Mohon maaf... diforward.......

Reny ansih <[EMAIL PROTECTED]> wrote:  To: [EMAIL PROTECTED]
From: Reny ansih <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Sun, 22 Jun 2008 05:17:53 -0700 (PDT)
Subject: Re: [referensi] Re: Khitah? Re: Paradigma? Re: Geser Dikit Kekota

                Halo pak Wawo.... saya juga tadinya cuma mau ikutan baca saja 
dan senang liat tulisan rekan2 yang sangat mencerahkan ini. Tapi lama-lama ga 
tahan juga ikutan nimbrung . 
Pak Wawo, memang kita ga usah sedih ya kayaknya... karena saya juga masih ingat 
hehe ...romantis lagi nih, kan katanya jadi 'planner' itu adalah seorang yang 
'specialist in generalist' ? 
Saya merasa seorang planner itu malah ga perlu pinter bikin desain fisik kota 
asal dia bisa memanfaatkan para ahli yang akhirnya bisa mendesain fisik kota 
kan ga masalah, dia bisa jadi koordinator saja sudah bagus ya...? malah ini kan 
yang susah? Tapi ini kan yang perlu? 
Sampai-sampai sang dirjen saya jadoel itu pernah bilang disini harus ada juga 
ahli antropologi.... hehe saya memang lihat sudah ada sarjana itu sekarang di 
DJPR yang baru lulus dari UNPAD, saya pernah bilang kedia anda harus membuat 
ilmu hibrida antara ilmu antropologi itu dengan hal-hal yang dikerjakan oleh 
penataan ruang, ini adalah sesuatu yang sangat menarik seperti yang pernah saya 
coba lakukan dengan para ahli hukum untuk penataan ruang. Memang ini adalah 
sesuatu yang akan membuat setiap desain fisik itu akan diRASAkan (bukan dilihat 
lho) berbeda untuk setiap lokasi dan akan memberi setiap situasi fisik itu 
tidak hanya berwujud tapi juga akan berjiwa, ada ruhnya kalau secara religi. 
Dan ini saya ingat dikatakan juga oleh pak Hendro... hehe romantisme lagi. 
Beliau mengatakan mengapa penataan ruang harus di Dep.PU, itu karena penataan 
ruang itu akan memberi jiwa bagi infrastruktur yang dilaksanakan PU itu. 
Ini juga saya ingat dikatakan oleh meneer Tan Sioe An (bener ya pak ada nama 
ini jadoel sebelum ke S'pore ya?) katanya 'kota adalah suatu organisme yang 
hidup' dan setiap lokasi mempunyai karakteristik yang berbeda-beda, tidak ada 
yang sama' nah apa yang membuat hidup dan tidak sama kalau bukan 'jiwa' ? Apa 
yang ada dalam suatu jiwa kalau bukan mau disebut hidup? Tentu bukan sesuatu 
yang tanpa manusia ...iya khaaan? 
Jadi singkatnya sebagai planner ya harus mau belajar dan mau tau segala 
macam..... hehe ingat lagi romantisme waktu dimapram sama mas Wisnumurti yang 
nyuruh kita mengucapkan janji untuk 'akan membaca semua buku sampai ke 
kulit2nya' itu! Semua itu 'demi sang waktu, demi sang langit, demi sang 
bumi....demikian'. 
Sudah ya pak.... masa itu tak kan kembali, tercatat di sanubari untuk masa 
depan yang tak bertepi. 
Salam dan Selamat Malam. Amin
2ny 

--- On Sun, 6/22/08, Hannie Waworoentoe <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  From: Hannie Waworoentoe <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Re: [referensi] Re: Khitah? Re: Paradigma? Re: Geser Dikit Kekota
To: [EMAIL PROTECTED]
Date: Sunday, June 22, 2008, 12:08 AM

      
    Reny, tadinya saya hanya ingin baca kissah-kissah komik yang dikumpul dan 
diterjemahkan bos kepala mandor, sersan mayor, kuncen, Hengky yang sebenarnya 
ahli sosiologi juga. Tapi Reny rada kelewat kredit atau referensi ... kalau 
saya pernah ngajar in ekonomi di planologi ITB...  memang saya tidak akan 
menyangkal bahwa selama kira-kira tiga tahun 1959-60-61, saya terpaksa harus 
merangkap macam-macam pelajaran yang akan saya coba telusuri kembali,  memang 
dari sono-nya saya mulai belajar teknik sipil, lantas membelot ke arsitektur 
tapi kurang setia dengan seni bangunan, yang rada menarik memang perencanaan 
kota pada waktu itu stedebouwkunde dan bukan planologi jadi rada urban design 
dari Thomas Karsten dan Prof J..P.Thysse yang nantinya ke Lembaga Sosial 
Development di The Hague.  Jadi sesungguhnya dengan latar belakang teknik 
(bukan seni) arsitektur, saya ngelamar di Planning and Housing Columbia 
University , yang kini menjadi avant garde dari Public Policy dan
 Development Studies (mungkin karena adanya UN dan kuatnya Public Housing. 
  Jadi sebetulnya sangat kurang ekonomi nya.  Jadi Reny pada waktu Pak Emil 
Salim dan teman-teman lainnya di Berkeley dan Harvard atau Wisconsin sedang 
memperdalam development economics, I had to hurry up and come back to PU di 
Jakarta dan take the challenge of opening the first undergraduate planning 
school whatsoever. Saya kira tahun 58, 59 dan 60 indeed were those 'fortunate 
years that we had a rendezvous with destiny ' as Bill Doebele quoted Roosevelt. 
 Yah mungkin 3 tahun pertama itu saya rada akal-akalan bikin curriculum, cari 
mahasiswa teknik yang bisa dirayu (udahlah engga usah jadi insinyur sipil basah 
atau kering,  atau arsitek kraton atau pasar senen,  insinyur pabrik kimia atau 
obat well planning had at least some style. ) Mungkin Reny merasa dosen-dosen 
kaya Kenneth Watts,  Paula Milone , Jaq. Tyrwhitt, William Alonso, Bill Nash, 
George Hinds  dan banyak lain itu ada pengaruhnya, memang benar, practically as 
their first and sometimes only counterpart, saya juga
 harus bisa jadi interface yang praktis. Barangkali  persyaratan 
'comprehensive' ness of a general planner telah memberi kesan 'serba bisa' nya 
planner pada waktu itu..  Barangkali juga kekhususan planologi yang mengarah ke 
regional planning yang tidak mungkin ada di arsitektur dan juga tidak definite 
dalam infrastruktur sipil.  Barangkali lagi sumber utama dari Geografi dan dari 
sudut lain Demografi telah memberi kwalifikasi spesifik that unique program in 
Bandung. Tapi jelas ini tahun-tahun pertama saja, setelah angkatan-angkatan 
dosen pertama kembali ke Bandung , well then the school was practically 
established. Bukan pada waktu itu Pak Gijanto sudah sepenuhnya menjamin adanya 
pelajaran ekonomi.  Those wild young years were gone.  Jadi engga apa kan Reny 
hanyut sebentar dalam romantika dulu. Sayang sudah tidak banyak lagi 
rekan-rekan yang masih dapat menikmati masa itu. Sad maybe, but ne regrets.  
Sedih mungkin tapi tidak disayangkan.  Salam Pak Wawo. 
   
   
  

  ----- Original Message ----
From: Reny ansih <[EMAIL PROTECTED] com>
To: [EMAIL PROTECTED] ps.com
Sent: Sunday, June 22, 2008 7:03:59 AM
Subject: Re: [referensi] Re: Khitah? Re: Paradigma? Re: Geser Dikit Kekota

            Duh, duh... para ahli referensi yang berbahagia.. ..
kemana aja ya anda-anda pada waktu UUPR 26/2007 itu disusun ? Kenapa hal ini 
baru sekarang muncul? Kenapa ga waktu masih RUU dighodok? Saya terus terang 
entah kenapa memang waktu masih RUU itu dibahas-bahas sudah ga pernah 
tersambung dengan milis ini, entah kenapa juga ga ngerti, tersambung lagi 
beberapa bulan belakangan ini setelah ketemu bung Eka. 
Tapi hal inilah yang waktu RUU ini dibahas atas undangan DPR-RI yang terhormat 
itu di Hotel Hilton, saya ingat betul karena walau ga diundang karena tau ya 
saya datang, dan waktu itulah saya mendengar dan melihat bagaimana pak Emil 
Salim marah besar karena konsep UUPR itu menurut beliau 'sangat hanya 
berorientasi ke fisik' saja. Beliau juga katanya ada yang nguping pernah 
menyatakan 'penataan ruang ga usahlah terlibat acara global warming lagi karena 
cuma mengurus fisik saja', global warming kan harus diurus secara multidisiplin 
bukan cuma urusan fisik yang dalam hal ini dianggap justru yang paling merusak 
lingkungan fisik 
Selain itu saya juga ingat salah satu dirjen di PU jadoel menyatakan DJPR itu 
harus bisa dulu melayani  sektor dilingkungan PU, hehe lama-lama dia bilang 
DJPR itu ga perlulah selevel ditjen cukup aja selevel subdit 
Pak Benny pasti ingat siapa beliau, ...sooo .... itu perjuangan berat lho 
akhirnya DJPR masih tetap ada di Dep.PU. Itu suatu trauma yang harusnya 
rekan-rekan di DJPR mau tau dan belajar, jangan sampai terulang lagi.
Memang tidak mudah kalau urusan penataan ruang itu berada di PU, kalau cuma mau 
desain fisik saja ya mungkin itu tadi jadi setingkat subdit saja, ntar 
dititipin lagi di DJCK di direktorat tata bangunan atau bina program, kaciaaan 
deh. 
Seorang dirjen PR jadoel yang lain juga pernah mengatakan jangan2 kita ini 
'anak elang' yang dierami 'induk ayam' ...ngerti ya maksudnya ? 
Nah kalau sekolahnya di ITB memang ada pula seorang alumni PL yang bilang 'kan 
kita sekolah di ITB ini diajari physical planning, kenapa pula kita harus bikin 
UU yang harus melibatkan urusan segala sosial-ekonomi- politik-hankam- miskin 
dsbnya itu ? Nanti itu kan urusan Menko Kesra dan Menko Perekonomian? Rasanya 
kok bisa berbeda ya penangkapan tentang lulusan ITB yang dulu disebut jurusan 
PLANOLOGI itu? Seingatku dulu juga diajarkan ilmu ekonomi, ilmu sosiologi 
...mmhm pak Wawo lho yang ngajarinnya. Apa betul jurusan PL itu jadoel pernah 
cuma mengajarkan ilmu fisik saja? Yang kurang jadoel itu memang rasanya ga 
pernah diajari sedikiiiit saja ilmu politik yang menurut saya perlu tuh 
diajarkan  karena menurut seorang alumni ITB lain yang menurutku beliau lumayan 
sukses di politik praktis, kalau kita ga mau tau politik maka kita akan 
dipermainkan oleh politisi .....hiiii.
Sekian salam manis dan Selamat Pagi Indonesia - 2ny 


--- On Sat, 6/21/08, abimanyu takdir alamsyah <[EMAIL PROTECTED] com> wrote:
  From: abimanyu takdir alamsyah <[EMAIL PROTECTED] com>
Subject: Re: [referensi] Re: Khitah? Re: Paradigma? Re: Geser Dikit Kekota
To: [EMAIL PROTECTED] ps.com
Date: Saturday, June 21, 2008, 9:35 AM

      Setuju pak Aby, pak Risfan ysh,

Waktu pindah dari pemikiran arsitek ke planner tahun 1970-an yll, pernyataan 
planner yg ngajarin saya waktu itu adalah kira-kira seperti ini: " kesalahan 
planner masa lalu adalah karena pengertian "plan" hanya dalam wujud produk, 
pengertian "plannig" bias kepada membuat "a plan" sebagai produk rencana 
fisiknya aristek, perluasan dari kegiatan merancang bangunan atau komplek 
bangunan. "plan" tidak difahami sebagai "to plan" masa depan yang lebih baik, 
bahkan tidak selalu harus dalam bentuk produk gambar "plan". 

Tidak seperti Corbusier, Niemeyer, dll. yang masih terbelenggu oleh wujud 
ke-fisik-an, esensi konsep Howard, dll-pun sudah bukan terikat kepada wujud 
plan fisik "kota baru"-nya tetapi terwujudnya lingkungan hidup yang sadar akan 
pentinganya mekanisme kehidupan bersama alamnya. Bukan "rumah, industri, jalan 
dan rekreasi" (wisma, karya, marga, suka?) tetapi "masyarakat, tempat dan 
kerja". Apalagi setelah Isard mengintroduksi "perencanaan wilayah" (yang 
menjadi cikal bakal studi pembangunannya orang ekonomi), Odum yang mendukung 
aspek ekologi sebagai dasar wawasan lingkungan, atau yang merembet ke aspek 
antroposistem lainnya yang melahirkan antara lain "policy planning", "advocacy 
planning", "community base development" , dll. 

Apalagi kalau mengaitkan dengan pandangan bahwa aspek-aspek komunikasi dan 
kolaborasi merupakan faktor penting dalam pendekatan perencanaan di abad 21 
(Almendinger) . Itu semua akhirnya melahirkan tuntutan "sustainable 
development" (yang diintroduksi timnya Brundland) yang mampu meningkatkan 
kualitas hidup (tim IPCL), dan "cradle to cradle"-nya Braungard dan McDonought 
yang cenderung menuntut pendekatan "zero waste". Artinya, penataan ruang dimasa 
kini sudah bukan perencanaan ber-kacamata kuda tetapi bertanggung jawab 
pencapaian tujuan-tujuan mendasar penyejahteraan manusia yang menjadi 
"client"-nya, seperti pemerintah harus melayani kepentingan "client" utamanya, 
yaitu rakyat yang  mempercayakan bagaimana mengupayakan peningkatan 
kesejahteraannya. Tentu saja, kembali, ada pembagian tugas dan "level-level" 
tanggung jawab para planner tersebut, sehingga konsep keterpaduan, sinergi dan 
metabolisme perkembanganmelalui sistem yang dinamis menjadi semakin muncul 
dalam praktek
 perencanaan akhir-akhir ini.

Dalam era ke-mendunia- an belakangan ini, perencanaan tidak bisa mundur, harus 
bertanggung jawab terhadap semua aspek tersebut, sehingga konsep pembangunan 
menjadi dasar pertimbangan bagaimana suatu tata ruang perlu disiapkan. Itulah 
yang menjadi dasar perdebatan kenapa mutilasi cakupan penataan ruang PU yang 
sempat dikerdilkan untuk hanya berpikir aspek kimpraswil menjadi pertanyaan 
bagi mereka yang memahami bahwa penataan ruang merupakan salah satu alat 
penting untuk merealisasi tercapainya pembangunan nasional yang dicita-citakan. 
Itu pula yang menyebabkan bahwa UU 26/2007 tidak dapat lagi hanya dibaca dengan 
pengertian terbatas seperti UU 24/92 tetapi memiliki nuansa yang lebih 
mendasar. Itu juga kenapa di negara kepulauan ini, penataan ruang tidak hanya 
berkepentingan kepada bidang (terrestrial land-use) tetapi sudah me-ruang 
(darat, laut, udara, dan  bawah tanah). 

wasalam,

Abimanyu
       











  


                           

       

Kirim email ke