Aktor-aktor pembentuk kota
   
  Membahas masalah perkotaan, dari perspektif penataan ruang semata, tanpa 
melihat peran aktor pembangunannya saat ini jadi kurang lengkap. Nampaknya 
planner kini dihadapkan pada tantangan untuk menganalisis aspek pelaku. Tidak 
bisa lagi berasumsi bahwa 'ruang' (dan resources terkait) sebagai obyek yang 
ditata adalah 'dikuasai' Pemda, sehingga implementasi rencana tata ruang 
menjadi 'domain' pemerintah (daerah) semata. Terutama saat pertumbuhan 
(penduduk) perkotaan tak terkendali, karena kiriman dari hinterland. Sebaliknya 
kemampuan manajerial yang terbatas, ruang yang bisa di-adjust juga kian 
terbatas, sehigga setiap keputusan akan menghadapi trade-off yang sulit. 
Apalagi jika kemampuan fiskal daerah juga kian terbatas, hutang tidak leluasa 
lagi. Sementara iklim demokrasi membawa permasalahannya sendiri.
   
  Dalam kasus masalah ibukota tentu aktor yang terkait sangat banyak, tapi 
bicara yang paling besar dan kita kenal, setidaknya: DKI, Pemda Bodetabek, 
Presiden, Departemen2, legislatif, warga DKI, warga Bodetabek, pendatang dari 
seluruh daerah, dan para Planner.
   
  Kalau dicoba dianalisis kemampuan/ kelemahan, peran positip/ negatif masing2. 
Jakarta, bukan karena pemdanya hebat maka pendapatan daerahnya tinggi, tapi 
karena 'magnit' ibukotanya. Tapi soal kewenaan dalam mengatasi masalah juga 
terbatas, karena kiriman manusia (formal, informal) tidak bisa dia bendung. 
Setiap tindakan bisa jadi simalakama. Kalau pendatang informal difasilitasi, 
akan mengundang pendatang lebih banyak lagi. Kalau tidak diakomodir salah juga.
   
  Pemda Bodetabek, agak kurang jadi sorotan (sasaran makian), padahal luas 
wilayah terbangun Bodetabek kian membengkak, juga investasi yang masuk. 
Andilnya juga besar dalam menangani dan kegagalan pengendalian wilayah ini. 
Semua orang mengikuti pilkadal Bowo vs Adang, tapi kecuali walikota Depok yang 
terus dirongrong dewannya, pedulikah kita dengan siapa walikota/bupati 
Bodetabek, padahal wilayahnya metropolitan pula, siapkah birokrasinya?.
   
  Warga pendatang, tidak bisa disalahkan datang membanjir, karena kesulitan 
ekonomi di daerah. Tapi peran mereka di ibukota juga campur-campur. Tenaganya 
kadang dibutuhkan, tapi kadang involusi saja (dikurangi juga tak mengurangi 
output). Repotnya, karena keterbatasan, perebutan ruang, dan orientasinya untuk 
ngirim ke kampung jadi kurang peduli lingkungan tempat tinggal/kerjanya, 
sehingga sering dirasa 'mengganggu' bagi warga setempat (penyebab banjir, jalan 
macet, sumber kejahatan?, dst).
   
  Secara lebih sempit, pengelolaan fasilitas bagi warga DKI vs Bodetabek saja 
sulit. Pegawai DKI saja sebagian (besar?) tinggal di Bodetabek, dan mayoritas 
warga wilayah sekitar ini memang kerjanya di DKI. Sehingga soal siapa mengirim 
masalah ke siapa, siapa yang membayar vs siapa yang menerima manfaat selalu 
jadi soal. Nyatanya kerjasama antar pemda se Jabodetabek sulit dilakukan, 
bahkan sejak tahun 70an.
   
  Kemudian peran departemen2, yang sebagian menjadi magnet ibukota. Mereka 
punya resources, tapi dalam iklim otonomi daerah ini posisinya jadi kian 
canggung saja. Terbukti dalam penanganan banjir, transportasi yang secara makro 
di bawah kewenangannya, tapi ternyata tidak jelas juga. Dalam polemik JORR yang 
lalu misalnya, terkesan peran pemda Jabodetabek kurang disebut sebagai 
stakeholder, termasuk depar emen perhubungan. Padahal setelah didesak soal 
traffic management, Jasa Marga mengaku tak punya kewenangan mengatur 
lalu-lintas, sekalipun hanya menutup pintu tol saat jalan tol macet.
   
  Oh ya, uang berputar 'di pusat' (kebetulan Jakarta), bukan karena DKI, tapi 
karena kebijakan nasional kita sampai hari ini lebih fokus ke pertumbuhan dan 
stabilisasi makro ekonomi , dengan korban ketimpangan regional. Aktornya adalah 
Depkeu, BI, Bappenas. Yang tidak selalu membantu Jakarta, buktinya, untuk 
mengeluarkan bus berbahan bakar gas bagi transport public yang aman untuk 
lingkungan, dari pabean, malah Depkeu/Beacukai mengenakan tarif berlipat, 
karena bahan bakarnya bukan premium.
   
  Aktor lain, pemodal, pembangun, yang secara nyata kekuatan modal dan power, 
karena selalu  dinanti, oleh mereka yang selalu mendamba untuk "menciptakan 
iklim investasi yang kondusif", yang dzikirnya “investor, investor, investor”. 
Sehingga tidak jelas lagi siapa yang jadi regulatornya, siapa yang melindungi 
kepentingan public.
   
  Legislatif, parpol, punya peran yang lain lagi, yang kadang sulit diduga, 
demi kepentingan politik, konstituen, sponsor, atau pemerintah?
   
  Di balik semua aktor itu, sudah barang tentu adalah 'kepentingan' 
masing-masing. Sehingga urusannya bukanlah menyepakati, tapi tawar menawar. 
Yang disebut politik.
   
  Lalu, apa peran planner? Adakah planner netral? Karena kalau melihat 
distribusi kerja planner yang  lebih dari 60% di pemerintahan, bisa di DKI, di 
Bodetabek, di daerah lain, di pusat, sisanya mayoritas sebagai konsultan dari 
mereka. Jadi kalau kita 'memaki' instansi-instansi itu, bukankah para planner 
(kita?) juga yang merencana disana? Adakah satu kata satu bahasa di antara 
planners dari tiap lembaga itu?
   
  Di antara konstelasi aktor pembangunan, dan kepentingan masing-masing 
tersebut, bisakah setidaknya para planner yang bekerja di/untuk tiap pihak itu 
setidaknya bertukar pandangan, membahas masalahnya dalam bahasa (kalau bukan 
tujuan) yang sama? Terutama dari tiap pemda yang bertetangga tersebut.
   
  Mungkin para planner dari masing-masing pemda dan lembaga terkait  mendorong 
para pihak untuk bisa buka-bukaan ‘buku’, DKI punya kewajiban & hak apa ke 
tetangga, sebaliknya tetangga punya kewajiban & hak atas DKI dan di antara 
mereka, sehingga semua jelas hitungannya. Tidak terus-menerus saling lempar 
tuduhan.@@@
   
  Salam,
  Risfan Munir, IAP


 __________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

Kirim email ke