Just info ...

---------- Forwarded message ----------
From: Benny The Great <[email protected]>
Date: 1 Jul 2009 13:46
Subject: {JokeAlaBikers} Sekedar informasi bagi yg mungkin belum tahu
To: jokealabikers <[email protected]>, [email protected],
[email protected]




  *PEMULUNG NAIK KRL UNTUK MENGUBUR ANAKNYA*

Salemba, Warta Kota



PEJABAT Jakarta seperti ditampar.. Seorang warganya harus menggendong

mayat anaknya karena tak mampu sewa mobil jenazah. Penumpang kereta

rel listrik (KRL) jurusan Jakarta - Bogor pun geger Minggu (5/6).

Sebab, mereka tahu bahwa seorang pemulung bernama Supriono (38 thn)

tengah menggendong mayat anak, Khaerunisa (3 thn). Supriono akan

memakamkan si kecil di Kampung Kramat, Bogor dengan menggunakan jasa

KRL.



Tapi di Stasiun Tebet, Supriono dipaksa turun dari kereta, lantas

dibawa ke kantor polisi karena dicurigai si anak adalah korban

kejahatan. Tapi di kantor polisi, Supriono mengatakan si anak tewas

karena penyakit muntaber. Polisi belum langsung percaya dan memaksa

Supriono membawa jenazah itu ke RSCM untuk diautopsi.



Di RSCM, Supriono menjelaskan bahwa Khaerunisa sudah empat hari

terserang muntaber. Dia sudah membawa Khaerunisa untuk berobat ke

Puskesmas Kecamatan Setiabudi. “Saya hanya sekali bawa Khaerunisa ke

puskesmas, saya tidak punya uang untuk membawanya lagi ke puskesmas,

meski biaya hanya Rp 4.000,- saya hanya pemulung kardus, gelas dan

botol plastik yang penghasilannya hanya Rp 10.000,- per hari,” ujar

bapak 2 anak yang mengaku tinggal di kolong perlintasan rel KA di

Cikini itu.. Supriono hanya bisa berharap Khaerunisa sembuh dengan

sendirinya. Selama sakit Khaerunisa terkadang masih mengikuti ayah dan

kakaknya, Muriski Saleh (6 thn), untuk memulung kardus di Manggarai

hingga Salemba, meski hanya terbaring digerobak ayahnya.



Karena tidak kuasa melawan penyakitnya, akhirnya Khaerunisa

menghembuskan nafas terakhirnya pada Minggu (5/6) pukul 07.00.

Khaerunisa meninggal di depan sang ayah, dengan terbaring di dalam

gerobak yang kotor itu, di sela-sela kardus yang bau. Tak ada

siapa-siapa, kecuali sang bapak dan kakaknya. Supriono dan Muriski

termangu. Uang di saku tinggal Rp 6.000,- tak mungkin cukup beli kain

kafan untuk membungkus mayat si kecil dengan layak, apalagi sampai

harus menyewa ambulans. Khaerunisa masih terbaring di gerobak.

Supriono mengajak Musriki berjalan menyorong gerobak berisikan mayat

itu dari Manggarai hingga ke Stasiun Tebet, Supriono berniat

menguburkan anaknya di kampong pemulung di Kramat, Bogor. Ia berharap

di sana mendapatkan bantuan dari sesama pemulung.



Pukul 10.00 yang mulai terik, gerobak mayat itu tiba di Stasiun Tebet.

Yang tersisa hanyalah sarung kucel yang kemudian dipakai membungkus

jenazah si kecil. Kepala mayat anak yang dicinta itu dibiarkan

terbuka, biar orang tak tahu kalau Khaerunisa sudah menghadap Sang

Khalik. Dengan menggandeng si sulung yang berusia 6 thn, Supriono

menggendong Khaerunisa menuju stasiun.



Ketika KRL jurusan Bogor datang, tiba-tiba seorang pedagang

menghampiri Supriono dan menanyakan anaknya. Lalu dijelaskan oleh

Supriono bahwa anaknya telah meninggal dan akan dibawa ke Bogor

spontan penumpang KRL yang mendengar penjelasan Supriono langsung

berkerumun dan Supriono langsung dibawa ke kantor polisi Tebet. Polisi

menyuruh agar Supriono membawa anaknya ke RSCM dengan menumpang

ambulans hitam.



Supriono ngotot meminta agar mayat anaknya bisa segera dimakamkan.

Tapi dia hanya bisa tersandar di tembok ketika menantikan surat

permintaan pulang dari RSCM. Sambil memandangi mayat Khaerunisa yang

terbujur kaku.



Hingga saat itu Muriski sang kakak yang belum mengerti kalau adiknya

telah meninggal masih terus bermain sambil sesekali memegang tubuh

adiknya.



Pukul 16.00, akhirnya petugas RSCM mengeluarkan surat tersebut,

lagi-lagi karena tidak punya uang untuk menyewa ambulans, Supriono

harus berjalan kaki menggendong mayat Khaerunisa dengan kain sarung

sambil menggandeng tangan Muriski. Beberapa warga yang iba memberikan

uang sekadarnya untuk ongkos perjalanan ke Bogor. Para pedagang di

RSCM juga memberikan air minum kemasan untuk bekal Supriono dan

Muriski di perjalanan.



Psikolog Sartono Mukadis menangis mendengar cerita ini dan mengaku

benar-benar terpukul dengan peristiwa yang sangat tragis tersebut

karena masyarakat dan aparat pemerintah saat ini sudah tidak lagi

perduli terhadap sesama. “Peristiwa itu adalah dosa masyarakat yang

seharusnya kita bertanggung jawab untuk mengurus jenazah Khaerunisa.

Jangan bilang keluarga Supriono tidak memiliki KTP atau KK atau bahkan

tempat tinggal dan alamat tetap. Ini merupakan tamparan untuk bangsa

Indonesia,” ujarnya.



Koordinator Urban Poor Consortium, Wardah Hafidz, mengatakan peristiwa

itu seharusnya tidak terjadi jika pemerintah memberikan pelayanan

kesehatan bagi orang yang tidak mampu. Yang terjadi selama ini,

pemerintah hanya memerangi kemiskinan, tidak mengurusi orang miskin

kata Wardah.




--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
[email protected]
Disini jangan pada serius ya...
- Untuk memposting ke grup ini, kirimkan email ke
[email protected]
- Untuk keluar dari grup ini, kirim email ke
[email protected]
- Untuk pilihan lain, kunjungi grup ini di
http://groups.google.co.id/group/JokeAlaBikers?hl=id
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---



-- 
GBU All.
Best Regards,



MICHEL KOTTEN
CDMA 021 9192 5081, Smart 088 111 48401, Mobile 0813 8242 9191, YM
michel_kotten



Member Of :
GMAHK DJATINEGARA
THUNDER COMMUNITY 125 NRA : 1422
F.O.B (FELLOWSHIP OF BIKERS)- www.fellowshipofbikers.org -

Kirim email ke