hmmm akhirnya ada juga yg angkat kasus ini...
benar bgt tuh...apa hubungannya kartini sm advent coba? gk ada kan..
dari dulu saya merasa aneh kalo di gereja tiap 21 apr khusus memperingati hari 
kartini sampai ibu2 pake kebaya segala lagi..?
apa sih istimewanya kartini? emang kalo kartini gk ada para perempuan2 gk bisa 
berbuat apa2? emang kalo kartini gk ada permpuan gk bisa seperti sekarang? gk 
juga kan..
 
setuju sekali, daripada memperingati hari kartini di gereja lebih baik kale 
kalo memperingati hari Ellen white... itu kan tokoh yang paling berpengaruh di 
gereja kita...
yuks salam -p24-

--- On Mon, 12/21/09, Echel <[email protected]> wrote:


From: Echel <[email protected]>
Subject: [PemudaAdvent] Mendukung hari ibu - Menggugat hari Kartini
To: [email protected]
Cc: [email protected], [email protected], 
[email protected], [email protected]
Date: Monday, December 21, 2009, 7:25 PM


  




Dear Pdt. Sonny & all,
Sangat mendukung dengan apresiasi kita kepada para ibu. Setiap tahun di jemaat 
kami tetap diadakan perayaan hari ibu. Tahun inipun Jemaat Depok Jaya & Beji 
bergabung untuk merayakan secara spesial hari ibu.
 
Terlepas dari perayaan hari ibu, di authorized meeting di Kramat Pulo kemarin 
saya perhatikan oleh konfrens memprogramkan perayaan hari Kartini. Menurut saya 
hari Kartini tidaklah cocok dirayakan di gereja. Kita jadinya mengkhultuskan 
tokoh "dunia". Kalau mau mengkhultuskan kenapa tidak dicari hari tertentu untuk 
merayakan Hari Ellen White atau Hari Ratu Esther atau hari Dorkas ?
 
Kenapa harus hari Kartini yang dirayakan padahal ketokohan beliau sebagai 
pahlawan wanita digugat di daerah-daerah tertentu. Masih ada tokoh-tokoh wanita 
lain yang berjuang jauh melebihi Kartini. Di Sulawesi Utara beberapa tahun lalu 
marak dibicarakan gugatan terhadap ketokohan Kartini sebagai tokoh emansipasi 
wanita. Seorang yang perjuangannya tidak melebihi Maria Walanda Maramis, 
seorang tokoh wanita, seorang yatim piatu, menulis berbagai artikel di koran 
pada waktu itu, mendirikan sekolah PIKAT (Percintaan Ibu Kepada Anak 
Turunannya) baik di Sulawesi Utara, Batavia, Bogor, bandung, Cimahi, Magelang, 
Surabaya ada juga beberpaa kota lain yang menyusul kemudian setelah beliau 
meninggal.
 
Di bawah ini pula ada beberapa artikel yang menolak ketokohan Kartni sebagai 
tokoh emansipasi wanita. Terlepas RA. Kartini sebagai tokoh emansipasi yang 
selayaknya, namun tidak layak dijadikan tokoh yang dikultuskan dibawa ke gereja 
apalagi ketokohan RA. Kartini kontroversi dan tidak diterima secara mutlak di 
berbagai daerah.
 
Untuk itu saya menyarankan, Advent Indonesia sebagai sebuah lembaga gerejawi 
untuk tidak merayakan hari Kartini. Kalau kita mau merayakan haro tokoh wanita 
tertentu, mendingan kita rayakan hari Dorkas, hari Esther atau hari Ellen White 
dan lebih baik lagi kita tidak merayakan hari tokoh tertentu. Hari kelahiran 
Yesus saja kita tidak secara resmi rayakan pada hari natal apalagi harus 
merayakan hari tokoh dunia.
 
 
rgds,
 
 
 
Herschel Najoan
Getsemani Depok Jaya
SSC Beji
 
 
 

Menggugat Emansipasi Wanita Dibalik Kepeloporan Kartini 3 
 Ahmadmaulana 

 
Memaknai refleksi kelahiran RA Kartini yang diperingati setiap tanggal 21 April 
sebagai tokoh nasional yang dikenal sangat getol memperjuangkan gerakan 
emansipasi wanita di Indonesia, sepintas lalu merupakan dogma yang nyaris tanpa 
kritik sejak memoar beliau tertuang dengan tinta emas dalam lembaran sejarah 
kemerdekaan Indonesia. Bukan hanya wanita, pria bahkan waria pun sampai detik 
ini meyakini derap kemajuan emansipasi wanita Indonesia dicapai berkat gerakan 
emansipasi yang dipelopori RA Kartini.
Untuk mengabadikan makna kepeloporan Kartini yang hampir menjadi figur sentral 
wanita Indonesia, maka tidak heran jika penampilan wanita kita di setiap 
tanggal 21 April, sarat dengan fenomena Kartini di kantor-kantor pemerintah, 
swasta. Bahkan sejumlah unit kerja seperti TV,Radio dll sengaja mensetting 
program siaran-siarannya sepanjang hari itu dengan nuansa ke-Kartinian.
Tidak heran jika mulai dari kalangan ibu, remaja putri hingga anak perempuan 
sibuk mendandani diri dengan pakaian kebaya khas Kartini untuk ditampilkan 
dalam berbagai atraksi. Tak pelak lagi salon kecantikan yang selama ini sepi 
pengunjung, tiba-tiba kebanjiran orderan,walau hanya sekedar pemasangan 
sanggul. Semua itu merupakan ekspresi kecintaan dan kekaguman masyarakat 
Indonesia terhadap sosok Kartini yang dicitrakan dalam suasana keprihatinan 
sebagaimana yang dilukiskan Ismail Marzuki melalui salah satu karya 
legendarisnya yang berjudul “Sabda Alam”.
Kita memang tidak dapat menerima dengan argumentasi apapun segala bentuk 
ketidakadilan dan diskriminasi. Apalagi praktik pelecehan, peremehan dan 
penganiayaan hak kelompok masyarakat rentan seperti kaum perempuan. Bahkan kita 
harus menghilangkan, jika perlu melakukan upaya pro justicia kepada siapa pun 
yang mencoba melanggar hak serta merendahkan harkat dan martabat kaum perempuan 
sebagaimana konon dialami Kartini dimasa perjuangannya. Terlebih disaat kita di 
kekinian telah memiliki konstitusi baru dan sejumlah paket peraturan 
perundang-undangan yang telah menjamin pemenuhan HAM dalam segala aspek 
kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat.
Sebaliknya kita pun tentu setuju jika eksistensi HAM ditempatkan dalam khasanah 
Indonesia di kekinian sebagaimana pula perlunya image Kartini sebagai tokoh 
pejuang emansipasi wanita Indonesia untuk diposisikan secara proporsional, 
objektif dan multi dimensional. Ini penting karena opini public yang terbangun 
dalam memahami aspek perjuangan kemajuan kaum wanita di Indonesia, tampaknya 
cenderung didominasi kalau bukan identik dengan sosok perjuangan Kartini.
Betapa tidak karena hampir semua referensi tentang gerakan emansipasi wanita di 
nusantara, tidak pernah luput pengkajiannya dengan sosok Kartini. Tragisnya 
karena paradigma gerakan emansipasi wanita di Indonesia terbangun dalam proses 
dialektika dan rivalitas yang menempatkan pria dan wanita sebagai kekuatan yang 
saling berhadap-hadapan. Tak ayal lagi gendereng perlawanan kaum wanita atas 
dominasi pria pun ditabuh dengan konstalasi issue patriarkhi dan konstruksi 
sosial yang bias gender.
Dengan tidak mengurangi penghargaan dan penghormatan penulis terhadap sosok 
Kartini maupun setiap perjuangan menentang ketidakadilan dan diskriminasi, 
namun penulis menyesalkan sekaligus menggugat tiga hal dibalik kepeloporan 
Kartini dalam memperjuangkan emansipasi wanita di Indonesia. Tiga hal dimaksud 
meliputi :
1. Seberapa jauh kebenaran deskripsi tentang R.A Kartini sebagai pencetus 
gerakan emansipasi wanita di Indonesia, menurut kronologis fakta sejarah.?
2. Seberapa tinggi tingkat urgensi kepeloporan Kartini dalam memperjuangkan 
emansipasi wanita di Indonesia?
3. Apakah profile Kartini dalam sejarah perjuangan Indonesia, benar-benar 
merupakan deskripsi keberadaan wanita Indonesia pada masanya?
Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa Kartini lahir di Jepara tanggal 
21 April 1879 dan wafat pada tanggal 17 September 1904. Dalam berbagai 
manuskrip tentang Kartini antara lain dikisahkan tentang idenya untuk 
membebaskan kaumnya dari belenggu tradisi dan konstruksi sosial yang sangat 
melecehkan serta merendahkan martabat perempuan pada masanya. Sejak itulah 
konon merebak pemahaman yang memicu gerakan emansipasi wanita di Nusantara, 
yang kemudian menjelma menjadi Negara Republik Indonesia seperti sekarang ini.
Jika emansipasi dikonstruksikan sebagai konsep penyetaraan hak dan kedudukan 
antara pria dan wanita untuk berperan dalam segala aspek kehidupan dan 
penghidupan, maka sesungguhnya hal seperti itu sudah terjadi dan melembaga jauh 
sebelum era Kartini. Kita tentu masih ingat kalau Majapahit sebagai kerajaan 
yang pernah menguasai hampir seluruh kawasan Asia Tenggara hingga ke Formosa 
dibagian utara dan Madagaskar di barat, ternyata dalam silsilah kerajaan 
Majapahit pernah diperintah 2 dua perempuan masing-masing “Tribhuwanatunggadew 
i (1328-1350) M”. dan Kusuma Wardhani (1389-1429) M.
Catatan sejarah yang lebih tua dari Majapahit dikenal pula sosok perempuan 
sebagai panutan yang sangat dihormati yaitu Fatimah Binti Ma’mun. Nama tokoh 
ini ditemukan dalam prasasti makam yang terletak di Leran (dekat Gresik) dalam 
prasasti tersebut selain nama, juga keterangan wafat yaitu tahun 1028 M .
Bukan hanya itu dalam catatan sejarah yang lebih tua lagi dari semua yang 
dikemukakan di atas, dikenal juga wanita kesohor dari kerajaan Kalingga 
(Holing/Keling) , masa keemasan kerajaan ini justru berpuncak ketika “Ratu 
Sima” berkuasa yang diperkirakan berlangsung pada abad VII M. Dalam masa itu 
menurut sejarah, rakyat sungguh-sungguh sangat merasakan nuansa kemakmuran dan 
keadilan. Hal tersebut ditandai dengan pembangunan gapura penerang disetiap 
persimpangan jalan yang bertatahkan emas tanpa ada yang berniat apalagi nekat 
melakukan pencurian sebagaimana dikekinian yang meski tersembunyi, dijaga ketat 
dan disertai ancaman hukuman berat, toh juga dapat diterobos dengan modus 
korupsi dan sejenisnya.
Begitu tegas dan kerasnya Sang Ratu menegakkan hukum, menimbulkan rasa 
penasaran Raja Ta- Che dengan mengirim mata-mata untuk membuktikan kebenaran 
berita tentang ketegasan Ratu Sima. Mata-mata tersebut meletakkan kantong emas 
di pinggir jalan dekat dengan pasar. Ternyata kurang lebih tiga tahun tidak ada 
yang berani menyentuh atau mengambilnya.
Pada suatu hari, Ratu Sima bersama putra mahkota diiringi pejabat –pejabat 
kerajaan mengadakan perjalanan untuk melihat dari dekat keadaan dan kehidupan 
masyarakatnya . Namun tanpa sengaja putra mahkota tersandung kantong emas 
sampai terjatuh . Melihat kenyataan ini, Ratu Sima sangat marah dan 
memerintahkan untuk menjatuhkan hukuman mati kepada putra mahkota. Tetapi 
berkat nasihat para pejabat istana yang menyatakan putra mahkota tidak 
bersalah, maka hukuman mati diurungkan. Meski tetap dijatuhi hukuman dengan 
memotong jari kaki yang menyentuh emas tersebut.. Melihat kenyataan itu, Raja 
Ta-Che mengurungkan niat untuk menyerang Kalingga .
Dari deskripsi yang dikemukakan di atas membuktikan bahwa ketokohan wanita 
untuk tampil mengambil peran sentral dalam masyarakat, ternyata selalu hadir 
disetiap zaman. Hampir setiap wilayah di nusantara sebenarnya memiliki tokoh 
perempuan atau setidaknya nilai tradisi yang mendudukkan perempuan dalam posisi 
sentral. Ambil contoh pada masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat yang 
menganut sistem kekerabatan matrilineal.
Perempuan dalam sistem kekerabatan ini, mempunyai kedudukan determinan dari 
pada laki-laki. Mulai dari soal pewarisan hingga tetek bengek pernikahan dan 
perceraian, semuanya hanya terfokus pada perempuan sebagai pemegang hak. Kaum 
lelaki dalam sistem kekerabatan ini hanya berkedudukan sebagai sub ordinat atas 
dominasi perempuan. Fenomena tersebut tentu sangat jauh dari alam kehidupan 
Kartini dengan emansipasinya.
Tokoh perempuan lain di nusantara yang sempat mengukir prestasi spektakuler 
sebagai the change of social agent antara lain Martha Christina Tiahahu yang 
gigih berjuang bersama Pattimura di Maluku, Cut Nyak Dien dan Cut Muthia dua 
srikandi dari Nanggroe Aceh Darussalam yang tak kenal menyerah untuk mengusir 
pendudukan pasukan Kape (Belanda) di bumi persada, tak ketinggalan nama Herlina 
Efendi yang dianugerahi pending Cendrawasih Emas dari pemerintah RI atas 
jasanya untuk membebaskan Irian Barat dari pendudukan kolonial Belanda.
Kepeloporan emansipasi wanita di Sulawesi Selatan sendiri, sudah lama terjadi 
jauh sebelum Kartini menyanyikan lagu klasik itu. Kita tentu pernah mendengar 
nama Putri Ta’dampali dari istana kerajaan Luwu yang dibuang ke daerah Wajo 
karena mengidap penyakit lepra. Ditempat pembuangannya bukan saja dapat sembuh 
konon dengan jilatan seekor kerbau, Putri Ta’dampali juga ternyata sukses 
menyulap daerah Wajo menjadi kerajaan besar laksana baldatun tayyibatun 
warabbun gafuur.
Kitab lontara karangan legendaris Lagaligo yang sangat mashur dalam dunia 
kesusastraan kuno ternyata tidak punya nilai seagung itu, seandainya tanpa 
sentuhan tangan Colli Pujie, lagi-lagi seorang perempuan yang penulis kira 
sulit dicari tandingannya di masa kini. Dialah yang tekun mengumpulkan serpihan 
lontara Lagaligo lalu ditulisnya kembali hingga menjadi kitab utuh yang sangat 
monumental di seantero dunia.
Dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia di Sulsel tentu tidak dapat 
dipisahkan dengan nama Emmy Saelan. Meski ia adalah seorang perempuan, namun 
semangat dan kegigihannya dalam membela tanah air, jauh melebihi kemampuan dan 
kegigihan kaum lelaki pada masanya. Bersama-sama R.W. Monginsidi , Emmy Saelan 
dapat melumpuhkan kekuatan kolonial Belanda yang mempunyai persenjataan lebih 
baik dengan taktik berpura-pura menyerah. Setelah itu 8 atau 9 serdadu Belanda 
mencoba menghampiri untuk menangkapnya dan seketika itu pula, Emmy Saelan 
meledakkan granat tangan yang menewaskan para penangkap dan dirinya sendiri.
Dengan fakta sejarah sebagaimana yang dikemukakan di atas, terkuaklah bukti 
bahwa jauh sebelum era Kartini, kaum wanita sesungguhnya telah mendulang 
kesetaraan dengan kaum pria bahkan nyata-nyata telah menunjukkan kepiawaiannya 
dalam mengambil peran sosialnya jauh melebihi peran Kartini. Tapi mengapa nama 
mereka ini dengan prestasi spektakulernya tak pernah disebut-sebut dalam setiap 
episode gerakan emansipasi wanita di Indonesia? Dan mengapa pula mereka dapat 
menjadi faktor determinan dalam tatanan kehidupan pada masanya?. Padahal kalau 
kita runut dari logika pencerahan, maka kurang apa ortodoks dan konservatifnya 
tatanan kehidupan yang melembaga dalam akar tradisi yang berlaku ketika itu.
Kepopuleran Kartini sebagai penggerak emansipasi wanita Indonesia mungkin 
terjadi akibat propaganda kolonial Belanda. Kesimpulan ini dapat ditarik dari 
korespondensi Kartini dengan sejumlah tokoh perempuan di negeri penjajah itu 
yang kemudian diekspos melalui media dan buku-buku. Semua ini mungkin sengaja 
dilakukan Belanda untuk menebar pertentangan dan perpecahan (Devide at Impera) 
sebagai taktik untuk menghancurkan dan melemahkan semangat pemberontakan 
nasional. Ditengarai juga sebagai ajang akulturasi budaya dan nilai Belanda 
untuk menjamah struktur nilai dan budaya Indonesia agar dapat tunduk dan 
simpati kepada kolonial Belanda.
Sampai disini popularitas Kartini sebagai pencetus gerakan emansipasi wanita di 
nusantara ternyata sarat dengan kepentingan politik dan menapikkan silsilah 
perjuangan perempuan yang jauh lebih prestius sebelum masanya. Bahkan sangat 
boleh jadi popularitas Kartini lebih menonjol akibat promosi Belanda 
sebagaimana anekdot yang mengisahkan kepopuleran telur ayam dari pada telur 
bebek, puyuh dll adalah karena karateristik ayam yang selalu berkotek setiap 
akan dan sudah bertelur, hal mana tidak terjadi pada hewan petelur lain.
Karena itu penulis sangat sesalkan flatform perjuangan perempuan Indonesia 
dengan starting point pada sosok Kartini yang lemah dan teraniaya. Akan lebih 
baik jika gerakan emansipasi wanita Indonesia memunculkan figur yang menjadi 
symbol perempuan Indonesia yang kuat. Piawai, elegan, dan berbagai elemen 
superioritas. Mungkin dengan pola seperti ini setidaknya dapat mengubah image 
buruk publik terhadap perempuan baik sebagai kelompok rentan maupun polarisasi 
yang bertendensi rivalitasnya dengan kaum pria.
 
“MITOS KARTINI DAN REKAYASA SEJARAH”
 


Oleh : Adian Husaini
Mengapa setiap 21 April kita memperingati Hari Kartini? Apakah tidak ada wanita 
Indonesia lain yang lebih layak ditokohkan? 
Ada yang menarik pada Jurnal Islamia (INSISTS-Republika) edisi 9 April 2009 
lalu. Dari empat halaman jurnal berbentuk koran yang membahas tema utama 
tentang Kesetaraan Gender, ada tulisan sejarawan Persis Tiar Anwar Bahtiar 
tentang Kartini. Judulnya: “Mengapa Harus Kartini?” 
Sejarawan yang menamatkan magister bidang sejarah di Universitas Indonesia ini 
mempertanyakan: Mengapa Harus Kartini? Mengapa setiap 21 April bangsa Indonesia 
memperingati Hari Kartini? Apakah tidak ada wanita Indonesia lain yang lebih 
layak ditokohkan dan diteladani dibandingkan Kartini? 
Menyongsong tanggal 21 April 2009 kali ini, sangatlah relevan untuk membaca dan 
merenungkan artikel yang ditulis oleh Tiar Anwar Bahtiar tersebut. Tentu saja, 
pertanyaan bernada gugatan seperti itu bukan pertama kali dilontarkan 
sejarawan. Pada tahun 1970-an, di saat kuat-kuatnya pemerintahan Orde Baru, 
guru besar Universitas Indonesia, Prof. Dr. Harsja W. Bachtiar pernah menggugat 
masalah ini. Ia mengkritik ‘pengkultusan’ R.A. Kartini sebagai pahlawan 
nasional Indonesia.


Dalam buku Satu Abad Kartini (1879-1979), (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 
1990, cetakan ke-4), Harsja W. Bahtiar menulis sebuah artikel berjudul “Kartini 
dan Peranan Wanita dalam Masyarakat Kita”. Tulisan ini bernada gugatan terhadap 
penokohan Kartini. “Kita mengambil alih Kartini sebagai lambang emansipasi 
wanita di Indonesia dari orang-orang Belanda. Kita tidak mencipta sendiri 
lambang budaya ini, meskipun kemudian kitalah yang mengembangkannya lebih 
lanjut,” tulis Harsja W. Bachtiar, yang menamatkan doktor sosiologinya di 
Harvard University. 
Harsja juga menggugat dengan halus, mengapa harus Kartini yang dijadikan 
sebagai simbol kemajuan wanita Indonesia. Ia menunjuk dua sosok wanita yang 
hebat dalam sejarah Indonesia. Pertama, Sultanah Seri Ratu Tajul Alam 
Safiatuddin Johan Berdaulat dari Aceh dan kedua, Siti Aisyah We Tenriolle dari 
Sulawesi Selatan. Anehnya, tulis Harsja, dua wanita itu tidak masuk dalam buku 
Sejarah Setengah Abad Pergerakan Wanita Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 
1978), terbitan resmi Kongres Wanita Indonesia (Kowani). Tentu saja Kartini 
masuk dalam buku tersebut. 
Padahal, papar Harsja, kehebatan dua wanita itu sangat luar biasa. Sultanah 
Safiatudin dikenal sebagai sosok yang sangat pintar dan aktif mengembangkan 
ilmu pengatetahuan. Selain bahasa Aceh dan Melayu, dia menguasai bahasa Arab, 
Persia, Spanyol dan Urdu. Di masa pemerintahannya, ilmu dan kesusastraan 
berkembang pesat. Ketika itulah lahir karya-karya besar dari Nuruddin 
ar-Raniry, Hamzah Fansuri, dan Abdur Rauf. Ia juga berhasil menampik 
usaha-usaha Belanda untuk menempatkan diri di daerah Aceh. VOC pun tidak 
berhasil memperoleh monopoli atas perdagangan timah dan komoditi lainnya. 
Sultanah memerintah Aceh cukup lama, yaitu 1644-1675. Ia dikenal sangat 
memajukan pendidikan, baik untuk pria maupun untuk wanita. 
Tokoh wanita kedua yang disebut Harsja Bachriar adalah Siti Aisyah We 
Tenriolle. Wanita ini bukan hanya dikenal ahli dalam pemerintahan, tetapi juga 
mahir dalam kesusastraan. B.F. Matthes, orang Belanda yang ahli sejarah 
Sulawesi Selatan, mengaku mendapat manfaat besar dari sebuah epos La-Galigo, 
yang mencakup lebih dari 7.000 halaman folio. Ikhtisar epos besar itu dibuat 
sendiri oleh We Tenriolle. Pada tahun 1908, wanita ini mendirikan sekolah 
pertama di Tanette, tempat pendidikan modern pertama yang dibuka baik untuk 
anak-anak pria maupun untuk wanita. 
J.H. Abendanon
Penelusuran Prof. Harsja W. Bachtiar terhadap penokohan Kartini akhirnya 
menemukan kenyataan, bahwa Kartini memang dipilih oleh orang Belanda untuk 
ditampilkan ke depan sebagai pendekar kemajuan wanita pribumi di Indonesia. 
Mula-mula Kartini bergaul dengan Asisten-Residen Ovink suami istri. Adalah 
Cristiaan Snouck Hurgronje, penasehat pemerintah Hindia Belanda, yang mendorong 
J.H. Abendanon, Direktur Departemen Pendidikan, Agama dan Kerajinan, agar 
memberikan perhatian pada Kartini tiga bersaudara. 
Harsja menulis tentang kisah ini: “Abendanon mengunjungi mereka dan kemudian 
menjadi semacam sponsor bagi Kartini. Kartini berkenalan dengan Hilda de 
Booy-Boissevain, istri ajudan Gubernur Jendral, pada suatu resepsi di Ist


      

Kirim email ke