, maka diutuslah pelayannya ke seberang untuk dikirimkan kepada gurunya dengan maksud mendapatkan pujian. Gurunya, sesudah membaca puisi tersebut, langsung menulis di belakang kertas puisi itu, "Puisi Anda ini bau seperti kentut!" Tentu saja pemuda tersebut marah bukan kepalang setelah membaca komentar gurunya. Dia pun memutuskan untuk mengunjungi gurunya secara langsung dan dengan emosi meluap, dia berteriak, "Guru sungguh tidak bisa menghargai keindahan puisi. Puisi itu adalah yang terindah menurut saya, tetapi Guru bukannya memberikan pujian, malah mencerca seperti bau kentut !!!" Gurunya menjawab dgn ketawa, "Ha...ha...ha..., muridku, bagaimana engkau mengatakan sudah tidak mempunyai sifat Keakuan sampai angin dari delapan penjuru pun tidak mampu menggoyahkan dirimu. Lihat saja, baru kena satu angin kecil (kentut), Anda sudah terbirit-birit menemuiku!!!"

