Pak Risfan ysh,

Apa yang bapak sampaikan sebenarnya merupakan 'manajemen value' dalam
konteks 'land value'. Saat ini memang baru pihak swasta (: pengembang)
yang mendalami mengenai land value ini, dan sayangnya juga belum
didalami oleh lembaga-lembaga penelitian, institusi pendidikan, dan juga
institusi pemerintah.

Value itu dapat dikuantifikasi tidak saja berdasarkan lokasi, juga
faktor-faktor lain; seperti yang diungkapkan : kehijauan, kemandirian,
keamanan, dst. Dalam praktek real-estat di Indonesia juga dikembangkan
masalah fengshui, kelengkapan fasilitas, pemandangan, akses, dll.
Seharusnya juga diperhitungkan juga faktor negatifnya, misal: dekat
dengan pembuangan sampah, sutet, genangan banjir, dll. Bila hal ini
dapat 'diukur', sebenarnya dapat dihitung secara exact land value
tersebut; dan kita pun dapat memetakan land value itu untuk kawasan yang
luas. Sayangnya justru pekerjaan ini mulai dikerjakan oleh Depkeu
<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/4925>   tanpa rujukan
RTRW.

Sementara demikian, salam.

-ekadj




--- In [email protected], "risfano" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>
> Menyiasati lokasi yang 'jauh'
>
>
>
> "Location, location, location."
>
> Begitulah semboyan dunia real-estate (properti), itu pula yang
> mempertemukannya dengan dunia planning (PWK). Tulisan ini mencoba
> memahami cara pengembang menyiasati lokasi.
>
>
>
> Lokasi yang yang strategis, akses yang tinggi ke berbagai "pusat"
> pelayanan, dan terutama CBD, temat kerja - menimbulkan nilai lahan
yang
> tinggi. Implikasinya adalah pada harga tanah di lokasi tersebut.
>
>
>
> Pengembangan real-estate di Jabodetabek sudah begitu meluas.
Akibatnya,
> proyek baru umumnya berada di lokasi lebih dari 30 km dari Monas.
D.p.l
> nilai lokasinya relatif rendah.
>
>
>
> Maka untuk menyiasati kendala jarak tersebut, diciptakanlah
nilai-nilai
> lain untuk menarik konsumen. Sebagaimana dilaporkan Kompas (17-7-2008)
> antara nilai daya tarik yang diciptakan itu antar lain:
>
> * Konsep hijau, yaitu menampilkan citra hijau, pertamanan, pepohonan,
> untuk menonjolkan citra kepatuhan pada prinsip sustainable
development.
> Ini penting karena, pertama, menunjukkan kenyamanan hunian. Kedua,
> memberikan 'jaminan' kepada investor bahwa investasi jangka panjang
> mereka di properti akan meningkat nilainya;
> * Konsep 'kemandirian'. Karena lokasinya jauh dari CBD konvensional
> di Jakarta, maka diterapkan konsep kota mandiri (self-contained new
> town) agar semua kebutuhan warga tercukupi. Sehingga calon penghuni
dan
> investor tidak kuatir, bahkan bisa melupakan faktor jarak. Hanya dalam
> kenyataan tempat kerja tidak mengikuti tempat tinggal, sehingga yang
> terjadi umumnya dormitory town saja. Dengan akibat arus lalu lintas ke
> Jakarta kian padat, macet.
> * Konsep keamanan. Ini menyiratkan kontradiksi. Karena kenyataannya
> suami istri tempat kerjanya tetap jauh, maka butuh keamanan. Maka
> lingkungan perumahan saat ini kian syarat sistem keamanan, baik yang
> sederhana dengan 'portal' dan menambh 'satpam'. Maupun yang
menggunakan
> teknologi mutakhir, dengan CCTV dst.
>
> Hanya, komentar dari ahli, belum semua menerapkan 'kemandirian' dalam
> pengelolaan sampah. seharusnya pengembang sudah menerapkan 3R (reduce,
> reuse, recycle). Kedua, seharusnya pengembang juga bisa menyerap air
> hujan hingga 75% misalnya. Itu dengan membangun sumur resapan,
>
> Kolam penampung air, sehingga tidak membebani lingkungan lebih luas.
>
>
>
> Apakah konsep-konsep tersebut berhasil menarik konsumen? Tampaknya
iya.
> Ini karena nature dari bisnis real estate tampaknya: ketersediaan
lahan
> terbatas (tetap), sementara yang membutuhkan meningkat terus, karena
> kohort penduduk dan urbanisasi. Sehingga soalnya tinggal konsumen
pilih
> lingkungan yang mana, tipe apa, kelas harga berapa.
>
>
>
> Salam,
>
> Risfan Munir


Kirim email ke